Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Operasi "Hapus Jejak" Digital
Malam ini, kontrakan sempit kami mendadak berubah jadi markas intelijen kelas teri. Genta duduk bersila di depan sebuah laptop tua yang layarnya sudah menguning, pinjaman dari tetangga yang katanya cuma kuat buat buka Excel. Tapi di tangan Genta, laptop yang bunyi kipasnya brisik itu dipaksa bekerja keras buat menembus sistem keamanan Aksara Muda.
"Genta, lo beneran bisa?" tanya gue sambil mondar-mandir di depan pintu.
"Secara teknis, enkripsi kantor kita punya celah di bagian server distribusi. Sabar, Aruna. Jangan mondar-mandir terus, kamu bikin konsentrasi saya buyar," sahutnya tanpa menoleh, jemarinya mengetik di atas keyboard yang sebagian hurufnya sudah pudar.
"Tugas gue apa sekarang?"
"Pantau situasi luar. Kalau ada orang asing atau suara mobil yang berhenti di depan gang, langsung kasih tahu saya."
Gue mengangguk mantap. Gue ambil posisi di balik tirai jendela yang sedikit tersingkap. Untuk menjaga kewaspadaan, gue sudah nyiapin "senjata" pendukung: sebungkus besar kerupuk kaleng hasil sisa makan siang tadi.
Satu menit... dua menit... gue masih siaga. Kretek... kretek... suara kerupuk yang gue kunyah jadi satu-satunya musik latar di ruangan itu selain bunyi ketikan Genta. Gue menatap kegelapan gang di luar, mencoba mencari bayangan mencurigakan.
Tapi ya ampun, suara kipas laptop Genta itu lama-lama kayak lagu pengantar tidur. Ditambah lagi perut gue kenyang kerupuk. Mata gue mulai berat. Gue coba cubit lengan sendiri, tapi kepuasan mengunyah kerupuk ini malah bikin gue makin rileks.
Genta menghela napas panjang saat berhasil menghapus log akses terakhir mereka walaupun belum berhasil sepenuhnya masuk ke sistem utama. "Berhasil. Mereka nggak akan bisa melacak IP kita lewat... Aruna?"
Genta menoleh dan langsung tertegun. Di sudut ruangan, Aruna sudah terkapar pulas dengan posisi kepala bersandar di tembok. Mulutnya sedikit terbuka, dan yang paling parah, tangannya masih erat memeluk sebungkus kerupuk yang isinya sudah tinggal remah-remah. Satu keping kerupuk bahkan masih nangkring manis di atas perutnya.
Genta menggelengkan kepala, ada senyum tipis yang tak tertahankan muncul di wajah kakunya. "Katanya mau jadi mata-mata, malah jadi tukang tidur," gumamnya pelan.
Dia mendekat, pelan-pelan mengambil bungkus kerupuk dari pelukan Aruna agar cewek itu tidak terbangun. Dia menatap wajah Aruna yang kelihatan sangat damai saat tidur—jauh dari ekspresi panik atau ceroboh yang biasanya dia tunjukkan.
Genta kembali ke depan laptopnya. Alih-alih menutup sistem, dia membuka sebuah draf kosong yang rencananya akan jadi proyek rahasia mereka. Dia diam sejenak, menatap kursor yang berkedip di layar, lalu jemarinya bergerak mengetik satu kalimat yang sangat tidak "Genta" banget.
"Gue bakal lakuin apa pun, asal draf hidup lo nggak berakhir di tangan orang yang salah."
...Genta" banget....
..."Gue bakal lakuin apa pun, asal draf hidup lo nggak berakhir di tangan orang yang salah."...
Genta menatap kalimat itu lama. Tanpa istilah medis, tanpa logika termodinamika. Cuma kalimat jujur dari seorang editor yang biasanya cuma peduli pada tata bahasa, tapi sekarang cuma peduli pada keselamatan satu orang penulis ceroboh di sudut sana.
Dia ingin melanjutkan operasinya di mana tiba-tiba laptop padam karena overhead. Genta lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan fikirannya lalu menutup laptop pelan-pelan. Lalu Genta mengambil jaket leceknya untuk menyelimuti kaki Aruna. Malam ini, sistem kantor mungkin sudah sebagian sudah bersih, namun draf perasaan di hati Genta makin gelisah.
Malam makin larut. Gang kecil itu kembali sunyi, tapi kepala Genta tidak. Meski sebagian log berhasil dihapus, dia tahu itu belum cukup. Sistem Aksara Muda terlalu canggih untuk diserang sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, Genta membenci kenyataan bahwa dia mungkin harus meminta bantuan orang lain.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻