NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA PERNIKAHAN DAN MUNCULNYA LADY VICTORIA

Kabar pertunangan Catharina dan Lucian menyebar jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Keesokan harinya, kediaman Elsworth dibanjiri surat ucapan selamat, hadiah-hadiah mewah dalam kotak beludru, dan undangan untuk merayakan pertunangan mereka dari berbagai pihak.

Pagi itu, Catharina duduk di ruang makan dengan tumpukan surat yang hampir menutupi sebagian meja, sambil mencoba menikmati sarapannya. Duke Henry membaca koran pagi dengan senyum tipis yang jarang muncul di wajahnya.

"Kamu benar-benar menjadi pusat perhatian sekarang, Catharina. Setiap hari selalu ada berita tentangmu di koran," ujar Duke Henry sambil melipat korannya dengan rapi. "Kemarin tentang persidangan Elise yang dramatis itu, hari ini tentang pertunangan romantismu dengan Marquess Lucian."

Catharina mengambil koran dari tangan ayahnya dan membaca judul besarnya dengan mata yang sedikit melebar.

"LADY CATHARINA VON ELSWORTH BERTUNANGAN DENGAN MARQUESS LUCIAN ASHFORD! PASANGAN PALING ROMANTIS DI KERAJAAN!"

Di bawah judul itu ada artikel panjang yang mendetail tentang bagaimana Lucian melamar di restoran malam itu, lengkap dengan ilustrasi yang dibuat oleh seniman berdasarkan kesaksian para tamu yang kebetulan hadir malam itu.

"Ini terlalu berlebihan," gumam Catharina sambil menggelengkan kepalanya pelan, tapi ada senyum kecil di bibirnya.

"Tapi cukup akurat," balas Duke Henry sambil tersenyum lebih lebar. "Dan aku senang dengan ini. Lucian adalah pria yang baik. Jauh lebih baik dari Duke Raphael yang terlalu dingin dan kaku itu."

"Ayah, jangan begitu. Raphael juga sedang berusaha keras untuk berubah menjadi lebih baik."

"Aku tahu dia berusaha. Tapi sebagai ayah, aku tetap lebih suka pria yang dari awal sudah tahu bagaimana memperlakukan putriku dengan baik dan penuh hormat, bukan pria yang baru tersadar setelah kehilangan sesuatu yang berharga."

Catharina tidak bisa membantah logika itu karena memang benar adanya.

Martha masuk dengan senyum yang sangat lebar, hampir dari telinga ke telinga. "Yang Mulia, Marquess Lucian sudah tiba. Beliau sedang menunggu di ruang tamu."

Catharina langsung berdiri dengan gerakan yang hampir terlalu cepat, membuat kursinya bergeser sedikit. "Aku akan ke sana sekarang."

Di ruang tamu, Lucian berdiri dengan tegak sambil memegang seikat bunga mawar putih yang sangat besar dan indah. Begitu melihat Catharina masuk, wajahnya langsung berbinar seperti melihat matahari terbit.

"Selamat pagi, calon istriku," sapanya dengan senyum yang sangat lebar.

Catharina tertawa, hangat dan tulus. "Selamat pagi, calon suamiku."

Lucian menyerahkan bunga itu dan mengecup kening Catharina dengan sangat lembut, gerakan yang sudah terasa sangat familiar dan menenangkan.

"Aku datang untuk membicarakan rencana pernikahan kita. Kapan kamu ingin menikah? Kalau boleh jujur, aku maunya besok saja kalau memungkinkan," ujarnya dengan nada yang terdengar seperti bercanda tapi ekspresi wajahnya cukup serius.

"Besok? Kamu sudah gila, Lucian?" Catharina tertawa lebih keras. "Pernikahan kalangan bangsawan itu membutuhkan persiapan berbulan-bulan!"

"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya bercanda. Tapi serius, berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk persiapan?"

Catharina berpikir sejenak sambil menghitung di kepalanya. "Tiga bulan. Cukup lama untuk mengurus semua detail dengan baik tapi tidak terlalu lama sampai aku mulai stres dan frustrasi dengan semua persiapannya."

"Tiga bulan." Lucian menghitung dengan jarinya. "Berarti kita akan menikah di awal musim semi. Sempurna. Cuacanya akan sangat bagus dan bunga-bunga di mana-mana akan bermekaran."

Mereka duduk berdampingan di sofa dan mulai membuat daftar panjang hal-hal yang harus disiapkan. Tempat upacara, dekorasi yang diinginkan, daftar undangan, gaun pengantin, katering untuk jamuan, hiburan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

"Ini seperti mengelola proyek bisnis besar tapi versi yang jauh lebih romantis," gumam Catharina sambil menulis dengan teliti di buku catatannya.

"Kamu mau yang sederhana atau yang sangat mewah?" tanya Lucian.

"Aku mau yang bermakna. Tidak harus yang paling mewah dan mencolok, tapi harus punya makna mendalam dan memorable untuk kita berdua dan semua orang yang hadir."

Lucian tersenyum, matanya berbinar. "Aku sangat suka cara berpikirmu. Baik, bagaimana kalau kita menikah di katedral tua di tengah kota? Bangunan itu punya arsitektur yang sangat indah dan penuh sejarah."

"Katedral tua? Tempat di mana para raja dahulu dimahkotai?"

"Tepat sekali. Dan untuk jamuan pesta, kita bisa gunakan taman perjamuan di kediaman keluargaku. Tempatnya sangat luas, ada taman yang sangat indah dengan berbagai jenis bunga, dan cukup terjaga privasinya."

Catharina mencatat semua ide Lucian dengan antusias. Mereka menghabiskan hampir dua jam penuh membicarakan detail pernikahan dengan mata yang berbinar dan senyum yang tidak hilang dari wajah mereka.

***

Siang harinya, Catharina mendapat kunjungan dari Putri Seraphina dan seorang wanita lain yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Wanita itu cantik dengan cara yang sangat berbeda dari para bangsawan lainnya yang pernah Catharina lihat. Rambutnya hitam legam dipotong sebahu dengan gaya yang terlihat modern dan sedikit berani. Matanya biru kelam yang tajam dan memancarkan kecerdasan. Gaun yang ia kenakan berwarna biru tua dengan potongan yang praktis namun tetap sangat elegan dan tidak kehilangan keanggunannya.

Ada aura kuat dan percaya diri yang terpancar sangat jelas dari wanita ini.

"Catharina, aku ingin memperkenalkan seseorang yang sangat spesial," ujar Seraphina dengan nada yang penuh semangat. "Ini Lady Victoria Ashcroft, Countess dari wilayah timur. Dia sahabat baikku sejak kami masih kecil."

Lady Victoria melangkah maju dengan senyum yang tidak terlalu lebar tapi terasa sangat tulus dan hangat.

"Lady Catharina, aku sudah sangat banyak mendengar tentangmu dari Seraphina. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung," ujarnya sambil mengulurkan tangannya dengan gerakan yang tegas.

Catharina menjabat tangan itu. Genggaman Lady Victoria sangat mantap dan penuh kepercayaan diri. Ini bukan tipe wanita yang lemah lembut dan pasrah pada keadaan.

"Senang bertemu denganmu juga, Lady Victoria. Panggil aku Catharina saja, tidak perlu terlalu formal."

"Kalau begitu panggil aku Victoria saja."

Mereka bertiga kemudian duduk di ruang teh dengan berbagai kue cantik dan teh hangat yang sudah disiapkan oleh Martha dengan sangat rapi.

"Victoria baru saja kembali dari perjalanan panjangnya berkeliling beberapa kerajaan tetangga," jelas Seraphina sambil menyesap tehnya. "Dia sedang meneliti sistem pemerintahan dan struktur ekonomi mereka untuk penelitiannya."

"Penelitian?" Catharina langsung tertarik. "Kamu sedang belajar sesuatu?"

Victoria mengangguk dengan antusias. "Aku sedang menulis penelitian tentang reformasi ekonomi dan pemberdayaan perempuan untuk Akademi Kerajaan. Aku dengar kamu juga punya bisnis sendiri yang sukses dan sedang merencanakan sekolah khusus untuk perempuan bersama Seraphina?"

"Ya! Kami sedang sangat serius merencanakan itu."

"Boleh aku ikut dalam proyek ini?" tanya Victoria dengan mata yang berbinar penuh harapan. "Aku punya banyak sekali ide tentang kurikulum dan sistem pendidikan yang jauh lebih maju dan adil."

Catharina langsung merasa cocok dengan Victoria. Wanita ini cerdas, bersemangat, dan memiliki visi yang sangat sejalan dengan mereka.

"Tentu saja! Kami akan sangat senang dan terbantu kalau kamu mau bergabung dengan tim kami."

Mereka menghabiskan lebih dari satu jam membicarakan proyek sekolah dengan sangat detail. Victoria mengeluarkan buku catatan tebal yang penuh dengan tulisan rapi dan diagram rumit tentang sistem pendidikan di berbagai kerajaan yang pernah ia kunjungi.

"Di kerajaan Nordica di utara sana, mereka punya sistem di mana semua anak tanpa terkecuali, tidak peduli jenis kelamin atau status sosial mereka, wajib bersekolah sampai berusia empat belas tahun," jelas Victoria sambil menunjukkan halaman catatannya yang penuh angka dan grafik. "Hasilnya sangat mengagumkan, tingkat melek huruf mereka mencapai sembilan puluh lima persen! Bandingkan dengan kerajaan kita yang hanya enam puluh persen."

"Itu luar biasa sekali!" seru Catharina dengan mata berbinar. "Kita bisa mengadopsi sistem yang mirip tapi disesuaikan dengan budaya dan kondisi kita sendiri."

Seraphina tersenyum lebar melihat kedua temannya yang langsung sangat cocok satu sama lain.

"Aku sudah tahu kalian berdua pasti akan sangat cocok. Kalian sama-sama sangat cerdas dan penuh semangat."

Tiba-tiba, pintu ruang teh terbuka dengan cukup tergesa dan masuklah seorang pria tampan dengan rambut hitam kecoklatan yang sedikit berantakan dan mata hijau zamrud yang sangat mencolok. Ia mengenakan setelan formal yang sangat rapi tapi tidak terlihat kaku.

"Seraphina, aku dengar kamu sedang di sini jadi aku... oh, maaf mengganggu," ujar pria itu begitu menyadari ada tamu lain di ruangan.

"Cassian! Masuk saja, jangan berdiri di sana seperti patung yang kaku," ujar Seraphina sambil tertawa ringan.

Catharina langsung mengenalinya. Ini Pangeran Cassian, putra kedua Raja. Dalam cerita aslinya, ia adalah tokoh pendukung yang membantu tokoh utama di berbagai situasi sulit.

Cassian masuk dengan senyum yang ramah dan santai. "Maaf sekali mengganggu pertemuan kalian. Aku hanya ingin meminjam Seraphina sebentar untuk bicara tentang... oh, Lady Catharina von Elsworth! Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung!" matanya melebar begitu melihat Catharina.

Cassian mendekat dan membungkuk dengan sopan. "Aku sudah mendengar sangat banyak tentangmu dari berbagai sumber. Selamat untuk pertunangan mu dengan Marquess Lucian. Kalian pasangan yang sangat cocok."

"Terima kasih, Yang Mulia Pangeran Cassian."

"Panggil aku Cassian saja kalau kita sedang tidak dalam acara resmi. Kita tidak perlu terlalu formal dan kaku." Cassian kemudian menoleh ke arah Victoria dan ada sesuatu yang berubah drastis di ekspresinya.

Mata hijau zamrudnya sedikit membelalak. Napasnya seperti tertahan di tenggorokan. Wajahnya yang biasanya santai dan sedikit jail tiba-tiba berubah menjadi sangat tegang.

"Lady Victoria," sapanya dengan suara yang sedikit bergetar, sangat tidak seperti biasanya. "Kamu sudah kembali ke sini."

Victoria menatap Cassian dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca, ada banyak emosi yang terpendam di sana. "Pangeran Cassian. Ya, aku baru kembali kemarin sore."

Ketegangan di ruangan itu tiba-tiba berubah sangat terasa. Seraphina dan Catharina saling berpandangan dengan mata yang berbicara tanpa suara, sama-sama merasakan ada sesuatu yang besar dan belum terselesaikan antara Cassian dan Victoria.

*******

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!