NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Harapan di Ujung Jarum

Rumah Sakit St. Jude – Pukul 22.00.

Lantai sembilan rumah sakit ini adalah tempat di mana cahaya lampu neon terasa lebih pucat dan udara terasa lebih dingin. Ini adalah bangsal paliatif, tempat bagi mereka yang tidak lagi memiliki masa depan di mata sains medis. Di ujung koridor yang sunyi, kamar nomor 908 berdiri sebagai saksi bisu atas penderitaan seorang remaja yang pernah menjadi kebanggaan nasional.

Arkan melangkah menyusuri koridor tersebut. Ia tidak menggunakan kekuatan untuk menghilang sepenuhnya kali ini; ia hanya menggunakan Sanguine Veil sebuah teknik manipulasi tekanan udara yang membuat keberadaannya secara psikologis diabaikan oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Para perawat yang sibuk dengan catatan medis mereka hanya akan merasa seperti ada hembusan angin dingin yang lewat, tanpa pernah menyadari ada sosok pemuda jangkung berbaju hitam yang melintas.

Ia berhenti di depan pintu kaca kamar 908. Di dalam, Bastian terbaring kaku. Monitor jantung di sampingnya berbunyi dengan ritme yang lemah dan tidak stabil, seperti detak jam yang baterainya hampir habis.

Arkan masuk tanpa suara. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap tubuh Bastian yang kurus kering. Kanker tulang yang bermutasi karena mana Abyss telah memakan sebagian besar massa ototnya, meninggalkan kulit yang pucat menempel pada tulang yang rapuh. Namun, di bawah kelopak mata yang tertutup itu, Arkan bisa merasakan aliran darah yang bergejolak. Itu adalah darah yang marah. Darah yang menolak untuk berhenti memompa meskipun seluruh sistem tubuhnya sudah menyerah.

"Kau memiliki api di dalam nadimu, Bastian," bisik Arkan. Suaranya bergema halus di ruangan yang kedap suara itu. "Api yang sama dengan yang kubawa selama ribuan tahun."

Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Bastian yang dingin. Seketika, Arkan mengirimkan gelombang kesadaran melalui aliran darah mereka yang bersentuhan. Ia melihat memori Bastian—kebahagiaan saat berlari di lintasan atletik, rasa sakit saat monster meremukkan kakinya, dan keputusasaan saat orang-orang yang memujanya tiba-tiba berbalik membelakangi ketika ia menjadi cacat.

"Dunia ini hanya mencintai pemenang, bukan manusia," gumam Arkan.

Tiba-tiba, mata Bastian terbuka sedikit. Penglihatannya kabur, namun ia bisa melihat siluet pria dengan mata merah yang bercahaya di kegelapan.

"Malaikat... maut?" suara Bastian pecah, nyaris tak terdengar.

"Bukan," jawab Arkan, matanya berkilat tajam. "Aku adalah orang yang akan memberimu pilihan. Besok malam, tepat pada jam yang sama, aku akan datang kembali. Siapkan jawabanmu: ingin mati sebagai kenangan yang menyedihkan, atau hidup sebagai dewa yang ditakuti."

Sebelum Bastian bisa menjawab, Arkan melepaskan tangannya dan menghilang ke dalam bayangan jendela yang terbuka.

Setelah meninggalkan rumah sakit, Arkan tidak langsung pulang. Instingnya menangkap sesuatu yang tidak beres di area parkir bawah tanah rumah sakit tersebut. Di bawah cahaya lampu yang berkedip, ia melihat tiga buah van hitam tanpa plat nomor parkir di sudut yang paling gelap.

Melalui Sanguine Perception, Arkan melihat apa yang ada di dalam van tersebut. Sekelompok pria bersenjata lengkap sedang memindahkan kontainer pendingin yang berisi organ-organ ilegal. Namun yang membuat darah Arkan mendidih adalah sebuah daftar nama yang mereka pegang.

Nama Bastian ada di urutan teratas.

"Sindikat Vulture," desis Arkan. Mereka adalah kelompok kriminal yang mengincar organ-organ dari pasien yang terkena paparan mana Abyss, karena organ tersebut memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar gelap untuk eksperimen ilegal.

Arkan berdiri di atas pipa ventilasi raksasa, menatap ke bawah. "Sepertinya aku harus membersihkan sampah sebelum aku memetik bunganya."

Salah satu penjaga van, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di lehernya, sedang menghisap rokok. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang basah jatuh di bahunya. Ia menyentuhnya, mengira itu adalah kebocoran air.

"Darah?" pria itu tertegun melihat cairan merah pekat di tangannya.

Ia mendongak, dan hal terakhir yang ia lihat adalah sosok pemuda yang melompat turun dengan tangan yang bersinar merah.

CRUNCH!

Arkan mendarat tepat di atas pundak pria itu, menghancurkan tulang lehernya seketika. Dua penjaga lainnya yang menyadari serangan itu segera mencabut senapan mesin mereka, namun Arkan jauh lebih cepat.

"Sanguine Art: Blood Spikes."

Darah yang keluar dari mayat penjaga pertama tiba-tiba membeku dan memanjang menjadi tombak-tombak tajam yang melesat ke arah dua penjaga lainnya. Tombak itu menembus zirah tempur mereka seolah-olah itu adalah kertas tipis.

"Siapa kau?!" teriak pemimpin kelompok tersebut dari dalam van, sambil mencoba mengaktifkan artefak mana pelindung.

Arkan berjalan mendekat dengan langkah pelan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki berwarna merah di lantai beton. "Aku adalah orang yang baru saja menghapus nama kalian dari dunia ini."

Pemimpin sindikat itu melepaskan serangan api dari artefaknya, namun Arkan hanya mengangkat tangan kirinya. Ia memanipulasi kelembapan di udara, menggabungkannya dengan esensi darah yang tercecer di lantai, membentuk perisai air darah yang menyerap seluruh api tersebut.

"Manipulasi darah... mustahil! Kau adalah Sovereign?!" teriak pria itu ketakutan. Legenda tentang Sovereign penguasa darah kuno hanyalah mitos di kalangan Hunter.

"Terlalu banyak bicara," Arkan menjentikkan jarinya.

Sanguine Arts Cardiac Arrest.

Pria itu mendadak memegang dadanya. Jantungnya dipaksa berdetak secepat 400 detak per menit oleh kendali Arkan. Matanya memerah karena pembuluh darahnya pecah, dan ia jatuh tersungkur di lantai. Arkan tidak memberinya kematian yang cepat; ia membiarkan pria itu merasakan sensasi jantungnya yang meledak dari dalam sebagai hukuman atas rencananya menyentuh Bastian.

Hanya dalam waktu tiga menit, seluruh anggota sindikat di area parkir itu tewas. Arkan menghancurkan seluruh van tersebut dengan menciptakan tekanan gravitasi darah yang membuat baja-baja tersebut remuk menjadi gumpalan logam.

Ia mengambil daftar nama pasien tersebut dan membakarnya menjadi abu dengan jentikan jarinya.

Kembali ke apartemennya, Arkan duduk di balkon sambil menatap langit Seoul yang mulai diselimuti kabut tebal. Di dalam saku hoodie-nya, ia memegang sebuah koin perak yang siap ia tinggalkan di lokasi-lokasi pembersihan selanjutnya.

"Dunia ini semakin kotor," gumamnya. "Pemerintah tidak mampu melindungi rakyatnya, dan para kriminal berpesta di atas penderitaan orang lemah."

Ia memikirkan Bastian. Bocah itu adalah kunci pertamanya. Tanpa seorang Vanguard, Arkan tidak bisa melangkah ke fase berikutnya dari rencananya. Ia butuh seseorang yang bisa berdiri di garis depan saat ia mengatur strategi dari balik layar.

Namun, Arkan juga menyadari satu hal. Keberadaannya malam ini di parkiran rumah sakit pasti akan memicu penyelidikan dari unit khusus Hunter Association. Choi Ha-neul, direktur sensorik yang ia temui di Gangnam, pasti akan mencium jejak kekuatannya.

"Biarkan mereka mencari," Arkan tersenyum dingin. "Semakin mereka mencari hantu, semakin mereka akan buta terhadap orang yang duduk di hadapan mereka besok pagi."

Ia merapikan seragam SMA Gwangyang miliknya yang tergantung di pintu lemari. Besok adalah hari Senin. Ia harus kembali berperan sebagai Arkan yang lemah, Arkan yang selalu dihina oleh Rian, dan Arkan yang selalu dibela oleh Liora.

Kontras antara dua kehidupannya ini terkadang membuatnya merasa muak, namun ia tahu ini adalah bagian dari pengorbanan. Untuk menjadi dewa yang sesungguhnya, ia harus merasakan lumpur kemanusiaan yang paling dalam.

"Bastian... Hana... Rehan... Elara... Julian..." Arkan menyebut lima nama yang sudah ia targetkan dalam pikirannya. "Segera, kalian tidak akan lagi merasa sakit. Kalian akan menjadi tangan kananku yang menghakimi dunia ini."

Malam semakin larut. Arkan memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Namun, di dalam tidurnya, ia tetap bisa merasakan setiap aliran darah di kota Seoul. Ia adalah penguasa yang tak terlihat, raja tanpa mahkota, dan pahlawan yang tidak diinginkan dunia, namun sangat dibutuhkan oleh mereka yang tertindas.

Legenda Crimson Sovereign baru saja menuliskan bab keduanya dengan tinta darah para pendosa.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!