"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kilas balik
Langkah Ameera terasa berat saat memasuki pintu utama rumahnya. Namun, baru saja kaki itu melangkah di atas lantai marmer ruang tamu, ia membeku.
Di sana, di atas sofa beludru keluarganya, duduk wanita cantik pembawa bayi itu. Namun kali ini, ia tidak sendirian. Di sampingnya duduk sepasang suami istri paruh baya yang bersahaja namun memancarkan wibawa yang luar biasa.
"Dokter Liam? Kak Farah?" Ibu Ameera menyapa dengan nada yang sangat akrab, seolah mereka adalah tamu yang sudah sangat dinanti.
Ameera terpaku. Kak Farah?
Ameera tidak pernah tahu bahwa selama setahun ia dikurung di rumah, ayahnya, Pak Bramantyo, sebenarnya sedang berjuang melawan kondisi jantung yang kian melemah. Setahun belakangan, Pak Bramantyo sering mengunjungi rumah sakit secara diam-diam.
Dunia ini sempit. Ayah Liam, seorang pengusaha sekaligus pemilik yayasan pesantren tempat Syifa tinggal, ternyata adalah rekan bisnis lama sekaligus sahabat karib Pak Bramantyo. Saat mengetahui kondisi kesehatan sahabatnya menurun, Ayah Liam-lah yang merekomendasikan putra sulungnya, Liam Al-Gazhi, untuk menjadi dokter pribadi yang mengawasi kesehatan Pak Bramantyo.
Selama setahun itu, Liam sering datang ke kantor ayah Ameera, atau mereka bertemu di rumah sakit. Dalam pertemuan-pertemuan itu, Liam sering bercerita tentang seorang gadis yang pernah ia temui di pesantren, seorang gadis yang sedang belajar mengeja "Alif" dengan penuh air mata. Pak Bramantyo terhenyak menyadari bahwa gadis yang diceritakan Liam dengan penuh hormat itu adalah putrinya sendiri.
Keteguhan Liam yang tidak pernah mau menjual profesinya demi kemudahan, serta sifatnya yang menjaga pandangan, membuat Pak Bramantyo luluh. Ia sadar, pria seperti Liam-lah yang mampu membimbing Ameera, bukan pemuda-pemuda kota yang hanya memuja harta mereka.
"Ameera, kenalkan, ini orang tua Liam. Dan ini Farah, kakak kandung Liam," ucap Pak Bramantyo sambil duduk perlahan di sofa, dibantu oleh Liam.
Ameera merasa dunianya berputar. Ia menatap wanita yang ia kira istri Liam itu. Farah tersenyum manis, lalu menyerahkan bayi ganteng di pelukannya kepada Liam. "Arshad kangen sama Om-nya, ya?" ucap Farah lembut.
Om? Jadi itu keponakannya? Jantung Ameera berdegup kencang karena rasa malu yang luar biasa atas prasangka buruknya selama ini.
Ibu Liam kemudian angkat bicara, suaranya selembut sutra. "Sebenarnya, kedatangan kami ke sini ingin melanjutkan niat yang tertunda sebulan yang lalu, Ameera."
Farah terkekeh melihat wajah bingung Ameera. "Ameera, sebulan lalu saat kau sedang berlibur di rumah nenekmu untuk menenangkan diri, Liam dan Ayah Ibu sebenarnya sudah datang ke sini. Liam datang dengan satu tujuan, untuk mengkhitbahmu"
Ameera menutup mulutnya dengan tangan. Ia teringat bulan lalu, saat ia merasa sangat putus asa dan memilih melarikan diri ke rumah neneknya di desa tanpa membawa ponsel. Ternyata, di saat ia merasa paling jauh dari Liam, pria itu justru sedang mengetuk pintu rumahnya untuk memintanya menjadi makmum.
Liam, yang sedari tadi terdiam sambil menggendong Arshad, akhirnya meletakkan keponakannya di samping Farah. Ia memperbaiki posisi duduknya, tetap menunduk, namun suaranya terdengar sangat yakin.
"Waktu itu kau tidak ada, Ameera. Dan ayahmu meminta waktu sampai ia benar-benar pulih untuk menanyakan ini padamu secara langsung," ucap Liam.
Liam kemudian menarik napas panjang. Ia sedikit mendongak, menatap ke arah Pak Bramantyo seolah meminta izin, lalu pandangannya jatuh pada jemari Ameera yang saling bertaut.
"Ameera Nafeeza... setahun yang lalu aku melepaskan mu pergi karena aku ingin kau menemukan Tuhanmu terlebih dahulu sebelum kau menemukanku. Aku tidak ingin kau berubah karena aku, tapi karena-Nya. Dan kini, setelah kulihat kau begitu bangga dengan Al-Qur'an mu, aku ingin bertanya di depan orang tuamu..."
Liam terdiam sejenak, suaranya sedikit bergetar oleh emosi yang ia tahan selama setahun ini.
"Maukah kau melanjutkan bacaan Al-Baqarah mu bersamaku? Maukah kau mengizinkanku menjadi imam yang tidak hanya menjagamu di dunia, tapi juga menuntun mu hingga ke Jannah? Aku tidak menjanjikan kemewahan yang lebih dari apa yang kau punya, tapi aku menjanjikan sebuah rumah di mana setiap sudutnya akan bergema dengan suara tilawah kita."
Ameera tidak bisa lagi menahan air matanya. Semua keraguan, cemburu, dan rasa hampa selama setahun ini menguap seketika. Di hadapannya, seorang pria saleh yang dulu tak mau menatapnya karena takut akan dosa, kini berdiri untuk menghalalkannya.
Ameera melirik ayahnya. Pak Bramantyo mengangguk dengan air mata di sudut mata. "Terimalah, Nak. Dia pria yang baik."
Ameera menyeka air matanya, ia menunduk dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki. "Bismillah... jika ini adalah jawaban dari setiap sujudku di sepertiga malam, maka aku menerimamu, Liam Al-Gazhi."
Ruang tamu itu seketika dipenuhi dengan ucapan "Alhamdulillah". Farah memeluk Ameera erat, sementara Liam menutup wajahnya dengan kedua tangan, membisikkan syukur yang mendalam kepada Sang Pemilik Hati yang telah merajut takdir mereka dengan begitu puitis.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰