Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik Kamu
Valen akhirnya ingat siapa perempuan yang sedang berbicara itu. Dia ingin tertawa ketika mengingat siapa gadis yang membela mereka itu.
"Al, lo nggak penasaran sama cewek itu?" Bisik Valen tepat di sebelah telinga Ale.
Ale menaikkan sebelah alisnya karena merasa Valen aneh karena sempat sempatnya Ale di suruh untuk penasaran dengan orang.
"Maksud kakak apa?" tanya Ale bingung.
Mereka berdua malah asyik mengobrol dan mengabaikan semua orang yang ada di sana termasuk Sofyan dan Erin. Semua orang di sana juga merasa aneh melihat Valen dan Ale yang malah bisik bisik sendiri dan sibuk sendiri.
"Ck, kebiasaan sih lo, lemotnya kambuh!" gerutu Valen pada Ale.
"Lah kan aku nggak tahu beneran kak, maksudnya kakak gimana?" tanya Ale lagi.
Srettt....
Valen menarik lengan Ale dan membisikan sesuatu yang membuat mata Ale langsung membulat dan menatap datar serta tajam pada gadis itu.
Valen terkikik geli melihat wajah masa Ale kali ini, tapi kemudian wajah masam itu berubah menjadi cemberut dan kesal sendiri.
"Ih, kakak ngrusak mood gue tahu nggak?"
Ale sudah menghentakkan kakinya berkali kali dan membuat semua orang menatap mereka bingung.
"Nanti aja di urusin, kita fokus di sini dulu. Lagian Arlo nggak mungkin mau sama dia. Gue yakin seribu persen, lagian kalau Arlo sampai mau sama dia udah bisa di pastikan nggak cuma kepalanya yang bakal ilang, tapi timun amerikanya juga bakal ilang!" celetuk Valen santai.
"Hah? Ishhh, kakak ketularan Kak Dean omongannya aneh aneh."
Valen mengangkat kedua bahunya acuh tapi setelah di pikir apa yang di katakan Ale ada benarnya dia sudah terkontaminasi otak mesumnya Dean selama ini.
"Ale bener juga, kayaknya gue harus jaga diri kalau sewaktu waktu di serang kak Dean. Tapi itu kan bisa bikin enak? "batin Valen.
"Astaga, apa yang gue pikirin!"
Valen menepuk pelan keningnya dan kembali memandang Sofyan dan Erin yang sudah berdiri dengan tegap. Mereka berdua memandang tajam ke arah Valen serta Ale. Ingin sekali rasanya mereka menelan hidup hidup Ale dan Valen saat ini. Tapi mereka sadar jika Ale dan Valen bisa mengetahui semua rahasia mereka berarti Si kembar di depannya saat ini bukan orang sembarangan. Itulah yang ada di benal Sofyan dan Erin.
"Heh, lo jadi cowok bodoh banget ya? Padahal cewek lo ini nggak pernah setia sama lo, tapi lo mau maunya aja di begoin sama dia," celetuk Ale lagi seolah menyiram minyak di api yang akan padam.
Sofyan kembali memandang Erin yang sudah menggeleng ketakutan melihat amarah di mata Sofyan.
"Mereka bohong, gue nggak mungkin kan nggak setia sama lo? Lo juga tahu kan anak anak tongkrongan kita semua teman teman lo juga?" ucap Erin dengan tergagap.
"Dan mereka juga sering pakai cewek lo? Kalau lo nggak percaya gue punya buktinya," celetuk Ale lagi.
Mata Erin terbelalak tapi kemudian dia menggeram marah ke arah Ale.
"Lo nggak usah fitnah gue ya? Palingan juga lo kan yang sering di pakai bergilir?" ejek Erin dengan cepat.
Ale menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring ke arah Erin.
"Kalau lo bisa buktiin kata kata lo itu, gue kasih mobil yang sama dengan mobil kakak gue yang ada di depan itu," sahut Ale cepat.
Erin tentu saja gelagapan karena dia tak mengenal Ale dan Valen jadi bagaimana bisa dia membuktikan tuduhannya itu. Dan jika dia mencari sekarang itu akan membutuhkan waktu karena dia harus menyewa seseorang untuk menyelediki semuanya.
Sementara Ale sudah tersenyum remeh ke arah Erin yang nampak kebingungan saat ini.
Dan Ale saat ini sudah fokus dengan ponsel miliknya dan tak berapa lama dia tersenyum lebar setelah mendapatkan semua yang dia perlukan untuk menghancurkan Erin yang notabene sudah banyak membuat hidup orang lain hancur. Dan kasusnya tak hanya dengan keluarga Sofyan saja tapi dengan beberapa keluarga lainnya juga dia sempat melakukan hal yang sama.
Ting....
Ponsel Sofyan berbunyi dan dia mengambilnya membuka ponselnya ada pesan masuk ke dalam ponselnya tapi dari nomor anonim yak tak di kenalnya. Dan saat dia membukanya matanya melotot sempurna, bahkan Sofyan sudah hampir saja meremas ponsel itu tapi kemudian dia menatap Ale tajam mencoba menghubungi nomer yang mengiriminya pesan tapi ternyata bukan ponsel Ale yang berbunyi melainkan ada ponsel lain yang berbunyi dan itu berasal dari tas milik Erin.
Erin tentu saja bingung dan Sofyan merebut paksa tas itu dari tangan Erin. Dia mengeluarkan isi tas itu dan menemukan ada beberapa ponsel di sana dengan berbagai type. Erin yang melihat itu tentu saja syok dan semakin ketakutan.
Sofyan kembali menghubungi nomer tadi dan benar saja itu dari nomer ponsel Erin yang lain.
Sofyan membanting ponsel itu dan tangannya terulur ke arah leher Erin.
"Argh, sayang apa yang lo lakuin?" teriak Erin terputus putus karena cengkereman tangan Sofyan sangat keras.
"Rasakan ternyata lo wanita tak tahu malu, bisa bisanya lo melakukan ini semua sama teman teman gue!!!" teriak Sofyan keras.
Sofyan melempar badan Erin dengan keras ke lantai dan membuat Erin terjatuh sampai dia mengeluarkan cairan kenthal berwarna merah dari mulutnya. Tidak cukup sampai di situ, Sofyan kembali mendekati Erin dan mengayunkan kakinya ke salah satu bagian Vital pada tubuh Erin.
Duakkkk....
"Arghhhh....."
Saking kerasnya tubuh Erin mengejang dan matanya melotot. Tak lama Erin langsung menghembuskan napas terakhirnya di tangan Sofyan yang kalap.
Ale dan Valen saling pandang dan senyum menakutkan muncul dari bibir mereka.
"Wah, lo serem juga ternyata kalau bikin orang nggak bernapas," celetuk Valen.
Sofyan yang mendengar perkataan Valen mematung di tempatnya dan dia menatap Erin yang sudah memucat. Dia nampak ketakutan saat ini dan menatap Ale serta Valen bergantian.
"Ka-kalian sengaja 'kan? Kalian sengaja bikin gue tahu semuanya dan bikin gue yang kasih pelajaran sama dia 'kan?" tunjuk Sofyan dengan tergagap.
Valen mengangkat kedua bahunya lagi, dan kemudian dia mendekat ke arah Sofyan yang merasa semakin takut saat ini.
"Bukankah ini sepadan dengan apa yang lo lakuin pada kakak lo? Lo ambil salah benda terpenting dalam hidupnya dan barusan lo hilangin masalah sebenarnya dalam hidup lo? Terus salah gue di mana? Gue cuma kasih jalan aja kan buat lo?" ucap Valen santai.
"Dan gue baru dapat kabar kalau kakak lo juga sudah menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit saat kedua orang tua gue bawa dia ke rumah sakit," ucap Ale dari arah belakang Valen.
"A-apa?"
Napas Sofyan tercekat dan badannya luruh ke lantai, dia tak menyangka jika nasibnya akan seperti ini. Sofyan menjambak rambutny kasar dan mulai meracau tak jelas.
Semua orang menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di dengar mereka barusan. Dan tepat saat itu televisi di sana menyiarkan kematian kakak Sofyan yang secara tiba tiba di duga karena gagal salah satu organ vitalnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi di sana kedua orang tua Sofyan juga sudah di gelandang oleh beberapa petugas kepolisian dengan di kawal ketat.
"Lihat gue udah bilang kan kalau kesombongan lo bakal bawa lo ke neraka dunia, tapi nyatanya lo tetap silau sama harta lo yang nggak seberapa itu?" ejek Ale pada Sofyan.
Sofyan menegakkan kepalanyan dan menatap nanar ke arah Valen dan juga Ale.
"Siapa kalian berdua sebenarnya?" tanya Sofyan lemas.
Valen dan Ale tak langsung menjawab, tapi kemudian mereka berdau tersenyum lembut saat ada dua orang laki laki yang masuk ke dalam cafe itu dengan gagah dan menguarkan aura yang menbuat siapa saja terpesona, termasuk gadis yang membela Valen dan juga Ale tadi.
"Mereka berdua tunangan kami!"
Arlo dan Dean yang baru saja masuk ke dalam cafe itu menjawab bersamaan dan langsung menghampiri Valen dan Ale.
Dean serta Arlo bahkan tak segan mencium puncak kepala si kembar di depan banyak orang.
Semua orang yang ada di sana sontak terkejut karena tak menyangka jika kedua kembar kakak adik itu tunagan dua laki laki paling di buru di negeri itu. Dan jelas mereka akhirnya tahu siapa Valen dan Ale sebenarnya.
Ale hanya melirik gadis tadi yang nampak syok dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Gue nggak bakal biarin siapa aja ambil milik gue!"batin Ale.
Mata Ale yang menajam seketika melembut karena sentuhan tangan Arlo, Ale pun menatap Arlo dan tersenyum lembut ke arahnya.
"Tak perlu memikirkan apapun karena selamanya aku tetap jadi milik kamu."
To be continued...