Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Remah-Remah Biskuit
"Pagi, Mas!" sapa Yumna ceria.
Pagi ini Yumna terlihat berbeda. Ia mengenakan terusan berwarna pastel yang simpel namun elegan, rambutnya dibiarkan tergerai alami, dan entah kenapa, di mata Evander, Yumna terlihat beberapa tingkat lebih manis dari biasanya.
Evander yang tengah sibuk dengan tablet di tangannya hanya melirik sesaat. Namun, gerakan mata pria itu tidak bisa berbohong. Tatapannya tidak mendarat di mata atau pakaian Yumna, melainkan tertahan sepersekian detik lebih lama pada bibir ranum sang istri. Ingatan tentang rasa manis semalam mendadak membanjiri kepalanya, membuat konsentrasinya pada laporan saham di tablet langsung buyar.
"Hum... pagi," jawab Evander singkat, berusaha terdengar sedingin mungkin meski tenggorokannya mendadak kering.
Yumna duduk persis di sebelah kiri Evander. Tanpa rasa canggung, ia mulai fokus pada piring sarapannya yang berisi pancake madu dan buah-buahan segar. Melihat betapa antusiasnya Yumna memotong pancake dan memasukkannya ke mulut dengan pipi yang menggembung, Evander diam-diam menarik sudut bibirnya. Ada hiburan tersendiri melihat "makhluk ajaib" ini makan dengan penuh semangat; rasanya semua kerumitan di kantor menguap begitu saja.
Namun, fokus Evander lagi-lagi tergelincir. Setiap kali Yumna mengunyah atau menjilat sedikit madu yang menempel di sudut bibirnya, Evander harus berdehem keras untuk menyadarkan dirinya sendiri. Ia merasa seperti remaja yang sedang naksir diam-diam, padahal dia adalah CEO yang paling disegani.
"Buruan sarapannya, Yum," ujar Evander akhirnya, mencoba mengalihkan gejolak aneh di dadanya. "Kalau kamu masih mau makan banyak, suruh maid kemas aja buat di mobil."
Yumna mendongak, matanya mengerjap polos. "Ih, Mas kok tahu sih aku mau nambah? Emang kelihatan banget ya kalau aku masih lapar?"
"Kelihatan dari cara kamu menatap omelette di tengah meja itu seperti mau menerkam mangsa," sahut Evander datar sambil meletakkan tabletnya.
Yumna nyengir tanpa dosa. "Ya habisnya enak, Mas! Sayang kalau ditinggal. Lagian kita kan mau ke rumah sakit, nanti di sana aku butuh energi ekstra buat dengerin tangisan Cindy dan ocehan Tante-Tante Mas itu."
Evander berdiri, merapikan jasnya yang tak bercela. "Makanya cepat. Desta dijadwalkan sampai di rumah sakit jam sepuluh. Saya tidak ingin dia sampai lebih dulu dan mulai menebar drama sebelum kita ada di sana."
Yumna langsung sigap. Ia memanggil maid untuk mengemas sisa sarapannya, benar-benar dilakukan sesuai saran Evander, lalu berdiri di samping suaminya.
"Siap, Bos! Yuk berangkat! Aku sudah siap jadi asisten pribadi yang galak buat si Desta nanti," ucap Yumna sambil membenahi tas kecilnya.
Evander menatap Yumna sesaat, tangannya terangkat seolah ingin merapikan anak rambut di dahi Yumna, namun ia mengurungkan niatnya dan justru beralih memegang pundak istrinya.
"Ingat, tetap di dekat saya. Jangan biarkan dia bicara macam-macam padamu," bisik Evander protektif.
Yumna mengangguk mantap, tidak menyadari bahwa di balik instruksi profesional itu, ada rasa posesif yang mulai tumbuh subur di hati Evander Moreno.
Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya. Saat Evander dan Yumna sampai di depan kamar VIP Cindy, mereka melihat sosok pria berdiri di sana. Desta. Namun tidak kunjung masuk ke dalam.
Begitu melihat kedatangan Evander dan Yumna, wajah Desta menegang. Matanya terpaku pada tangan Evander yang berada di pinggang Yumna.
"Pak Evander... Yumna...eh, Ibu Yumna" suara Desta terdengar bergetar, ada binar penyesalan sekaligus ketidakpercayaan melihat Yumna yang kini nampak begitu "mahal".
Yumna hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa ia gunakan saat melayani pelanggan komplain di kantor dulu. "Halo, Mas Desta. Selamat datang kembali di Jakarta. Gimana, sudah siap mulai kerja jadi asistennya Nona Cindy? Tuh, Nona besar sudah nungguin di dalam."
Entah kenapa, melihat tangan Evander yang selalu merengkuh pinggang Yumna seakan takut istrinya itu diculik, suasana di sekitar mereka terasa memanas. Evander sengaja melakukannya, ia ingin menegaskan kepemilikan. Terlebih lagi, ia menangkap basah Desta yang berkali-kali melirik diam-diam ke arah Yumna dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rindu, menyesal, dan kagum melihat transformasi Yumna yang kini nampak sangat berkelas.
"Ck, definisi mata buaya darat," gumam Evander pelan, suaranya sedingin es.
Namun, gumaman itu ternyata terdengar oleh Yumna yang memang berdiri menempel di sebelahnya. Yumna mendongak, menatap suaminya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat, lalu melirik ke arah Desta yang langsung membuang muka dengan salah tingkah.
"Siapa, Mas? Mas atau cecurut itu?" tanya Yumna tanpa filter.
Evander hampir saja tersedak harga dirinya sendiri. Ia menunduk, menatap mata Yumna yang berkilat jenaka. "Tentu saja cecurut itu. Saya tidak pernah memangsa apa pun kecuali jika sudah menjadi hak saya."
Yumna tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun menusuk telinga Desta. "Oh, kirain Mas lagi self-talk. Habisnya Mas pegang pinggang aku kencang banget, kayak lagi megang dompet pas di pasar kaget, takut ilang ya?"
Desta yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka mengepalkan tangannya. "Yumna... kamu banyak berubah ya."
Yumna menoleh ke arah mantan tunangannya itu, senyumnya tidak luntur sedikit pun. "Oh jelas, Mas Desta. Lingkungan menentukan kualitas. Kalau dulu aku cuma remah-remah biskuit di tangan Mas, sekarang aku sudah jadi hidangan utama di meja Moreno. Bedalah levelnya."
Evander merasa bangga mendengar jawaban istrinya yang pedas namun elegan. Ia semakin mengeratkan rangkulannya, membawa Yumna masuk melewati Desta seolah pria itu hanyalah pajangan koridor rumah sakit yang tidak penting.
"Ayo masuk, Yumna. Jangan biarkan cecurut itu menghalangi jalan kita," ajak Evander.
Di dalam kamar, Cindy sudah menunggu dengan wajah sumringah saat melihat Desta mengekor di belakang Evander. "Desta! Akhirnya kamu sampai!" teriak Cindy manja, mengabaikan kehadiran Evander dan Yumna sejenak.
Desta mendekat ke ranjang Cindy, namun matanya masih sesekali melirik ke arah Yumna yang kini duduk dengan anggun di sofa VIP, menyilangkan kakinya dengan gaya yang sangat aristokrat.
"Desta, mulai hari ini kamu harus jaga aku 24 jam ya. Kaki aku sakit banget," keluh Cindy sambil meraih tangan Desta.
Desta mengangguk kaku. "Iya, Cindy. Aku di sini."
Yumna yang melihat pemandangan itu tiba-tiba teringat tugasnya sebagai asisten pribadi. Ia berdiri dan menghampiri Desta, membuat pria itu otomatis menegang.
"Eh, Mas Desta. Karena Mas sekarang asisten pribadinya Nona Cindy, kebetulan banget. Mas Evander lagi pengen minum kopi dari kafe yang ada di seberang komplek rumah sakit ini. Katanya Mas Desta hafal banget kan jalanan sini? Tolong ya, jangan pakai lama," ujar Yumna sambil menyerahkan selembar uang seratus ribuan ke tangan Desta.
"Tapi Yumna, aku baru saja sampai..." protes Desta.
"Desta," potong Evander dengan suara otoritasnya. "Istri saya memberikan instruksi. Sebagai staf yang berada di bawah pengawasan saya, apa kamu keberatan?"
Desta menelan ludah. Ia melihat ke arah Cindy yang tampak bingung, lalu ke arah Evander yang menatapnya seperti predator. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia menerima uang itu.
"Baik... saya berangkat sekarang."
Begitu Desta keluar ruangan, Yumna kembali duduk di samping Evander dan berbisik pelan. "Skor satu kosong ya, Mas?"
Evander hanya membalas dengan senyum miring yang sangat tampan. "Lanjutkan, Nyonya Moreno. Saya suka cara mainmu."