NovelToon NovelToon
MISIDENTIFIED

MISIDENTIFIED

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Dark Romance / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: aiyuki

Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.

Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancur

Genap seminggu sejak hari itu, Ethan selalu terbangun dengan dada berat, seperti ada batu besar yang menempel, menekan setiap helaan napasnya. Apartemen yang dulu terasa hangat karena kehadiran Serra kini menjadi sunyi, dingin, dan menekan.

Setiap sudut ruangan, seperti sofa yang dulu mereka duduki bersama, rak buku yang berserakan, bahkan aroma kopi yang samar seakan menjadi saksi bisu dari kehilangan yang tak bisa ia perbaiki.

Ia menatap ke arah bingkai jendela, di mana tanaman langka yang dulu ia rawat dengan penuh cinta kini mulai layu. Daunnya menggantung lemas, merunduk, seolah ikut merasakan kesedihan pemiliknya.

Ethan menelan ludah, perasaan bersalah mencekam dada. Selama seminggu ini, ia terlalu tenggelam dalam kemarahan dan kekecewaan, terlalu sibuk membenci kenyataan, hingga melupakan hal-hal kecil yang masih hidup.

Tangan Ethan gemetar ketika ia menyentuh batang tanaman itu. "Maaf… maafkan aku", bisik nya serak, nyaris tidak terdengar. Ia menatap daun-daun yang menguning, merasakan rasa sakit yang mengiris hati. Beberapa detik kemudian, ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Hiks, AAAAAARGH!!!"

Tangisan pertama pecah saat itu juga, bukan tangisan memohon agar Serra kembali, melainkan untuk dirinya sendiri. Ethan berteriak, meraung, memukul dinding, bahkan sampai menendang meja. Ia menumpahkan segala bentuk amarah yang menumpuk selama seminggu ini.

Hingga beberapa saat kemudian suasana hatinya mulai sedikit tenang. Pria itu menarik napas dalam, lalu menghembuskan nya perlahan, menerima kenyataan jika kekasihnya memang benar-benar tidak akan kembali.

...----------------...

Setelah menumpahkan amarahnya, Ethan mulai bergerak, membersihkan ruangan apartemen yang berantakan, bukan hanya ruang tamu yang ia buat seperti kapal pecah, tapi hal lain pun sudah lama ia abaikan. Seperti piring kotor yang berserakan, lantai penuh debu dan noda, serta tanaman yang hampir mati, mulai ia rapikan perlahan. Setiap gerakan sederhana, terasa seperti latihan untuk menemukan kembali kontrol atas dirinya sendiri.

Saat ia sibuk membersihkan, ingatannya tentang Serra terus menyeruak. Senyum yang selalu membuatnya merasa aman, tawa yang terdengar seperti musik, tangan yang lembut menepuk punggungnya, kenangan itu begitu menusuk.

Malam itu, ia duduk di sofa, menatap ke luar jendela. Apartemen yang dulu terasa hangat kini hanya menyisakan hampa. Ia membiarkan ingatan tentang Serra mengalir, menenangkan dirinya dengan cara yang pahit. Pria itu berusaha menerima kehilangan, untuk tetap melanjutkan hari.

...----------------...

Keesokan harinya, Ethan mulai kembali bekerja di toko tanaman. Tuan Robert menatapnya dengan tatapan campur aduk, pria tua itu sempat marah karena Ethan bolos seminggu, tapi juga merasa iba.

"Jadi, kalian bercerai?", suara Mr. Robert terdengar iba. Ethan hanya mengangguk pelan, "aku turut prihatin, jika kau butuh waktu.." kalimat tuan Robert terpotong, "tidak, saya sudah bisa bekerja seperti biasa."

Cerai, entah mengapa kata itu terlintas begitu saja dalam benaknya. Walaupun mereka bukan suami isteri sungguhan, namun kata itu cukup untuk dijadikan alasan pada situasinya saat ini.

Di toko tanaman itu, Ethan bekerja seperti robot. Dengan sorot mata yang kosong, ia mulai memindahkan pot, menyiram tanaman, lalu menata rak. Ia tersenyum dan berbicara ramah kepada pelanggan, namun di dalam dirinya seperti tidak memiliki emosi.

Di luar, Ethan memang tampak profesional dan ramah, tapi begitu kembali ke apartemen, semuanya berbeda. Ia membiarkan dirinya merasa lelah, marah, dan sedih tanpa batas. Apartemen kecil itu satu-satunya tempat di mana ia bisa menumpahkan segala emosi.

Tetangga sekitaran apartemen sudah mulai berbisik-bisik. Mereka mulai mencium kabar perceraian antara June dan Lucas, pasangan pengantin baru yang ramah dan hangat.

"Mereka cerai ya?," salah satu tetangga berbisik kepada yang lain, tatapannya menyiratkan iba dan sedikit rasa ingin tahu. Ethan hanya tersenyum tipis ketika bertemu beberapa tetangga, tanpa mengatakan apapun.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama. Namun Ethan mulai menyadari, meski rasa sakit itu belum hilang, ada hal-hal kecil yang masih bisa ia kontrol, contohnya saat ia memasak, merawat tanaman, atau membersihkan rumah.

Aktivitas sederhana itu memberinya sedikit kekuatan. Ia mulai mengerti bahwa menerima kenyataan bukan berarti melupakan, melainkan belajar hidup dengan luka itu sambil tetap menjaga dirinya sendiri.

Suatu sore setelah pulang bekerja, Ethan duduk di sofa ruang tamu, menatap tanaman langka yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan kembali.

ia menatap suasana senja sembari memeluk dirinya sendiri. Ethan tahu, jika hidupnya belum sepenuhnya berakhir, entah sampai kapan rasa sakit itu akan berkurang. Namun satu hal yang pasti, ia hanya akan terus bertahan.

...----------------...

Sementara itu di tempat lain, Serra melangkah pelan ke dalam ruangan kantor Riven, tempat pria berjambang tipis itu berkamuflase. Sepatu haknya nyaris tak bersuara, ia tahu jika detik ini bisa menjadi detik terakhirnya.

Dengan ekspresi yang tetap tenang dan profesional, wanita itu melepas semua senjata yang ia bawa, lalu mengangkat tangannya tinggi.

"Kau..," suara Riven terdengar berat dan penuh kemarahan yang lama terpendam. Pistol di tangannya langsung terangkat, menodong ke bagian dahi Serra, "untuk apa kau kembali?!," bentaknya.

Serra menatap lurus, "lokasi Adrian Vale, ada padaku."

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
semoga itu Adrian Vale bukan Ethan berharap salah aja pokoke dah🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
apakah kira kira Ethan ini adalah Adrian Vale atau hanya mirip 🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Serra Lune padahal kau mengkhawatirkan Ethan makanya balik lagi kerumahnya iya kan wkwkwkkw🤭
Aiyuki: 🤭🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
sepertinya Ethan senang hati karena peralatan yang dia buat dipakai latihan sama Serra 🤭
Aiyuki: 🤭 sepertinya bgcu
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
masih meraba raba Serra Lune kenapa bisa terluka parah karena apa dan siapa yang melukainya hingga hampir game over 🤔
Aiyuki: siapa hayoo🤭
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
singgah dimari kiteee 🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Aiyuki: mari2 silahkan, enjoy ya✌
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
weihhh... akhirnya dirimu aktif kembali setelah sekian purnama menyembunyikan diri. selamat atas rilis karya baru nya. semoga sukses💪💪💪
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: sama2. 💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!