NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lantai 100 dan Bayang yang Mengintai

Pagi setelah pertemuan dengan Hisoka terasa seperti udara yang tiba-tiba lebih tebal. Raito terbangun dengan perasaan bahwa kota ini tidak lagi hanya tempat bertahan—ia sekarang adalah arena yang menunggu langkah berikutnya. Cahaya di dadanya berdenyut pelan sepanjang malam, seperti alarm yang tidak berbunyi tapi terus mengingatkan: ada yang mengawasi.

Mira sudah bangun, sedang memeriksa pisau dan tas kecil mereka. Yuna duduk di lantai, menggambar sesuatu di kertas bekas dengan pensil pendek—gambar lentera kecil dengan tiga orang di sekitarnya.

“Kita mulai hari ini,” kata Mira tanpa basa-basi. “Heavens Arena, lantai 100. Kalau Hisoka serius mau tunggu di sana, kita harus naik cepat. Lantai 100 adalah garis antara pemula dan petarung sungguhan.”

Raito mengangguk. “Aku siap. Tapi aku nggak mau naik cuma untuk lawan dia. Aku mau naik supaya kalau dia muncul, aku bisa lindungi kalian tanpa harus bunuh.”

Yuna menoleh dari gambarnya. “Aku ikut ke arena ya? Aku mau lihat Kak Raito bertarung!”

Mira menggeleng. “Terlalu berbahaya. Kamu tetap di penginapan. Kita pulang setiap malam. Kalau ada apa-apa, kamu lari ke Taro seperti kemarin.”

Yuna cemberut, tapi akhirnya mengangguk. “Aku janji jaga kamar. Tapi kalian harus ceritain semuanya nanti malam!”

Raito mengacak rambutnya. “Janji.”

Mereka berdua berangkat ke Heavens Arena. Bangunan raksasa itu menjulang seperti biasa—kaca dan baja yang berkilau di bawah matahari pagi Yorknew. Di pintu masuk, antrean peserta baru sudah panjang, tapi Raito dan Mira punya kartu akses dari lantai sebelumnya. Mereka langsung naik lift ke lantai 50—titik di mana aturan mulai berubah.

Petugas di lantai 50 memperingatkan: “Dari sini ke atas, pertarungan bisa fatal kalau kalian nggak hati-hati. Tidak ada larangan bunuh resmi, tapi kalau mati, kalian mati. Hadiah lebih besar, tapi risikonya juga.”

Raito mengangguk. “Aku mengerti.”

Pertarungan pertama di lantai 50: lawan Raito adalah petarung berusia 30-an bernama “Steel Claw”—pria bertubuh kekar dengan sarung tangan logam yang dibungkus aura Enhancement. Dia maju seperti tank, pukulan-pukulannya cukup kuat untuk memecah beton.

Raito tidak langsung serang. Dia aktifkan Dawn Pulse—embun cahaya tipis mengelilingi tubuhnya seperti napas. Steel Claw menyerang dengan pukulan beruntun—setiap pukulan mengeluarkan gelombang kejut kecil.

Embun cahaya menyerap sebagian kekuatan. Raito menghindar, menangkis, mencari celah. Mira dari pinggir ring berteriak: “Jangan bertahan terus! Gunakan retak itu!”

Raito ingat retak di dadanya—bukan luka, tapi jendela. Dia biarkan cahaya mengalir melalui retak itu—bukan meledak, tapi mengalir lebih dalam, lebih fokus.

Dia maju. Tinju kanannya tidak lagi hanya pukulan biasa. Cahaya mengalir ke telapak—bukan sinar tajam, bukan gelombang, tapi denyut hangat yang menembus aura Steel Claw. Saat tinju menyentuh dada lawan, Steel Claw terhuyung—bukan karena sakit fisik, tapi karena tiba-tiba merasa… kosong. Seperti semua ambisi dan kemarahan yang mendorongnya bertarung tiba-tiba terasa sia-sia.

Steel Claw jatuh berlutut. “Aku… menyerah.”

Penonton terdiam. Wasit mengangkat tangan Raito. “Pemenang: Raito!”

Mira naik ke ring. “Itu… baru. Kamu nggak pukul dia sampai pingsan. Kamu bikin dia menyerah karena dia sendiri yang menyerah.”

Raito mengangguk. “Aku nggak mau bunuh. Aku mau… bikin mereka lihat bahwa bertarung nggak selalu harus sampai mati.”

Mereka naik terus—lantai 60, 70, 80. Setiap lantai lawan lebih kuat, tapi Raito tidak lagi bertarung dengan kekerasan. Cahaya-nya sekarang seperti cermin kecil—membuat lawan melihat retak di diri mereka sendiri. Banyak yang menyerah sebelum pertarungan berakhir. Banyak yang mundur dengan mata kosong.

Di lantai 90, lawan Raito adalah petarung wanita bernama “Frost Veil”—Transmuter yang mengubah aura jadi kabut es yang membekukan. Pertarungan berlangsung lama. Kabut es Frost Veil menyelimuti ring, membuat gerakan Raito melambat.

Tapi Raito tidak panik. Dia biarkan embun cahaya-nya bertabrakan dengan kabut es. Ada suara crack kecil—bukan es yang pecah, tapi retak di aura Frost Veil yang mulai terlihat.

Frost Veil berhenti. “Kenapa… aku tiba-tiba nggak mau bertarung lagi?”

Raito menurunkan tangan. “Karena kamu lihat sendiri… bertarung nggak selalu harus menang. Kadang cukup bertahan, cukup hidup.”

Frost Veil menunduk. “Aku menyerah.”

Penonton mulai berbisik. “Anak itu nggak bunuh. Dia bikin orang menyerah tanpa darah.”

Di lantai 100, pintu lift terbuka ke arena yang berbeda—lebih luas, lebih terang, dengan tribun penuh penonton profesional. Di tengah ring, Hisoka sudah menunggu—kartu remi di tangan, senyum tipis yang tidak pernah hilang.

“Ara~ Ara~ Kamu naik cepat sekali. Dan cahaya-mu… semakin indah.”

Raito maju ke ring. Embun cahaya mengelilingi tubuhnya—sekarang lebih terang, lebih stabil, seperti jubah fajar.

Mira dan Yuna menonton dari tribun. Yuna memegang tangan Mira erat-erat.

Hisoka memiringkan kepala. “Aku nggak akan main-main malam ini. Aku mau lihat… seberapa jauh retak itu bisa membawamu.”

Raito mengangguk. “Aku juga mau lihat. Bukan untuk menang… tapi untuk tahu batas cahaya ini.”

Peluit berbunyi.

Hisoka bergerak pertama—kartu remi melesat dengan aura Bungee Gum, lengket dan elastis. Raito tidak menghindar. Dia angkat tangan—embun cahaya berubah jadi gelombang hangat yang menyambut kartu itu.

Kartu itu terjebak di gelombang—tidak menembus, tapi juga tidak lenyap. Aura Hisoka bertabrakan dengan cahaya Raito—merah muda gelap bertemu kuning keemasan hangat.

Hisoka tersenyum lebih lebar. “Menarik. Cahaya yang bisa menahan Bungee Gum tanpa memotong.”

Raito maju pelan. “Aku nggak mau potong. Aku mau… terima.”

Hisoka tertawa. “Terima? Itu bukan cara bertarung.”

Dia maju lebih cepat—pukulan, tendangan, kartu beruntun. Raito tidak menyerang balik. Ia hanya bertahan—embun cahaya menyerap, mengalihkan, mencerminkan. Setiap serangan Hisoka terasa kembali ke dirinya sendiri—bukan sakit fisik, tapi rasa yang tiba-tiba muncul: keraguan, kebosanan, pertanyaan “untuk apa semua ini?”

Hisoka berhenti. Napasnya sedikit tersengal—bukan karena capek, tapi karena sesuatu yang baru.

“Kamu… bikin aku meragukan kenikmatan bertarung.”

Raito menurunkan tangan. “Aku nggak mau kamu berhenti bertarung. Aku cuma mau kamu lihat… ada cara lain.”

Hisoka memandangnya lama. Lalu dia tertawa—tawa yang berbeda, bukan ejekan, tapi tawa yang hampir… senang.

“Kamu benar-benar menarik. Aku nggak akan bunuh kamu hari ini. Tapi aku akan terus ikuti. Sampai aku paham… apa yang bikin cahaya ini bisa membuat monster seperti aku ragu.”

Dia berbalik, melangkah keluar ring tanpa pertarungan selesai.

Wasit bingung. “Pertarungan… seri?”

Penonton berbisik-bisik. Mira dan Yuna berlari ke ring.

Raito memandang ke arah Hisoka pergi. Cahaya di dadanya berdenyut pelan—bukan kemenangan, bukan kekalahan.

Hanya penerimaan.

Mira memeluknya dari samping. “Kamu nggak lawan dia sampai akhir.”

Raito tersenyum kecil. “Aku nggak perlu. Dia sudah lihat yang aku mau tunjukkin.”

Yuna memeluk kaki Raito. “Kak Raito keren!”

Raito mengangkat Yuna. “Kita pulang. Besok… kita cari tahu lebih banyak tentang Dark Continent. Kalau portal itu terbuka karena aku… mungkin jawabannya ada di sana.”

Mereka bertiga keluar dari arena lantai 100.

Di belakang mereka, Hisoka berdiri di balkon tinggi, memandang turun dengan senyum tipis.

“Fajar yang tertahan… sekarang mulai bergerak. Aku akan ikuti… sampai akhir permainan.”

Yorknew terus bernapas.

Dan di ujung chapter ini, sebuah perjalanan baru dimulai—bukan ke portal pulang, tapi ke Dark Continent, ke tempat di mana cahaya dan kegelapan bertabrakan.

Dan Hisoka, bayang yang tersenyum, sudah mulai mengikuti dari kejauhan.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!