Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Aku, Calon Suami Rani
Orang yang menendang pencopet tadi memungut tas yang dijambret.
"Mas?" Seseorang itu memanggil namanya.
Adimas menatap terkejut. Seorang gadis berjilbab putih bersih berdiri sambil memegang tas yang berhasil diselamatkannya. Matanya yang bulat, coklat, bening menatap ke arah Adimas dengan prihatin.
Dunia seakan berhenti berputar. Adimas mengerjapkan mata dan setengah berharap ini hanya mimpi. Tapi, sosok itu tetap berdiri di depannya. Wajah lembut terbingkai jilbab putih. Baju panjang melambai pelan. Sinar matahari menyeruak dari tengah kegelapan dan jatuh menimpa tatapan gadis itu. Tidak, ini bukan manusia biasa. Ini bidadari yang menjelma ke dunia! Adimas merasa dadanya berdegup kencang dan napasnya menjadi sesak.
"Ran?" Suara Adimas terdengar parau. Benarkah ini Rani yang dulu? Beberapa tahun perpisahan, waktu mampu mengubah gadis itu menjadi semakin menawan. Gadis yang dicintainya, gadis yang ditunggunya selama ini kini berdiri tepat di hadapannya.
Kenangan masa lalu mereka seolah terus berlalu-lalang dalam kepala mereka. Semua kenangan indah dan pedihnya membuat keduanya tersenyum satu sama lain.
Sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa pusing, Adimas mencoba untuk bangkit berdiri dengan susah payah. Ia menatap sedikit heran ke arah Rani yang sama sekali tidak berusaha membantunya berdiri. Tapi ia kemudian mengabaikan perasaan itu. Tertutup perasaan bahagia. Bertemu Rani kembali. Ia menepuk-nepuk jaket kulitnya yang terlihat semakin lusuh.
“Makasih, Ran.” Sejuta perasaan kini menggunung di hati Adimas, dan jutaan rasa ingin dia ungkapkan pada gadis cantik itu.
Rani tersenyum. Tapi di mata Adimas, senyum Rani itu tampak kaku. Mungkin perasaan bersalah tidak menolong dirinya membuat hati gadis itu tidak nyaman. Adimas tidak tahu apa sebabnya.
“Makasih?” tanya Rani, heran. Senyum mengembang di pipinya, dan hampir saja setitik air mata turun dari sudut matanya.
Adimas menjawab pertanyaan itu sambil menunjuk pencopet itu yang sudah jatuh terkapar. Rani kembali tersenyum. Ia menyerahkan tas yang dipegangnya. Adimas menerima tas itu.
Di belakang, Arya berjalan bersama ibu pemilik tas. Arya mengambil tas itu dan menyerahkannya ke pemiliknya. Ibu itu berkali-kali mengucap terima kasih. Ia memegang tangan Adimas erat. Adimas salah tingkah. Rani tertawa sopan melihat ekspresi Adimas.
“Bukan saya, Bu. Calon istri saya yang berhasil menangkap pencopet itu,” Adimas mencoba menjelaskan sambil menunjuk Rani. Ibu itu menoleh ke arah Rani dan kemudian berulang-ulang kembali mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Rani langsung menahan senyumnya, senyum yang sangat bahagia. Entah, pengakuan itu selalu ada dalam mimpinya hampir setiap malam. Dan kini, Adimas menyatakannya dengan gamblang.
Arya tidak fokus saat itu, dia lebih berfokus pada korban dan tidak memperhatikan Rani, Arya mengantar ibu itu kembali ke jalan yang tadi, melanjutkan perjalanannya.
"Apa kabar?" tanya lagi Adimas mengulurkan tangannya, namun tangan itu tergantung cukup lama, tak sabar. Adimas ingin langsung menerjang tubuh itu dan memeluknya erat, atau boleh tidak ya kalo Adimas langsung saja menculiknya?
Pikiran aneh itu terus berseliweran, Rani tersenyum sopan dan sejenak memperhatikan rambut gondrong Adimas. Bahkan kulit putih bersihnya yang dulu kini berubah coklat, dan ujung jari tangannya ada sedikit oli disana. Rani menelungkupkan tangannya di dada dengan takzim. Adimas mengedipkan matanya beberapa kali dan ternganga heran. Jadi itu sebabnya tadi Rani tidak membantunya bangkit?
Dengan berat hati, Adimas akhirnya menarik kembali tangannya. Sedangkan Rani di sana tampak tersenyum kaku, perubahan itu terlalu besar bagi Adimas. Apakah Rani yang dia kenal dulu akan tetap sama? Atau justru dia harus mengenal ulang Rani?
Rani tampak membawa dua koper besar dan sebuah tas selempang. Adimas menatap semua itu hingga seorang pria yang sejak tadi mengejar Rani akhirnya berhasil menemukan Rani.
"Rani, kenapa kamu pergi sendiri?" tanya pria itu, pria berkemeja putih bersih dengan kacamata besar melingkari kedua matanya.
Rani menghela napas kasar. Dimulai dari Kairo sampai dengan Jakarta, dari Jakarta sampai dengan Bukitinggi, dan sekarang sudah di Bandung juga. Pria itu tetap mengikutinya tanpa henti. Dia adalah sosok yang kini dijodohkan oleh Ayahnya, Rani menatap Adimas seolah memohon sesuatu.
"Eh, siapa ini?" tanya Adimas akhirnya, menyadari kegelisahan Rani.
"Ini Hanan, dia teman kuliah saya, Mas," jawab Rani. Adimas tersenyum lembut.
"Dimas!" Teriakan dari belakang tubuh Adimas membuat semua orang berbalik menatap sumber suara.
"Kak Arya," senyum Rani. Arya yang tadi lebih fokus pada ibu yang kecopetan tidak fokus dengan orang yang membantu mereka. Namun kini dengan jelas dia melihat wanita yang sempat mengisi hari-harinya selama satu tahun lebih, dan pernah dicintainya juga, meski cintanya jelas bertepuk sebelah tangan, dan Arya memilih legowo dengan keputusan Rani yang malah lebih memilih Adimas.
"Siapa mereka, Ran?" tanya lagi Hanan.
"Ini Kak Arya, dia pelanggan setia di tempat kerjaku dulu. Dia juga sahabatku. Kak Arya, ini Hanan, teman kampusku di Kairo," ucap Rani. Arya mengulurkan tangan dan diterima baik oleh Hanan.
"Dan ini-"
"Aku Adimas, calon suami Rani," jelas Adimas. Mata Rani sontak membulat mendengar itu lagi. Hanan tampak melotot mendengar pengakuan Adimas, sedangkan Rani hanya tersenyum menanggapi ucapan Adimas itu.
"Apa maksudnya?" tanya Hanan. Adimas mengangkat jari manis di tangan kanannya. Cincin yang dulu diberikan Rani dan kokka yang diberikan Rani masih melingkar di tangan kanannya.
"Angkat tanganmu, Ran," pinta Adimas. Rani tersenyum mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Namaku Adimas Aditiya," ucap lagi Adimas memberi kode pada Rani untuk memperlihatkan gelang yang tersembunyi di balik baju panjangnya.
"Jadi, kenapa kamu mengejar ca-lon-is-tri-ku!" tegas Adimas mengeja setiap suku katanya.
"Rani, apa ini benar?" tanya lagi Hanan. Rani mengangguk pelan.
"Apa!" Hanan seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Seorang wanita muda, cantik, salehah, dan menjadi lulusan terbaik dari University Al-Azhar. Dan satunya lagi seorang pria yang setelannya seperti preman dengan jaket kulit kucel, wajah penuh debu, bahkan tangannya tampak sedikit oli di sana, bahkan rambut panjangnya itu.
Secara fisik Hanan tidak percaya sama sekali. Dia tidak mempercayai semuanya dengan mudah. Arya yang berada di tengah ketegangan itu menatap mereka bergantian.
"Wah, kita gak bawa mobil. Mau naik motor?" ajak Arya. Rani mengerutkan keningnya bingung.
"Sableng!" Adimas memukul puncak kepala sahabatnya agak sedikit keras.
"Wadaw!" Arya mengerang kesakitan. Adimas langsung merogoh ponsel di saku jaket kulitnya. Sebuah pesan tampak tertera dari Elyra di sana, sebuah pesan meminta tolong agar Adimas menjemput Rani yang baru saja tiba di stasiun.
Dan di sana sangat dekat dari stasiun yang dicetuskan Elyra. Adimas menggigit bibir bawahnya sendiri. Adimas memang berubah total, dia juga sangat langka melihat ponselnya sendiri setelah kehilangan kontak dengan Rani.
"Dasar Elyra! Hampir aja istri gue diculik genderewo!" kesal Adimas. Dia langsung menghubungi sebuah nomor.
Sedangkan Hanan tampak membelalakkan matanya, mata permusuhan jelas terlihat di mata itu. Sebuah mobil sedan super mewah tampak datang ke sana.
"Tuan muda, kami dipinta Nyonya untuk menjemput Anda," ucap sopir tersebut. Hanan seolah menatap sinis pada Adimas, seolah dalam tingkahnya itu mengatakan, ‘Nih lihat pelayanan gue.’ Begitulah.
"Bawa mobil gue yang ada di bengkel ke sini, cewek gue pulang!" perintah Adimas. Rani mengedipkan matanya beberapa kali. Benarkah ini Adimas yang dia kenal?
"Ran, mendingan kamu bersama aku saja," pinta lagi Hanan, memperlihatkan mobil mengkilapnya. Rani menggeleng pelan dan menatap Adimas lagi.
‘Beneran minta digetok nih anak,’ pikir Adimas. Dia benar-benar mengibarkan bendera perang dengannya.
Sudah aku prediksi, kalo ini gak akan mudah. Retensinya gak masuk aaahhhh... sudahlah yah.. Semoga aja novel berikutnya menyala...
Yang mau liat sountrack nya novel ini, bisa tuh intip dulu aku. Author Lixx nah di samping karya ada trending geser ke sana. Disana ada kutipan YouTube yang aku buat sendiri bestieee.. Jadi bisa liat soundtrack nya ya.. Udah jadi tadaaa ..
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang