Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, bahkan saat orang tua pemuda itu tidak setuju, mampukah mereka bersatu memperjuangkan cinta mereka. baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momy datang panik menyerang
Ana yang mendengar teriakan Dewa, hanya terdiam terpaku apa lagi refleks langsung memeluknya.
“Mati kita, jatuh kita.” racau Dewa mendekap Ana erat, sedang Ana semakin planga plongo, dengan reaksi Dewa.
“Mas Dewa “ ucap Ana terbata, seumur hidup ia tidak pernah dipeluk oleh seorang cowok, membuat tubuhnya kaku dan jantung nya berdetak cepat.
“Diem, kita mau mati ini, kita mau jatuh.” racau Dewa lagi.
“Mas, le..lepas, aku gak bisa nafas, kita gak akan jatuh, ini memang biasa dihentikan begini, supaya kita jelas lihat pemandangan nya.” ucap Ana akhirnya dengan susah payah. Dewa yang mendengar itu, seketika melepas pelukannya, berdehem pelan. Sok gak takut.
“Maaf, aku tadi hanya refleks, takutnya kalau kamu takut “ elak Dewa dengan wajah dibuat datar, Ana mencibir.
“Alesan, mana ada orang yang ingin melindungi malah teriak-teriak, ketakutan, katanya gak takut, idih..” cibir Ana, memutar bola matanya malas.
“Gak gitu ya pendek, gue kan refleks, gitu aja, dah yuk turun,” ajak Dewa, karena bertepatan roda itu berhenti sudah sampai bawah. Ana hanya tersenyum mengejek. Dan ikut turun.
“Katanya mau beli baju, ayo,” Dewa kembali menggenggam tangan Ana, tidak mau membahas kejadian tadi, takut ketahuan kalau ia takut, emang paling pinter ngeles. Ana hanya pasrah mengikuti langkah Dewa. Berhenti disalah satu pedagang penjual baju perempuan, Dewa memicingkan mata, Heran.
“Eh, pendek, emang bajunya seperti ini?” tanya Dewa heran menyentuh daster dihadapannya.
“Ini daster mas, buat kalau mau tidur.” jawab Ana.
“Lha, bukannya kalau tidur itu pakai lingerie.” celetuk Dewa yang langsung mendapat tabokan di mulutnya.
“Mulutnya, tahu dari mana coba yang kayak gitu, mesum banget.” ucap Ana garang.
“Sakit lho, mesum apa lho, bukan nya emang itu buat tidur, kata Ando cewek kalau tidur pake baju begitu.” balas Dewa mengusap bibirnya yang habis teraniaya.
“Makanya, kalau temenan jangan sama orang somplak, kan jadi gitu, otaknya juga ikut geser,” seru Ana membuat Dewa meringis.
“Emang beda?” tanya Dewa lagi.
“Nikah sana kalau mau tahu, gak penting yang ditanya kan, heran,” sungut Ana berjalan pergi, Dewa mesem, bukannya gak tahu, ia hanya ingin menggoda Ana saja, biar marah, karena bagi Dewa Ana yang ngomel itu terlihat lucu dan manis. Somplak.
Setelah muter-muter dan Dewa selalu tidak setuju dengan baju yang Ana pilih, alhasil Ana kembali tidak mendapatkan baju dan Ana harus geleng kepala saat di penjual sandal, Dewa malah berdebat dengan penjualnya, sandal yang seharga seratus ribu, malah Dewa ngotot satu juta, penjualnya hanya planga-plongo dibayar satu juta, karena Dewa menganggap semua sandal asli, membuat Ana mengelus dada, beristigfar, dan menepuk jidat pusing. akhirnya mereka berhenti diwarung makan. Dewa membaca dengan pelan.
“Lalapan.” banyak gambar didepannya.
“Kita makan disini?” tanya Dewa lagi.
“Iya enak lho, sambelnya pasti enak.” jawab Ana yang sudah membayangkan makan Nila panggang dengan sambalnya.
“Nanti aku sakit perut lagi pendek, kalau makan sambal, aku juga gak bisa makan ikan.” jawab Dewa tidak setuju.
“Kan ada ayam, nanti aku suapi deh, belajar makan ikan kenapa, biar gak terus gak bisa, mas Dewa itu gak mau nyoba makanya, bilang gak bisa, ikan kan enak, dah ayo laper nih.” tarik Ana masuk dan langsung memesan Nila dan ayam bakar, bukan yang goreng, mereka duduk lesehan, Dewa melihat ke sekeliling dan berbisik.
“Higienis gak nih, awas kalau sampai gue diare.” ucap Dewa.
“Kalau gak higienis, semua orang yang makan disini udah sakit perut semua mas, udah diem, gak usah cerewet, aku tinggal juga nih.” ancam Ana membuat Dewa kicep, dan bermain ponsel. Mengabaikan tatapan memuja dari cewek-cewek yang lagi makan diwarung tersebut.
“Ganteng banget, astaga, mau dong jadi pacarnya, “ ucap seorang gadis yang duduk tidak jauh dari mereka duduk.
“Loe gak lihat tuh cowok sama pacarnya,” sahut temannya melirik kearah Ana.
“Masih pacar, masih bisa ditikung, yang laki orang aja masih bisa diembat,” sahut teman satu ya cekikikan.
“Bener, sekarang kan lagi tren pelakor.” jawab teman satu ya lagi, keempat cewek itu cekikikan, membuat Ana hanya mendengus. Makanan mereka pun sampai.
“Mas, makan dulu, jangan main Hp melulu.” ucap Ana Dewa menoleh.
“Suapi, malas aku.” jawab Dewa santai.
“Mas Dewa gak malu aku suapin?” tanya Ana lagi, perutnya udah lapar, malah tidak mau makan sendiri.
“Gak lah kenapa harus malu, Kan pacar sendiri.” jawab Dewa sengaja agak keras, dia diam bukan berarti tidak mendengar apa yang diucapkan para gadis-gadis yang sok cantik itu. Ana sampai tersedak salivanya sendiri mendengar jawaban Dewa. Tidak menyangka kalau Dewa mau menangapi ucapan-ucapan tidak penting dari para cewek yang tidak mereka kenal. Membuat keempat cewek itu sontak langsung terdiam, tengsin.
“Mau yang mana, ayam atau ikan?” tanya Ana.
“Terserah,” jawab Dewa, membuat Ana menghela nafas panjang. Dewa mangap begitu nasi sudah didepan mulutnya, alisnya mengernyit, merasakan rasa yang menurutnya baru di lidah nya, namun tidak protes dan terus mengunyah, Ana tersenyum, mereka makan satu piring berdua, sampai ikan habis, ayam habis, dan dua piring mereka habiskan dengan segelas es jeruk masing-masing. Dewa memegangi perutnya yang kekenyangan.
“Jadi ngantuk.” ucap Dewa menguap sembari berjalan menuju motor yang berada diparkiran.
“Naik mas,” perintah Ana memberikan helm kepada Dewa, dengan sigap Dewa memakainya dan naik ke boncengan tanpa rasa malu, walau banyak yang memperhatikan mereka, merasa aneh karena malah cewek yang membonceng cowok. Namun mereka sama-sama cuek. Motor itu melaju meninggalkan pasar malam yang penuh kenangan, bahkan mungkin tidak akan pernah mereka lupakan.
Motor itu terus melaju menuju rumah Dewa, diperjalanan Ana merasa hatinya kini tidak tenang, entahlah, ia merasakan akan ada yang terjadi dan itu bukan hal yang baik mungkin, motor matic itu memasuki halaman rumah, baru Dewa turun matanya melihat sebuah mobil hitam terparkir dihalaman, matanya memicing, karena itu bukan mobil teman-temannya dan juga bukan mobil, laki-laki jadi-jadian.
“Mas Dewa helm nya lepas dulu.” perintah Ana yang masih tidak sadar kalau Dewa memperhatikan mobil yang terparkir rapi tidak jauh dari mereka berhenti.
“Iya, sabar, kayaknya ada tamu.” ucap Dewa menunjuk mobil, Ana pun mengikuti arah telunjuk Dewa, Ana mengangguk.
“Trus siapa tamunya” tanya Ana, Dewa menggeleng, tidak tahu. Namun dari arah pintu masuk terdengar teriakan seorang perempuan.
"Dewa Anakku!!" teriaknya berlari menghambur ke pelukan Dewa.
"Mati aku." ucap Dewa pelan jantung nya berdetak cepat, sungguh ia tidak menyangka momy nya akan datang secepat ini, sementara Ana hanya diam kaku.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰