NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Kedua

Pagi itu kediaman Marquess benar-benar tampak seperti lukisan yang hidup. Cahaya matahari belum sepenuhnya tinggi, masih lembut dan hangat. Embun menggantung di ujung kelopak mawar merah muda, berkilau setiap kali angin tipis menyentuhnya. Aroma tanah basah dan bunga musim semi bercampur, menciptakan ketenangan yang nyaris menipu.

Ketenangan itu pecah oleh ketukan pelan di pintu kamar Elenna. Ia sudah berpakaian rapi, gaun sederhana berwarna krem pucat, rambutnya disisir halus dan diikat sebagian. Ketika pintu dibuka, seorang pelayan membungkuk hormat.

“Nona Elenna, Yang Mulia Putri Isabella mengundang Anda menghadiri jamuan teh pagi ini di gazebo kerajaan.”

Nama itu membuat dada Elenna mengencang samar.

“Gazebo kerajaan?” ulangnya, memastikan.

“Benar, nona."

Setelah pelayan pergi, keheningan belum sepenuhnya kembali ketika bayangan melintas di jendela. Seekor kucing berbulu perak melompat masuk dengan luwes. Bulunya bersih dan berkilau, terlalu terawat untuk kucing liar. Matanya, tajam dan waspada, menatap langsung ke arah Elenna.

“Kau lagi…” gumamnya.

Kucing itu tidak mengeong. Ia hanya berjalan ringan, menjatuhkan secarik kertas kecil yang terikat benang hitam di atas meja rias, lalu melompat keluar seperti angin.

Elenna membuka surat itu.

"Berhati-hatilah pada musuh yang tak terlihat. Buku Bunga Yang Tak Pernah Layu."

Tanpa nama. Hanya simbol bulan sabit tipis di sudutnya. Ia menutup mata sejenak.

“Jadi… ini bukan sekadar teh pagi. Tetapi siapa yang sebenarnya mengirim peringatan ini?" Gumam Elenna sembari membuang kertas tersebut ke perapian, guna menghilangkan jejak.

***

Gazebo kerajaan berdiri anggun di tengah taman, bangunan putih dengan pilar ramping dan tirai tipis yang berkibar pelan. Meja bundar telah tertata rapi. Porselen halus, teko perak, dan kue-kue kecil tersusun seperti bagian dari upacara tak tertulis.

Putri Isabella duduk di kursi utama, gaun biru pucatnya memantulkan cahaya pagi. Senyumnya lembut, tetapi tatapannya cermat, seolah tak ada detail yang luput.

Di sisi kanan sang putri, duduk Lilith. Anggun, percaya diri, dan terlalu tenang. Di belakangnya, Beth, berdiri sedikit menyamping dengan ekspresi waspada. Beberapa bangsawan muda lain duduk melingkar, ada yang tersenyum ramah pada Elenna, ada yang hanya mengamati, dan ada yang sinis ketika melihatnya.

“Lady Elenna,” sapa Putri Isabel ketika ia tiba. “Terima kasih telah memenuhi undanganku.”

Elenna membungkuk hormat. “Sebuah kehormatan bagi saya, Tuan putri Isabella."

Lilith tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.

“Kebetulan sekali adikku telah hadir, kami sedang membahas legenda lama yaitu ‘Bunga yang Tak Pernah Layu’. Kudengar kau cukup menguasai di bidang itu bukan?"

Nada suaranya lembut. Terlalu lembut.

Putri Isabel mengangguk. “Legenda itu sering disalahpahami oleh orang-orang. Dalam teks asli, bunga tersebut melambangkan kesetiaan abadi pada kerajaan.”

Lilith segera menyambung, “Tetapi tentu saja inti ceritanya jelas. Sang penjaga taman gagal karena ia ragu. Kesetiaan yang mutlak adalah fondasi untuk sebuah bangunan yang kokoh."

Beberapa tamu mengangguk setuju.

Beth menambahkan ringan, “Pada akhirnya, pengorbananlah yang menjaga mahkota tetap berdiri.”

Semua mata perlahan beralih pada Elenna. Ia bisa merasakan arah arus percakapan. Ini bukan diskusi. Ini ujian, seperti yang tertulis pada secarik kertas tadi.

“Menurut saya,” ucap Elenna tenang, “jika ditafsirkan dari permukaan, memang demikian.”

Lilith sedikit mengangkat alisnya.

“Tetapi di bagian tengah legenda,” lanjut Elenna, “disebutkan bahwa penjaga taman menyembunyikan bunga itu dari istana.”

“Karena ia ragu,” potong Lilith halus.

“Atau karena ia melindunginya,” jawab Elenna tanpa meninggikan suara.

Hening.

Ia melanjutkan, “Kalimat ‘bayangan yang tumbuh di dalam cahaya istana’ tidak muncul tanpa alasan. Penjaga taman tahu ada pihak di dalam istana yang ingin memanfaatkan bunga itu untuk kepentingan pribadi.”

Beberapa bangsawan saling pandang mendengar hal itu.

Lilith tersenyum tipis. “Itu hanya kiasan, Elenna. Teks tidak pernah menyatakan adanya pengkhianatan dari dalam. Menambahkan makna lain di luar teks bisa berbahaya.”

Nada itu kini lebih tegas.

“Mohon maaf para tamu sekalian, adikku mungkin masih terlalu muda untuk membedakan antara tafsir dan spekulasi,” tambah Lilith, seolah membela wibawa diskusi di hadapan sang putri. “Saya khawatir pengetahuan yang belum matang bisa menyesatkan.”

Ucapan itu terdengar seperti perhatian. Tetapi jelas sebuah serangan. Beberapa tamu mulai berbisik. Elenna merasakan panas menjalar di ujung jari, tetapi wajahnya tetap tenang.

“Saya tidak bermaksud menambahkan makna,” katanya lembut. “Saya hanya membaca apa yang tersirat. Jika legenda hanya ingin berbicara tentang keraguan akan kesetiaan, mengapa penulis menyisipkan peringatan tentang bayangan?”

Seorang bangsawan muda dari sisi kiri, putri Duke Ardent yang dikenal netral, bersandar dan tersenyum samar.

“Menarik,” ujarnya. “Saya selalu merasa bagian itu memang terasa… janggal jika diabaikan.”

Seorang gadis bangsawan lain mengangguk. “Saya juga. Justru karena tidak tertulis gamblang, bagian itu terasa penting.”

Suasana mulai bergeser.

Lilith mengeraskan rahang. “Kesetiaan yang dipertanyakan justru melemahkan fondasi kerajaan.”

“Tetapi kesetiaan tanpa pertimbangan bisa menghancurkan dari dalam,” balas Elenna pelan.

Kalimat itu tidak diarahkan pada siapa pun. Justru itu yang membuatnya tajam. Beth maju selangkah, suaranya lebih keras dari sebelumnya. “Lilith hanya ingin menjaga kemurnian makna legenda. Tidak semua orang berhak mengubahnya sesuka hati.”

“Dan tidak semua orang berhak memonopoli maknanya,” sahut bangsawan netral tadi ringan.

Beberapa tamu tersenyum kecil. Ada yang bahkan mencibir tipis ke arah Lilith.

Putri Isabel mengangkat tangan.

Semua terdiam.

“Teori Lady Lilith sesuai dengan teks yang tertulis,” ucapnya tenang.

Lilith tersenyum kecil, merasa pijakan kembali padanya.

“Tetapi,” lanjut sang putri, menoleh pada Elenna, “penafsiran Lady Elenna menunjukkan pemahaman terhadap konteks dan simbol.”

Ia berhenti sejenak.

“Legenda hidup bukan hanya karena kata-kata yang ditulis, tetapi karena keberanian untuk membaca maksud di baliknya.”

Tatapannya lembut pada Elenna.

“Engkau tidak hanya membaca teks. Engkau membaca kegelisahan penulisnya. Sungguh analisis yang menakjubkan, Elenna."

Pengakuan itu menggantung di udara.

Beberapa bangsawan dari fraksi netral memberi anggukan hormat kecil pada Elenna. Salah satu bahkan berbisik, cukup keras untuk terdengar, “Pemikiran yang tajam untuk seseorang seusianya, ketimbang kakaknya."

Lilith menunduk sebentar. Tangannya terkepal di bawah meja. Porselen cangkirnya bergetar tipis sebelum ia mengangkatnya untuk menyamarkan ketegangan.

Beth menatap tajam ke arah para tamu yang mencibir, lalu kembali berdiri di belakang Lilith, setia. Elenna sendiri tidak tersenyum lebar. Ia hanya menunduk hormat.

“Terima kasih, Tuan putri."

Angin pagi kembali berembus, menggoyangkan tirai gazebo. Di kejauhan, burung-burung kecil terbang rendah melintasi taman. Jamuan teh itu berakhir tanpa teriakan, tanpa drama terbuka.

Namun, garis-garis tak kasatmata telah digambar, dan semua orang di gazebo itu tahu bahwa perdebatan hari ini bukan tentang kesetiaan, tetapi tentang citra.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!