NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 Cermin Retak Masa Lalu

Malam setelah insiden di stadion meninggalkan kelelahan yang luar biasa bagi Anita. Di kamarnya, ia terduduk di tepi tempat tidur, menatapi telapak tangannya yang masih terasa hangat—sisa dari sentuhan lintas dimensi dengan Saka. Namun, ketenangan itu terus terusik oleh getaran aneh dari arloji perak di atas mejanya. Arloji itu tidak lagi menunjukkan waktu; ia terus memancarkan koordinat yang mengarah ke sebuah lokasi yang selama ini dihindari oleh semua orang di Bandung: Reruntuhan Gedung Sate.

Di dimensi bayangan, Saka berdiri tepat di depan Anita, namun wajahnya tampak tegang. Arloji Void miliknya berdenyut merah pekat. "Nit, ada yang salah. Sinyal dari DAT yang kita rasakan di konser tadi bukan berasal dari masa depan. Sinyal itu berasal dari sekarang, tapi dari frekuensi yang terkunci."

"Kita harus ke sana, Saka," ucap Anita tegas. "Jika mereka merencanakan sesuatu yang disebut 'Chrono-Twins', kita tidak bisa hanya menunggu di sini."

Mereka tiba di reruntuhan markas DAT pada tengah malam. Tempat itu seharusnya kosong sejak ledakan dimensi beberapa bulan lalu, namun Anita—dengan kemampuan Perpustakaan Hidup-nya—bisa melihat "jejak cahaya" yang ditinggalkan oleh orang-orang yang melintasi lorong tersebut baru-baru ini.

Saka berjalan di depan, tubuh peraknya menebas kegelapan dimensi bayangan. Saat mereka mencapai ruang kendali utama yang sudah hancur, lampu-lampu darurat tiba-tiba menyala sendiri, memancarkan warna merah yang menyakitkan mata.

"Selamat datang kembali, Saka. Atau harus kupanggil... bayangan?"

Suara itu muncul dari kursi direktur yang membelakangi mereka. Kursi itu berputar pelan, menyingkap sosok seorang wanita yang mengenakan seragam DAT lengkap. Namun, saat wanita itu mengangkat kepalanya, Saka membeku. Seluruh aliran energinya seolah terhenti.

Wanita itu adalah Ibu Saka.

Tapi bukan ibunya yang sedang memasak semur daging di rumah. Wanita ini memiliki sorot mata yang tajam, dingin, dan ada luka bakar berbentuk detak jam di pipi kirinya.

"Ibu?" bisik Saka, suaranya bergetar hebat.

"Bukan ibumu, Saka," Anita menarik lengan baju Saka, matanya berkilat perak mendeteksi anomali. "Dia adalah Vena. Dia mengambil wujud ibumu dari garis waktu di mana kamu gagal menyelamatkannya di Alexandria. Dia adalah manifestasi dari kesedihan yang kamu buang!"

"Vena" tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Pintar sekali, Gadis Perpustakaan. Aku adalah sisa-sisa dari garis waktu yang kau hancurkan, Saka. Saat kau menukar ingatan orang-orang demi masa mudamu, kau menciptakan 'limbah' emosional. Dan limbah itu membentukku."

Vena berdiri, dan dari tangannya keluar cambuk yang terbuat dari Tinta Hitam—kebalikan dari Tinta Keabadian milik Saka. "Kalian menyebut diri kalian 'Chrono-Twins'? Ironis sekali. Kalian hanyalah dua kutub baterai yang akan kugunakan untuk menghidupkan kembali Menara Paradoks!"

Pertempuran pecah dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Vena bergerak dengan kecepatan yang setara dengan Saka karena ia memahami setiap pola serangan Saka. Setiap kali Saka mencoba melakukan Phasing, Vena menggunakan cambuk hitamnya untuk menarik Saka kembali ke dimensi fisik, membuatnya terpental dan terluka.

"Saka!" Anita berteriak. Ia mencoba membantu dengan melepaskan gelombang energi perak, namun Vena hanya menggerakkan jarinya, membalikkan aliran energi tersebut kembali ke arah Anita.

Anita jatuh tersungkur. Vena mendekatinya, cambuk hitamnya melilit leher Anita. "Pengetahuan Alexandria di otakmu... itu bukan milikmu. Itu milik sejarah yang seharusnya sudah musnah!"

Saka melihat Anita tercekik. Kemarahan yang luar biasa meluap dalam dirinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia bertarung dengan menahan diri karena takut kehilangan sisa-sisa kemanusiaannya. Namun melihat Anita di ambang maut, Saka memutuskan untuk melepaskan segalanya.

"Kau ingin energi perak ini?" Saka berdiri, auranya meledak menjadi pilar cahaya yang menyentuh langit-langit markas. "Ambil semuanya!"

Saka melakukan Transmisi Total. Ia mengalirkan seluruh energi Tinta Keabadiannya melalui Anita. Bukan untuk menyerang Vena secara langsung, melainkan untuk mengubah Anita menjadi Entitas Sejarah.

Anita berdiri, tubuhnya kini sepenuhnya dilapisi pelindung perak. Di tangannya, muncul sebuah buku raksasa yang terbuat dari cahaya. Ia membuka buku itu, dan seketika waktu di dalam ruangan itu berputar mundur bagi Vena, namun maju bagi mereka.

"Berdasarkan catatan yang ada, keberadaanmu adalah KESALAHAN!" Anita meneriakkan kata-kata itu dengan suara yang menggetarkan dimensi.

Buku cahaya itu memancarkan sinar yang menghapus setiap partikel bayangan dari tubuh Vena. Vena menjerit, wajah ibunya perlahan memudar, menyingkap entitas hitam yang hampa sebelum akhirnya meledak menjadi debu waktu yang tidak menyisakan apa pun.

Keheningan kembali menyelimuti markas yang hancur. Saka jatuh berlutut, tubuh hantunya kini sangat redup, nyaris tidak terlihat.

"Saka... kamu memberikan terlalu banyak energi," Anita menghampirinya, mencoba memeluk siluet cahaya itu.

"Ini... satu-satunya cara, Nit," Saka tersenyum lemah. "Vena benar tentang satu hal. Kita adalah kutub. Selama kita bersama, kita akan terus menarik bahaya."

Tiba-tiba, Arloji Void di lantai bergetar, menampilkan pesan baru: "Arc 3 Dimulai: The Chronos Academy. Lokasi: Pegunungan Himalaya. Waktu Tersisa: 48 Jam."

Saka menatap Anita. Mereka baru saja menyelesaikan satu ancaman besar, namun sebuah organisasi yang lebih tua dari sejarah manusia kini memanggil mereka.

"Mereka tahu tentang kita, Nit," ucap Saka. "Sekarang kita tidak bisa lagi bersembunyi di Bandung. Kita harus belajar cara bertarung yang sebenarnya, bukan hanya bertahan."

Anita menggenggam tangan hantu Saka. "Ke mana pun kamu pergi, aku akan ada di sana sebagai perpustakaanmu. Kita bukan lagi korban waktu, Saka. Kita adalah penjaganya."

Di luar gedung, salju tipis mulai turun di Bandung—sebuah anomali cuaca yang menandakan bahwa dunia sedang berubah. Penjaga yang Terlupakan telah naik tingkat, dan di puncak Himalaya, rahasia tentang pencipta arloji yang sebenarnya sedang menunggu untuk diungkap.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!