Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Rindu Yang Tertimbun Dalam Hati
Matahari mulai menyingsing di atas langit Bandung, menyebarkan sinarnya yang hangat merata ke setiap sudut kota yang kini semakin ramai dengan aktivitas warganya. Di sebuah kedai kopi bernama “Kopi Kenangan” yang terletak di pinggir jalan raya, Rio duduk sendirian di meja tepi jendela, memegang gelas kopi hangat yang permukaannya masih mengeluarkan asap tipis. Matanya menatap jauh ke arah jalan raya, di mana kendaraan berlalu lalang dengan cepat, seolah tak punya waktu untuk berhenti dan merenungkan apa yang terjadi di sekitarnya.
Dalam pikirannya yang dalam, Rio terus mengulang-ulang kata-kata yang ingin ia ucapkan kepada Rania. Sudah hampir satu
tahun sejak ia kembali bertemu dengan wanita itu setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan peristiwa buruk yang pernah menyakitkan hati mereka berdua. Rania, dengan wajahnya yang masih sama cantiknya dan senyum yang selalu mampu menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya, kini menjadi sosok yang tak bisa ia lepas dari pikiran dan perasaan.
Rio masih ingat betul bagaimana awalnya mereka bertemu kembali. Saat itu ia sengaja menemui Rania untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara mantan istrinya dengan suaminya rania. Setelah mengetahui bahwa Maya, mantan istrinya, telah berselingkuh dengan Arga—orang yang kini ia kenal sebagai suami Maya yang pernah membuat hidupnya dan Rania terpuruk. Saat itu pula dia datang menghampiri Rania untuk mengajak kerja sama dengan membawa sebuah proposal dan setelah mempelajarinya Rania mau bekerja sama dengan Rio. Dari saat itu, hubungan mereka mulai terbentuk kembali, bukan sebagai pasangan seperti dulu yang pernah ia impikan, melainkan sebagai sahabat yang saling mendukung dan menghibur.
Hari demi hari berlalu, dan Rio merasa perasaannya terhadap Rania semakin dalam. Ia menikmati setiap momen bersama wanita itu—baik saat mereka duduk santai berbincang tentang masa lalu, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing, maupun saat mereka bersama-sama menjalankan pekerjaannya secara profesional. Rio sangat mengagumi Rania yang cerdas dan mampu memimpin perusahaan dengan baik. Setiap senyum Rania, setiap suara tawa yang keluar dari bibirnya, setiap sentuhan lembut ketika mereka berbagi makanan atau saling memberikan dukungan, membuat hati Rio semakin terikat dan ingin lebih dekat dengannya.
Namun, ada sebuah batu besar yang menghalangi keinginannya itu: Rania menganggapnya hanya sebagai sahabat, dan lebih dari itu, Rania tidak bisa menerima dirinya karena ia adalah mantan suami dari sahabatnya sendiri, Maya. Meskipun Rania tahu betul bahwa Maya telah melakukan kesalahan besar dengan berselingkuh dan menghianati Rio, bahkan membuat Rio harus merasakan penderitaan dan kehilangan harta serta kehormatan, Rania tetap memilih untuk tidak ingin bersikap seperti Maya yang menyukai suami sahabatnya. Bagi Rania, nilai persahabatan adalah sesuatu yang sangat mulia dan tak bisa diperjualbelikan dengan apapun, bahkan dengan cinta yang tulus.
Rio menghela napas panjang, mengocok gelas kopinya yang sudah mulai dingin. Ia melihat jam di tangan kirinya—sudah pukul sembilan pagi. Hari ini adalah hari yang telah ia rencanakan dengan matang untuk menyampaikan perasaannya kepada Rania. Ia tahu bahwa hal ini mungkin akan membuat hubungan mereka menjadi tidak nyaman, bahkan bisa saja membuat Rania menjauhinya. Namun, ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang telah tertimbun dalam hatinya selama ini. Ia merasa bahwa jika tidak memberitahukannya sekarang, ia akan selalu menyesal di kemudian hari.
Tak lama kemudian, pintu kedai kopi terbuka dengan suara sedikit berisik, dan sosok Rania muncul dengan mengenakan baju warna biru muda yang membuatnya terlihat lebih cantik dan segar. Wajahnya terpampang senyum hangat ketika melihat Rio yang sudah menunggunya. “Maaf ya Rio, aku datang terlambat sedikit. Ada pekerjaan mendadak di rumah makan yang aku kelola,” ucap Rania sambil duduk di kursi di hadapan Rio, lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman.
“Itu tidak apa-apa, Ran. Aku juga baru saja datang tidak lama ini,” jawab Rio dengan senyum yang berusaha tampak rileks, meskipun hatinya sudah mulai berdebar kencang. Ia melihat Rania dengan seksama—wajahnya yang cerah, mata yang jernih seperti bintang di malam hari, dan bibir yang merah segar seperti mawar. Ia benar-benar mencintai setiap bagian dari wanita di depannya.
Setelah pelayan membawa minuman yang dipesan Rania—sebuah gelas teh tawar hangat dengan madu—kedua orang itu mulai berbincang seperti biasa. Mereka berbicara tentang perkembangan anak-anak di panti asuhan, tentang rencana Rania untuk mengembangkan rumah makannya dan membuka cabang, tentang perusahaannya bagaimana membagi waktu antara menjalankan perusahaan dan rumah makannya, dan tentang pekerjaan Rio sebagai manager keuangan di perusahaan Rania. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana mulai menjadi sedikit sunyi, dan Rio merasa bahwa saatnya telah tiba untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
“Ran,” panggil Rio dengan suara yang sedikit bergetar.
Rania menoleh padanya dengan tatapan penuh perhatian. “Ya, Rio? Ada apa? Kamu terlihat tidak seperti biasanya,” ucapnya dengan nada penuh keprihatinan.
Rio menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Aku ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Ran. Sesuatu yang sudah aku simpan dalam hati selama cukup lama,” katanya dengan suara yang lebih tegas sekarang. Ia melihat mata Rania yang mulai menunjukkan ekspresi penasaran dan sedikit kekhawatiran. “Ran, aku cinta padamu. Aku mencintaimu bukan hanya sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang wanita yang ingin aku jadikan bagian dari hidupku selamanya.”
Kata-kata itu keluar dari bibir Rio dengan lancar, namun setelah itu, suasana di antara mereka menjadi sangat sunyi. Rania terlihat terkejut, matanya membesar dan bibirnya sedikit terbuka. Ia tidak berbicara selama beberapa detik, seolah sedang mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar. Rio bisa merasakan bahwa keringat sudah mulai menetes di dahinya, dan hatinya seperti akan keluar dari dada karena degupnya yang semakin cepat.
Setelah beberapa saat, Rania menghela napas perlahan dan menundukkan wajahnya. “Rio… aku tidak tahu harus berkata apa,” ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh kesusahan. “Aku sangat menghargai kamu sebagai sahabat. Kamu telah menjadi teman yang baik, seseorang yang selalu ada untukku ketika aku membutuhkan dukungan. Aku sangat berterima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku dan untuk perusahanku.”
Ia kemudian mengangkat wajahnya lagi, melihat Rio dengan mata yang penuh dengan perasaan campuran—kasih sayang, keprihatinan, dan rasa tidak tega. “Tapi aku tidak bisa menerima cintamu, Rio. Kamu tahu alasan utamanya, bukan? Kamu adalah mantan suami Maya, sahabatku yang sudah lama. Meskipun aku tahu bahwa Maya telah melakukan kesalahan besar pada kita, bahwa dia telah menghianati kita dengan melakukan perselingkuhan dengan Arga dan membuat hidup kita menjadi sangat sulit, aku tidak bisa melakukan hal yang sama seperti dia Dan lebih dari itu… aku hanya bisa melihatmu sebagai sahabatku, Rio. Tidak lebih dari itu.”
Rio merasa seperti ada batu besar yang menghantam hatinya. Ia tahu bahwa ini mungkin akan terjadi, namun mendengarnya secara langsung dari bibir Rania membuatnya merasa sangat sakit dan hancur. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Rania. Ia tahu betul bahwa Rania adalah wanita yang memiliki prinsip yang kuat dan sangat menghargai hubungan persahabatan. Itulah salah satu alasan mengapa ia mencintainya begitu dalam.
“Aku mengerti, Ran,” ucap Rio dengan suara yang sedikit terengah-engah. Ia mencoba untuk tetap kuat dan tidak menunjukkan bahwa ia sedang sangat menyakitinya. “Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman atau tertekan. Aku hanya merasa bahwa aku harus memberitahumu bagaimana perasaanku. Aku tidak bisa lagi menyembunyikannya.”
Rania mengangguk perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tahu, Rio. Dan aku menghargai kejujuranmu. Tapi harap pahamilah, aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang perasaanmu. Aku tidak ingin kehilangan kamu sebagai sahabat. Kamu berarti banyak bagiku,” katanya dengan nada penuh emosi.
Rio memberikan senyum yang sedikit terpaksa. “Kamu juga berarti banyak bagiku, Ran. Dan aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa membuat kamu merasa tidak nyaman atau membuat kita kehilangan hubungan persahabatan kita. Aku akan mencoba untuk mengendalikan perasaanku. Mungkin suatu hari nanti aku bisa melihatmu hanya sebagai sahabat seperti yang kamu lihat padaku,” katanya, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa hal itu tidak akan mudah.
Kemudian, mereka terdiam lagi, masing-masing merenungkan apa yang baru saja terjadi. Rio merasa bahwa dunia seolah runtuh di sekelilingnya, namun pada saat yang sama, ia juga merasa lega karena akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rania. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuhnya tidak akan mudah, bahwa ia harus belajar untuk menerima kenyataan dan mencintai Rania dengan cara yang berbeda—sebagai sahabat yang selalu ada untuknya.
Setelah beberapa saat, Rania meraih tangan Rio dengan lembut dan memberikan senyum hangat. “Kita tetap kan sahabat ya, Rio? Tidak ada yang bisa mengubahnya,” ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan.
Rio menatap tangan Rania yang sedang memegang tangannya, lalu melihat wajahnya yang penuh dengan kasih sayang. Ia mengangguk perlahan dan memberikan senyum yang lebih tulus kali ini. “Tentu saja, Ran. Kita akan tetap sahabat selamanya,” jawabnya dengan suara yang penuh emosi.
Meskipun hati Rio masih merasa sakit dan terluka, ia tahu bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat. Ia akan tetap berada di sisi Rania sebagai sahabat yang baik, memberikan dukungan dan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan apa pun. Dan mungkin saja, suatu hari nanti, ketika luka di hatinya sudah sembuh dan waktu telah membawa perubahan yang baik, ia akan menemukan cinta yang sesungguhnya. Namun, untuk saat ini, yang terpenting bagi dia adalah menjaga hubungan persahabatan yang berharga dengan wanita yang dicintainya.
Setelah itu, mereka kembali berbincang dengan suasana yang sedikit lebih rileks, meskipun masih ada rasa tidak nyaman yang tersisa di antara mereka. Mereka berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu serius, mencoba untuk kembali ke kebiasaan mereka sebagai sahabat. Rio tahu bahwa akan membutuhkan waktu bagi mereka untuk benar-benar kembali seperti dulu, namun ia bersedia menunggu. Ia siap melakukan apa saja untuk menjaga hubungan yang telah mereka bangun bersama selama ini.
Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat dan sinarnya mulai memerah langit, mereka memutuskan untuk pulang. Rio mengantar Rania sampai di depan rumahnya, dan sebelum mereka berpisah, Rania memberikan pelukan hangat padanya. “Terima kasih sudah mengerti, Rio. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti kamu,” ucapnya dengan suara lembut di telinga Rio.
Rio mengembalikan pelukan itu dengan erat, merasa bahwa kehangatan tubuh Rania bisa sedikit meredakan rasa sakit di hatinya. “Aku juga beruntung memiliki sahabat seperti kamu, Ran,” jawabnya dengan suara yang penuh perasaan.
Setelah itu, mereka berpisah, masing-masing kembali ke rumah mereka sendiri. Rio berjalan dengan langkah yang sedikit berat, namun hatinya merasa lebih tenang. Ia tahu bahwa jalan hidupnya akan terus berlanjut, bahwa ia akan menghadapi banyak tantangan dan rintangan di masa depan. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sendirian—karena ia memiliki sahabat yang baik seperti Rania, seseorang yang akan selalu ada untuknya ketika ia membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Dan itu sudah cukup baginya untuk terus melangkah maju dan menghadapi hari esok dengan harapan yang baru.