NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mantra Penyembuh

WUSSH!!

Serangan terakhir melesat lurus dari depan. DUGG!!! Padatan itu menghantam keningnya dengan telak. Luce terpental ke belakang.

BRAKK!!!

Kepalanya membentur tiang batu dengan keras sebelum ia roboh. Darah mulai mengucur perlahan dari goresan di pelipisnya, membasahi tanah di bawahnya.

Sorak sorai dan tawa mengejek pecah dari beberapa siswa di pinggir lapangan. Kenny menggigit bibir bawahnya dengan raut was-was, sementara Vivi dan Ursha’el hanya bisa tertegun membisu melihat pemandangan itu.

Dengan susah payah dan napas yang tersengal akibat rasa nyeri yang luar biasa, Luce berusaha duduk. Ia menyandarkan punggungnya yang gemetar pada tiang batu berlendir biru tersebut. Anehnya, lendir biru pada Spirora kali ini tidak beriak. Makhluk-makhluk jahil itu hanya diam membatu, seolah kehilangan selera untuk mengejek atau menertawakan mangsa yang hancur namun tetap mencoba tegak.

Instruktur Dornus menghela napas berat, matanya menatap Luce dengan rasa prihatin. "Cukup, Luce. Istirahatlah," perintahnya lirih sebelum kembali berseru lantang kepada seluruh kelas.

"Cukup latihan untuk minggu ini! Minggu depan, bawa tongkat latihan kalian! Kita akan latihan pertarungan jarak menengah!" Suara Dornus menggelegar kembali. "Bersiaplah dengan baik! Ingat, ujian kelulusan tinggal satu bulan lagi!"

"Baik, Instruktur!" jawab para siswa serempak. Sebagian besar dari mereka segera meraih kemeja dan jubah masing-masing, terburu-buru meninggalkan lapangan karena panas siang yang menyengat.

Dornus melangkah mendekati Luce, hendak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Namun, Luce segera mengangkat tangannya, menolak bantuan itu dengan gerakan halus sambil bangkit berdiri sendiri meskipun kakinya gemetar hebat.

"Tidak perlu, Instruktur, hahaha!" ujarnya dengan tawa dan senyum lebar yang masih bertahan seolah tak ada luka yang merajam tubuhnya.

Luce mulai berjalan terseok-seok menuju pepohonan tempat Kenny dan lainnya berteduh. Di sepanjang langkahnya, gumam dan tawa ejek dari siswa lain terdengar tajam.

"Pecundang," bisik seorang siswa manusia bertubuh gempal sambil meludah ke samping.

"Cocoknya dia jadi penjual obat saja di toko ramuan, hahaha!" seru yang lain dari kejauhan.

"Ah, bahkan mungkin yang tadi di kelas alkimia itu cuma kebetulan saja!"

Luce tidak bergeming. Senyum lebarnya tetap merekah sempurna, meski tetesan darah dari pelipisnya kini mulai menodai kerah kemejanya.

Luce akhirnya tiba di samping Kenny. Ia menjatuhkan tubuhnya, duduk bersandar pada batang pohon di sebelah sahabatnya. Kenny menepuk pundak Luce dengan gerakan pelan. Saat itulah, senyum lebarnya perlahan meredup, tak mampu lagi menyembunyikan ekspresi lelah dan raga yang berantakan setelah menerima tujuh hantaman telak.

Vivi dan Ursha’el menatap Luce iba. Tiba-tiba, Vivi bangkit berdiri tanpa suara dan melangkah mendekati Luce.

Tangannya kembali memancarkan sinar kuning redup, mantra penyembuh yang tadinya ia gunakan untuk dirinya sendiri, lalu menyentuh perlahan pundak Luce yang gemetar. Kehangatan sihir itu mulai merambat, meredakan luka-luka memar di balik kemeja Luce perlahan.

Luce hanya terdiam selama beberapa saat dalam kebingungan, seolah tak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti itu dari gadis yang sering ia jahili.

"Kau... ngapain, Vivi?" tanya Luce akhirnya dengan suara serak.

"Diamlah, bodoh," potong Vivi ketus, meski sorot matanya yang jingga memancarkan kekhawatiran yang coba ia sembunyikan.

"Hah? Tidak perlu..." Luce mencoba mengelak, tangannya bergerak seolah ingin menjauhkan tangan Vivi.

"Tidak perlu..." Vivi mengulang kata-kata itu dengan nada mengejek. Luce baru saja akan membuka mulutnya untuk meminta Vivi berhenti ketika gadis elf itu langsung menukas tajam, "Sombong sekali kau. Sok kuat, bodoh, padahal hampir sekarat!". Ejekan Vivi terdengar semakin menjadi-jadi, namun kontras dengan jemarinya yang bergerak lembut menyalurkan mantra penyembuh. Mulut Luce seketika terkunci, tak mampu membalas kata-kata pedas yang dibalut perhatian itu.

Pemandangan tersebut membuat Kenny dan Ursha’el tertawa kecil.

"Tidak apa-apa, Luce. Aku sudah tahu... kami semua sudah tahu," ujar Ursha’el dengan senyum tipis yang tulus. Kalimat itu membuat Luce sedikit kaget. "Kenny bercerita padaku tadi, hahaha." sambung Ursha'el.

Luce menatap Kenny dengan pandangan tak percaya, seolah mencari konfirmasi atas rahasia masa lalunya yang kini terungkap. Kenny hanya membalasnya dengan senyum tipis dan bahu yang terangkat santai. "Hei, kau tak pernah melarangku menceritakannya, kan?"

Luce terdiam seribu bahasa. Wajahnya sedikit memerah, entah karena sisa memar atau rasa malu yang tiba-tiba menyerang. Ia tak tahu harus berekspresi seperti apa didalam situasi seperti ini. Di dalam dadanya, muncul sebuah sensasi hangat yang asing, sangat asing baginya yang terbiasa menelan kesepiannya sendiri.

Akhirnya, Luce menghela napas panjang dan tersenyum tipis, kali ini sebuah senyum yang nyata tanpa topeng dramatis. "Okelah, okelah... terserah kalian saja...".

Luce menyandarkan kepalanya ke batang pohon, memejamkan mata. Napasnya masih berat, namun tidak lagi terputus-putus seperti sebelumnya.

Mantra Vivi perlahan meredup. Cahaya kuning itu menghilang dari telapak tangannya, menyisakan kehangatan samar yang tertinggal di kulit Luce. Gadis elf itu menarik tangannya dengan cepat, lalu memalingkan wajahnya.

"Nah, sudah lumayan. Mana-ku juga hampir habis. Jangan salah paham," gumam Vivi sambil menyilangkan tangan di dada. "Kalau kau tewas di sini, repot urusannya. Itu saja."

"Haha... iya, iya..." Luce terkekeh pelan. "Terima kasih," ujarnya sambil menyentuh luka di pelipis yang kini tak lagi mengeluarkan darah dan mulai mengering.

Vivi mendengus. Semburat jingga samar tampak di pipinya, sementara telinga runcingnya bergerak sedikit, tak disadari siapa pun, kecuali Ursha’el.

"Ehem!" Ursha’el terbatuk palsu dengan senyum tipis yang menggoda. Vivi langsung melemparkan tatapan galak ke arah sahabatnya itu.

Tiba-tiba, dari arah gerbang timur, terdengar suara lonceng yang nyaring Kringgg!!! membuat mereka berempat menoleh bersamaan. Seorang pemuda Elf pedagang ubi dan susu keliling tampak sedang mendorong gerobaknya didepan gerbang timur.

Luce bangkit berdiri perlahan. Meski belum hilang sepenuhnya, rasa nyeri luar biasa yang tadi menghujam tubuhnya kini sudah jauh berkurang.

"Aku lapar," ujarnya singkat. "Ada yang mau titip sekalian?" tanya Luce sembari mulai melangkah.

"Ubi satu, Luce!" seru Kenny semangat.

"Uhh... ngg... aku ubi satu dan susu," sahut Vivi agak gagap.

Luce mengangguk, lalu menoleh ke arah Ursha’el. "Kau, Ursha?"

"Tidak perlu... aku sudah bawa bekal," jawab Ursha’el dengan senyum geli yang masih tersisa di bibirnya.

"Baiklah..." Luce pun berjalan menjauh menuju arah gerobak.

Kenny yang menyadari gelagat aneh pada Ursha'el mengerutkan kening. "Hei, kau kenapa senyum-senyum sendiri, Ursha’el?" tanya Kenny bingung.

Sementara itu, wajah Vivi makin memerah padam.

"Ah... tidak ada apa-apa, hahaha!" jawab Ursha’el santai sambil merebahkan diri di atas rumput. Ia melirik Vivi sekali lagi, yang langsung dibalas oleh gadis Elf itu dengan sorot mata mematikan.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!