Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di dalam keheningan kamar mandi yang dipenuhi uap susu, Akhsan benar-benar telah kehilangan kewarasannya.
Ia tidak lagi melihat Aruna sebagai rekan bisnis atau investor; di matanya, wanita ini adalah penebusan atas segala dosa masa lalunya.
Akhsan mendekatkan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa.
Ia memejamkan mata dan menempelkan bibirnya pada bibir Aruna, menciumnya dengan penuh kerinduan yang meledak-ledak—sebuah ciuman yang selama bertahun-tahun ia bayangkan bisa ia berikan kembali pada Zahra.
Aruna membiarkan ciuman itu terjadi. Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, tidak ada cinta.
Hanya ada rasa jijik yang membeku. Ia merasakan bibir pria yang dulu memerintahkan orang untuk menyiksanya kini memohon kasih sayang padanya.
Di saat Akhsan sedang terhanyut dalam gairah yang menyesatkan itu, Aruna dengan sangat tenang menggerakkan tangannya di balik punggung Akhsan.
Ia memberikan kode—sebuah isyarat jari yang hanya dimengerti oleh Christian—ke arah kamera tersembunyi yang terpasang di sudut langit-langit.
Isyarat itu adalah perintah bagi Christian untuk mematikan monitor atau memalingkan wajah. Aruna tahu Christian sedang menonton, dan meski ini adalah bagian dari rencana besar mereka.
Ia tidak ingin suaminya harus menahan rasa sakit lebih lama lagi melihat pemandangan ini.
Ia ingin Christian tahu bahwa adegan ini akan segera berakhir.
Aruna melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan, menatap mata Akhsan yang kini tampak sangat rapuh dan bodoh di hadapannya.
"Cukup untuk sekarang, Akhsan," bisik Aruna dengan nada yang begitu manis namun mematikan.
"Ingat janjimu. Seluruh Hermawan Group untukku, bukan?"
Akhsan hanya bisa mengangguk pasrah, benar-benar telah menyerahkan lehernya ke dalam jerat yang telah dipasang Aruna dengan rapi. Ia tidak sadar bahwa di luar sana, dunia dan sisa-sisa hidupnya sedang runtuh berkeping-keping.
Uap panas masih menyelimuti ruangan saat mereka keluar dari kamar mandi.
Aruna mengenakan jubah mandi sutranya kembali, sementara Akhsan tampak begitu bersemangat, seolah ia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Namun, sorot matanya berubah menjadi posesif saat mengingat jadwal Aruna hari ini.
"Selesai mandi, jadwalmu sekarang pemotretan di Puncak, kan?" tanya Akhsan sambil meraih tangan Aruna.
Ia menatap Aruna dengan tatapan memohon. "Sayang, tolong jangan izinkan manajermu itu ikut. Aku ingin hanya kita berdua. Aku yang akan mengantarmu, aku yang akan menjagamu di sana."
Akhsan sangat membenci keberadaan Christian. Baginya, manajer itu selalu menatapnya dengan pandangan yang seolah tahu semua rahasia busuknya.
Aruna terhenti, ia menatap Akhsan melalui pantulan cermin riasnya.
Sebuah senyum tipis—senyum yang sangat mahal—muncul di bibirnya.
"Tidak mengizinkan Christian ikut?" Aruna berbalik, menatap Akhsan dengan intens.
"Tuan Akhsan, Christian bukan sekadar manajer bagiku. Dia adalah orang yang memegang seluruh kendali duniaku. Jika kamu ingin aku membuangnya dari perjalanan ini..."
Aruna melangkah mendekat, merapikan kerah kemeja Akhsan yang masih agak lembap.
"Maka aku ingin kau menyerahkan seluruh aset Hermawan Group untukku. Sekarang juga. Tanda tangani surat pengalihan kekuasaan mutlak itu, dan aku akan menjadi milikmu sepenuhnya di Puncak nanti. Bagaimana?"
Akhsan tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Menyerahkan Hermawan Group berarti menyerahkan warisan ayahnya, menyerahkan seluruh martabat keluarga yang tersisa. Namun, saat ia menatap wajah Aruna yang begitu memikat—wajah yang ia yakini sebagai reinkarnasi Zahra—logikanya kalah telak oleh obsesi.
"Seluruh Hermawan Group..." gumam Akhsan.
"Kenapa? Kamu ragu?" suara Aruna berubah menjadi dingin dan ia mulai menjauh.
"Jika perusahaan itu lebih berharga daripada aku, silakan pergi sekarang. Biarkan Christian yang menemaniku."
"Tidak! Jangan!" cegah Akhsan cepat. Ia menarik tangan Aruna.
"Baik. Aku akan melakukannya. Aku akan memanggil notaris pribadiku sekarang. Hermawan Group adalah milikmu, asal kau tidak pernah meninggalkanku lagi."
Aruna menunduk, menyembunyikan kilatan kebencian di matanya yang kini berubah menjadi kepuasan murni.
Satu tanda tangan lagi, Akhsan, dan kau akan menjadi gelandangan di kota yang dulu kau kuasai, batin Aruna.
Tanpa Akhsan sadari, Christian yang berada di kamar sebelah sudah menyiapkan dokumen pengalihan yang sah di bawah hukum internasional.
Suasana di dalam Presidential Suite mendadak berubah menjadi sangat formal dan mencekam.
Tak berselang lama setelah Akhsan menyetujui persyaratan Aruna, terdengar ketukan di pintu.
Notaris kepercayaan Akhsan, pengacara utama Hermawan Group, dan dua orang saksi masuk dengan wajah serius.
Mereka membawa tas koper berisi dokumen-dokumen yang akan mengubah sejarah perusahaan tersebut.
Akhsan duduk di kursi kebesarannya yang sempat ia bawa ke hotel, sementara Aruna duduk di hadapannya dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menunggu penyerahan takhta.
"Tuan Akhsan, apakah Anda yakin dengan keputusan ini?" tanya pengacara perusahaannya dengan suara ragu.
"Menyerahkan kepemilikan mutlak aset Hermawan Group kepada Nona Aruna Adrian berarti Anda tidak lagi memiliki otoritas hukum atas perusahaan keluarga Anda sendiri."
Akhsan melirik Aruna. Wanita itu hanya menatapnya dengan senyum tipis yang penuh pesona, sebuah tatapan yang bagi Akhsan adalah segalanya.
"Lakukan saja," jawab Akhsan tegas, meski tangannya sedikit bergetar.
"Segera siapkan berkasnya."
Notaris itu kemudian membentangkan beberapa lembar kertas bermaterai di atas meja marmer.
Huruf-huruf di dokumen itu seolah menari-nari di mata Akhsan, namun ia sudah tidak peduli pada logika.
Baginya, menyerahkan harta adalah cara satu-satunya untuk "membeli" kembali Zahra yang telah ia hancurkan dulu.
Dengan satu tarikan napas panjang, Akhsan meraih pulpen emasnya.
Ia membubuhkan tanda tangan di atas materai, diikuti oleh stempel resmi perusahaan.
Ceklek.
Suara stempel itu terdengar seperti vonis mati di telinga pengacaranya, namun terdengar seperti melodi kemenangan bagi Aruna.
"Selesai," ucap notaris itu sambil merapikan dokumen.
"Mulai detik ini, Nona Aruna Adrian adalah pemilik sah dan pemegang kekuasaan tunggal atas seluruh aset Hermawan Group."
Aruna berdiri perlahan, mengambil dokumen asli yang sudah ditandatangani itu.
Ia mengusap kertas tersebut dengan jemarinya yang lentur.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Akhsan. Anda baru saja membuktikan bahwa cinta Anda memang tak ternilai harganya."
Akhsan tersenyum puas, merasa beban berat di pundaknya telah hilang.
"Sekarang, bisakah kita pergi ke Puncak? Hanya kita berdua, tanpa Christian."
Aruna mengangguk kecil. "Tentu. Christian tidak akan ikut. Dia punya 'tugas lain' yang harus diselesaikan di kota."
Aruna melirik ke arah pintu kamar sebelah yang tertutup rapat, di mana ia tahu Christian sedang memegang dokumen salinan digital untuk segera dikirimkan ke bursa saham.
Di dalam hati, Aruna berteriak puas. Selamat, Akhsan.
Kamu baru saja menandatangani surat kemiskinanmu sendiri.
Mobil mewah Akhsan meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju jalur Puncak yang mulai menanjak.
Di dalam kabin yang kedap suara itu, Akhsan tampak sangat percaya diri.
Ia merasa telah memenangkan segalanya—ia memiliki wanita yang paling ia dambakan dan ia merasa telah menebus dosanya.
Tangannya sesekali mengusap jemari Aruna yang dingin, sementara Aruna hanya menatap lurus ke depan dengan senyum misterius di balik kacamatanya. Namun, jauh di belakang mereka, sebuah taksi tua melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha keras menjaga jarak agar tidak kehilangan jejak mobil Akhsan.
Di dalam taksi itu, sosok mengerikan duduk dengan kaku di kursi belakang. Sisil, dengan wajah yang masih terbungkus perban compang-camping dan sebagian kainnya sudah mengering karena noda darah dan cairan asam, menatap mobil Akhsan dengan mata yang penuh kegilaan.
Ia tidak jadi menabrakkan diri ke truk semalam; dendamnya jauh lebih besar daripada keinginannya untuk mati.
"Ikuti mobil itu, Pak. Jangan sampai lepas," desis Sisil dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.
Sopir taksi itu gemetar hebat. Ia tidak berani menoleh ke belakang karena aroma luka bakar dan bau obat-obatan yang menyengat dari penumpangnya.
"Ba-baik, Nyonya..."
Sisil mencengkeram jok taksi hingga kukunya hampir merobek kulit sintetis itu.
Ia telah melihat segalanya di lobi hotel tadi. Ia melihat Akhsan keluar dengan wajah bahagia bersama Aruna, wanita yang telah merebut segalanya darinya.
"Kamu pikir kau bisa hidup bahagia di atas penderitaanku, Akhsan? Kamu pikir wanita itu akan mencintaimu setelah dia menghancurkan aku?" gumam Sisil sambil tertawa kecil yang terdengar seperti rintihan setan.
Di dalam mobilnya, Akhsan sesekali melirik kaca spion.
Ia merasa ada sebuah taksi yang terus mengikuti mereka sejak keluar dari gerbang tol, namun ia segera menepis pikiran itu. Ia terlalu mabuk oleh kehadiran Aruna di sampingnya.
"Kenapa diam saja, Aruna? Apa kamu sedang memikirkan konsep pemotretan kita?" tanya Akhsan lembut.
Aruna menoleh, sedikit menurunkan kacamata hitamnya.
"Aku sedang memikirkan, betapa curamnya jurang di jalur Puncak ini, Tuan Akhsan. Sekali saja kita tergelincir, tidak akan ada jalan untuk kembali."
Kata-kata Aruna membuat bulu kuduk Akhsan meremang sesaat, namun ia hanya tertawa.
Ia tidak tahu bahwa maut yang sesungguhnya sedang mengejar di belakangnya, siap untuk menyeret mereka semua ke dalam tragedi yang lebih berdarah.