NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Penyeludupan di Rumah Sendiri

​Malam ini, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti gedung-gedung tinggi, seolah ikut menyembunyikan rencana gila yang sedang disusun Clarissa. Di dalam kamar apartemen Devan yang super mewah, Clarissa bergerak dalam diam. Ia mengenakan setelan serba hitam yang pas di tubuhnya, kontras dengan kulit putih pucat raga Lestari.

​Ia melirik ke arah pintu ruang kerja Devan yang tertutup rapat. Pria itu sedang mengadakan rapat darurat dengan tim keamanannya untuk memblokir pergerakan Julian. Ini adalah kesempatan satu-satunya.

​"Maaf ya, Devan. Kalau aku bilang, kau pasti akan mengurungku di dalam brankas baja," bisik Clarissa sambil menyelipkan kunci perak ke dalam sakunya.

​Pesan Julian tentang ibunya terus terngiang di kepalanya. Selama ini, Clarissa mengira ibu Lestari hanyalah seorang wanita desa yang meninggal saat melahirkan. Tapi kata-kata Julian tentang "peti mati" di ruang bawah tanah rumah lama Wijaya mengubah segalanya.

​Clarissa menyelinap keluar melalui pintu servis—jalur yang biasa digunakan para pelayan, jalur yang tidak diawasi ketat oleh pengawal pribadi Devan karena mereka terlalu fokus pada pintu utama.

​Rumah lama Wijaya.

​Bangunan kolonial yang megah namun tampak angker itu berdiri kokoh di tengah lahan luas yang ditumbuhi pohon-pohon beringin tua. Setelah penyitaan semalam, rumah ini dipasang garis polisi dan dijaga oleh dua orang satpam di gerbang depan.

​Namun, Clarissa tahu setiap lubang tikus di rumah ini. Ia merangkak melalui celah pagar belakang yang tertutup semak belukar, lalu masuk melalui jendela gudang yang engselnya sudah ia rusak sejak ia masih remaja dulu—saat ia sering menyelinap keluar untuk balapan.

​Krieeet...

​Suara pintu gudang yang terbuka terdengar sangat nyaring di kesunyian malam. Clarissa menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia menyalakan senter kecil dari ponselnya. Debu beterbangan di udara, menempel pada furnitur tua yang ditutupi kain putih, membuat suasana tampak seperti kumpulan hantu yang sedang berdiri diam.

​Ia melangkah menuju perpustakaan besar. Di balik rak buku ketiga, terdapat sebuah tuas rahasia yang terhubung ke ruang bawah tanah. Saat ia menariknya, lantai di bawah meja kerja bergeser, memperlihatkan tangga beton yang menuju ke kegelapan.

​"Ayo, Clarissa. Kau sudah mati sekali, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi," ia menyemangati dirinya sendiri sambil menuruni tangga.

​Bau apak dan dingin langsung menyambutnya. Di ujung ruangan, terdapat sebuah pintu besi berat dengan lubang kunci yang sangat unik. Clarissa memasukkan kunci peraknya.

​KLIK.

​Pintu itu terbuka. Clarissa mengarahkan senternya ke dalam dan seketika ia mematung. Di tengah ruangan itu, bukan tumpukan emas atau dokumen yang ia temukan. Tapi sebuah peti mati dari kaca transparan yang di dalamnya berisi tubuh seorang wanita yang tampak awet, seolah hanya sedang tertidur.

​Wanita itu sangat cantik, dengan fitur wajah yang merupakan perpaduan antara Clarissa dan Lestari.

​"Ibu..." gumam Clarissa tanpa sadar.

​Tiba-tiba, lampu di ruangan itu menyala terang benderang. Clarissa menutup matanya karena silau.

​"Indah, bukan? Ayahmu benar-benar pria yang gila karena cinta," suara dingin Julian terdengar dari balik bayangan.

​Julian muncul dengan langkah santai, masih mengenakan jas mahalnya. Di belakangnya, berdiri beberapa pria bertato Naga Hitam.

​"Julian! Apa maksud semua ini? Kenapa ibu Lestari... maksudku, kenapa dia ada di sini?" tanya Clarissa dengan suara bergetar.

​"Dia bukan hanya ibu Lestari, Clarissa. Dia adalah istri simpanan ayahmu yang paling dicintai. Dan dia bukan meninggal karena sakit. Dia dikorbankan oleh Naga Hitam untuk mengamankan posisi ayahmu sebagai pemimpin bayangan di organisasi kami," Julian mendekat, menatap peti kaca itu dengan pandangan hampa.

​Clarissa mundur selangkah. "Pemimpin bayangan? Ayahku adalah seorang pengusaha!"

​"Pengusaha yang butuh modal dari dunia gelap," Julian tertawa sinis. "Lestari, atau siapa pun kau yang menghuni tubuh ini... kau adalah satu-satunya 'kunci' hidup untuk mengaktifkan aset Naga Hitam yang tertanam di bawah Mahendra Group. Ayahmu memberikanmu pada mereka sebagai jaminan."

​"Jangan bohong!" teriak Clarissa.

​"Kenapa aku harus bohong? Lihatlah tato di pergelangan tangannya," Julian menunjuk tangan wanita di dalam peti. Ada tato naga yang sama dengan milik Julian, tapi berwarna emas. "Dan kau... di leher belakangmu, ada tanda yang sama yang akan muncul jika kau terkena air panas. Itulah kenapa Devan tidak pernah melihatnya."

​Clarissa meraba leher belakangnya. Ia teringat, ia memang selalu mandi dengan air dingin sejak berada di tubuh ini.

​"Julian, cukup!" sebuah suara menggelegar dari arah tangga.

​Devan Mahendra muncul dengan napas tersengal, pakaiannya sedikit berantakan, dan di tangannya ia memegang sebuah pistol yang diarahkan tepat ke arah Julian. Di belakangnya, puluhan anggota tim elit Mahendra mengepung ruangan.

​"Devan?!" Clarissa terkejut. Bagaimana dia bisa tahu?

​"Kau pikir pelacak di ponselmu itu hiasan?" Devan berjalan mendekati Clarissa, menariknya dengan kasar ke belakang punggungnya. Tatapannya pada Julian penuh dengan haus darah. "Kau menyentuh properti pribadiku lagi, Julian. Dan kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

​"Properti pribadi?" Julian tertawa mengejek. "Kau sedang memeluk bom waktu, Devan. Gadis ini adalah aset Naga Hitam. Begitu dia genap berusia 23 tahun dalam tubuh ini, seluruh sistem keuangan Mahendra Group akan berpindah secara otomatis ke rekening organisasi kami melalui chip biometrik yang ada di nadinya."

​Devan terdiam sejenak, namun pegangannya pada tangan Clarissa justru semakin erat. "Aku tidak peduli pada uangku. Aku punya cukup banyak untuk membangun dunia yang baru. Tapi jika kau berpikir bisa membawanya pergi, kau harus melangkahi mayatku."

​"Oh, dengan senang hati," Julian memberi isyarat pada anak buahnya.

​Suasana menjadi sangat panas. Senjata api sudah saling mengunci. Clarissa merasa terjepit di antara dua pria yang sama-sama posesif dan berbahaya. Namun, insting bisnisnya kembali muncul.

​"DIAM SEMUANYA!" teriak Clarissa.

​Semua orang menoleh padanya.

​"Julian, kau bilang aku adalah kuncinya, kan? Dan Devan, kau bilang kau mencintaiku?" Clarissa menatap keduanya bergantian. "Kalau begitu, dengarkan aku. Aku tidak akan menjadi pion bagi siapa pun. Naga Hitam, Mahendra Group, atau warisan Wijaya... aku akan menghancurkan semuanya jika kalian tidak berhenti memperlakukanku seperti barang!"

​Clarissa mengambil sebuah belati kecil dari pajangan dinding di ruang itu dan mengarahkannya ke nadinya sendiri. "Mundur, Julian! Atau aku akan mengakhiri 'aset' berhargamu ini sekarang juga!"

​"Clarissa, jangan gila!" teriak Devan panik.

​"Mundur, Devan! Aku tahu apa yang kulakukan!" Clarissa menatap Julian dengan mata yang berapi-api. "Julian, kau bilang ada peti mati di sini. Tapi kau lupa satu hal. Ayahku selalu punya rencana cadangan. Di bawah peti ini, ada sensor berat. Jika kau melangkah satu senti lagi, seluruh ruangan ini akan meledak."

​Julian berhenti melangkah, wajahnya sedikit pucat. Ia melihat ke bawah peti kaca, dan benar saja, ada lampu merah kecil yang berkedip.

​"Kau benar-benar mirip dengan Clarissa yang asli," gumam Julian, setengah kagum setengah benci.

​"Aku adalah Clarissa," desis Clarissa. "Sekarang, kalian berdua... keluar dari sini. Aku ingin bicara berdua dengan 'ibu' di dalam peti ini. Jika ada satu saja dari kalian yang mencoba masuk sebelum aku selesai, kita semua akan mati bersama di sini."

​Devan menatap Clarissa dengan tatapan memohon, tapi melihat tekad di mata gadis itu, ia akhirnya menurunkan senjatanya. "Lima menit. Jika dalam lima menit kau tidak keluar, aku akan meledakkan pintu ini dan membawamu keluar secara paksa."

​Julian juga mundur, ia menyadari bahwa Clarissa bukan lagi gadis kecil yang bisa ia kendalikan. "Tiga hari tetap berlaku, Kecil. Darah tidak pernah berbohong."

​Setelah ruangan kosong, Clarissa terduduk di depan peti kaca itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia merasa sangat lelah. Identitas, harta, pengkhianatan... semuanya terasa begitu berat.

​Ia menyentuh kaca peti itu. "Siapa aku sebenarnya? Kenapa hidupku selalu dipenuhi orang-orang yang ingin memilikiku tapi tidak pernah benar-benar mencintaiku?"

​Tiba-tiba, tangan wanita di dalam peti itu bergerak sedikit. Matanya terbuka perlahan, menatap Clarissa dengan tatapan kosong yang kemudian berubah menjadi ketakutan.

​"Lari... Lestari... lari..." bisik wanita itu, suaranya seperti dari alam kubur.

​Clarissa terlonjak kaget. "Ibu?! Kau masih hidup?!"

​Wanita itu mencoba meraih tangan Clarissa melalui celah kecil di peti, namun sebuah gas tidur tiba-tiba menyembur dari sistem ventilasi peti tersebut.

​"TIDAK!" Clarissa mencoba memecahkan kaca itu, namun ia merasa kepalanya mulai pening. Gas itu juga mulai mempengaruhinya.

​Sebelum ia jatuh pingsan, ia melihat sosok pria bermuka terbakar berdiri di pintu rahasia yang lain, memegang sebuah remote kontrol.

​"Belum waktunya dia bangun, Clarissa," ucap pria itu.

​Kegelapan kembali menyelimuti Clarissa. Namun kali ini, ia merasa tangan Devan menangkap tubuhnya tepat sebelum ia menyentuh lantai.

​"Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu pergi," bisik Devan di telinganya sebelum semuanya menjadi gelap total.

1
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!