Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Awal dari kehancuran
Di rumah sakit saat ini Kevandra sedang duduk bersama Salsa, ia masih menunggu dokter menangani Ibunya.
Tiba-tiba suara dering ponsel memecah ketegangan yang kini tengah menyelimuti Kevandra.
Ternyata ponsel itu milik Salsa. seketika Salsa menegang untuk sesaat ketika ia melihat nama panggilan yang sudah sangat ia kenali— yaitu Raka tunangan Liora dan orang yang ia cintai.
Drt! Drt! Drt! getaran ponsel itu terus menerus menghubungi Salsa di saat ia berada di samping Kevandra.
"Siapa, Sa? kenapa tidak kamu angkat, mungkin itu panggilan penting." tanya Kevandra, yang merasa sedikit terusik dengan panggilan yang masuk kedalam ponsel Salsa, tiba-tiba perasaannya merasakan hal sesuatu yang janggal saat melihat gelagat aneh Salsa.
"Bu-kan... siapa-siapa Mas! ini hanya telepon dari Liora." bohong Salsa dengan nada gugup, namun dengan cepat ia berhasil menguasai dirinya. "Aku angkat telepon dulu ya Mas!" pamit Salsa, lalu ia bangkit dari tempat duduknya, bergegas melangkah menjauh dari Kevandra.
"Hallo, Sayang." ucap Salsa dengan suara pelan, saat mengangkat panggilan tersebut, sambil sesekali melirik kearah Kevandra yang sedikit jauh berada dari tempatnya berada.
"Kamu dimana? Aku sudah berada di tempat yang kamu janjikan." suara seseorang di dalam panggilan tersebut.
"Tunggu di sana, aku akan datang lima belas menit lagi." balas Salsa, setelah itu Salsa memutuskan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban.
Kini Salsa kembali melangkah menghampiri Kevandra.
"Mas, apakah aku boleh pergi sebentar?" tanya Salsa, ia terdiam sejenak untuk mencari alasan yang masuk akal pada Kevandra. "Aku akan menemui Liora sebentar, entah ada hal apa yang membuatnya ingin bertemu aku saat ini juga." lanjutnya dengan nada meyakinkan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang berada di rumah sakit Sa, kita belum tau keadaan Mama, dan kamu akan meninggalkanku di saat seperti ini." selidik Kevandra dengan nada dingin.
Seketika Salsa tersentak saat mendapati suara Kevandra kembali dingin. Namun dengan cepat ia berhasil mengubah mimik wajahnya.
"Mas, Liora sahabatku dari kecil dan aku juga tau saat ini Mama dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan Liora sedang dalam kesulitan, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja." bohong Salsa, mencoba terdengar meyakinkan.
"Baiklah, silakan pergi." balas Kevandra dingin dan datar.
Mendengar suara Kevandra dingin dan datar meskipun memberinya izin, Salsa tidak ingin memedulikannya ia bergegas pergi meninggalkan Kevandra.
Kini Kevandra hanya menatap punggung Salsa dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menekan nomor asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaannya.
"Rio, ikuti Salsa kemana dia pergi." perintah Kevandra dengan nada tegas dan datar.
"Baik, Tuan." balas Rio di sebrang sana.
Setelah mendengar jawaban itu Kevandra langsung memutuskan panggilan tersebut, dan kembali duduk di kursi tunggu menunggu kabar Ibunya yang masih berada di ruangan operasi.
Sementara di sisi lain kini Salsa sudah berada di depan rumah sakit, ia segera memberhentikan taksi, dan dengan cepat ia masuk kedalam taksi.
"Pak ke hotel yang ada di jalan ini." perintah Salsa sambil menunjukan ponselnya kearah rute yang akan ia tuju.
Sementara di lain tempat, di kegelapan malam yang semakin larut, Rio asisten pribadi Kevandra sudah berada di belakang Salsa dan membuntuti kemana Salsa akan pergi.
"Tidak biasanya Tuan memberi perintah untuk membuntuti istrinya, karena Tuan selalu percaya apa yang di berikan orang tuanya pasti yang terbaik." gumam Rio, di saat mengemudikan mobilnya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga dua puluh menit kemudian, kini Salsa berhenti di sebuah hotel mewah bintang lima. Ia langsung turun dan melangkah masuk kedalam hotel.
Di kegelapan malam Rio menyipitkan matanya saat melihat istri dari bosnya berhenti di sebuah hotel mewah. "Untuk apa istri tuan berada di tempat ini." gumam Rio dengan wajah kebingungan dan penasaran. "Kenapa tidak menemani Tuan yang sedang berada di rumah sakit?" lanjutnya, dan tanpa membuang waktu lagi Rio bergegas keluar dari mobil, lalu mengikuti langkah Salsa dengan diam-diam.
Sementara di kamar sebuah apartemen mewah seorang gadis cantik sudah bersiap dengan segala kebutuhan yang ia perlukan, kali ini ia akan melakukan sebuah pertunjukan yang tidak akan pernah terlupakan.
"Selamat menyambut kehancuran kalian." gumanya sambil tersenyum miring, lalu dengan langkah tegas ia keluar apartemen, dan menuju sebuah tempat yang akan menjadi ajang kehidupan seseorang berada di bawah titik terendahnya.
Di sisi lain saat ini Salsa baru saja sampai kamar yang sudah ia pesan untuk bertemu Raka.
Ceklek! bunyi pintu kamar hotel terbuka seketika pandangannya menatap laki-laki yang ia cintai sedang duduk di sofa yang berada di dalam kamar tersebut. Dengan bersilang kaki dan menyesap whisky di tangannya.
Salsa langsung berlari kecil dan memeluknya. "Sayang!" panggil Salsa dengan nada manja, seketika Raka langsung membalas pelukan Salsa.
"Apa yang terjadi?" tanya Raka dengan nada lembut.
"Wanita tua itu hampir saja membongkar perselingkuhan kita! jika aku tidak menghampirinya, aku tidak akan pernah tau bahwa ada alat penyadap di kamar yang kita tempat saat kita melakukan hubungan intim." Jelas Salsa dengan nada manja dan mimik wajah sendu yang di buat-buat.
"Apa? alat penyadap." selidik Raka.
"Iya, Rak!" jawab Salsa, lalu Salsa menujukan alat kecil itu pada Raka. "Liora yang melakukan semua ini, dia sudah mengetahui hubungan kita, hanya saja dia tetap memilih diam, mungkin dia tidak ingin kehilanganmu."
Raka terdiam untuk sesaat pikirannya berkecamuk, ia mencoba merespon apa yang Salsa katakan, Jadi semuanya sudah terbongkar. Pikir Raka.
Lalu kenapa Liora tetap diam? apa memang dia takut kehilangannya? pikiran itu memenuhi kepala Raka, tanpa ia ketahui Liora sudah membuat rencana besar untuk mereka berdua.
Di sisi lain Rio memberikan kabar pada Kevandra sebuah foto Salsa saat masuk kedalam kamar hotel dan lengkap dengan alamatnya.
Di sudut rumah sakit kini Kevandra sudah menerima kabar operasi Ibunya berjalan dengan lancar. Ceklek! Suara pintu ruangan tersebut terbuka menampilkan Dokter yang terlihat lelah namun tetap tegas.
"Tuan Kevandra!" ucap Dokter tersebut dan langsung menghampiri Kevandra yang masih duduk di kursi tunggu.
"Iya, Dok, bagaimana dengan keadaan Mama saya?" tanya Kevandra dengan nada khawatir, ia langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Operasi berjalan dengan baik, kami berhasil menghentikan pendarahan di kepala Ibu anda." Jelas sang Dokter ia terdiam sejenak untuk menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Namun ada hal janggal yang terjadi saat saya melakukan pembedahan, luka Ibu anda bukan karena terbentur oleh lantai, saya rasa Ibu anda mendapatkan kekerasan, karena saya menemukan sedikit pecahan kaca di area yang terluka."
Deg! jantung Kevandra seakan berhenti berdetak, saat mendengar kenyataan bahwa wanita yang ia hormati dan sayangi mendapatkan penganiayaan tepat di rumahnya sendiri.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag