NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda / Tamat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Kehamilan kedua Jasmine ternyata membawa aura yang jauh berbeda dari saat ia mengandung Shaka. Jika dulu ia cenderung tenang dan melankolis, kali ini Jasmine menjadi sosok yang sangat aktif, keras kepala, dan memiliki selera "ngidam" yang berada di luar nalar manusia normal.

Pagi itu, suara langkah kaki yang ringan namun terburu-buru terdengar dari arah tangga. Jasmine, dengan daster hamil bermotif bunga matahari yang longgar, tampak menuruni anak tangga dengan santai. Ia bahkan sempat bersenandung kecil sambil memegangi pegangan tangga.

Di ujung tangga, Awan berdiri mematung. Pria itu masih mengenakan kemeja kantor yang baru setengah dikancingkan, dasinya tersampir di bahu. Begitu melihat sosok istrinya sedang menuruni tangga, mata Awan langsung melotot lebar. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari dadanya.

"JASMINE! BERHENTI DI SITU!" teriak Awan. Suaranya menggelegar, membuat Shaka yang sedang duduk di karpet bersama Suster Lastri kaget dan menjatuhkan mainan baloknya.

Jasmine menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga terakhir, lalu menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Kenapa sih, Wan? Teriak-teriak kagetin Shaka aja."

Awan segera menghampiri, hampir berlari, lalu memegangi kedua bahu Jasmine seolah-olah istrinya itu baru saja melakukan aksi akrobat di atas gedung tinggi.

"Aku kan sudah bilang! Jangan turun tangga sendirian!" omel Awan, napasnya memburu. "Lift-nya baru akan dipasang lusa. Sampai lift itu ada, kamu harus panggil aku atau Suster Lastri kalau mau turun. Kalau kamu pusing terus kepeleset gimana? Kamu mau bikin aku mati muda karena serangan jantung?!"

Jasmine memutar bola matanya, ia melepaskan tangan Awan dan melompat kecil di anak tangga terakhir—aksi yang membuat Awan hampir pingsan di tempat.

"Kan aku udah bilang, aku nggak sakit, Awan. Aku cuma hamil," seru Jasmine, sedikit jengkel. "Lagian kata dokter juga nggak apa-apa kalau cuma jalan biasa. Olahraga biar persalinannya lancar nanti."

"Dokter bilang olahraga ringan, Jasmine! Bukan parkour di tangga rumah!" balas Awan judes. Ia segera merangkul pinggang Jasmine, menuntunnya menuju kursi makan seolah-olah Jasmine adalah ratu yang sedang cedera parah. "Duduk di sini. Jangan gerak. Aku ambilkan sarapan."

Setelah perdebatan tangga selesai, suasana meja makan sempat tenang selama lima menit. Awan sedang sibuk mengupas apel dengan sangat teliti—menghilangkan setiap inci kulitnya karena ia takut ada residu pestisida yang tertinggal—saat Jasmine tiba-tiba berhenti mengunyah rotinya.

Jasmine menatap kosong ke arah jendela, lalu matanya beralih ke arah Awan dengan binar yang sangat mencurigakan. Awan yang menyadari tatapan itu langsung merasa waswas.

"Kenapa? Mual? Mau muntah?" tanya Awan siaga satu.

"Awan..." suara Jasmine berubah menjadi sangat manis, tipe suara yang biasanya berarti bencana bagi dompet atau kewarasan Awan.

"Apa? Kamu mau mangga lagi? Atau nasi uduk di pinggir jalan yang kemarin?"

Jasmine menggeleng perlahan. "Aku... aku mau lihat badut."

Awan menghela napas lega. "Hanya itu? Oke, nanti sore aku panggil grup badut paling terkenal di Jakarta buat main di halaman belakang. Biar Shaka juga senang."

"Bukan badut ulang tahun, Awan," potong Jasmine cepat. "Aku mau lihat badut yang lagi makan pisang."

Awan terdiam. Pisau pengupas apelnya berhenti di udara. "Maksud kamu?"

"Iya. Aku mau ada badut, pakai kostum lengkap, hidung merah, rambut kribo warna-warni... terus dia duduk di depan aku, sambil makan pisang ambon. Harus pisang ambon," jelas Jasmine dengan detail yang sangat meyakinkan.

Awan menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Jasmine, kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Badut itu tugasnya menghibur, sulap, bikin balon bentuk anjing. Bukan mukbang pisang di depan ibu hamil."

"Tapi aku maunya itu, Awan! Dari tadi malam aku bayangin badut itu ngupas pisangnya pelan-pelan, terus dimakan... kayaknya seru banget," Jasmine mulai cemberut, matanya mulai berkaca-kaca—senjata pamungkas yang selalu membuat Awan bertekuk lutut.

Awan memijat pangkal hidungnya. "Jasmine, sayang... ini jam sepuluh pagi. Di mana aku harus cari badut yang mau dibayar cuma buat makan pisang?"

"Jadi kamu nggak mau usahain buat anak kita?" rintih Jasmine. Satu tetes air mata jatuh dengan dramatis.

Awan langsung panik. "Bukan gitu! Oke! Oke! Jangan nangis! Aku cari! Aku cari sekarang!"

Operasi "Badut Pisang"

Awan segera meraih ponselnya. Ia mengabaikan panggilan masuk dari investor Singapura dan justru mencari kontak agen penyedia jasa hiburan.

"Halo? Saya Awan Pramoedya. Saya butuh badut sekarang juga. Kirim ke rumah saya," ucap Awan dengan nada memerintah yang sangat formal.

"Oh, untuk acara ulang tahun jam berapa, Pak?" tanya suara di seberang sana.

"Bukan ulang tahun. Tugasnya cuma satu: dia harus makan pisang ambon di depan istri saya sampai istri saya puas. Saya bayar sepuluh kali lipat dari tarif standar," tegas Awan.

Hening di seberang telepon. "Maaf, Pak? Makan... pisang?"

"Jangan banyak tanya! Kirim yang paling profesional dan pastikan dia tidak alergi pisang!" Awan menutup telepon dengan gusar.

Satu jam kemudian, seorang pria dengan kostum badat lengkap berwarna kuning-merah, lengkap dengan sepatu raksasa dan riasan wajah putih yang tebal, berdiri dengan bingung di ruang tamu mewah Awan. Di tangannya, Awan sudah menyiapkan satu sisir pisang ambon kualitas premium.

"Silakan duduk di situ, Pak Badut," instruksi Jasmine dengan wajah berseri-seri.

Awan berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat di dada, wajahnya tampak sangat tertekan. Ia merasa martabat rumahnya sedang dipertaruhkan. "Ayo, tunggu apa lagi? Makan pisangnya," ketus Awan pada si badut.

Si badut menatap Awan, lalu menatap Jasmine, lalu menatap pisang itu. Dengan ragu, ia mulai mengupas pisang tersebut.

"Pelan-pelan kupasnya, Pak Badut," pinta Jasmine antusias.

Si badut pun menuruti. Ia mulai mengunyah pisang itu dengan gerakan yang canggung. Jasmine menonton dengan khusyuk, sesekali bertepuk tangan kecil. Shaka yang berada di samping Jasmine ikut tertawa melihat sosok warna-warni itu, meskipun ia juga bingung kenapa si badut tidak melakukan trik sulap.

"Kamu puas sekarang?" bisik Awan di telinga Jasmine.

"Sstt! Jangan berisik, Wan. Liat tuh, cara dia ngunyah lucu banget, pipinya jadi gembul kayak kamu kalau lagi kesel," tawa Jasmine.

Awan hanya bisa menghela napas panjang. Ia mengambil ponselnya dan memotret kejadian absurd itu. "Kalau Hero liat ini dari sana, dia pasti ketawa guling-guling liat gue jadi promotor mukbang badut," batinnya.

Setelah menghabiskan empat buah pisang, Jasmine akhirnya merasa puas. Si badut pun pulang dengan perasaan bingung namun senang karena mendapat tip yang sangat besar.

Jasmine menyandarkan kepalanya di bahu Awan yang masih tampak kaku. "Makasih ya, Awan. Anak kamu seneng banget tadi."

Awan menoleh, menatap Jasmine dengan tatapan yang melembut. Ia mengelus perut Jasmine yang mulai membuncit. "Apapun buat kamu, Jas. Meskipun aku harus jadi badutnya sendiri kalau tadi nggak ada yang mau dateng."

Jasmine mendongak. "Beneran? Kamu mau jadi badut buat aku?"

Awan terdiam sejenak, telinganya memerah. "Hanya kalau pintunya dikunci dan nggak ada kamera. Aku masih punya reputasi yang harus dijaga."

Jasmine tertawa dan mencium pipi Awan. "Kamu suami paling aneh, paling judes, tapi paling baik sedunia."

Awan menarik Jasmine ke dalam pelukannya. "Dan kamu istri paling ajaib yang pernah aku temuin. Sekarang, ayo naik ke atas. Tapi... biar aku gendong. Jangan berani-berani sentuh tangga itu lagi."

Awan mengangkat Jasmine dengan hati-hati. Meskipun mulutnya masih terus mengomel tentang bahaya tangga dan nutrisi pisang, tangannya mendekap Jasmine dengan sangat protektif. Di rumah itu, kebahagiaan tidak lagi diukur dari kemewahan, melainkan dari sejauh mana Awan rela membuang logikanya demi senyuman istrinya.

1
Ika Marbun
penulis ga mau dikomen sumpah baca komen luh iningue males lanjut lagi, payah lu Thor
Nadhira Ramadhani: ya tinggal gausah baca kak. repot banget wkwk. kakak kan tinggal baca. komen yang lain masa gak bisa wkwk.
total 1 replies
Sri Muryati
cerita nya Bagus aku suka author
Mia Camelia
😔
Mia Camelia
gak sangka si awan jdi cowo bodoh bgini, kebakar cemburu😔
thor balikin awan yg dulu dong, yg selalu tenang dan cerdik. ah masa mereka mau cerai ??😔
Siti Dede
Aku suka ceritanya
awesome moment
klo sdh bersahabat sm miras...y mmg g berotak. jd pas klo awan bgitu.
Mia Camelia
awan keren banget cinta nya sebesar samudra ke jasmine😄☺🥰
Mia Camelia
waduh 😔ini musuh baru lgi
Mia Camelia
thor ayo up date lagi yg sering dong, cerita nys menyentuh hati banget☺👍
pdm
yuk semangat lanjut ke bab selanjutnya
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!