NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gunung Sampah Kenangan

Mereka jatuh.

Bukan jatuh yang cepat seperti dari gedung tinggi, tapi jatuh melayang perlahan, seperti kapas yang turun di ruang hampa udara.

Di sekeliling mereka, kegelapan berputar. Bukan hitam pekat, melainkan kelabu berkabut.

Di dalam kabut itu, Lian melihat kilasan-kilasan gambar berterbangan:

Kara yang menangis di kamarnya sendirian.

Lian yang menatap silet di kamar mandi.

Riko yang membanting hasil foto jeleknya.

Surat cinta yang disobek.

Kucing mati di pinggir jalan.

Semua hal menyedihkan. Semua hal jelek.

Semuanya ditarik ke bawah bersama mereka.

BUGH.

Mereka mendarat.

Tidak sakit. Pendaratannya empuk, seolah mereka jatuh di atas tumpukan kasur tua.

Lian mengerang, membuka matanya.

Langit di atas sana—atau apa pun yang menyerupai langit—berwarna ungu memar. Tidak ada matahari. Tidak ada bulan. Hanya cahaya remang-remang yang entah berasal dari mana.

"Ra?" panggil Lian panik. Dia meraba-raba sekitarnya.

Tangannya menyentuh sesuatu yang kasar. Kertas.

Ribuan kertas.

Lian duduk. Dia terbelalak.

Mereka tidak mendarat di tanah. Mereka mendarat di atas gunung sampah.

Tapi ini bukan sampah plastik atau makanan busuk.

Ini adalah Sampah Memori.

Jutaan buku harian gembok yang kuncinya rusak.

Ribuan surat cinta yang amplopnya belum dibuka.

Gitar-gitar akustik yang senarnya putus.

Boneka beruang yang matanya hilang satu.

Kaset-kaset pita kusut yang ditarik keluar isinya seperti usus terburai.

Ini adalah TPA Emosi (Tempat Pembuangan Akhir). Tempat di mana Dunia Bahagia di atas sana membuang semua kesedihan agar penduduknya tetap tersenyum.

"Kak Lian..."

Suara itu lemah. Berasal dari balik tumpukan majalah Hai tua yang robek.

Lian merangkak, menggali tumpukan itu.

Dia menemukan Kara.

Kondisi Kara menyedihkan sekaligus melegakan.

Gaun pastel pink yang cantik itu kini kotor terkena debu abu-abu. Jepit rambut mutiaranya hilang entah ke mana, membuat rambut panjangnya kusut masai.

Di wajahnya, sisa darah mimisan masih ada, bercampur dengan lunturan maskara.

Lian membantunya duduk. "Lo... lo nggak apa-apa?"

Kara menatap Lian. Matanya bengkak.

Tapi saat mata itu bertemu mata Lian, tidak ada lagi kekosongan plastik.

Mata itu dalam. Gelap. Penuh rasa sakit.

Itu mata Kara yang asli.

Kara menatap gaunnya sendiri dengan jijik. Dia menarik kerah renda-renda itu seolah ingin merobeknya.

"Baju ini..." bisik Kara parau. "Gue benci warna ini."

Lian tersenyum lega. Senyum tulus yang pertama kali muncul di wajahnya sejak bangun pagi tadi.

"Lo balik, Ra."

Kara menunduk, memeluk lututnya. Bahunya terguncang hebat. Dia menangis.

Tapi kali ini, bukan tangisan manja karena kalungnya rusak.

Ini tangisan penyesalan.

"Gue lupa..." isak Kara, suaranya pecah. "Gue lupa semuanya, Kak. Gue lupa roti selai itu. Gue lupa kalau gue yang bikin rekaman itu. Gue lupa rasa sakit Kakak. Gue jadi... boneka."

Lian menggeser duduknya, merangkul bahu Kara di tengah lautan sampah kertas itu.

"Itu bukan salah lo. Sistemnya curang. Mereka nge-format otak lo."

"Gue jijik sama diri gue yang tadi," Kara memukul kakinya sendiri. "Gue senyum-senyum, dandan cantik, padahal temen gue menderita. Gue jadi orang yang paling gue benci: Orang yang pura-pura bahagia."

Lian mengambil sehelai kemeja flanel kusam yang kebetulan tergeletak di dekat kaki mereka—benda buangan orang lain. Dia menyelimutkan kemeja kedodoran itu ke bahu Kara, menutupi gaun pastel yang dibenci gadis itu.

"Di dunia atas sana..." Lian menunjuk langit ungu yang jauh. "Kesedihan itu dianggap virus, Ra. Makanya mereka buang ke sini. Tapi lo tau nggak?"

Lian memungut sebuah buku harian tua yang tergeletak di dekatnya. Halamannya basah, entah kena air hujan atau air mata.

Dia membukanya sembarang. Tulisannya acak-acakan:* '*Aku benci duniaku. Aku ingin lari.'

"Barang-barang di sini..." lanjut Lian. "...ini lebih jujur daripada semua toko kaset di Dago tadi siang."

Kara menghapus air matanya dengan lengan kemeja flanel itu. Dia mulai tenang. Aroma apek dari sampah kertas dan barang bekas di sini anehnya menenangkan. Jauh lebih baik daripada bau pewangi stroberi sintetik di kamarnya.

Mereka duduk diam beberapa saat, membiarkan keheningan tempat itu meresap.

Tempat ini seperti makam raksasa untuk perasaan manusia.

"Kita harus cari jalan keluar," kata Kara akhirnya, suaranya sudah kembali normal. Serak dan rendah.

"Iya," Lian berdiri, mengulurkan tangan. "Tapi jangan ke atas lagi. Gue rasa pintu keluarnya bukan di langit."

Mereka mulai berjalan menyusuri lembah sampah itu.

Kaki mereka melangkah di atas tumpukan mainan Tamiya yang rodanya patah, Gameboy yang layarnya retak, dan tumpukan komik Doraemon yang halamannya hilang setengah.

Setiap langkah membangkitkan memori kolektif era 90-an yang "gagal".

Krak.

Lian menginjak sesuatu yang keras.

Bukan kertas atau plastik. Logam.

Lian berhenti. Dia menunduk, menyingkirkan tumpukan bungkus chiki jadul.

Di bawah tumpukan itu, tergeletak sebuah benda yang sangat familiar.

Lian membeku.

"Rik..."

Dia membungkuk, memungut benda itu dengan hati-hati seolah memungut bayi burung yang jatuh.

Kamera Nikon FM2.

Kamera analog kesayangan Riko.

Kondisinya mengenaskan. Lensanya retak parah, seperti habis dipukul martil. Body kameranya penyok. Strap (tali) kameranya putus.

Riko di "Dunia Bahagia" bilang dia menjualnya.

Bohong.

Kamera ini dihancurkan dan dibuang ke sini. Karena kamera ini merekam "kebenaran".

"Itu kamera Kak Riko?" tanya Kara, mengenali benda ikonik itu.

Lian mengangguk. Rahangnya mengeras.

"Dia nggak jual cita-citanya, Ra. Sistem yang ngerampas paksa."

Lian memeriksa kamera itu. Berat, dingin, mati.

Tapi tangannya meraba bagian belakang. Tuas rewind-nya macet.

Dia membuka penutup film belakangnya.

Ada rol film di dalamnya.

Rol film Kodak Gold 200. Sudah tergulung habis.

"Filmnya masih ada," gumam Lian. "Riko sempet motret sesuatu sebelum kameranya dibuang."

Kara mendekat. "Kita nggak bisa liat isinya kalau nggak dicuci cetak."

Lian menatap sekeliling TPA raksasa ini.

"Di sini tempat sampah, Ra. Pasti ada peralatan darkroom (kamar gelap) bekas yang dibuang juga. Sekolah punya ekskul fotografi kan? Pasti barang lamanya dibuang ke sini."

Ide gila lainnya. Mencuci film di tempat pembuangan sampah.

"Cari, Ra," perintah Lian, semangat baru membakar matanya. "Cari apa aja yang berhubungan sama cuci foto. Botol obat kimia, nampan plastik, tangki pengembang."

Kara mengangguk mantap. Dia menyingsingkan lengan kemeja flanelnya.

Si Tuan Putri sudah pergi. Kara si Petualang sudah kembali.

Mereka menyebar, menggali di antara reruntuhan memori itu.

Setengah jam kemudian, Kara berteriak dari balik bukit sampah kaset video Betamax.

"Kak! Nemu!"

Lian berlari menghampiri.

Kara menemukan sebuah peti kayu tua bertuliskan: LOGISTIK EKSKUL FOTOGRAFI - 1990.

Di dalamnya, ada peralatan kamar gelap yang sudah berdebu tapi masih utuh. Botol-botol cairan kimia Developer dan Fixer yang warnanya sudah keruh.

"Masih bisa dipake nggak ya?" Kara ragu, mengocok botol cairan kimia yang bunyinya kental.

"Harus bisa," kata Lian.

Dia tidak punya kamar gelap. Tapi di tempat ini tidak ada matahari. Hanya cahaya ungu remang-remang. Cukup gelap untuk memproses film jika mereka hati-hati.

Lian mengeluarkan rol film dari kamera Riko dengan tangan di dalam saku jaketnya (sebagai pengganti changing bag). Dia memasukkan film itu ke dalam tangki pencuci dengan meraba-raba.

Keahlian Riko yang pernah diajarkan padanya dulu ternyata berguna.

"Apa yang Kakak cari?" tanya Kara saat Lian mulai menuangkan cairan kimia bau amonia itu ke dalam tangki.

"Foto terakhir," jawab Lian sambil menggoyangkan tangki ritmik. "Kalau Riko dipaksa 'berubah' jadi robot bahagia, pasti ada pemicunya. Pasti dia liat sesuatu yang nggak boleh dia liat."

Sepuluh menit yang terasa seperti selamanya berlalu.

Lian mengeluarkan klise negatif film yang basah itu. Dia mengangkatnya ke arah langit ungu, menyipitkan mata untuk melihat gambar terbalik (negatif) di sana.

Sebagian besar frame film itu kosong atau terbakar (overexposed).

Tapi di ujung paling akhir... frame nomor 36.

Gambarnya jelas.

Lian ternganga.

Tangki pencuci di tangannya jatuh berdentang ke tanah.

"Kak?" Kara melongok. "Foto apa?"

Lian menunjuk negatif film itu dengan tangan gemetar.

Meski warnanya terbalik (hitam jadi putih, putih jadi hitam), gambar itu jelas.

Itu adalah foto sebuah Pintu.

Pintu biasa, tapi letaknya tidak wajar.

Pintu itu berdiri tegak di tengah-tengah lapangan upacara sekolah.

Dan di atas pintu itu ada tulisan yang terukir jelas:

EXIT: SIDE A

"Pintu keluar..." desis Lian. "Riko nemuin pintu keluar dari loop ini, tapi sebelum dia sempet masuk, dia ditangkep dan kameranya dihancurin."

"Di lapangan upacara?" Kara bingung. "Tapi tiap hari kita upacara di sana, nggak pernah ada pintu!"

"Pintunya nggak kelihatan, Ra," kata Lian, otaknya bekerja cepat menghubungkan titik-titik misteri. "Riko fotografer. Dia liat dunia lewat lensa. Mungkin pintu itu cuma bisa diliat pake..."

Lian menatap kamera Nikon rusak di tangannya. Lensanya retak.

Kamera ini punya filter. Filter yang bisa melihat kebenaran.

"Kita harus bawa kamera ini balik ke atas," kata Lian tegas. "Kita harus ke lapangan upacara."

"Gimana caranya naik?" Kara menatap langit yang tak terjangkau.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara gemuruh.

Tumpukan sampah di sebelah utara mulai longsor.

Sesuatu yang besar sedang bergerak di bawah tumpukan sampah itu. Sesuatu yang lapar.

Sistem TPA ini punya penjaga juga. Pemulung Memori.

Makhluk yang memakan sisa-sisa kesedihan agar tidak menumpuk.

"Lari," bisik Lian.

Tanah bergetar.

Seekor cacing raksasa—yang terbuat dari gabungan boneka-boneka bekas yang dijahit mengerikan—muncul dari balik bukit sampah, mulutnya menganga lebar penuh jarum.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!