NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Darah Itu Terlihat

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan café sore hari.

Kali ini bukan orang suruhan.

Aruna sudah tau dari cara mobil itu berhenti — pelan, pasti, tanpa ragu.

Arven berdiri duluan.

“Mereka datang.”

Arka yang sedang duduk di meja pojok langsung menoleh.

Wajahnya berubah tegang.

“Papa… itu kakek-nenek?” bisik Arsha pelan.

Arka mengangguk tipis.

“Iya.”

Pintu mobil terbuka.

Adrian Alveros turun lebih dulu. Tegap. Wibawa. Tatapannya tajam seperti biasa.

Di sebelahnya, Nadira turun pelan. Wajahnya lembut, tapi matanya penuh rasa ingin tahu.

Café mendadak hening.

Aruna berdiri tegak di balik meja kasir.

Arka melangkah maju.

“Pa. Ma.”

Adrian tidak menjawab dulu. Tatapannya langsung tertuju pada tiga anak yang berdiri sejajar.

Dan saat itulah—

Wajahnya berubah.

Arven tidak mundur.

Arkana tidak menunduk.

Arsha justru tersenyum kecil.

Nadira yang pertama kali mendekat.

“Ya Allah…”

Ia berlutut perlahan di depan mereka.

“Kalian… mirip sekali.”

Arsha mendekat sedikit.

“Nenek?”

Suara itu pelan. Ragu.

Nadira langsung memeluk Arsha tanpa sadar.

Air matanya jatuh pelan.

Aruna terdiam.

Adrian masih berdiri, tapi tatapannya melembut.

“Siapa namamu?” tanyanya pada Arven.

“Arven.”

“Kamu?”

“Arkana.”

“Dan yang manis ini?”

“Arsha.”

Adrian mengangguk pelan.

“Umur?”

“Lima.”

Sunyi sebentar.

Lalu Adrian melihat ke arah meja café.

“Apa kalian yang bantu kelola tempat ini?”

Arkana menjawab tenang,

“Aku yang atur stok sama laporan penjualan.”

Adrian menaikkan alis.

“Kamu bisa laporan penjualan?”

Arkana langsung ambil tablet kecil dari meja.

“Ini grafik mingguan. Margin naik 12% sejak kita bikin promo bundling.”

Adrian membeku.

Arka bahkan menoleh kaget.

“Kamu yang buat sistem ini?” tanya Adrian.

“Iya. Biar Mama nggak pusing.”

Nadira menatap Aruna dengan mata berkaca-kaca.

Arven ikut maju.

“Aku yang urus keamanan online. Website café nggak bisa diakses sembarangan.”

Adrian menyipitkan mata sedikit tertarik.

“Keamanan online?”

“Ada orang Jakarta kemarin coba foto-foto. Aku sudah backup CCTV.”

Arka menahan senyum tipis.

Arsha mengangkat tangan.

“Aku yang bikin konsep paket ulang tahun anak-anak. Itu yang paling laris.”

Nadira tertawa kecil sambil menyeka air matanya.

“Pintar sekali…”

Adrian akhirnya menoleh ke Arka.

“Kamu tidak bilang apa-apa.”

Arka menjawab jujur.

“Aku juga baru tau beberapa minggu lalu.”

Adrian mendengus pelan.

“Tiga anak. Dan semuanya…”

Ia melihat mereka lagi.

“…terlalu jelas darah kita.”

Aruna berdiri kaku.

Ia siap kalau mereka meremehkan.

Tapi yang ia lihat sekarang bukan penolakan.

Itu… kebanggaan.

Nadira menatap Aruna lembut.

“Kamu yang membesarkan mereka?”

Aruna mengangguk.

“Sendiri?”

“Dengan sahabat saya.”

Adrian terdiam beberapa detik.

“Kamu tau siapa kami.”

“Iya.”

“Dan kamu tidak pernah datang.”

Nada itu bukan tuduhan. Lebih seperti ingin memastikan.

Aruna menjawab pelan.

“Kami tidak butuh nama.”

Arven langsung menambahkan,

“Kami lahir tanpa nama itu.”

Kalimat itu membuat Nadira menoleh tajam.

Adrian terdiam lama.

Lalu tiba-tiba—

Ia duduk di kursi depan anak-anak.

“Kalian tau apa itu Alveros?”

Arkana menjawab santai,

“Perusahaan investasi, teknologi, properti.”

Adrian tersenyum tipis.

“Kalian tertarik?”

Arven mengangkat bahu.

“Kita lagi bangun bisnis sendiri.”

Arsha menambahkan polos,

“Tapi kalau Kakek mau jadi investor, boleh.”

Raka yang tiba-tiba masuk bersama Daniel (mereka menyusul) langsung hampir tersedak mendengar itu.

Adrian tertawa kecil untuk pertama kalinya.

“Berani sekali.”

Arka memperhatikan ayahnya.

Ia tau senyum itu.

Itu bukan senyum basa-basi.

Itu senyum bangga.

Nadira memegang tangan Arsha lagi.

“Kalian mau main ke rumah Kakek dan Nenek?”

Tiga anak itu saling pandang.

Arven menjawab hati-hati.

“Kita nggak mau pindah.”

Nadira tersenyum lembut.

“Nggak ada yang minta kalian pindah.”

Adrian akhirnya berdiri.

“Arka.”

“Iya, Pa.”

“Kamu membuat kesalahan karena tidak jujur lebih awal.”

Arka mengangguk.

“Tapi…”

Adrian menoleh ke anak-anak lagi.

“…kamu tidak membuat kesalahan dengan mereka.”

Kalimat itu seperti izin tak tertulis.

Aruna menahan napas yang sedari tadi terasa berat.

Nadira mendekat ke Aruna.

“Terima kasih sudah menjaga cucu-cucu kami.”

Air mata Aruna hampir jatuh.

Ia tidak pernah membayangkan penerimaan seperti ini.

Arven masih berdiri tegak.

“Kakek.”

Adrian menoleh.

“Kita tetap pakai nama kita ya?”

Adrian tersenyum tipis.

“Nama tidak menentukan darah.”

Arkana menambahkan pelan,

“Tapi darah juga nggak menentukan pilihan.”

Adrian menatapnya lebih lama.

Anak itu…

Bukan cuma pintar.

Dia tajam.

Dan untuk pertama kalinya—

Keluarga Alveros tidak melihat mereka sebagai ancaman.

Bukan sebagai masalah warisan.

Tapi sebagai penerus.

Bukan karena nama.

Tapi karena kemampuan.

Arka berdiri di samping Aruna.

Pelan ia berkata,

“Sekarang kamu nggak sendirian.”

Aruna menatap tiga anaknya.

Mereka memang lahir tanpa nama itu.

Tapi hari ini—

Nama itu datang sendiri.

Dan bukan untuk mengambil.

Tapi untuk menerima.

---

Adrian belum benar-benar selesai mengamati.

Ia bukan pria yang mudah tersentuh.

Selama ini hidupnya diisi angka, kontrak, risiko.

Tapi sekarang—

Ia melihat tiga pasang mata yang terlalu familiar.

“Kalian sekolah di mana?” tanyanya akhirnya.

Arkana menjawab duluan,

“Sekolah biasa kok. Tapi kurikulumnya agak lambat.”

Adrian mengangkat alis.

“Lambat?”

Arven menyela santai,

“Kita udah selesai buku matematika kelas tiga.”

“Sekarang umur kalian lima,” ujar Adrian pelan.

Arsha mengangguk polos.

“Angka kan nggak nunggu umur, Kek.”

Daniel yang berdiri di belakang Arka berbisik pelan,

“Pak, ini bukan mirip. Ini fotokopi.”

Arka menahan senyum kecil.

Nadira masih memegang tangan Arsha.

“Kalian suka baca?”

Arkana langsung menjawab,

“Biografi sama buku ekonomi ringan.”

“Ringan?” Nadira terkekeh pelan.

Arven menambahkan,

“Aku lagi coba belajar coding tingkat lanjut. Tapi laptopnya agak lemot.”

Adrian langsung menoleh ke Arka.

“Kamu tidak memberi mereka fasilitas?”

Arka menjawab tenang,

“Mereka nggak pernah minta.”

Arsha menyela cepat,

“Bukan nggak mau. Cuma kita nggak mau bergantung.”

Kalimat itu membuat Adrian terdiam lagi.

Aruna berdiri sedikit menjauh, membiarkan percakapan itu mengalir.

Ia melihat sesuatu yang selama ini ia takutkan—

Dan ternyata tidak seburuk bayangannya.

Adrian berjalan pelan mengitari café.

Matanya menangkap papan kecil di dinding:

Target Bulan Ini: Upgrade Mesin Kopi.

“Kalian buat target sendiri?” tanyanya.

“Iya,” jawab Arkana. “Kalau tercapai, kita nggak perlu pinjam uang.”

“Kenapa takut pinjam?” tanya Nadira lembut.

Arven menatap lurus.

“Karena kalau pinjam, ada yang bisa ngerasa punya hak.”

Sunyi.

Kalimat itu dewasa. Terlalu dewasa untuk anak lima tahun.

Adrian akhirnya berhenti tepat di depan Aruna.

“Kamu ajarkan mereka ini semua?”

Aruna menjawab jujur,

“Aku cuma ajarin mereka bertahan. Sisanya mereka belajar sendiri.”

Adrian mengangguk pelan.

Ia bisa melihatnya sekarang.

Bukan hanya kecerdasan.

Tapi karakter.

Dan karakter tidak bisa dibeli.

Arsha tiba-tiba menarik tangan Nadira.

“Nek, rumah Kakek besar ya?”

Nadira tersenyum.

“Lumayan.”

“Banyak kamar?”

“Banyak.”

Arsha berpikir sebentar.

“Kalau kita main ke sana, Mama ikut ya?”

Nadira langsung menoleh ke Aruna.

“Tentu.”

Aruna sedikit terkejut.

Ia menatap Arka tanpa sadar.

Arka hanya mengangguk kecil.

Adrian kembali duduk.

“Kalian tau apa yang akan terjadi kalau publik tau tentang kalian?”

Arven menjawab tanpa ragu,

“Berita.”

Arkana menambahkan,

“Spekulasi saham naik.”

Arsha menyimpulkan polos,

“Ribut.”

Daniel sampai tertawa kecil mendengarnya.

Adrian menatap mereka lama.

“Kalian tidak takut?”

Arven menjawab pelan,

“Kita udah hidup lima tahun tanpa siapa-siapa. Takut apalagi?”

Kalimat itu menghantam Arka pelan.

Arka mendekat ke mereka.

“Sekarang kalian nggak tanpa siapa-siapa.”

Arkana menatapnya.

“Kita masih milih.”

Bukan menolak.

Tapi belum sepenuhnya menerima.

Dan Adrian melihat itu.

Anak-anak ini bukan tipe yang akan tunduk hanya karena nama besar.

Itu justru membuatnya makin tertarik.

“Bagaimana kalau saya tawarkan sesuatu?” kata Adrian akhirnya.

Aruna langsung waspada.

“Tawaran apa?”

“Bukan mengambil. Bukan memindahkan.”

Ia menatap anak-anak itu.

“Tapi mengembangkan.”

Arkana menyipitkan mata.

“Maksudnya?”

“Program pendidikan khusus. Mentor. Akses ke laboratorium teknologi. Bukan supaya kalian jadi Alveros.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi supaya potensi kalian tidak terhambat.”

Sunyi.

Arsha menoleh ke Aruna.

“Ma?”

Aruna berlutut, memegang bahu mereka.

“Kalian yang pilih.”

Arven berpikir serius.

“Kalau kita ikut… kita tetap di sini?”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

“Kita tetap pakai nama kita?”

“Ya.”

“Kita nggak dipajang buat pencitraan?”

Adrian tersenyum tipis.

“Kalian terlalu pintar untuk dijadikan pajangan.”

Arkana dan Arven saling pandang.

Arsha menggigit bibir kecilnya.

“Aku cuma mau satu.”

“Apa?” tanya Nadira lembut.

“Kalau Papa sibuk lagi… jangan ilang.”

Kalimat itu pelan. Hampir berbisik.

Arka membeku.

Adrian melihat ekspresi anaknya.

Untuk pertama kalinya ia melihat Arka bukan sebagai direktur utama.

Tapi sebagai ayah yang sedang diuji.

Arka berlutut di depan Arsha.

“Aku nggak akan pergi tanpa bilang.”

Arsha menatapnya.

“Janji?”

“Janji.”

Adrian berdiri perlahan.

Keputusan sudah terbentuk di dalam dirinya.

Ia menatap Aruna.

“Kamu membesarkan mereka dengan harga diri.”

Lalu ia menatap Arka.

“Sekarang tugasmu memastikan mereka tidak kehilangan itu.”

Nadira memeluk Arsha sekali lagi.

“Aku bangga punya cucu seperti kalian.”

Dan untuk pertama kalinya—

Tiga anak itu tidak merasa sedang dinilai.

Mereka merasa… diakui.

Bukan karena nama besar.

Bukan karena warisan.

Tapi karena kemampuan mereka sendiri.

Arven akhirnya berkata pelan,

“Kita boleh coba.”

Arkana mengangguk.

“Asal tetap jadi kita.”

Arsha tersenyum kecil.

“Dan Papa nggak ilang.”

Arka tersenyum lembut.

“Papa di sini.”

Adrian memandang pemandangan itu dengan perasaan yang jarang ia rasakan—

Harapan.

Bukan tentang bisnis.

Bukan tentang ekspansi.

Tapi tentang generasi.

Dan mungkin…

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

Nama Alveros tidak lagi terasa berat.

Karena sekarang—

Ia punya tiga alasan baru untuk menjaganya.

---

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!