Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Dimasa Nifas
Malam itu pukul sebelas, suamiku pulang. Aku tidak tahu dari mana dia, tapi aroma yang tercium darinya sudah menjelaskan segalanya. Baunya tidak sehat.
"Wah, mabuk botol lagi?" pikirku sinis. Entahlah, aku sudah tidak tahu lagi harus menasihatinya dengan cara apa. Rasa muak sudah sampai ke ubun-ubun. Dulu, aku mengira kelahiran anak kami akan menjadi titik baliknya untuk berubah.
Ternyata pepatah itu benar: jika seseorang sudah terjerumus dan tidak punya niat serius untuk berbenah, dia akan terus kumat lagi dan lagi.
Malam ini dia tampak lebih parah dari biasanya. Kebetulan, anak kami sedang menginap di rumah simbahnya.
Aku sendirian di kamar, merasa was-was. Sejujurnya, ada rasa takut jika harus tidur seranjang dengannya dalam kondisi seperti itu.
Tepat tengah malam, ketakutanku menjadi kenyataan. Dia tiba-tiba menindihku, menuntut untuk dilayani.
Tentu saja aku menolak keras, aku masih dalam masa nifas! Namun, saat aku ingin berteriak, tangannya membekap mulutku dengan kasar.
Terjadilah malam yang sangat mengenaskan itu. Tidak ada cinta, tidak ada rasa senang. Yang ada hanyalah sakit hati dan siksaan fisik.
Perutku terasa sangat nyeri, namun sekuat tenaga aku menyeret tubuhku untuk pindah kamar. Yang membuatku semakin geram, setelah melampiaskan nafsunya, dia langsung tertidur begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Di saat kondisi nifas belum kering, dia tega membobol pertahananku. Rasanya seperti tulang yang retak. Entah apa yang ada di dalam otaknya.
"Ya Allah, ambillah nyawa suamiku... aku sudah lelah," batinku meracau dalam emosi yang meluap. Aku ingin sekali mencekiknya. Dia benar-benar tidak punya hati dan otak.
Yang ada di pikirannya hanya nafsu semata, tanpa sedikit pun peduli pada kondisiku yang masih terluka pasca melahirkan.
Hanya isak tangis yang menemani malamku. Tak ada kenikmatan seperti yang dirasakan orang lain.
Aku merasa tak lebih dari sekadar boneka yang ditunggangi, lalu dicampakkan kapan pun dia mau. Dia datang dan pergi seenak jidatnya sendiri.
Aku menyeret langkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya perih, baik fisik maupun batin. Setelah itu, aku segera bergegas menuju kamar tempat anakku tidur bersama simbahnya.
Begitu aku memeluknya, tak lama anakku menangis kencang. Mungkinkah ikatan batin ini begitu kuat sehingga dia bisa merasakan kesakitan yang sedang dialami ibunya?
Tangisan bayi yang memecah kesunyian malam membuat Mamak terbangun dan keluar dari kamar.
Beliau melihatku sedang mencoba mengganti popok anakku yang basah dengan mata yang masih berat.
"Sini, biar Mamak yang gendong. Kamu tidur saja," ucap Mamak sambil mengambil alih si kecil.
Namun, saat Mamak mengangkat bayi kami, langkahnya terhenti. Beliau menatap wajahku lekat-lekat. Mataku yang sembab dan merah tak bisa berbohong.
"Kamu kenapa?" tanyanya penuh curiga. Aku terdiam sejenak, tenggorokanku terasa tercekat.
"Nggak apa-apa kok, Mak," jawabku pelan. Tapi Mamak bukan orang yang mudah dibohongi.
"Kenapa? Mamak nggak suka ya kalau ada rahasia-rahasiaan seperti ini! Nanti kalau ada apa-apa, Mamak dan Bapak juga yang harus turun tangan," tegasnya.
Tiba-tiba, suara Bapak terdengar dari balik pintu, "Kenapa? Jawab saja pertanyaan Mamakmu."
Pertahananku runtuh. Sambil terisak dan bicara tergagap, aku akhirnya mengaku, "A-aku... aku dipaksa suamiku, Mak."
Mamak tersentak kaget. "Ya Allah, Yani! Kenapa tadi nggak pergi saja meninggalkan suamimu? Kamu ini baru lahiran, Yan. Nanti kalau jadi anak (hamil lagi) bagaimana coba?" omel Mamak. Beliau bicara seperti itu karena saking khawatirnya padaku.
"Gimana mau pergi, Mak? Niatnya aku mau tidur, lagipula aku lihat dia tadi sudah tidur. Tapi tiba-tiba dia menindihku dan mulutku dibungkam. Aku nggak bisa kabur," paparku di sela tangis, menjelaskan betapa tak berdayanya aku saat itu.
"Memang b*jingan dia!" umpat Bapak yang tak bisa lagi menahan geram mendengar kelakuan menantunya.
Aku hanya bisa terdiam saat orang tuaku memakinya. Tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutku untuk membelanya.
Di tengah ketegangan itu, anakku yang tadi sempat tenang di gendongan Mamak, tiba-tiba kembali menangis kencang seolah ikut memprotes keadaan ini.
Malam itu terasa begitu panjang. Mamak mulai kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjaga Melsha. Aku dan Bapak bahu-membahu menimang dan menggendongnya agar dia bisa tenang.
Bagaimana dengan suamiku? Jangan ditanya. Dia pasti sedang tidur mendengkur dengan nyenyaknya setelah melakukan tindakan keji itu padaku. Benar-benar tidak punya nurani.
Pukul 03:48 dini hari, barulah Melsha bisa tenang dan tertidur pulas. Aku membaringkannya perlahan di tempat tidur, lalu aku pun ikut terlelap karena kelelahan yang luar biasa, meskipun bagian intimku masih terasa sangat linu dan nyeri.
Keesokan harinya, aku masih tertidur lelap. Bahkan saat Bapak berangkat ke sawah pun, aku sama sekali tidak terbangun.
Mamak yang sudah bangun lebih awal segera merapikan rumah. Beliau sempat menengok ke kamar dan melihat Melsha sudah terbangun.
Karena tidak ingin mengganggu istirahatku, Mamak menggendong cucunya itu sambil menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Aku baru terbangun saat mendengar Melsha mulai menangis karena haus. Begitu aku duduk, Mamak menghampiri.
"Ganti dulu ini celananya, Melsha ngompol," ucap Mamak sambil menyerahkan Melsha ke tanganku.
"Hmm, iya Mak," sahutku masih dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ternyata Melsha tidak hanya pipis di gendongan Mamak, tapi juga buang air besar.
Aku membawa Melsha ke kamar sebelah, tempat suamiku masih terkapar. Melsha terus menangis sampai sesegukan.
Setelah mengganti pakaiannya, aku sengaja mendekatkan Melsha ke telinga ayahnya, berharap tangisan itu bisa mengetuk nuraninya atau setidaknya membuatnya bangun untuk membantu.
Namun nihil. Bukannya membuka mata atau merasa terganggu, dia justru tetap tidur pulas seolah mendadak tuli. Tangisan kencang anaknya sendiri sama sekali tidak mempan baginya.
Melihat hal itu, Mamak yang merasa tidak tega segera datang dan mengambil Melsha kembali dari pelukanku.
"Orang pura-pura tuli kok didekatkan ke ayahnya? Sudah, biar Mamak saja yang gendong. Kamu tidur saja di kamar Mamak," ucap Mamak ketus, jengah melihat tingkah menantunya. Aku hanya bisa mengangguk lemah dan berjalan gontai menuju kamar Mamak.
Jujur, terselip rasa tidak enak hati yang amat dalam kepada Mamak. Beliau sudah bangun sejak subuh, memasak, dan mengurus segalanya, sementara aku justru tidak berdaya untuk membantu.
Pikiranku berkecamuk. Saat aku sakit, Bapak yang membiayai obatnya. Saat aku butuh bantuan, orang tuaku yang turun tangan. Lalu apa gunanya suami jika tidak bisa mengurus anak dan istrinya?
Mungkin banyak orang akan berkata, "Sudah, buang saja suami macam itu! Lempar ke laut! Ceraikan saja!" Ingin sekali aku melakukannya. Ingin sekali aku bebas dari beban ini. Tapi kenyataannya, bercerai tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ada proses, ada biaya, dan banyak hal yang harus dipikirkan. Tidak segampang itu, Ferguso.
Aku mencoba memejamkan mata kembali, berusaha menetralkan pikiran yang semrawut, sembari berharap ada solusi yang muncul di kepalaku.
.....
Hari sudah siang saat aku terbangun. Setelah kesadaranku terkumpul, aku melongok ke kamar sebelah. Ahmad sudah tidak ada. Dia pergi entah ke mana tanpa pamit sedikit pun.
"Mak, Ahmad ke mana?" tanyaku pada Mamak yang baru saja selesai memandikan Melsha.
"Entah, Mamak juga tidak tahu dan tidak mau urus dia lagi!" jawab Mamak ketus. "Daripada kamu memikirkan dia, lebih baik anakmu ini disusui dulu. Dia lapar sepertinya habis dimandikan."
Mamak menyerahkan Melsha ke pangkuanku. Aku menatap wajah kecil anakku yang bersih dan harum, mencoba mencari kekuatan di sana, meski hatiku masih terasa hancur lebur.
Sejak awal anakku lahir hingga masa nifas ini hampir usai, hanya aku dan kedua orang tuaku yang setia begadang setiap malam.
Melsha memang tipe bayi yang rewel dan sulit ditenangkan jika sudah menangis.
Aku sangat memaklumi jika bayiku rewel, dan aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang luar biasa membantu.
Namun, yang membuat hatiku sangat dongkol adalah sikap suamiku. Dia sama sekali tidak ada andilnya. Jangankan ikut begadang, sekadar menggendong anaknya sendiri pun tidak pernah ia lakukan dengan tulus.
Pernah sekali dia mencoba menggendongnya, tapi Melsha justru semakin meronta dan tidak bisa diam.
Mungkinkah bayi sekecil itu sudah bisa merasakan aura negatif dari ayahnya sehingga dia menolak untuk dekat? Tapi anehnya, begitu berpindah ke pelukan engkongnya, Melsha langsung bisa tenang seketika.
Benar-benar sebuah pertunjukan yang istimewa bagiku. Ternyata bayi pun bisa mengenali karakter orang dewasa di sekitarnya. Ini terasa aneh, tapi nyata adanya.
Seolah-olah naluri bayiku tahu siapa yang benar-benar menyayanginya dan siapa yang hanya menjadi beban di rumah ini.
Bersambung....