Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Vitamin Penenang
Tekanan emosional dalam diri, baik yang penyebabnya dari pekerjaan, keluarga, keuangan, atau apapun, sangat mampu mempengaruhi gairah se_ks atau libi_do seseorang.
Respons pria dan wanita terhadap tingkat stres pastinya berbeda, begitupun dalam kaitannya dengan hubungan sek_sual. Wanita umumnya tidak mood berhubungan se_ks dalam kondisi stres. Sedangkan pria menggunakan se_ks sebagai cara mengurangi stres.
Seperti yang dilakukan oleh Bastian saat ini. Dirinya melampiaskan tekanan emosi dan pikirannya melalui hubungan ranjang dengan Seruni.
Bastian butuh vitamin penenang untuk diri dan hatinya. Saat ini obat yang paling ampuh adalah bercinta dengan Seruni.
Keganasan Bastian sore ini mirip seekor singa yang sedang mengobrak-abrik dan melahap habis mangsanya hingga tak berdaya. Dengan gerakan cepat dan liar, Bastian memimpin peleburan sore ini.
Terlihat menggebu penuh naf_su. Bastian mendominasi arena peperangan untuk berbagi pe_luh di atas ranjang bersama Seruni. Sedikit terkesan terburu-buru. Namun, Bastian tetap berusaha melakukannya dengan lembut hingga Seruni berkali-kali mendapatkan pelepasan nikmat.
"Aku benar-benar menginginkanmu, Run." Bisik Bastian di telinga Seruni seraya terus memompa area bagian bawah sang istri dengan serangan terukur dan begitu dalam.
Untaian kalimat in_tim dan romantis terus digaungkan oleh Bastian sepanjang peleburan kali ini. Cukup terasa berbeda di benak Seruni melihat perubahan sikap Bastian. Akan tetapi, Seruni tetap mengikuti ritme dan tempo permainan Bastian dengan baik di atas ranjang panas mereka.
Tidak ada jalan lain sore ini selain sebuah percintaan yang dahsyat di atas ranjang bersama Seruni untuk melepaskan segala penat yang bersarang di pikiran Bastian.
Pria yang bergelar sebagai suami dari Seruni itu terus memandangi wajah sang istri yang begitu sayu dari atas karena ditindih olehnya. Terlihat Seruni memejamkan kedua matanya dengan kondisi rambut yang berantakan, keringat bercucuran dan mulut yang terus menganga karena mengeluarkan suara-suara yang begitu indah di telinga Bastian.
Suara rintihan dan desa_han nikmat dari bibir Seruni. Hal ini semakin memacu adrenalin Bastian untuk membahagiakan Seruni serta dirinya di atas ranjang dalam pemenuhan kebutuhan ragawi.
"Oh...Bang..." jerit Seruni yang entah berapa kali ia lontarkan tanpa sadar di sore yang bergelora ini.
Rencana bertukar keringat sebelum Maghrib tiba, awalnya diprediksi tak sampai setengah jam akan selesai. Namun, faktanya tidak.
Tanpa terasa mereka berdua baru menyelesaikan kenikmatan percintaan itu setengah jam setelah adzan Maghrib berkumandang. Keduanya segera melakukan mandi ju_nub untuk membersihkan diri setelah pergula_tan hebat sore itu.
Entah sudah berapa banyak gaya yang mereka lakukan bersama, Bastian dan Seruni tak mampu menghitungnya. Keduanya sangat menikmati momen yang terjadi.
☘️☘️
"Makan abang kok sedikit," protes Seruni.
"Abang udah kenyang," sahut Bastian.
Saat ini keduanya sedang menikmati makan malam sederhana dalam sepi dan pekatnya malam yang ada di sekitarnya.
"Kenyang makan apa? Perasaan sejak pulang kerja, abang belum makan apapun,"
"Kenyang makan kamu," goda Bastian.
Blushh...
Seketika semburat merah menampakkan diri di wajah Seruni mendengar ucapan Bastian yang penuh keme_suman hakiki tersebut.
"Abang gombal," cicit Seruni tersipu malu.
"Beneran abang gak bohong. Makan kamu di kasur udah bikin abang kenyang. Apalagi liatin wajahmu tadi,"
"Ah, abang! Jangan bahas itu. Ading malu,"
"Nanti malam lagi ya," goda Bastian semakin gencar.
"Terserah abang," jawab Seruni dengan kepala tertunduk karena ia masih belum percaya diri jika membahas hal in_tim secara kata-kata dengan Bastian.
"Seharian ini, Mamat atau Ningsih datang ke sini apa tidak?"
"Ningsih datang. Kalau Mamat tidak ke sini katanya lagi disuruh Apak ke rumah Pak Camat antar pesanan cabai,"
"Oh begitu. Ngobrol apa sama Ningsih?"
"Ading cuma kasih sprei baru yang dibeli abang tempo hari buat gantikan punya Ningsih yang kita pakai begitu di rumahnya,"
"Ningsih ledekin kamu dong,"
"Ading beneran malu,"
"Tapi Ningsih pasti paham,"
"Iya sih,"
"Kamu pergi ke ladang hari ini?" tanya Bastian.
"Iya,"
"Sama Ningsih?"
"Enggak," jawab Seruni. "Tadi Ningsih cuma sebentar terus pulang. Terus ading baru pergi ke ladang siang hari ditemani apak," imbuhnya.
"Apak tadi datang ke sini?"
"Iya,"
"Sendiri atau sama ibu tirimu?"
"Sendiri,"
Ya, faktanya memang siang hari Pak Tono mendadak datang ke bilik pengasingan tempat tinggal Bastian dan Seruni.
Cukup terkejut Seruni melihat kedatangan ayahnya. Setelah itu, mereka berdua pergi ke ladang bersama.
"Apak ngobrol apa saja ke kamu?"
Bersambung...
🍁🍁🍁