NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Saksi Goyah

Ruang diskusi yang dipilih Zhao Haoran kali ini bukan kantornya.

Sebuah ruang rapat kecil di gedung komersial netral, lantai lima, dengan dinding kaca buram dan meja panjang tanpa logo perusahaan mana pun. Tidak ada papan nama di luar pintu. Hanya nomor ruangan.

Gu Yanqing datang sepuluh menit lebih awal.

Ia duduk di sisi yang membelakangi jendela, posisi yang memberinya pandangan langsung ke pintu masuk. Di atas meja sudah tersusun ringkasan teknis kondisi crane pada hari insiden—catatan perawatan, laporan gangguan hidrolik, dan potongan pernyataan awal Liu Haifeng yang pernah direkam secara tertulis.

14:03 — tekanan hidrolik tidak stabil.

14:15 — suara gesekan abnormal pada rel atas.

14:32 — operasi tetap dilanjutkan.

Pukul 14:37 terjadi insiden.

Liu Haifeng adalah teknisi lapangan yang memeriksa crane pagi itu. Ia bukan pengambil keputusan. Ia hanya mencatat kondisi teknis.

Namun dalam struktur perkara, ia penting.

Pintu terbuka.

Liu Haifeng masuk dengan langkah ragu. Pakaian kerjanya diganti dengan kemeja polos abu-abu. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya. Wajahnya tampak lebih kurus.

“Terima kasih sudah datang,” kata Gu singkat.

Liu mengangguk, duduk, lalu langsung merapatkan kedua tangannya di atas meja. Jari-jarinya saling mengunci, terlalu kencang.

Gu memperhatikan tanpa menunjukkan ekspresi.

“Saya ingin memastikan kembali detail teknis sebelum sidang pendahuluan,” ujar Gu tenang. “Kita ulangi secara sistematis.”

Liu tidak langsung menjawab. Ia menatap meja beberapa detik sebelum berkata pelan, “Apakah… ini pasti perlu?”

Nada suaranya berbeda.

Sebelumnya, ia berbicara cepat dan tegas saat menjelaskan kondisi crane yang bermasalah.

Gu menjawab tanpa tekanan. “Jika Anda bersedia bersaksi, konsistensi pernyataan penting.”

Liu menelan ludah.

“Waktu itu,” Gu melanjutkan, “Anda menyebut tekanan hidrolik tidak stabil sejak pukul 14:03. Apakah Anda masih ingat indikator yang muncul?”

Liu mengangguk kecil. “Lampu peringatan menyala dua kali.”

“Dan Anda melaporkan kepada siapa?”

“Supervisor teknis.”

“Apakah operasi dihentikan?”

Liu terdiam.

Beberapa detik terlalu lama.

“Tidak,” akhirnya ia berkata.

Gu mencatat perubahan ritme napas Liu. Lebih pendek. Lebih cepat.

“Alasan tidak dihentikan?” tanya Gu.

“Target bongkar muat hari itu tinggi,” jawab Liu. “Jika berhenti, antrean kapal bertambah.”

Itu jawaban yang sama seperti sebelumnya.

Namun cara pengucapannya berbeda. Tidak lagi tegas. Lebih seperti pengakuan yang terpaksa.

Gu menutup map sebentar.

“Saya akan bertanya langsung,” katanya dengan nada datar. “Apakah ada pihak yang menghubungi Anda sejak nama Sun Deqiao dicantumkan dalam gugatan?”

Liu mengangkat kepala cepat. Reaksi refleks.

“Itu… hanya percakapan biasa.”

“Dengan siapa?”

“Bagian sumber daya manusia.”

Gu tidak memotong.

“Mereka mengatakan apa?”

Liu menarik napas panjang.

“Mereka bilang… perusahaan memahami tekanan yang saya alami. Mereka menghargai loyalitas karyawan lama.”

“Dan?”

“Ada kemungkinan penyesuaian posisi. Atau kompensasi tambahan.”

Gu tidak menunjukkan reaksi.

“Dengan syarat?”

Liu terdiam lagi.

“Dengan syarat saya tidak memperkeruh keadaan,” katanya akhirnya.

Kata-kata itu diucapkan pelan, hampir seperti pengakuan yang memalukan.

Gu menyandarkan punggungnya tipis.

“Apakah mereka secara eksplisit meminta Anda mengubah kesaksian?”

“Tidak,” jawab Liu cepat. “Tidak ada kata seperti itu.”

“Apakah mereka menyebut bahwa kesaksian Anda bisa berdampak pada stabilitas tim?”

Liu tidak menjawab.

Diam.

Diam itu sendiri adalah jawaban.

Gu memahami pola ini.

Tekanan struktural jarang menggunakan kalimat ancaman langsung. Ia berbentuk isyarat.

Loyalitas.

Stabilitas.

Masa depan karier.

“Apakah ada pembicaraan mengenai kontrak Anda?” tanya Gu.

Liu menatapnya, kali ini dengan jelas cemas.

“Kontrak saya akan diperpanjang akhir tahun ini.”

“Dan mereka menyebutnya?”

Liu mengangguk sangat kecil.

Ruang rapat terasa lebih sempit.

Gu tidak meninggikan suara. “Liu Haifeng, saya tidak akan memaksa Anda bersaksi. Itu keputusan Anda. Tetapi saya perlu mengetahui satu hal dengan jelas: apakah pernyataan teknis Anda berubah?”

Liu memejamkan mata sebentar.

“Saya… hanya teknisi. Saya mencatat apa yang saya lihat.”

“Dan apakah yang Anda lihat berbeda sekarang?”

Pertanyaan itu menggantung.

Liu membuka mata.

“Tidak.”

Jawaban itu keluar, tetapi tanpa keyakinan penuh.

Gu melihat retakan di suaranya.

Panel sistem muncul singkat di sudut pandang Gu.

Status Saksi: Nama: Liu Haifeng

Stabilitas psikologis: Menurun

Peringatan: Stabilitas saksi rendah.

Risiko pencabutan atau perubahan kesaksian meningkat.

Panel itu tidak memberi saran. Tidak ada perlindungan hukum instan.

Hanya evaluasi.

Gu mengalihkan pandangan dari panel yang segera menghilang.

“Jika Anda memutuskan mundur,” kata Gu tenang, “kami harus menyesuaikan strategi pembuktian. Tetapi saya perlu keputusan sebelum sidang.”

Liu menunduk.

“Mereka mengatakan… jika kasus ini membesar, audit internal akan dilakukan. Semua teknisi bisa diperiksa ulang. Catatan kerja bisa ditinjau.”

Ancaman implisit.

Bukan pemecatan langsung.

Melainkan ketidakpastian kolektif.

Gu menganalisis cepat.

Jika Liu bersaksi tentang gangguan crane sebelum insiden, itu memperkuat argumen kelalaian sistemik. Itu berarti keputusan manajemen untuk tetap beroperasi dalam kondisi tidak aman.

Beban tanggung jawab naik ke atas.

“Apakah ada tawaran angka spesifik?” tanya Gu.

Liu ragu, lalu menjawab, “Mereka menyebut kompensasi kinerja khusus. Jumlahnya… cukup besar untuk saya.”

Gu tidak bertanya nominalnya.

Ia tidak perlu.

Bagi teknisi lapangan dengan kontrak tahunan, “cukup besar” berarti signifikan.

“Keluarga Anda mengetahui situasi ini?” tanya Gu.

Liu menggeleng cepat.

“Saya tidak ingin mereka khawatir.”

Gu mengangguk tipis.

Di sini kontrasnya jelas.

Di satu sisi: logika hukum, tabel waktu, indikator hidrolik.

Di sisi lain: cicilan rumah, kontrak kerja, anak sekolah.

Gu berbicara lebih pelan.

“Kesaksian Anda bukan tentang menyerang individu. Ini tentang kondisi teknis sebelum insiden.”

Liu tersenyum tipis, pahit.

“Bagi perusahaan, semuanya terhubung.”

Kalimat itu jujur.

Gu tidak membantah.

Ia menutup map sepenuhnya.

“Saya tidak meminta Anda menjadi pahlawan,” katanya. “Saya hanya meminta Anda memastikan apakah yang Anda katakan sebelumnya adalah fakta.”

Liu menatap meja.

Beberapa detik berlalu.

“Saya… perlu waktu,” katanya akhirnya.

Gu mengangguk.

“Kapan?”

“Dua hari.”

Gu berdiri.

“Baik. Dua hari.”

Liu juga berdiri, tetapi langkahnya tidak stabil seperti sebelumnya. Saat ia menuju pintu, ia berhenti sejenak.

“Mereka bilang… jika saya tetap bersaksi, saya harus siap menghadapi konsekuensi.”

Gu menatapnya.

“Konsekuensi seperti apa?”

“Mereka tidak menjelaskan.”

Itu yang paling efektif.

Tidak ada ancaman eksplisit.

Hanya ruang kosong yang diisi ketakutan.

Liu keluar ruangan.

Pintu tertutup pelan.

Gu tetap berdiri beberapa detik.

Ia memahami satu hal dengan sangat jelas:

Serangan terhadap gugatan tidak lagi hanya pada dokumen atau argumen hukum.

Ia telah bergerak ke orang.

Dan orang, berbeda dengan data, memiliki batas ketahanan.

Di atas meja, catatan teknis tentang tekanan hidrolik tetap sama.

Tetapi suara saksi mulai retak.

...

Dua hari yang diminta Liu Haifeng tidak terasa panjang. Tetapi responsnya berbeda dari sebelumnya.

Gu Yanqing mengirim pesan singkat pada pagi hari kedua.

“Apakah Anda sudah memutuskan?”

Tidak ada balasan selama tiga jam.

Biasanya, Liu merespons dalam hitungan menit.

Pukul 13:17, balasan masuk.

“Saya masih mempertimbangkan.”

Singkat. Tanpa sapaan.

Gu membaca ulang kalimat itu. Tidak ada penolakan. Tidak ada komitmen.

Hanya penundaan.

Sore itu, Gu mencoba menelepon.

Nada sambung terdengar dua kali sebelum panggilan diputus.

Beberapa menit kemudian, Liu menelepon balik.

“Saya tidak bisa bicara lama,” katanya cepat.

Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih hati-hati.

“Apakah ada perkembangan?” tanya Gu.

“Perusahaan mengadakan rapat internal,” jawab Liu. “Mereka bilang audit keselamatan akan diperluas. Semua teknisi diminta meninjau ulang laporan lama.”

Gu tidak menyela.

“Itu prosedur biasa,” Liu menambahkan cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

“Apakah nama Anda disebut secara khusus?” tanya Gu.

Hening.

“Tidak langsung,” jawab Liu akhirnya. “Tetapi mereka menyinggung soal loyalitas tim dan stabilitas operasional.”

Kata-kata itu kembali muncul.

Loyalitas.

Stabilitas.

Bahasa korporat yang terdengar netral tetapi membawa tekanan.

Gu berdiri di dekat jendela apartemennya, memandang lampu kota yang mulai menyala.

“Apakah Anda masih bersedia menyatakan bahwa tekanan hidrolik tidak stabil sebelum insiden?” tanyanya.

Liu tidak langsung menjawab.

“Saya tidak yakin apakah ingatan saya cukup jelas,” katanya perlahan.

Perubahan itu tajam.

Dua hari lalu, ia menyebut waktu 14:03 tanpa ragu.

Kini ia meragukan ingatannya sendiri.

Gu menganalisis dengan cepat.

Jika Liu mencabut atau mengaburkan pernyataan teknisnya, maka hubungan antara gangguan crane dan keputusan manajemen untuk tetap beroperasi menjadi lebih lemah.

Tanpa saksi teknis, pembuktian kelalaian sistemik akan bergantung pada dokumen internal—yang mungkin sulit diperoleh.

“Apakah ada yang menyarankan bahwa kesaksian Anda bisa dianggap sebagai pelanggaran disiplin?” tanya Gu.

“Tidak secara langsung,” jawab Liu. “Tetapi mereka menyebut bahwa pernyataan publik tanpa izin bisa melanggar aturan perusahaan.”

Itu cukup.

Gu tidak berdebat.

Ia berbicara dengan nada tetap.

“Jika Anda memilih untuk tidak bersaksi, itu hak Anda. Tetapi saya perlu kejelasan sebelum berkas final diajukan.”

Liu menarik napas panjang.

“Saya hanya tidak ingin kehilangan pekerjaan.”

Kalimat itu jujur dan sederhana.

Gu tidak menilai.

“Apakah ada tawaran baru?” tanyanya.

Liu terdiam beberapa detik.

“Mereka menyebut kemungkinan kenaikan tunjangan teknis.”

“Dengan syarat?”

“Dengan syarat saya fokus pada pekerjaan dan tidak terlibat konflik eksternal.”

Konflik eksternal.

Istilah lain untuk gugatan ini.

Gu memahami bahwa serangan kini bukan lagi pada argumen hukum.

Ia pada kestabilan psikologis saksi.

“Apakah Anda merasa diawasi?” tanya Gu.

Liu ragu.

“Beberapa rekan kerja mulai menjaga jarak,” katanya pelan. “Supervisor lebih sering memeriksa pekerjaan saya.”

Tekanan tanpa wajah.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada kekerasan.

Hanya perubahan atmosfer yang cukup untuk membuat seseorang mempertimbangkan ulang keberaniannya.

Gu berkata singkat, “Baik. Saya menunggu keputusan final Anda sampai besok pukul 18:00.”

Liu tidak menjawab segera.

“Baik,” katanya akhirnya.

Panggilan terputus.

Gu menurunkan ponsel.

Ia menghitung ulang.

Jika Liu mundur, strategi harus bergeser:

Fokus lebih besar pada perbandingan waktu CCTV dan laporan resmi.

Permintaan paksa audit internal melalui jalur pengadilan.

Tekanan pembuktian meningkat.

Ia menyadari sesuatu yang lebih luas.

Serangan kini tidak hanya diarahkan pada gugatan, tetapi pada orang-orang yang berada di lingkarannya.

Saksi dipisahkan.

Saksi ditenangkan.

Saksi ditakutkan.

Malam itu, Gu menerima pesan dari Zhao Haoran.

“Beberapa pekerja menolak diwawancarai. Informasi menyebar cepat.”

Gu membalas singkat.

“Diperkirakan.”

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Nomor tidak dikenal.

Ia membaca pesan itu dengan wajah tetap datar.

“Keluarga Anda masih tinggal di alamat lama, bukan?”

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada konteks.

Hanya kalimat itu.

Gu tidak segera bereaksi.

Ia membaca ulang, menganalisis struktur kalimatnya.

Bukan ancaman langsung.

Bukan permintaan.

Hanya informasi yang seharusnya tidak disebut oleh orang asing.

Ia menyimpan tangkapan layar.

Waktu penerimaan: 22:41.

Pola menjadi jelas.

Tekanan terhadap Liu.

Isyarat kepada dirinya.

Konflik telah melewati batas profesional.

Gu berdiri dalam keheningan apartemennya.

Ia memikirkan struktur yang sedang ia hadapi.

Mandor bisa ditekan.

Teknisi bisa ditawari uang.

Namun ketika pesan mulai menyentuh keluarga, garisnya berubah.

Ini bukan lagi sekadar pembelaan korporat.

Ini peringatan.

Gu tidak merasakan kemarahan.

Ia merasakan konfirmasi.

Pertarungan telah naik level.

Dari dokumen.

Ke saksi.

Ke lingkaran personal.

Ia mengetik satu pesan singkat kepada Zhao.

“Kita percepat pengajuan.”

Lalu ia meletakkan ponsel di meja.

Di luar jendela, kota tetap berjalan seperti biasa.

Namun bagi Gu Yanqing, batas antara perkara hukum dan wilayah pribadi mulai menipis.

Dan dalam kesadaran yang sangat dingin, ia memahami satu hal:

Pertarungan ini tidak lagi berhenti di ruang sidang.

Ia telah memasuki ranah personal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!