Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Istana Pasir
Pagi itu, Jakarta menyambut Reynald Pratama dengan berita utama yang menghancurkan sisa-sisa martabatnya. Foto-foto Tania yang keluar dari rumah sakit dengan wajah muak, ditambah pengakuan anonim dari salah satu perawat tentang "skenario kritis" sang CEO, meledak di media sosial. Tagar #DramaCEO dan #PuraPuraSakit menjadi trending topic.
Akan tetapi, itu barulah permulaan. Di kantor pusat Pratama Group, suasana terasa mencekam. Beberapa dewan komisaris sudah berkumpul di ruang rapat, wajah mereka merah padam.
"Reynald! Apa-apaan ini?!" bentak salah satu komisaris senior saat Rey masuk ke ruangan dengan langkah pincang, masih menggunakan tongkat. "Gara-gara drama kekanakanmu di rumah sakit, saham kita anjlok lima persen dalam dua jam! Investor menganggap pemimpin mereka sudah tidak stabil secara mental!"
Rey mencoba membela diri. "Itu hanya masalah pribadi yang dibesar-besarkan media, Pak."
"Masalah pribadi yang merugikan perusahaan miliaran rupiah bukan lagi masalah pribadi!" potong komisaris itu.
"Kami memutuskan untuk menonaktifkanmu sementara dari jabatan CEO sampai situasi kondusif. Kamu butuh waktu untuk 'sembuh', bukan? Nah, ambil waktu itu selamanya kalau perlu!"
Rey tertegun. Kursi kekuasaan yang ia banggakan, yang dulu ia gunakan untuk memikat banyak wanita termasuk menyia-nyiakan Tania, kini ditarik paksa dari bawah kakinya. Ia diusir dari kantornya sendiri oleh orang-orang yang dulu selalu menjilat padanya.
Di lain tempat ...
Bianca sedang berada di sebuah butik perhiasan mewah di pusat kota bersama pria paruh baya kaya raya yang baru dikenalnya, Pak Gunawan. Bianca sudah membayangkan akan mendapatkan kalung berlian senilai ratusan juta hari itu.
"Sayang, kalung yang ini bagus banget, ya?" manja Bianca sambil mengalungkan perhiasan itu di lehernya, berpose di depan cermin dengan gaya centilnya.
Pak Gunawan tersenyum tipis. "Bagus. Sangat cocok untukmu."
Tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya dengan dandanan sangat berkelas masuk ke butik itu dengan langkah gusar. Dia adalah istri sah Pak Gunawan—seorang wanita yang dikenal memiliki pengaruh besar di dunia perbankan.
"Oh, jadi ini ulat bulu yang katanya lagi 'magang' jadi simpanan suamiku?" suara wanita itu menggelegar di dalam butik.
Wajah Bianca pucat pasi. "Eh, ini ... siapa ya?"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Bianca sampai ia tersungkur menabrak etalase kaca. "Jangan berlagak amnesia! Kamu pikir aku tidak tahu apartemen yang kamu tempati itu dibayar pakai uang perusahaan suamiku?"
Pak Gunawan hanya diam, tidak berani membela. Langsung tertunduk saat istrinya melotot ke arahnya. "Gunawan, pulang sekarang atau semua asetmu atas namaku aku bekukan!"
Tanpa menoleh lagi ke arah Bianca, Pak Gunawan pergi begitu saja, meninggalkan Bianca yang terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang panas. Tapi karma tidak berhenti di situ.
"Dan untukmu, nona." istri Pak Gunawan menatap Bianca dengan jijik.
"Aku sudah menghubungi pemilik apartemenmu. Semua barang-barangmu sudah dikeluarkan ke lobi. Dan aku pastikan, tidak ada satu pun agensi model atau pria kaya di Jakarta ini yang mau berurusan denganmu setelah video ini tersebar."
Di sudut ruangan, seorang asisten sang istri sah ternyata sudah merekam adegan memalukan itu secara live. Bianca berteriak histeris mencoba menutupi wajahnya, tapi sudah terlambat. Dalam sekejap, video "Ulat Bulu Dilabrak" itu menyebar lebih cepat daripada berita Rey di rumah sakit.
Satu jam kemudian, Bianca yang terusir dari apartemennya duduk di pinggir jalan bersama koper-kopernya yang berantakan. Ia mencoba menghubungi Rey dengan nomor lain, karena nomornya sudah di blokir oleh Rey, satu-satunya harapannya.
Panggilan tersambung. "Rey! Tolong aku! Aku dilabrak, aku diusir, aku ...."
"Jangan hubungi aku lagi, Bianca," suara Rey terdengar dingin dan hancur di seberang sana.
"Gara-gara kamu, aku kehilangan Tania. Gara-gara kamu, aku kehilangan jabatanku. Kamu itu sial! Kamu itu pembawa petaka dalam hidupku!"
"Rey! Tapi kamu yang bilang kamu cinta aku! Kamu yang bilang Tania itu membosankan!" teriak Bianca frustrasi.
"Aku memang bodoh saat itu. Tapi sekarang aku sadar, kamu bahkan tidak seujung kuku Tania. Pergi ke neraka saja kamu, Bianca!"
Bip. Sambungan diputus.
Bianca meraung di pinggir jalan. Beberapa orang lewat sempat mengenali wajahnya dan berbisik-bisik sambil tertawa sinis. Tidak ada lagi kemewahan. Tidak ada lagi mobil jemputan. Yang tersisa hanyalah wajah yang mulai bengkak dan masa depan yang gelap.
Di sisi lain kota, suasana sangat kontras. Kesibukan Jakarta yang hiruk pikuk seolah teredam di balik dinding kaca sebuah hotel bintang lima yang desain interiornya dulu sempat menjadi inspirasi skripsi Tania.
Tania sedang duduk di sebuah kafe terbuka di lobi hotel tersebut bersama Adrian. Di depan mereka, bukan sekadar cangkir kopi, melainkan beberapa lembar cetak biru (blueprint) dan sebuah kontrak kerja sama yang baru saja ditandatangani. Ini adalah proyek impian: Tania resmi ditunjuk sebagai Lead Interior Designer untuk pameran instalasi seni dan budaya internasional di Paris. Studio desainnya akan merancang paviliun utama yang akan memamerkan kekayaan budaya Indonesia dalam sentuhan modern.
Tania sempat melihat sekilas berita di tabletnya tentang kekacauan di Pratama Group dan video viral "Ulat Bulu Dilabrak". Ia hanya menghela napas panjang, kemudian menutup tablet itu dengan tenang. Tidak ada sorak sorai kemenangan yang berlebihan di wajahnya, hanya ada rasa lega yang amat sangat, seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari dadanya.
"Kamu oke?" tanya Adrian lembut sambil menyodorkan secangkir teh kamomil hangat.
"Aku oke," jawab Tania tulus. "Lucu ya, Adrian. Dulu aku pikir duniaku runtuh saat mereka mengkhianatiku. Ternyata, Tuhan hanya sedang menghancurkan istana pasir yang kubangun di tempat yang salah, supaya aku bisa membangun fondasi gedung yang lebih kokoh di tempat yang benar."
Adrian menggenggam tangan Tania dengan penuh rasa hormat. "Dan aku sangat bangga bisa menjadi bagian dari pembangunan fondasi baru itu. Desain paviliun yang kamu buat benar-benar luar biasa, Tania."
"Ngomong-ngomong," Tania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini jauh lebih berwibawa,
"tadi aku dengar kabar kalau Bianca mencoba melamar kerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor kontraktor interior, tapi langsung ditolak karena reputasi buruknya. Sekarang dia dikabarkan harus tinggal di kos-kosan sempit di pinggiran kota."
Adrian tertawa kecil. "Itu namanya seleksi alam, Tania. Ulat bulu memang seringnya merusak tanaman, tapi pada akhirnya, dia akan diusir oleh pemilik kebun sebelum sempat menjadi kepompong."
"Dan Rey?" tanya Adrian lagi, ingin memastikan tidak ada lagi sisa luka di hati wanita di depannya.
"Rey sedang belajar apa artinya kesepian di tengah kemewahan yang mulai memudar. Dia masih punya harta—setidaknya sisa-sisanya—tapi dia tidak punya siapa pun yang tulus. Dia kehilangan orang yang merawat 'rumah' hatinya. Itu hukuman yang jauh lebih berat daripada jatuh miskin secara mendadak."
Tiba-tiba, ponsel Tania berdering. Nama ibunya muncul di layar.
"Tania! Kamu sudah lihat berita? Ibu puas sekali! Akhirnya si ulat bulu dan suamimu yang angkuh itu kena batunya!" suara ibunya terdengar sangat bersemangat.
Tania hanya tersenyum bijak. "Sudah, Bu. Sudah cukup. Jangan terlalu larut dalam energi negatif mereka. Kita fokus saja ke keberangkatan kita ke Paris minggu depan untuk proyek instalasi ini, ya?"
Setelah menutup telepon, Tania menatap langit sore Jakarta yang berwarna jingga keemasan. Ia merasa sangat ringan. Kebencian yang dulu membakar jiwanya kini telah padam, menyisakan abu yang sudah ditiup angin jauh-jauh. Ia sudah benar-benar selesai dengan masa lalunya sebagai istri yang terabaikan.