Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teman lama dan kenangan buruk
"Tapi Nyai, apakah saya harus membunuh mereka dengan menggunakan pisau?" Tanya Bella ragu ragu.
Nyai Diajeng Keshwari menggelengkan kepalanya, "tidak usah, seperti yang aku katakan, wine itu berisi mantra dan air suci milikku. Ketika sepasang kekasih itu meminumnya mereka akan bergairah, kemudian mereka akan wik-wik tanpa henti sebelum mereka mati! Cukup kembalikan gelas itu kepadaku jika kamu sudah selesai dengan tugasmu!"
Bella menganggukan kepalanya walaupun hatinya sedikit ragu, Bella kemudian kembali bertanya lagi, "um... apakah saya benar benar tidak perlu mengeluarkan uang untuk jasa ini?" Tanya Bella.
"Nanti saja kalau prosesnya sudah berhasil, kamu tenang saja." Jawab Nyai Diajeng Keshwari.
Bella kemudian menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu." Ucapnya dengan tenang.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat sekali, siapa sangka malam berikutnya tiba dengan sangat cepat.
Di depan restoran steak yang ada di jalan... terlihat Janu Manggala berdiri di area parkir memandangi betapa mewahnya restoran ini sambil bergumam kecil.
Seorang petugas parkir datang, "apakah anda mau berkunjung ke restoran ini pak?" Tanya sang petugas parkir.
"Ah iya!"
"Kalau begitu tinggalkan saja motornya di sini, biar saya yang parkirkan." Ucap Petugas parkir itu. Ya Janu datang ke restoran ini menggunakan motor butut Anton..
"Silahkan.." ucap Janu.
Petugas parkir itu segera menuntun motor Janu menuju ke tempar parkir kosong yang agak jauh dari tempat Janu berdiri.
Setelah memarkirkan motor butut itu petugas parkir hendak pergi, namun ia menyadai jok motor ini tak di kunci dan sang pemilik motor ini sedang tidak fokus karena memandangi mewahnya restoran steak itu.
"Hehe... walaupun dia tampak seperti orang kere dan motornya rongsokan namun dia bisa berkunjung ke restoran ini. Pasti ada sesuatu yang dapat di ambil di dalam jok motor rongsokannya!" Siapa sangka terbesit fikiran kotor di benak tukang parkir ini untuk mengambil sejumput barang berharga apabila ada.
Setelah memastikan Janu tak memperhatikannya, petugas parkir itu langsung mengangkat jok motor itu.
"I... i... i... ini!!!!" Seketika itu juga tubuh petugas parkir itu hampir kejang kejang, ketika melihat sepotong tangan manusia di dalam sana, dengan jari tengah terangkat.
Petugas itu langsung menoleh ke arah Janu, "sialan dia ternyata Psikopat!" Batinnya berteriak.
Petugas parkir itu kembali menatap isi jok motor itu dan ia kembali di buat terkejut, pasalnya potongan tangan itu sudah tidak ada di sana hanya menyisakan ponsel milik Janu.
Petugas parkir itu menelan ludahnya menyadari keanehan ini, ia tak berani mengambil ponsel Janu dan buru buru menutup kembali jok itu dengan ketakutan.
Janu berdiri sendirian menunggu Nona Alyssa di area parkir, sebelum ini Alyssa sudah menghubungi Janu untuk menunggunya di area parkir.
Tiba tiba suara teriakan terdengar di belakang Janu, "Janu! Kamu masih hidup?"
Janu langsung menoleh ke sumber suara itu, "Frida?" Janu kaget ketika melihat teman kuliahnya di masa lalu.
Frida tidak datang sendirian, ia bersama seorang pria berpakaian rapi jelas dia adalah pasangannya.
"Astaga Janu! Ini benar benar kamu?" Tanya Frida dengan wajah begitu kaget.
"Lalu siapa lagi? Apakah kamu pikir aku ini adalah hantu?" Tanya Janu.
"Hahahaha..." Frida tertawa terbahak bahak ketika mendengar hal itu, "aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu kamu di sini, Janu. Aku ingat sekali dahulu kamu murid pecundang dan introvert. Aku ingat sekali wajah kekecewaanmu ketika kamu memutuskan untuk keluar dari universitas karena kamu tidak bisa membayar biyayanya!" Ucap Frida dngan tawanya.
"Lalu sekarang hidupmu seperti apa? Bukankah kamu sudah tidak punya keluarga lagi?"
Janu menghela nafas panjang, "ya seperti ini kehidupanku, aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi. Aku sekarang menjadi kuli pelabuhan." Ucapnya.
"Pffttt..." Frida menahan tawanya, "tapi aku lihat lihat kamu tidak seperti orang kekurangan kan?"
Janu berada di restoran mewah seperti ini, menandakan finansialnya tidak buruk..
"Janu kenalkan dia adalah pacarku, mas Adijaya." Ucap Frida.
Janu langsung mengulurkan tangannya, "saya Janu." Ucap Janu mengajak berkenalan.
Namun respon dari Adijaya benar benar di luar dugaan, dia malah menaikan dagunya, seolah memandang Janu dari atas.
Janu tersenyum kecut. Ia segera menarik tangannya agar tidak malu sendiri.
Meskipun Adijaya melakukan hal ini namun respon Frida biasa biasa saja.
"Apakah kamu tahu, pacarku ini manajer loh, kalau kamu mau pengin cepet dapet pekerjaan hubungi saja dia." Ujar Frida.
Janu hanya tersenyum kecut.
"Oh ya Janu, apakah kamu ingat dengan Fiona? Teman sekelas kita yang sering membullymu waktu itu? Dia ada di sini." Lanjut Frida.
"Fiona?" Janu teringat dengan gadis sombong itu, ia adalah teman sekelas Janu yang paling sering menghinanya, namun selama ini Janu hanya menganggapnya angin lalu dan tidak terlalu memperdulikan lontaran hinaan Fiona.
Baru saja Janu memikirkan gadis itu, tiba tiba gadis itu terlihat keluar dari pintu restoran bersama dengan beberapa teman temannya yang berpakaian trendi.
"Pecundang? Kamu masih hidup?" Tanya Fiona yang langsung menghampiri mereka.
Fiona, Frida dan yang lainnya memandangi Janu dengan tatapan merendahkan. Sementara Janu sendiri ia langsung membalikan badannya dan menatap jalanan dari pada memperdulikan mereka yang justru membuatnya sakit hati.
Sementara Fiona, Frida, dan yang lainnya seolah tidak perduli akan perasaan Janu mereka terus saja melontarkan kalimat sindiran berbalut candaan kepada Janu. Sindirian-sindirian itu merujuk kepada pekerjaan Janu sekarang yang adalah kuli pelabuhan dan membandingkan dengan mereka yang mampu kuliah.
***
Sementara itu Nona Alyssa akhirnya hampir sampai di restoran itu, hanya butuh menyebrang satu kali lagi.
Nona Alyssa datang hanya dengan satu orang sopir pribadi sekaligus, pengawal pribadinya, Tuan Seu..
"Pak Seu, kamu jangan ikuti aku masuk ke dalam restoran. Kamu cari tempatl ain saja untuk menungguku."
"Tapi No.."
"Tidak ada tapi tapian Pak. Apakah anda ingat dengan ucapan saya waktu itu, bahwa saya hendak bertemu kembali dengan Tuan dunia bawah tanah yang membunuh Eyang Sugiono, dan Tuan itu memibtaku untuk datang sendirian.."
Tuan Seu menelan ludahnya, "baik Nona."
Ya malam kemarin Eyang Sugiono tewas akibat di pukuli Janu, jasad Eyang Sugiono langsung di bawa oleh para bawahan keluarga Kartawiraharja.
Pada saat ini Alyssa memakai gaun merah muda yang tampak sangat bagus di padukan dengan kulitnya yang sangat putih membuat pesona Alyssa tampak sangat memikat.
"Ah itu dia Nona Alyssa.. yes! 500 juta!" Batin Janu dengan sumringah, walaupun di belakangnya para teman teman sekampusnya dahulu masih menyindirinya dengan di balut candaan namun Janu tak memperdulikan itu.
Namun begitu Alyssa sudah semakin dekat dengan Janu, Janu langsung mengedutkan matanya menatap ekspresi Alyssa.
"Mas Januuuu.." teriaknya.
"Ehhh???"