Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kesombongan di Atas Awan
Matahari siang bersinar terik di atas Kota Emerald, memantulkan cahaya menyilaukan dari gedung-gedung kaca pencakar langit. Lalu lintas merayap padat, dipenuhi suara klakson dan deru mesin yang bising.
Bagi Ling Jian, murid luar Sekte Pedang Awan, pemandangan ini sangat memuakkan.
Ia berdiri di trotoar persimpangan jalan tersibuk di kota itu, masih mengenakan jubah abu-abu kunonya. Udara perkotaan yang penuh polusi membuatnya mengerutkan kening jijik.
"Dunia fana yang kotor dan menyedihkan," gumam Ling Jian. Orang-orang berlalu-lalang menatapnya dengan tatapan aneh, mengira ia adalah seorang aktor yang sedang cosplay atau syuting film. Beberapa remaja bahkan mencoba memotretnya dengan ponsel.
Mata Ling Jian menatap dingin ke arah seorang remaja yang mengarahkan kamera padanya. Hanya dengan sebuah dengusan pelan dan jentikan jari di dalam lengan jubahnya, layar ponsel remaja itu tiba-tiba retak berkeping-keping, meledak kecil hingga membuat si remaja menjerit kaget dan menjatuhkannya.
Ling Jian mengabaikan keributan itu. Pandangannya tertuju pada gedung tertinggi di pusat kota: Menara Emerald, markas besar kerajaan bisnis Han Shixiong. Berdasarkan informasi dari Keluarga Li, Han adalah pelindung utama pemuda bernama Arya tersebut.
"Mari kita lihat, seberapa jauh anjing fana ini bisa menggonggong," seringainya.
Dalam sekejap mata, sosok Ling Jian mengabur, meninggalkan embusan angin dingin yang membuat para pejalan kaki menggigil di tengah hari bolong.
Di lobi utama Menara Emerald, sepuluh petugas keamanan elit berjaga dengan ketat. Sejak insiden di pelabuhan tiga bulan lalu, Han Shixiong telah meningkatkan sistem keamanan gedungnya ke tingkat militer.
Pintu kaca putar otomatis tiba-tiba berhenti bergerak. Suhu di lobi yang tadinya sejuk karena pendingin ruangan mendadak anjlok hingga titik beku. Lapisan es tipis mulai merambat di lantai marmer.
Dari balik pintu, Ling Jian melangkah masuk dengan tenang. Tangannya berada di balik punggung.
"Maaf, Tuan! Anda tidak bisa masuk tanpa kartu akses dan janji temu!" seru kepala keamanan, melangkah maju untuk menghentikan pemuda aneh itu.
Ling Jian bahkan tidak menatapnya. "Benda-benda fana berani menghalangi jalanku?"
Brak!
Tanpa ada kontak fisik, kepala keamanan itu terpental ke belakang sejauh sepuluh meter, menabrak meja resepsionis hingga hancur berantakan. Ia memuntahkan darah dan langsung pingsan. Tubuhnya seolah baru saja ditabrak truk yang melaju kencang.
Sembilan penjaga lainnya terbelalak ngeri. Insting militer mereka mengambil alih. Dalam hitungan detik, senjata api ditarik dari sarungnya dan moncong pistol diarahkan tepat ke kepala Ling Jian.
"Berhenti di sana atau kami tembak!" teriak salah satu penjaga.
Ling Jian tersenyum meremehkan. "Tembak? Maksudmu mainan logam berisik itu?"
Dor! Dor! Dor!
Tembakan peringatan dan tembakan mematikan dilepaskan. Suara letusan pistol menggema memekakkan telinga di lobi tertutup itu. Para resepsionis wanita menjerit dan bersembunyi di bawah meja.
Namun, pemandangan yang terjadi selanjutnya membuat akal sehat semua orang di sana hancur lebur.
Sembilan peluru tajam yang melesat dengan kecepatan mematikan itu... berhenti melayang di udara, tepat berjarak satu jengkal dari dahi dan dada Ling Jian. Ada sebuah penghalang energi transparan, berkilau seperti kaca yang melengkung, melindungi tubuh kultivator itu.
"S-sihir..." bisik para penjaga dengan bibir gemetar pucat pasi. Pistol mereka terjatuh ke lantai.
"Lemah," desis Ling Jian. Ia mengibaskan lengan jubahnya. Sembilan peluru yang melayang itu seketika berbalik arah dan melesat kembali dengan kecepatan dua kali lipat, menembus paha kesembilan penjaga tersebut secara akurat.
Lobi itu seketika dipenuhi erangan kesakitan. Ling Jian melangkah melewati mereka menuju lift VIP khusus direktur. Pintu baja lift itu tidak terbuka, melainkan meledak hancur menjadi serpihan logam hanya karena tatapan tajamnya. Ia melayang masuk, menuju lantai tertinggi.
Di lantai 88, ruang kerja pribadi Han Shixiong.
Han sedang menelepon Arya, melaporkan hasil pemantauan tentang manusia yang menyeberangi sungai.
"...Belum ada tanda-tanda dia memasuki perbatasan kota, Guru Besar. Tapi kami akan terus melacak—"
BOOM!
Pintu ganda mahoni berlapis baja di ruangan Han meledak berkeping-keping. Serpihan kayu menghujani ruangan. Han Shixiong terhempas ke belakang, ponselnya terlepas dari genggamannya dan meluncur ke tengah ruangan, namun panggilannya masih tersambung dalam mode speaker.
Dari balik debu puing-puing pintu, Ling Jian melangkah masuk. Ia berjalan menginjak karpet tebal itu, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak embun beku.
Han Shixiong terbatuk, berusaha bangkit sambil memegangi dadanya. Matanya terbelalak menatap pemuda berjubah yang persis sama dengan rekaman dari perbatasan utara.
"Kau..." Han menelan ludah yang terasa tajam di tenggorokannya.
"Kau pasti Han Shixiong, anjing tua yang berani melindungi musuh Sekte Pedang Awan," suara Ling Jian menggema dengan arogansi yang absolut. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan manusia fana sepertimu. Hubungi pemuda bernama Arya itu. Suruh dia datang ke sini, serahkan pusakanya, dan berlutut memotong lehernya sendiri di hadapanku."
Ling Jian mengangkat tangannya perlahan. Sebuah pedang kristal yang terbuat murni dari es perlahan terbentuk di udara, melayang tepat di depan leher Han Shixiong, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Kau punya waktu sepuluh menit. Jika dalam sepuluh menit dia tidak muncul, pedang es ini akan memotong kepalamu, lalu aku akan pergi mencari istri pemuda itu dan mengulitinya hidup-hidup."
Di lantai yang dingin, ponsel Han yang masih menyala menyiarkan setiap kata ancaman itu dengan sangat jelas.
Hening sejenak. Ling Jian hendak menginjak ponsel itu, namun tiba-tiba, sebuah suara tenang, dalam, dan dipenuhi oleh otoritas yang terasa lebih tua dari waktu itu sendiri, terdengar dari speaker yang retak.
"Sekte Pedang Awan... Aku belum pernah mendengar sekte rendahan seperti itu di alam semesta mana pun."
Langkah Ling Jian terhenti. Matanya menyipit menatap ponsel tersebut. "Siapa kau? Arya?"
Di ujung telepon, di dalam rumah kaca kediaman Kusuma, Arya menuangkan air suci terakhir ke pot anggreknya. Wajahnya tidak menunjukkan riak emosi apa pun, namun udara di sekitarnya menjadi sangat padat hingga daun-daun bergetar hebat.
"Seorang anak kecil yang baru mengumpulkan sedikit Qi berani menyentuh orang-orangku dan menyebut nama istriku dengan mulut kotornya," suara Arya mengalun datar, namun entah mengapa membuat jantung Ling Jian mendadak berdegup aneh. "Tunggu di sana. Aku akan datang untuk mencabut lidahmu."
Tuut. Tuut. Tuut. Sambungan terputus.
Ling Jian mendengus marah, wajahnya memerah karena dihina oleh makhluk yang ia anggap semut. Ia menendang ponsel itu hingga hancur menjadi debu.
"Bagus. Biarkan dia datang," desis Ling Jian, pedang es di udara berputar dengan ganas. "Aku akan membiarkanmu hidup sepuluh menit lagi, anjing tua, hanya untuk melihatmu menyaksikan majikanmu dicincang menjadi ribuan potongan!"