NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 33

Pagi itu, perasaanku sedang berada di titik tertinggi. Sejujurnya, aku sudah mulai benar-benar memendam rasa pada Hana.

Rasa nyaman itu perlahan berubah menjadi suka yang serius. Setiap melihatnya, aku selalu ingin memastikan dia tersenyum. Tapi, langkahku terhenti saat aku melihat sosoknya di taman belakang kampus.awalnya, aku tidak sengaja lewat dari sana

Hana sedang menangis. Bahunya terguncang hebat dan dia memegang ponselnya seolah benda itu baru saja memberikan kabar kematian. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya dia habis bertengkar hebat dengan seseorang di telepon.

Suasana hatiku langsung runtuh melihat air matanya jatuh.

Aku mencoba mendekat, bertanya dengan segala kekhawatiran yang kupunya, tapi jawabannya tetap sama

"Tidak apa-apa." Aku tahu itu bohong besar, tapi aku tidak ingin mendesaknya lebih jauh di sana. Akhirnya, aku hanya bisa mengajaknya masuk ke kelas karena jam kuliah akan segera dimulai.

Sepanjang jalan menuju kelas, aku sengaja berjalan di sampingnya, menjaga jarak agar dia merasa ada tameng yang melindunginya. Begitu kami masuk, suasana yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Diva dan Dhea langsung menatap Hana dengan pandangan menyelidik.

"Woi, Tom! Lo apain temen kita? Lo bikin dia nangis ya?" todong Dhea dengan gaya blak-blakannya yang biasanya asyik tapi kali ini bikin aku kaget setengah mati.

Aku langsung mengangkat kedua tangan, wajahku pasti terlihat bingung sekaligus merasa bersalah padahal aku tidak melakukan apa-apa.

"Eh, bukan gue! Sumpah, gue tadi cuma nemuin dia di belakang..."

Beruntung Hana segera membela, menjelaskan kalau aku tidak salah apa-apa. Tapi aku bisa melihat, meski dia duduk dan membuka buku, tangannya masih gemetar.

Aku hanya bisa diam di kursiku, memperhatikan punggungnya dengan perasaan berkecamuk. Aku tahu ada sesuatu yang besar, sesuatu yang kelam, yang sedang dia sembunyikan dariku.

Saat istirahat tiba, Hana menolak ajakan ke kantin dan memilih ke toilet. Aku melihat Diva dan Dhea pergi duluan, dan aku tahu, perut Hana pasti kosong karena dia belum makan apa-apa sejak pagi.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke kantin sendiri, membeli roti dan minuman cokelat kesukaannya.

Begitu aku kembali ke kelas, aku melihatnya sudah duduk di bangkunya, menatap kosong ke papan tulis.

Aku menarik kursi di sampingnya dengan gerakan lembut.

"Hai, Han. Tadi aku tanya Diva sama Dhea, katanya kamu nggak ke kantin. Karena aku tahu kamu nggak bisa mikir kalau perut kosong, jadi aku bawain ini," ucapku sambil meletakkan kantong plastik itu di mejanya.

Hana menoleh, mencoba memaksakan senyum yang terlihat sangat letih.

"Makasih ya, Tom. Repot-repot banget."

"Nggak repot sama sekali buat teman yang lagi 'kelilipan' dari pagi," godaku pelan.

sampai akhirnya aku mengajaknya bercerita bercanda tentang kelulusan kelas bahkan lain lain dia tertawa tapi saat aku membahas wisuda Ada kecemasan yang mendalam.

Aku menghentikan candaanku.

Aku mencondongkan tubuh, menatapnya dengan serius.

"Han... aku tahu kamu lagi coba buat kelihatan baik-baik saja. Tapi dari mata kamu, aku bisa lihat ada badai yang lagi kamu tahan. Kamu nggak usah pendam semua sendiri. Aku nggak maksa kamu cerita sekarang, tapi kalau kamu butuh telinga buat dengerin, atau bahu buat bersandar... aku ada di sini."

Hana terdiam, hanya membisikkan terima kasih yang lirih. Aku tidak ingin dia tenggelam dalam kesedihan itu terlalu lama. Aku harus bertindak. Aku mengambil botol minuman cokelat tadi dan menjadikannya mikrofon dadakan.

"Oke, pemirsa! Kembali lagi bersama Tomi, sang ahli penghilang awan mendung di wajah Hana," ucapku dengan suara berat ala presenter berita. "Hana, kamu tahu nggak bedanya kamu sama skripsi?"

Hana menopang dagu, sedikit tertarik. "Apa tuh? Jangan bilang yang receh ya, Tom."

"Bedanya... kalau skripsi itu harus disidang biar selesai, kalau kamu itu harus disayang biar bahagia," balasku sambil menaik-turunkan alis dengan wajah konyol.

Hana tertawa kecil. "Aduh, Tom! Garing banget sumpah!"

Melihatnya tertawa adalah tujuanku. Aku tidak berhenti di situ. Aku mengambil dua sedotan, menaruhnya di atas bibir seperti kumis walrus, menirukan gaya Pak Bambang dosen statistik kalau lagi marah.

"Coba liat aku, Han. Aku udah mirip belum sama Pak Bambang?"

Hana akhirnya tertawa lepas. Benar-benar tertawa sampai matanya sedikit menyipit. Aku merasa beban di pundakku sendiri ikut terangkat melihatnya kembali ceria. "Nah, gitu dong. Ketawa," ucapku sambil menyengir lebar. "Lagian kamu kalau cemberut mulu, nanti pas wisuda fotonya jadi estetik penderitaan. Nanti orang-orang nanya, 'Ini Hana wisuda atau lagi nunggu hasil tes DNA?'. Kan nggak lucu."

Dia melemparkan tisu bekas roti ke arahku, dan kami pun terus bersenda gurau. Aku menceritakan semua hal konyol yang pernah kualami, memastikan pikirannya teralih dari telepon misterius tadi pagi.

"Makasih ya, Tom. Kamu emang paling bisa buat aku ketawa di saat aku sendiri ngerasa nggak sanggup buat senyum," ucapnya tulus.

Aku tersenyum hangat, menatapnya dengan binar yang mungkin saja membocorkan rahasiaku bahwa aku benar-benar menyayanginya. "Santai aja, Han. Selama ada Tomi, stok receh di dunia ini nggak akan habis buat kamu."

Dalam hati, aku berjanji. Siapa pun yang ada di ujung telepon tadi, siapa pun yang berani membuat Hana menangis di taman belakang, dia harus melewati aku dulu sebelum bisa menyakiti Hana lagi. Karena bagi Tomi, kebahagiaan Hana adalah misi utamaku di kota ini.

...----------------...

Satu minggu menjelang wisuda, aku merasa duniaku berputar hanya pada satu poros: memastikan Hana tetap tersenyum. Rasa cinta ini aneh, dia membuatku jadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan raut wajahnya. Kalau Hana diam sedikit saja, jantungku langsung berpacu, takut kalau "badai" itu datang lagi lewat ponselnya.

Malam-malamku sekarang lebih banyak diisi dengan menatap layar WhatsApp, menunggu balasan darinya, atau sekadar memastikan dia sudah tidur dengan tenang. Kadang aku merasa konyol, aku ini Tomi yang biasanya acuh tak acuh, tapi di depan Hana, aku seperti prajurit yang selalu siaga di garis depan.

"Tom, lo bengong mulu. Mikirin apa? Vendor foto atau... si bos kecil?" ledek Yogi sambil menyenggol bahuku saat kami sedang di parkiran kampus.

Aku hanya terkekeh, memasukkan kunci motor ke saku.

"Dua-duanya, Gi. Tapi kayaknya yang kedua lebih nyita kapasitas otak gue."

"Halah, bilang aja lo udah bucin tingkat provinsi," timpal Diva yang baru saja datang bersama Hana dan Dhea

Aku langsung menoleh ke arah Hana. Dia terlihat cantik pagi itu, meskipun aku masih bisa menangkap sedikit gurat kelelahan di matanya. Aku mendekatinya, mencoba memberikan energi positif yang kupunya.

"Pagi, Han. Sudah siap buat gladi bersih hari ini? Jangan sampai pingsan ya, nanti aku repot harus gendong kamu ke panggung," godaku sambil mengambil alih tas bukunya yang terlihat berat.

Hana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat hatiku hangat. "Apa sih, Tom. Aku kuat kali, nggak bakal pingsan cuma gara-gara gladi bersih."

"Ya siapa tahu kan? Efek kangen aku biasanya bikin orang lemes," balasku asal yang langsung disambut sorakan dari Yogi dan Renata.

Namun, di tengah tawa teman-teman, aku sempat melihat Hana merogoh saku roknya. Ponselnya bergetar. Sekilas, aku melihat ekspresi wajahnya berubah tegang, jarinya ragu untuk menyentuh layar, lalu dengan cepat dia memasukkan kembali ponsel itu ke sakunya tanpa membaca pesannya.

Hatiku mencelos. Lagi? Siapa sebenarnya yang terus-menerus menerornya? Rasa cintaku ini mulai bercampur dengan rasa protektif yang besar. Aku ingin sekali merebut ponsel itu, memblokir siapa pun yang mengganggunya, dan bilang pada orang itu untuk jangan pernah menyentuh Hana lagi. Tapi aku tahu, aku belum punya hak sejauh itu.

"Han, kalau ada apa-apa... kamu tahu kan aku di sini?" bisikku pelan saat kami berjalan berdua menuju aula, sedikit menjauh dari kerumunan teman-teman.

Hana menoleh, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada rasa syukur, tapi juga ada ketakutan yang tersimpan rapat. "Iya, Tom. Aku tahu. Makasih ya."

Aku hanya bisa mengangguk, meskipun di dalam hati aku bersumpah. Wisuda minggu depan harus menjadi hari paling bahagia untuknya.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
wahhh.....Tomi cowok keren tapi masih misterius nih
🌹Widian,🧕🧕🌹
haiiiii.......mampir nih !
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪
🌹Widian,🧕🧕🌹: mampir juga kak ke karyaku🙏
total 2 replies
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!