Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI YANG MAKIN DAHSYAT
Tekanan Media Semakin Besar
Semua dimulai dari satu artikel gosip.
Lalu berubah menjadi banyak artikel.
Lalu menjadi berita yang dibahas di media hiburan, bahkan media olahraga.
Judul-judul berita itu selalu sama nadanya.
“Atlet Nasional Dikabarkan Dekat dengan Janda Muda.”
“Siapa Wanita di Balik Kehidupan Pribadi Rico?”
“Status Anela Kembali Jadi Perbincangan Publik.”
Anela membaca berita itu dengan tenang… tapi tangannya sedikit dingin saat menutup ponsel.
Ia tahu ini akan terjadi.
Tapi tidak menyangka akan secepat ini.
Wartawan Mulai Datang ke Rumah Anela
Suatu pagi, Anela hendak membawa Ziyo ke sekolah.
Saat membuka pintu rumah…
Ia melihat dua orang wartawan berdiri di depan pagar.
“Anela, bisa wawancara sebentar?”
“Benarkah Anda dan Rico sedang menjalin hubungan?”
“Bagaimana status Anda sebagai janda mempengaruhi hubungan ini?”
Anela langsung menutup pintu.
Jantungnya berdebar cepat.
Ziyo yang ada di belakangnya bertanya,
“Ma… kenapa?”
Anela berusaha tersenyum.
“Tidak apa-apa. Hanya orang kerjaan.”
Tapi sejak hari itu, ia mulai merasa tidak nyaman keluar rumah sendirian.
Rico Juga Dikejar Media
Di sisi lain, Rico tidak lebih mudah hidupnya.
Setiap keluar dari gedung latihan, kamera langsung mengarah padanya.
“Rico, benar Anda dekat dengan Anela?”
“Bagaimana Anda menanggapi komentar publik tentang status Anela?”
“Apakah Anda siap menerima seorang janda dengan anak?”
Rico tidak marah.
Ia hanya menjawab singkat dan tegas.
“Hubungan pribadi saya bukan konsumsi publik.”
Tapi tekanan itu tetap ada.
Ia tahu dunia olahraga dan media hiburan sering tidak ramah pada hubungan yang dianggap “tidak biasa”.
Mereka Tidak Bisa Bertemu Bebas
Beberapa hari berikutnya menjadi sulit.
Rico datang ke apartemen Anela, tapi tidak bisa masuk karena ada dua wartawan yang berjaga di depan kompleks.
Ia mengirim pesan:
“Aku tunggu di parkiran belakang.”
Anela turun dengan jaket hoodie, mencoba tidak menarik perhatian.
Saat masuk ke mobil Rico, ia langsung menghela napas panjang.
“Capek?” tanya Rico pelan.
Anela mengangguk.
“Aku nggak suka harus sembunyi seperti ini.”
Rico tidak menjawab langsung.
Ia hanya menggenggam tangan Anela di atas kursi mobil.
“Ini bukan karena kita melakukan sesuatu yang salah,” katanya pelan.
“Tapi karena orang selalu ingin tahu lebih dari yang seharusnya.”
Percakapan Jujur Mereka
Malam itu mereka tidak melakukan banyak hal.
Hanya duduk di mobil.
Mesin dimatikan.
Lampu jalan masuk lewat kaca mobil yang berembun.
“Aku takut,” kata Anela akhirnya.
“Takut apa?”
“Takut Ziyo ikut jadi bahan pembicaraan.”
Rico menoleh.
Ekspresinya berubah lebih serius.
“Aku tidak akan biarkan dia jadi target media.”
Kata-kata itu tidak romantis berlebihan.
Tapi terasa sangat nyata dan dewasa.
Hubungan Mereka Justru Semakin Dalam
Karena tidak bisa sering bertemu, mereka mulai menghargai waktu kecil yang mereka punya.
Pesan singkat.
Telepon malam hari.
Atau hanya duduk bersama tanpa banyak bicara saat akhirnya bisa bertemu.
Tidak lagi selalu tentang gairah atau drama romantis besar.
Tapi tentang bertahan di bawah tekanan dunia luar.
Dan untuk pertama kalinya…
Hubungan mereka terasa tidak hanya panas atau intens.
Tapi juga serius, stabil, dan benar-benar ingin dilindungi.
----------------------
Serangan Media Mulai Menjadi Personal
Awalnya hanya gosip hubungan.
Lalu berubah menjadi komentar tentang Anela sebagai pribadi.
Media sosial mulai dipenuhi komentar anonim.
“Janda memang selalu cari perhatian.”
“Pantas saja bisa dekat dengan atlet terkenal.”
“Dia terlalu tua untuk Rico.”
“Tubuhnya sudah tidak seperti dulu.”
Anela membaca komentar itu tanpa ekspresi.
Tapi ia menutup ponselnya lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak menangis.
Ia sudah terbiasa dengan tekanan sosial sejak pernikahan pertamanya berakhir. Tapi tetap saja… membaca komentar tentang tubuh dan statusnya terasa berbeda.
Lebih menyakitkan.
Lebih personal.
Suatu sore, Anela melihat fotonya sendiri di media berita hiburan dengan judul:
“Apakah Rico Benar-Benar Memilih Janda dengan Anak?”
Ia menghela napas panjang.
Ziyo sedang bermain di ruang tamu. Ia tidak ingin anaknya melihat ekspresi lelah di wajahnya.
Rico Mulai Merasa Bersalah
Malam itu Rico datang ke apartemen Anela.
Tidak seperti biasanya, ia terlihat lebih diam.
Anela langsung tahu ada sesuatu yang mengganggunya.
“Kamu baca berita juga?” tanya Anela pelan.
Rico mengangguk.
“Ya.”
Ia duduk di sofa, tangan menyilang di depan dada—postur yang Anela tahu berarti ia sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Aku bikin hidup kamu jadi lebih sulit,” kata Rico tiba-tiba.
Anela langsung menggeleng.
“Jangan mulai berpikir begitu.”
“Tapi itu kenyataannya,” jawab Rico. “Kalau aku tidak muncul di hidup kamu… kamu mungkin tidak harus menghadapi semua ini.”
Anela berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.
“Rico,” katanya pelan, “aku bukan anak kecil yang perlu dilindungi dari dunia. Aku tahu konsekuensi memilih hubungan yang terlihat publik.”
Rico menatapnya lama.
“Aku yang merasa bersalah, bukan kamu.”
Percakapan Emosional yang Lebih Dalam
Anela menyentuh tangan Rico.
“Dengar,” katanya lembut. “Aku bukan kehilangan hidupku karena kamu.”
Ia berhenti sebentar.
“Aku kehilangan ketenangan… karena dunia luar selalu ingin mengatur hidup perempuan yang punya cerita seperti aku.”
Kata-kata itu membuat Rico diam.
Ia menggenggam tangan Anela lebih erat, bukan dengan posesif, tapi dengan rasa ingin melindungi yang sangat tulus.
“Aku tidak suka melihat kamu diserang seperti itu,” kata Rico pelan.
“Aku juga tidak suka,” jawab Anela. “Tapi aku lebih tidak suka kalau kamu menjauh karena merasa bersalah.”
Momen Paling Jujur Mereka
Malam itu mereka hanya duduk di balkon.
Tidak banyak sentuhan romantis seperti dulu.
Lebih banyak keheningan yang terasa berat tapi nyata.
Rico akhirnya berkata:
“Aku tidak akan memaksa kamu menghadapi dunia ini sendirian.”
Anela tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Rico menoleh.
“Kamu masih mau bersamaku meskipun dunia luar terus bicara?”
Anela tidak menjawab langsung.
Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Rico.
“Aku memilih kamu,” katanya pelan. “Bukan dunia luar.”
Hubungan mereka tidak menjadi lebih mudah.
Tapi menjadi lebih matang.
Lebih nyata.
Karena cinta mereka tidak lagi hanya tentang ketertarikan atau gairah—