NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

darah ditanah harapan

Angin sore berhembus kencang, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa musim tanam yang hampir usai. Di sebuah lereng bukit yang tersembunyi, sekitar tiga puluh pasang mata merah penuh kebencian menatap tajam ke arah sebuah gubuk sederhana di lembah. Gubuk itu tampak tenang, dikelilingi oleh petak sawah yang menghijau dan kandang ternak yang tertata rapi.

Bagi orang awam, itu hanyalah rumah petani biasa. Namun bagi kelompok bandit "Serigala Hitam", gubuk itu adalah simbol penghinaan.

"Lihat dia," desis pimpinan bandit, seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka melintang di wajahnya. "Si brengsek itu sedang duduk di teras, memegangi perutnya. Luka dari pertarungan kemarin pasti belum sembuh total."

"Kita habisi dia sekarang, Bos? " tanya salah satu anak buahnya sambil mengasah belati.

"Ya. Kita bakar gubuknya, kita injak sawahnya, dan kita bawa kepala Ferdi ke markas. Jangan beri ampun!"

Ferdi duduk di kursi kayu tua di depan gubuknya. Setiap napas yang ia ambil terasa seperti tusukan jarum di paru-parunya.

Ia menatap langit, menyadari bahwa Vani sudah pergi cukup lama ke pasar. "Biji cabai... dia benar-benar pelupa," gumam Ferdi dengan senyum tipis. Vani sangat bersemangat ingin menanam cabai di sudut kebun mereka.

Tiba-tiba, instingnya bergejolak. Suara gemerisik di semak-semak dan aura haus darah menyergap ketenangan sore itu. Ferdi perlahan berdiri, menahan rasa sakit di perutnya. Dari balik pepohonan, tiga puluh orang bersenjata lengkap keluar mengepung rumah kecilnya.

"Ferdi! Hari ini adalah hari terakhirmu bernapas!" teriak sang pimpinan bandit.

Ferdi menatap mereka satu per satu. Ia tahu, dengan satu jentikan jari dan luapan Sihir Kegelapan, ia bisa melenyapkan mereka dalam hitungan detik. Namun, ia melihat ke arah sawah yang baru tumbuh dan ternak yang tenang. Kekuatan gelapnya akan merusak tanah itu, menghanguskan jerih payah yang ia bangun bersama Vani.

"Aku tidak akan menggunakan sihir," ucap Ferdi pelan namun tegas. Ia meraih sebatang kayu panjang yang biasa digunakannya untuk menyangga tanaman.

"Melawan sampah seperti kalian, kekuatan fisikku sudah lebih dari cukup. Mari kita buat ini adil."

Para bandit tertawa terbahak-bahak. "Adil? Kau sedang sekarat, bodoh!"

Tanpa peringatan, sepuluh bandit merangsek maju. Ferdi bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Meskipun tubuhnya menjerit kesakitan, refleks petarung sejatinya tidak hilang. Ia menghalau tebasan pedang dengan kayu penyangganya, lalu memberikan tendangan telak ke rahang lawan hingga pingsan.

Brak! Pang!

Satu per satu bandit tumbang. Ferdi seperti tarian kematian yang tertatih. Ia menghindari sabetan kapak, membalas dengan pukulan mentah yang mematahkan tulang rusuk. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Kelelahan mulai menggerogoti kesadarannya.

"Mati kau!" Seorang bandit menyelinap dari belakang.

Sret!

Mata pedang itu merobek kain bajunya dan menghunjam dalam di bagian dada Ferdi. Darah segar menyembur, membasahi tanah yang selama ini ia jaga. Ferdi terhuyung, berlutut dengan satu kaki. Napasnya tersengal, darah merembes dari mulutnya.

"Gubuk ini... sawah ini... adalah rumah kami," geram Ferdi. Ia bangkit kembali dengan sisa tenaga yang mustahil. Dengan satu ayunan tangan kosong yang sangat kuat, ia menghantam bandit yang melukainya hingga terlempar sepuluh meter.

Ia berdiri tegak di depan pintu gubuknya, menjadi tameng hidup. Meskipun dadanya berlubang, meskipun pandangannya mulai kabur, ia tidak akan membiarkan satu kaki pun menginjak rumahnya.

Di kejauhan, seorang gadis dengan kantong kecil berisi biji cabai berlari kecil sambil bersenandung. Namun, langkah Vani terhenti saat mencium bau besi—bau darah.

"Ferdi?" bisiknya ketakutan.

Saat mencapai gerbang kebun, pemandangan yang tersaji membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ferdi, pria yang selalu terlihat tak terkalahkan, kini bersimbah darah, berdiri gemetar di tengah kepungan bandit yang tersisa.

"FERDI!!!" teriak Vani histeris.

Para bandit menoleh. "Oh, si cantik sudah pulang. Tangkap dia!"

Kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya muncul di wajah Vani. Matanya yang biasanya lembut kini bersinar dengan cahaya putih yang menyilaukan.

"Kalian... beraninya kalian menyentuh milikku!"

Vani tidak lagi menahan diri. Ia merentangkan tangannya, dan Sihir Cahaya murni meledak dari tubuhnya. Sinar itu bukan cahaya yang hangat, melainkan laser penghancur yang membakar apa pun yang dilewatinya.

"Pergi atau mati!" teriak Vani. Ledakan cahaya itu menghantam tanah, membuat para bandit terpental.

Menyadari bahwa mereka baru saja mencoba menyerang pasangan monster, pimpinan bandit yang ketakutan itu berteriak, "LARI! Mereka bukan manusia biasa! Lari!"

Dalam sekejap, sisa bandit itu kocar-kacir melarikan diri ke hutan, meninggalkan senjata dan harga diri mereka.

Vani segera berlari ke arah Ferdi yang kini jatuh terkapar. Ia menangkap kepala Ferdi sebelum membentur tanah.

"Ferdi! Ferdi, buka matamu!" Vani berteriak, tangannya gemetar hebat saat mencoba menekan luka di dada Ferdi.

Ferdi terbatuk, darah keluar dari sela bibirnya. Ia tersenyum tipis. "Vani... kau sudah kembali? Mana... biji cabainya?"

"BODOH! DASAR PRIA BODOH!" Vani berteriak sambil menangis sesenggukan. "Kenapa kau tidak pakai sihirmu?! Kenapa kau membiarkan dirimu terluka seperti ini demi 'keadilan' yang konyol itu?!"

Vani menyeret Ferdi masuk ke dalam gubuk dengan kekuatan sihirnya, membaringkannya di tempat tidur kayu. Ia dengan cekatan mengambil air hangat dan kain bersih, namun mulutnya tidak berhenti mengomel.

"Aku sudah bilang, jangan banyak bergerak! Aku sudah bilang, kalau ada apa-apa pakai saja sihir kegelapanmu! Siapa yang peduli kalau sawah ini rusak? Aku bisa menanamnya lagi! Tapi kalau kau mati, siapa yang mau menemaniku menanam cabai, hah?!"

Vani terus mengomel sambil membersihkan luka fatal di dada Ferdi. Air matanya jatuh menetes di wajah Ferdi.

"Kau selalu keras kepala! Selalu merasa kuat! Kau pikir kau siapa? Pahlawan abadi? Kau itu cuma pria tua menyebalkan yang hobi membuatku jantungan!"

Ferdi meringis saat Vani menekan lukanya sedikit terlalu keras. "Aw... pelan-pelan, Vani... itu sakit."

"Biar saja sakit! Biar kau kapok!" Vani membentak, namun tangannya sangat lembut saat mengoleskan ramuan penyembuh. Ia kemudian menunduk,

menyandarkan dahinya di bahu Ferdi yang tak terluka. Suaranya mengecil, parau karena tangis.

"Jangan lakukan ini lagi, Ferdi... kumohon. Kalau kau pergi, gubuk ini bukan lagi rumah. Ini cuma bangunan tua yang sepi. Aku benci kalau harus sendirian lagi."

Ferdi menghela napas panjang, tangannya yang kasar dan gemetar mengelus rambut Vani. "Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi apa yang kita bangun tanpa merusaknya dengan kegelapan."

Vani mendongak, matanya sembab namun penuh kasih sayang. "Lain kali, biar aku yang jadi kegelapannya kalau itu artinya kau tetap aman. Sekarang diam, dan minum obat ini. Kalau kau membantah lagi, aku akan benar-benar menanam biji cabai ini di atas kuburanmu!"

Ferdi terkekeh pelan, rasa sakitnya sedikit berkurang melihat betapa khawatirnya gadis itu. Di dalam gubuk sederhana itu, di tengah bau obat-obatan dan sisa trauma pertempuran, mereka tahu bahwa dunia di luar sana mungkin membenci mereka, namun di dalam sini, mereka memiliki segalanya.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!