Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sugeng vs Pocong
Sugeng memarkirkan sepeda motornya di halaman masjid Al Korim. Ia tidak langsung mengigit batu Jingga itu di tempat, takut apabila ada cctv.
Sugeng berjalan mencari 2 tempat yang aman untuk ia mengigit batu jingganya. Sugeng melihat sebuah lahan kosong penuh semak di antara dua bangunan rumah yang padat itu. Tampak sebuah banner yang terpatok di lahan kosong tersebut, bertuliskan di jual tanah ukuran 15×40 meter²
Ia langsung menuju ke sana dan menggigit batu jingga itu di sana, seketika itu juga aura jingga menyelimuti tubuh Sugeng dan tampak sangat indah bagaikan cahaya sunset, sedetik kemudian aura itu menghilang bersamaan dengan tubuh Sugeng yang sudah tidak terlihat lagi.
Setelah memastikan dirinya benar benar tidak bisa terlihat, Sugeng langsung berjalan menuju belakang masjid dan mencari rumah dari pemilik warung itu.
Sesampainya di belakang masjid mata Sugeng langsung tertuju kepada rumah yang paling besar di sana. Sebuah rumah yang cukup besar dengan cat hijau telur dan pagar besi setinggi dada, di halaman depan rumah itu terdapat beberapa pohon pisang yang sudah tak ada buahnya.
Sugeng memakai sapu tangan tebal yang tidak berpori di kedua tangannya agar ia tidak meninggalkan sidik jari.
Sugeng membuka pagar itu dengan hati hati, setelah masuk ia kembali menguncinya.
Ia kemudian berjalan perlahan menuju pintu, pintu itu tampak rapat terkunci dari dalam dan rumah itu tampak gelap tanda penghuninya sudah tidur.
Sugeng berhenti di depan pintu itu, ia merasakan ada sesuatu yang mengawasinya.
Sontak ia langsung menoleh ke belakang, tatapannya langsung terpaku kepada sosok putih yang berdiri di celah celah pohon pisang.
Pocong itu berdiri di sana... tatapanya tidak menuju ke arah Sugeng, namun menatap tajam gerbang besi yang tiba tiba terbuka dengan sendirinya, jelas pocong itu tidak bisa melihat Sugeng.
"Dia tidak bisa melihatku.. batu jingga ini benar benar luar biasa, bukan hanya membuat diriku tak terlihat oleh manusia namun makhluk halus juga." Batin Sugeng.
Suasana hening, hanya terdengar desiran angin yang menerpa dedaunan pohon pisang.
Kepala pocong itu bergerak mengedar halaman rumah ini dengan tatapan melotot tajam bagaikan tatapan burung hantu, tajam dan mencekam.
Sementara Sugeng berdiri mematung di depan pintu dengan mulut yang masih mengigit batu jingga.
Sugeng saat ini bingung hendak melakukan apa, selain itu ia juga bingung mengapa dirinya tidak merasakan takut sama sekali. Padahal sesosok pocong berdiri tidak jauh darinya dan sedang mencari keberadaanya.
"Apakah ini juga efek dari batu jingga ini? Entah mengapa Aku sama sekali tidak merasakan takut kepada pocong itu? Padahal wujud pocong itu benar benar menyeramkan." Batin Sugeng.
Sugeng berpikir sejenak mengingat masa lalu di mana waktu kecil ia pernah ketakutan setengah mati di kejar kejar kuntilanak yang ternyata kuntilanak itu adalah kakaknya. Perbedaan perasaan ini sangat terasa, jelas Sugeng bisa menyimpulkan batu jingga ini ada hubungannya.
"Aku harus apa? Jika aku langsung mebobol pintu rumah ini, pocong itu akan melihatnya! Sialan... aku benar benar tidak menyangka Jin penglaris ini bukan cuma memberikan keuntungan namun menjaga pemiliknya juga, benar benar makhluk yang menjengkelkan." Batin Sugeng.
Cukup lama Sugeng berpikir mungkin 2 menit, pocong itu masih berdiri di sana mengedarkan pandangannya di setiap halaman dan menatap setiap detail kecil di sana.
Sementara Sugeng masih berdiri di depan pintu, entah mengapa ia seperti mendengar bisikan 'bunuh' dalam hatinya.
Entah keberanian dari mana kaki kanan Sugeng terangkat, ia mulai melangkah secara perlahan mendekati pocong itu.
Bisikan 'bunuh' 'bunuh' 'bunuh' terus terdengar dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Tidak ada rasa ragu dan takut di dalam hati Sugeng, hanya ada keinginan keberhasilan merampok rumah itu dalam benaknya tidak perduli bagaimana pun caranya walaupun harus membunuh.
Sugeng terus berjalan dengan langkah ringan, sialnya ketika berjarak setengah meter dari pocong itu Sugeng menginjak botol plastik kecil yang menimbulkan suara.
Pocong itu langsung menoleh, namun tetap tidak bisa melihat Sugeng. Pocong itu seperti merasa ada yang janggal ia langsung meludah ke arah itu, namun ludah itu sama sekali tidak menyentuh sesuatu apapun dan mendarat di tanah.
Pocong itu keheranan.
Sementara Sugeng tampak di belakang pocong itu, ya ia langsung berlari menuju belakang pocong itu ketika dirinya menginjak botol.
Sugeng mengepalkan tangannya erat erat mengumpulkan semua tenaganya dan melepaskan satu tinju ke tulang rusuk belakang bagian kiri pocong itu.
BAAAMM!!
KRAAAKK!!!
PRAAANGG!!!
Suara tulang patah dan remuk terdengar, tubuh pocong itu melesat dan menabrak pagar besi dengar keras menciptakan suara 'prang' yang menggema.
Pocong itu tampak sangat menyedihkan tubuhnya tergelatak di tanah bagaikan guling. Ia berusaha berdiri namun rasa sakit membuatnya tak bisa berdiri.
Sugeng sedikit terkejut melihat itu, namun tidak ada waktu baginya untuk mencerna hal di luar nalar manusia yang baru saja ia alami, bisikan 'bunuh' dalam hatinya seolah menuntun Sugeng untuk menghabisi pocong itu.
"Aku harus membunuh pocong itu! Pesugihan ludah pocong ini pasti ada hubungannya dengan seorang dukun, apabila pocong ini hidup dia bisa melapor kepada tuannya dan tuannya bisa menyantetku!"
Secara perlahan namun pasti tubuh pocong itu hendak bangkit, namun dengan menyedihkan ia kembali terjatuh ke tanah kala kaki kanan Sugeng menginjak perutnya dan memaksanya kembali berbaring.
Mata pocong itu menunjukan sorot mata ketakutan, dalam benaknya bertanya tanya siapa yang melakukan ini?
Entah Setan dari mana Sugeng menginjak injak pocong itu dengan kaki kanannya.
Bunyi suara tulang patah dan rintihan pocong itu terdengar, tidak puas hanya dengan injakan Sugeng menarik kain di bagian kepala pocong itu kemudian membenturkan kepala pocong itu ke tanah secara berulang kali.
Jiwa brutal dan hasrat membunuh Sugeng terlihat dalam adegan ini, pocong itu sama sekali tidak di beri ampun oleh Sugeng, tidak lama kemudian pocong itu tewas dengan kepala hancur. Tubuhnya kemudian menghilang menjadi asap putih tipis dan tertiup angin.
Klik!
Bunyi pintu terbuka terdengar jelas, Sugeng menoleh ia melihat sang pemilik warung keluar dari rumah dengan parang panjang di tangan.