Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi di Bawah Sinar Rembulan
Dansa berakhir dengan tepuk tangan meriah dari seluruh aula. Shaneen memberikan hormat (curtsy) yang sangat sempurna, memperlihatkan kelasnya sebagai putri Asturia yang tak tertandingi. Namun, saat dia berniat kembali ke sisi Julian untuk melanjutkan tawanya, sebuah cengkeraman tangan yang hangat namun kuat melingkar di pergelangan tangannya.
"Ikut aku, Lady Shaneen," bisik Matthias, suaranya kini lebih rendah dan terdengar sangat... berbahaya.
"Heh! Tuan Falken! Lepaskan! Aku mau minum!" Protes Shaneen.
Tapi Matthias tidak peduli. Dengan langkah lebar, dia menuntun (atau lebih tepatnya menarik halus) Shaneen keluar dari aula, melewati pintu kaca besar menuju balkon yang terhubung langsung dengan taman labirin yang sepi.
Begitu mereka sampai di area yang hanya diterangi cahaya rembulan dan lampu taman yang temaram, Matthias melepaskan tangan Shaneen dan berbalik. Dia bersedekap, dadanya yang bidang membusung, menatap Shaneen dengan tatapan mengintimidasi yang biasa dia gunakan pada tawanan perang.
"Siapa dia?" Tanya Matthias tanpa basa-basi.
Shaneen merapikan gaun sutranya yang sedikit berantakan, lalu menatap Matthias dengan tatapan sleepy eyes-nya yang paling menyebalkan. "Siapa? Pelayan yang bawa sampanye tadi? Mana aku tahu."
"Baron receh itu," desis Matthias, rahangnya mengeras. "Pria yang berani kau pukul bahunya dan kau bahkan tertawa padanya.."
Shaneen tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah. "Hahaha! Kau cemburu pada Julian? Tuan Jenderal yang terhormat cemburu pada seorang pria yang pernah kutembak dengan ketapel saat dia mencoba menyanyikan serenade di bawah jendela kamarku?"
Matthias tidak tertawa. Dia justru melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka hingga Shaneen terpaksa mundur ke tembok balkon yang dingin. "Dia menembakmu saat usia tujuh belas tahun, katanya? Dan kau membiarkannya tetap hidup di sekitarmu?"
"Dia teman masa kecilku, Matthias," Shaneen akhirnya menyebut nama aslinya karena gemas, membuat jantung Matthias berdesir sesaat. "Dia satu-satunya orang yang tidak takut padaku. Dia tahu aku galak, tapi dia tetap menganggapku Ninin yang berisik. Itu saja."
"Ninin?" Matthias mengulang kata itu dengan nada tidak suka yang sangat kentara. "Hanya aku yang boleh memanggilmu Ninin mulai sekarang. Pria itu... dia terlalu dekat."
Shaneen menaikkan sebelah alisnya, wajahnya kembali ke mode perfeksionis yang tajam. "Dengar ya, Duke. Kau bukan siapa-siapaku. Kau baru melamar di depan keluargaku secara sepihak, dan aku belum bilang 'iya'. Jadi, siapa yang kau panggil 'milikmu'?"
Matthias menundukkan kepalanya, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Shaneen. Aroma parfum maskulin Matthias bercampur dengan aroma mawar dari tubuh Shaneen menciptakan ketegangan yang menyesakkan.
"Kau akan bilang 'iya', Shaneen," ujar Matthias dengan penuh keyakinan. "Karena tidak akan ada pria lain yang bisa menahan lidah tajammu selain aku. Dan tidak ada pria lain yang akan melindungimu dari dunia yang membosankan ini sebaik aku."
Shaneen mendengus, mencoba menahan detak jantungnya. "Kau sangat sombong, Tuan Falken. Sangat berantakan bagi rencanaku yang sudah tersusun rapi."
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi satu-satunya kekacauan yang kau izinkan dalam hidupmu," balas Matthias pelan. Tangannya perlahan menyentuh pipi Shaneen, mengusapnya dengan sangat lembut.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak, terdengar suara gemerisik.
"Sstt! Stellan! Jangan dorong-dorong! Aku tidak bisa melihat mereka!"
Itu suara Ashlyn istri Stellan yang ternyata juga hadir di pesta itu secara diam-diam. Selain bukan hanya hadir, Stellan terus memantau adiknya itu, takut "diapa-apakan" oleh si Jenderal.
Shaneen langsung mendorong Matthias menjauh dengan wajah merah padam. "KAKAK! KELUAR KALIAN SEKARANG!"
Stellan dan Ashlyn keluar dari balik pohon dengan wajah tanpa dosa.
"Eh, hai Ninin," sapa Stellan sambil nyengir. "Kami cuma mau memastikan... eh, apakah Matthias sudah belajar tata krama di taman?"
"Atau mungkin dia butuh pelajaran memukul bahu seperti Julian tadi?" Ashlyn menambahkan sambil tertawa receh.
Matthias hanya menghela napas panjang, merapikan jasnya. Dia menatap kakak Shaneen dengan tatapan "kalian-merusak-suasana", lalu kembali menatap Shaneen. "Besok, jam sepuluh pagi. Aku akan menjemputmu. Kita akan berkuda."
"Aku tidak bilang mau!" Teriak Shaneen saat Matthias berjalan pergi dengan gagahnya.
"Ayahmu sudah mengizinkan!" Sahut Matthias tanpa menoleh, meninggalkan Shaneen yang menghentakkan kakinya karena gemas.