Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran
Langkah terdengar mendekat di atas lantai marmer. Louis muncul di ujung lorong, wajahnya penuh kekhawatiran yang mudah dibaca. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut.
Lilith berbalik, membiarkan bahunya sedikit merosot. “Ayah hampir mencabut gelarku. Hanya karena satu kesalahan.” Suaranya kembali rapuh, seolah percakapan di ruang kerja masih mengguncangnya.
“Itu terlalu keras,” jawab Louis cepat. “Tidak adil jika semua beban ditaruh di pundakmu.”
“Semua orang hanya memikirkan Elenna,” katanya pelan.
“Seolah aku yang mengatur kejadian penculikan itu."
“Kau tidak bersalah.”
Ia menatap pria itu sejenak, cukup lama untuk menumbuhkan rasa bahwa hanya Louis yang berada di sisinya. “Kau satu-satunya yang mengerti.”
Louis menggenggam tangannya sebentar, hangat dan penuh janji yang belum terucap, sebelum akhirnya ia pergi, mungkin untuk menenangkan diri atau sekadar menghindari tatapan keluarga yang terasa menghakimi.
Begitu punggungnya menjauh dan langkahnya menghilang di tikungan, wajah Lilith berubah. Senyumnya tipis. Terkendali. Tidak ada lagi getar di sudut bibirnya.
Jika Louis dianggap orang luar oleh ayahnya, maka ia harus memastikan pria itu berdiri sepenuhnya di sisinya. Simpati adalah awal dari kesetiaan. Dan kesetiaan, jika dipelihara dengan benar, bisa menjadi alat yang lebih tajam daripada kebencian.
Ia kembali berjalan menuju kamar dengan langkah yang kini lebih pasti. Di depan meja rias, ia duduk perlahan dan memandang bayangannya lagi. Gelar itu bukan sekadar simbol. Itu panggung. Itu pengakuan. Itu jalan menuju kekuasaan yang halus namun nyata, kekuasaan yang tidak dipegang dengan pedang, tetapi dengan reputasi dan sorot mata publik.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, panggung itu hampir direbut. Bukan oleh musuh besar, melainkan oleh seorang gadis yang bahkan tidak mencoba merebutnya.
Semua karena Elenna.
“Jika satu kesalahan lagi bisa mencabut gelarku…” bisiknya, jemarinya mengepal di atas meja rias hingga buku-buku jarinya memucat, “maka kesalahan berikutnya tidak akan menjadi milikku.”
Ia tidak marah dalam arti yang kasar. Ia tidak akan menjerit atau memecahkan kaca. Ia akan menunggu. Mengamati. Mengatur ulang bidak-bidak kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain.
Matanya mengeras, tetapi pikirannya justru menjadi jernih. Ia mengingat setiap tatapan di ruang kerja tadi, ketegangan rahang Kael, keheningan Alberto, dinginnya keputusan ayahnya. Semua itu bisa diarahkan. Semua itu bisa dipelintir.
Benih itu telah tumbuh. Bukan benih kebencian yang meledak-ledak, melainkan benih rencana yang sabar.
Dan malam itu, di dalam mansion yang kembali sunyi, ketika para pelayan berbisik pelan di dapur dan lampu-lampu satu per satu dipadamkan, sesuatu yang lebih gelap mulai dirancang dengan hati-hati, bukan untuk menghancurkan dalam satu pukulan, tetapi untuk menggeser keseimbangan sedikit demi sedikit, sampai suatu hari nanti tak seorang pun menyadari kapan panggung itu sepenuhnya menjadi miliknya.
****
Elenna membuka matanya perlahan, langit-langit kamar menyambutnya dalam keheningan. Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya terasa berat, seolah semalaman ia tenggelam dalam mimpi yang terlalu panjang. Dadanya naik turun perlahan. Ia mencoba mengingat situasinya.
Ia menarik napas, lalu menghembuskannya.
Dadanya terasa berat. Tenggorokannya kering. Tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri, terlalu lambat untuk digerakkan, terlalu lelah untuk sekadar berpikir jernih. Kenangan semalam datang dalam potongan-potongan yang tidak berurutan.
Gang sempit. Batu dinding yang lembap. Langkah kaki yang mengikuti. Tangan kasar yang mencengkeram dan menamparnya. Tawa rendah yang membuat kulitnya merinding, dan wajah Count, senyum tipis yang dipenuhi kebencian dan rasa memiliki yang menjijikkan.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak, mungkin itu hanya mimpi buruk yang terlalu nyata. Ia mencoba mengangkat tangannya. Nyeri tajam menjalar dari bahu hingga ke pergelangan. Elenna tersentak kecil. Refleks, ia menyentuh lengan kirinya, dan merasakan balutan kain yang kaku dan tebal.
Balutan perban.
Ia menoleh ke samping. Di meja kecil dekat ranjang terdapat botol salep, kain kasa yang sudah dipakai, dan semangkuk air yang permukaannya tak lagi beriak. Bau samar obat memenuhi udara.
Bukan mimpi.
Perlahan-lahan ia bangkit sedikit, menyandarkan tubuh pada kepala ranjang. Gerakan sederhana itu saja membuat pahanya berdenyut. Di balik kain tidur tipisnya, warna lebam samar tampak jelas. Keunguan. Kasar. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.
Ia masih hidup.
Pikiran itu muncul bukan sebagai rasa syukur—melainkan sebagai fakta yang dingin.
Masih hidup berarti masih harus menghadapi hari ini. Ia memejamkan mata, membiarkan napasnya teratur kembali. Tetapi di balik kelopak, pertanyaan yang lebih sunyi muncul.
Apakah masih ada yang peduli?
Ataukah kehadirannya hanya sekadar bayangan di rumah besar ini, ditoleransi, bukan diinginkan?
Suara ketukan pelan terdengar. Satu kali, dua kali ketukan. Elenna belum sempat menjawab ketika gagang pintu bergerak perlahan.
Alberto masuk lebih dulu. Ia biasanya tampak rapi dan ringan, dengan senyum yang mudah muncul di wajahnya. Tetapi pagi itu, rahangnya tegang. Matanya terlihat lebih gelap, seolah kurang tidur.
Di belakangnya, Kael berdiri, tinggi, diam, dan tak terbaca seperti biasa.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alberto pelan.
Suaranya lembut, tetapi tidak setenang biasanya. Ada getaran kecil di dalamnya, sesuatu yang tertahanm.
Elenna berusaha duduk lebih tegak. Gerakannya lambat. Alberto segera mendekat, menyelipkan bantal tambahan di punggungnya dengan hati-hati.
Sentuhannya ringan, terkesan hati-hati, seolah Elenna adalah kaca yang akan retak bila salah disentuh.
“Aku baik-baik saja,” jawab Elenna, hampir otomatis.
Alberto menatapnya lama. “Itu jawaban yang terlalu cepat,” katanya lirih. "Kau langsung pingsan begitu kita sampai di mansion"
Elenna tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai kebiasaan daripada perasaan.
Kael melangkah mendekat tanpa suara. Tatapannya jatuh pada balutan di lengan Elenna. Ia tidak bertanya bagaimana rasanya. Tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Namun rahangnya mengeras.
“Dia tidak berhak menyentuhmu,” ucapnya.
Nada suaranya rendah. Dingin. Tidak ada amarah yang meledak, hanya sesuatu yang lebih berbahaya, yaitu kemarahan yang terpendam.
Elenna menoleh padanya. Untuk sesaat, ia melihat sesuatu di mata Kael yang jarang terlihat, ketidakmampuan untuk melindungi tepat waktu.
Alberto menghela napas pelan. “Count sudah ditangani.”
“Dia tidak akan berani mendekat lagi,” lanjut Alberto, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Elenna terdiam.
Bagaimana caranya?
Sejauh apa mereka melangkah?
Apakah Ia dihukum?
Ia tidak akan bertanya.
Ada ketakutan aneh di dalam dirinya, bukan pada Count, tetapi pada konsekuensi dari kemarahan dua pria yang kini berdiri di kamarnya.
“Aku yang membiarkanmu pergi sendirian,” kata Alberto tiba-tiba. “Aku seharusnya mengantar. Atau setidaknya memastikan ada pelayan.”
“Itu bukan salahmu,” Elenna memotong lembut. “Aku sendiri yang memilih untuk pergi sendiri."
“Dan aku membiarkanmu,” balas Alberto pelan.
Keheningan melanda.
Elenna memandang mereka berdua.
Di dalam dadanya, rasa hangat dan nyeri bercampur menjadi satu.
Mereka datang.
Mereka peduli.
Bukan?
Namun, suara lain di dalam benaknya berbisik, mungkin ini hanya rasa tanggung jawab. Mungkin ini hanya kehormatan keluarga yang ternodai. Mungkin mereka marah bukan karena ia terluka… melainkan karena harga diri mereka tersentuh.
“Bagaimana dengan Lilith?” tanya Elenna tiba-tiba.
Alberto dan Kael saling berpandangan sekilas.
“Dia… terguncang,” jawab Alberto hati-hati. “Semalam ia sulit tidur. Tabib sudah memeriksanya. Tidak ada luka fisik.”
Tidak ada luka fisik.
Kata-kata itu seperti jarum halus.
Sedangkan dirinya memiliki luka fisik dan mental.
Elenna menunduk sedikit. Jadi perhatian mereka juga sekarang tertuju padanya.
“Festival tinggal beberapa hari lagi,” lanjut Alberto. “Lilith harus tampil prima. Banyak tamu penting akan hadir.”
Kael menambahkan pelan, “Ia mengurung diri di kamar sejak pagi.”
Nada suaranya netral, tetapi Elenna menangkap sesuatu di sana, keprihatinan.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak ingin merasa seperti ini.
Tidak ingin membandingkan.
Namun, tetap saja pikirannya berbisik
Apakah mereka akan berdiri di kamarnya seperti ini jika yang terluka hanya perasaannya?
Atau kembali mengacuhkannya karena dirinya tidak penting?
“Aku tidak ingin mengganggu persiapan festival,” ucap Elenna pelan. “Aku akan sembuh sebelum itu.”
Alberto mendekat sedikit. “Kau bukan gangguan.”
Ia mengucapkannya tanpa ragu.
Elenna menatapnya, mencoba mencari celah kebohongan.
Tidak ada.
Hanya ketulusan.
Kael menarik kursi dan duduk tidak jauh dari ranjang. Posisi duduknya santai, tetapi tatapannya tetap waspada, seolah setiap suara kecil dari luar kamar adalah ancaman.
“Apakah kau takut?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu langsung, tanpa basa-basi.
Elenna terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Ya.”
Satu kata itu keluar begitu saja.
“Bukan pada dia,” lanjutnya pelan. “Tetapi pada perasaan itu… saat aku sadar bahwa tidak ada yang akan menolongku."
Alberto menunduk.
Kael mengepalkan tangannya di atas lutut.
“Kau tidak sendiri,” katanya.
Elenna tersenyum kecil.
“Kalian tidak selalu bisa ada di sampingku.”
Kalimat itu tidak ditujukan sebagai tuduhan. Hanya kenyataan.
Justru karena itulah ruangan terasa semakin berat. Di luar pintu, seseorang berdiri di balik pintu, mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan di dalam.
Lilith.
Tangannya menyentuh gagang pintu, tetapi tidak pernah benar-benar mendorongnya.
Ia mendengar semuanya.
Nada bersalah Alberto, perhatian dari Kael, dan suara mereka yang lebih lembut dari biasanya, serta pengakuan Elenna, bahwa ia takut.
Ada sesuatu yang panas di dalam dada Lilith.
Seharusnya itu miliknya.
Seharusnya perhatian itu miliknya.
Ia menegakkan punggungnya, lalu melangkah mundur perlahan sebelum Alberto atau Kael keluar dan mendapati dirinya di sana. Ia akan tetap bersembunyi di balik bayang-bayang, sembari mengamati situasi di dalam kediaman.