NovelToon NovelToon
Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pernikahan Kilat / Pelakor
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?

"Aku pergi bukan untuk kembali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Pengakuan Ribka tentang Jason

Usai makan malam, Kenny berinisiatip mengajak Mirza dan Ribka untuk nonton di bioskop. Mirza memandang ibunya minta persetujuan. Karena sudah seharian mereka berkeliling. Mirza melihat jam di ponselnya juga sudah pukul 18:30.

"Gimana Tante, kalau kita nonton dulu. Kebetulan ada film bagus." saran Kenny.

Ribka tersenyum lembut sebelum menjawab. "Lain kali saja ya Nak Kenny. Sudah menjelang malam. Tante sudah seharian diajak Mirza keliling."

"Oh, Tante udah lelah ya. Gapapa Tan. Mungkin lain kali." sahut Kenny. Ada gurat kecewa tapi hanya sekilas.

"Iya, Mama sudah lelah. Sejak siang tadi aku culik Mama. Papa mungkin sudah kecarian sama istrinya." bisik Mirza konyol tanpa didengar Ribka.

Kenny tersenyum. "Mungkin lain kali. Semoga Tante Ribka gak nolak."

"Hem, ngapain mau ajak Mama nonton segala, sih. Apa Abang serius mau jadi bodyguardnya Mama?" Kenny mengangguk cepat tanda setuju.

"Emang boleh?"

Mirza menatap serius. "Emang mau?" suara Mirza naik satu oktaf. Bukan marah. Cuma mau menyakinkan dirinya saja.

"Kalau dapat izin kenapa tidak?" sahut Kenny serius.

Ribka heran melihat keduanya seolah saling ngotot. Entah apa yang mereka bicarakan. Langkahnya terhenti dan berbalik. Mengira keduanya berjalan mengikutinya.

"Kalian ngomongin apa? Mau berantam ya?" tegur Ribka.

"Eh, gak Ma!" sahut Mirza dan Kenny berbarengan. Mirza mendelik saat mendengar Kenny menyebut mama pada ibunya. Ribka juga kaget.

"Eh, keceplosan." Kenny menutup mulutnya.

"Gapapa kok, kalau Kenny mau memanggil Tante, Mama." sahut Ribka santai.

 Mirza melotot.

 Kenny bersorak!

"Yes, aku boleh nyebut Mama sama Tante Ribka!" Kenny melonjak girang.

"Mama serius?" Mirza menatap aneh. "Mama mau menduakan Mirza ya?"

"Gak! Mirza tetap kesayangan Mama kok." goda Ribka. Merasa seru jika Kenny dan Mirza adalah anak-anaknya.

"Ya, udah. Kalau Mirza udah balik ke Jakarta, biar Bang Kenny yang mengawal Mama kemana-mana." Mirza sok mengalah, padahal gak rela.

"Setuju!" Kenny langsung menggandeng lengan Ribka. "Ayo, Ma, Kenny antar pulang."

"Eits, Mama harus ikut ke rumahku. Bukan ke rumahmu." sentak Mirza menarik lengan ibunya.

"Eh, sori lupa. Saking bahagianya. Punya ibu lagi." seru Kenny kocak.

"Kalau begitu aku pamit duluan. Dadah!"

Ribka dan Mirza membalas lambaian tangan Kenny.

"Ma, Mama gak merasa aneh dengan dia ya?" tanya Mirza saat mereka tinggal berdua dan sambil jalan menuju parkiran.

"Aneh bagiamana?" kernyit Ribka heran.

"Yah, anehlah. Mama dan Kenny seolah sudah lama saling kenal. Padahal baru dua kali berjumpa. Mirza melihat, Mama dan dia seolah terhubung satu sama lain. Beneran ya, Mama baru saling kenal? Kenapa Mama semudah itu mengiyakan dia memanggil Mama?"

"Mama juga tidak tau. Sejak pertama melihat dia, rasa keibuan Mama, begitu tersentuh. Mungkin karena dia mengingatkan Mama pada seseorang."

Langkah Mirza terhenti. "Seseorang? Siapa Ma?" Mirza jadi bingung. Sepertinya ibunya banyak menyimpan kisah masa lalu.

"Selama ini Mama tidak pernah bercerita sama kamu. Tapi, Mama mau tanya satu hal dulu. Sejak kapan kamu tau kalau Mirza adalah anak angkat Mama." tatap Ribka penuh selidik.

"Oh, masalah itu. Mirza tau sendiri Ma. Saat pengurusan berkas mau masuk kuliah. Tidak sengaja Mirza menemukan surat itu."

"Astaga! Kenapa selama ini kamu tidak pernah jujur sama Mama."

Mirza takut menanyakannya. Lebih baik Mirza diam saja. Karena Mirza tidak pernah meragukan kasih sayang, Mama. Dan saat itu juga, Mirza belum tentu kuat seandainya memastikan hal itu kepada Papa dan Mama.

"Sayang. Tapi setidaknya kamu cerita ke Mama. Pasti berat bagimu saat menemukan kebenaran itu. Sebenarnya Mama tidak bermaksud menyembunyikan itu. Tapi papamu selalu menolak setiap kali Mama mau jujur sama kamu."

"Mama pikir, suatu saat kamu harus tahu semua itu. Tapi sudah keduluan olehmu." Ribka menggenggam tangan Mirza.

"Tidak apa-apa Ma. Mirza lebih penasaran rahasia apa yang Mama sembunyikan selama ini dari Mirza?"

"Oh, itu tentang Jason. Sebelum kamu hadir. Sebenarnya dulu, Mama punya anak. Tapi saat dia berumur lima tahun. Dia hilang di pasar. Semua itu adalah kesalahan Mama. Mama lalai menjaga Jason. Dia terlepas dari tangan Mama saat berbelanja. Tidak lama kemudian, papamu membawamu ke rumah. Sejak itu kamu tinggal bersama kami."

Ribka hanya menjelaskan sedikit perihal hilangnya Jason. Kenangan itu terlalu pahit untuk diungkapkan lagi sekarang. Ribka menghela nafas panjang. Berat.

"Jadi, Jason tidak pernah ditemukan Ma?" Ribka mengangguk.

"Kata papamu. Butuh uang banyak untuk mencarinya. Waktu itu, karir papa belum seperti saat ini." Ribka mengusap

air matanya yang coba dia tahan sejak tadi. Meskipun sudah lama berlalu, Ribka masih belum mampu mengontrol kesedihannya.

Mirza tergugu diam. Kaget mendengar cerita itu. Ternyata dia punya saudara. Dia adalah pengganti saudaranya yang hilang. Sejak menemukan surat adopsi itu. Mirza mengira, dia diadopsi karena ibunya mandul.

Itu pula mungkin sebabnya, ibunya diperlakukan buruk selama ini.Dan Mamanya tidak berdaya karena merasa bersalah dan disalahkan terus.

Meskipun sudah bertahun-tahun kejadian itu berlalu, ibunya tetap dihukum. Bahkan dikhianati. Seolah dengan perlakuan buruk itu, masih belum cukup sebagai hukuman. x

"Mama, lupakan saja semua itu ya. Mirza akan tetap menjaga Mama sampai kapanpun. Dan semoga kita dipertemukan Tuhan dengan Jason kembali. Tidak ada yang mustahil Ma kalau Tuhan sudah berkehendak."

"Kita pulang, Ma. Mama jangan khawatir tentang Papa. Mirza yang akan belain Mama."

Ketika tiba di rumah. Raymond langsung menuju teras saat mendengar suara sepeda motor. Bu Nora telah pulang dari rumah sakit. Tapi istri dan anaknya tidak ada di rumah menyambut mereka. Dan baru pulang setelah seharian entah kemana.

"Kalian darimana saja?" bentak Raymond begitu Mirza dan Ribka menginjak teras.

"Aku mengajak Mama jalan-jalan Pa." sahut Mirza datar. Menggamit lengan ibunya masuk ke rumah. Raymond mengikuti dari belakang. Kaget saat melihat istrinya yang berbeda dari biasanya.

"Oh, jadi uang yang Papa berikan itu, kamu pakai buat Mama kamu ya, Mir?"

"Emang salah, Pa? Uang Mirza uang Mama juga."

"Tapi uang itu buat hadiah ultahmu."

"Terserah Mirza mau belikan apa uang itu, Pa, kan sudah milik Mirza juga."

Raymond menghembuskan nafasnya kesal. Mirza benar. Uang itu sudah menjadi miliknya. Terserah dia buat apa. Tapi Raymond tidak menyangka kalau uang itu dipakai Mirza untuk menyenangkan hati ibunya.

Apa maksud Mirza mengubah penampilan ibunya seperti itu? Untuk menggodanya kah? Atau murni hanya untuk membahagiakan ibunya semata. Secara dia sebagai suami tidak pernah manjakan istrinya.

Sial! Kenapa istrinya nampak begitu cantik setelah Mirza memake over ibunya?***

1
Greenindya
syukurin karma tuh
Linda pransiska manalu: iya Mak. gak mau menghargai menantu.
total 1 replies
Erchapram
Ayo Ribka jadi perempuan yg lebih badas lagi. Jangan mau diinjak2 madesu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!