Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - JEJAK PEMBURU BAYANGAN
Kematian Lord Arkan dan Panglima Baros mengirimkan gelombang kejut ke seluruh kekaisaran. Namun, bagi organisasi rahasia yang dikenal sebagai Aliansi Langit Merah, kematian itu adalah penghinaan. Arkan adalah bidak penting dalam jalur logistik mereka, dan melihatnya tewas di tangan seorang pembunuh tunggal dari Sekte Gerhana Biru adalah sesuatu yang tidak bisa dibiarkan.
Di sebuah paviliun tersembunyi di perbatasan selatan, tiga sosok duduk mengelilingi meja batu. Mereka adalah Para Pemetik Nyawa, pemburu hadiah elit yang khusus disewa untuk melenyapkan ancaman yang tidak bisa ditangani oleh tentara resmi.
"Baros tewas dengan jantung membeku," ucap seorang pria kurus yang memutar-mutar koin perak di jemarinya. Namanya adalah Jiro, si Ahli Jejak. "Tidak ada tanda-tanda perlawanan besar. Hanya satu jalur energi dingin yang sangat murni. Ini bukan pekerjaan pembunuh biasa."
"Sekte Gerhana Biru telah melanggar perjanjian wilayah," sahut seorang wanita dengan cadar hitam, dikenal sebagai Reia Sang Penjerat. "Siapa pun anak itu, dia meninggalkan jejak hawa dingin yang cukup jelas untuk diikuti oleh indraku."
Sementara itu, Kaelan berada sepuluh mil dari lokasi kejadian. Ia tidak langsung kembali ke Lembah Kabut Abadi. Instingnya, yang telah terasah selama tujuh tahun dalam kegelapan, memberitahunya bahwa ia sedang diikuti.
Ia berhenti di sebuah jembatan kayu tua yang melintasi sungai beraliran deras. Kabut malam mulai turun, menyelimuti hutan di sekitarnya. Kaelan berdiri mematung di tengah jembatan, rambut putihnya berkibar lembut.
"Keluarlah," ucap Kaelan. Suaranya datar, tanpa nada ancaman, namun mengandung otoritas yang dingin.
Dari balik pohon di ujung jembatan, Jiro dan Reia muncul. Di belakang mereka, seorang pria raksasa pembawa gada berduri bernama Grog melangkah keluar, membuat tanah bergetar.
"Kau punya indra yang tajam, Nak," Jiro menyeringai. "Sayang sekali, kepalamu dihargai sepuluh ribu keping emas. Itu terlalu banyak untuk dibiarkan tetap menempel di lehermu."
Kaelan tidak menoleh. Matanya tetap menatap aliran air di bawah jembatan. "Tiga orang. Satu ahli sensor, satu pengguna senjata jarak jauh, dan satu penghancur. Formasi yang membosankan."
"Mulutmu lancang!" raung Grog. Ia mengangkat gadanya dan berlari menerjang jembatan. Kayu-kayu jembatan mengerang dan retak di bawah beban tubuhnya yang masif.
Reia melepaskan puluhan jarum beracun dari balik lengan bajunya, menargetkan titik-titik saraf Kaelan untuk membatasi gerakannya. Jiro, di sisi lain, menghilang ke dalam kabut, mencari celah untuk memberikan serangan fatal.
Kaelan akhirnya bergerak. Ia tidak menarik belatunya. Ia hanya menggerakkan tangan kirinya secara melingkar di udara.
"Teknik Bulan Dingin: Perisai Kabut Beku."
Uap air dari sungai di bawah jembatan tiba-tiba naik dan membeku seketika di sekeliling Kaelan, membentuk kristal-kristal es yang melayang. Jarum-jarum milik Reia tertahan di udara, terperangkap dalam es sebelum sempat menyentuh targetnya.
Grog menghantamkan gadanya ke arah kepala Kaelan, namun Kaelan melakukan gerakan memutar yang mustahil, meluncur di bawah kaki raksasa itu. Dengan satu sentuhan ringan di betis Grog, Kaelan melepaskan Qi Embun Berbisa.
Grog berteriak saat kakinya seketika mati rasa dan berubah menjadi biru gelap. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut, menghancurkan papan jembatan.
"Sekarang, yang bersembunyi," bisik Kaelan.
Domain Kesunyian miliknya telah mengunci posisi Jiro di bawah jembatan. Kaelan melepaskan Benang Perajut Jiwa melalui celah-celah papan kayu. Benang itu melesat seperti kilat perak, melilit leher Jiro yang sedang bersiap melakukan serangan kejutan.
"Bagaimana mungkin... kau tahu..." Jiro tercekik, matanya melotot saat benang itu mulai mengiris kulitnya.
Reia, melihat kedua rekannya dilumpuhkan dalam hitungan detik, mencoba melarikan diri. Namun, es yang diciptakan Kaelan telah menyebar ke seluruh jembatan, mengubah permukaan kayu menjadi arena luncur yang mematikan.
Kaelan menatap Reia dengan mata merahnya yang berkilat. "Kalian datang untuk menjemput nyawaku, tapi kalian bahkan tidak membawa peti mati."
Dalam satu gerakan sapuan tangan, seluruh kristal es di udara melesat ke arah para pemburu itu. Jembatan tua itu akhirnya runtuh, jatuh ke dalam sungai yang dingin, membawa serta para pengejar yang kini telah menjadi patung es abadi.
Kaelan mendarat dengan tenang di tepian sungai yang lain. Ia membersihkan debu khayalan di bahunya. Baginya, pertarungan ini bukan tentang kemenangan, melainkan tentang konfirmasi bahwa dunia luar jauh lebih lemah daripada neraka yang ia lalui di Lembah Kabut Abadi.
Namun, ia tahu ini baru permulaan. Aliansi Langit Merah tidak akan berhenti, dan Sekte Gerhana Biru pasti akan menuntut penjelasan atas keributan yang ia ciptakan.
Kaelan melanjutkan perjalanannya, menghilang ke dalam kegelapan rimba, meninggalkan aroma kematian yang membeku di belakangnya.