Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Sosok berbaju hitam
"Ayo kita cari obat dulu." Dina takut sendiri ketika melihat luka gigitan di bahu Arum.
"Siapa sudah melakukan ini kepada aku dan bagaimana ada orang bisa masuk ke dalam kamar?!" Arum sangat ketakutan membayangkan itu semua.
"Tidak usah kau pikirkan itu dulu karena kita harus mengobati luka ini." Dina sebenarnya juga takut namun dia tidak ingin Arum bertambah ngeri.
Siapa yang tidak takut bila sedang tidur namun mendadak saja malah tersingkap selimut dan kemudian mendapati tubuh terkena gigitan seperti itu, sudah pasti perasaan Arum saat ini begitu ketakutan dan dia ingin menangis karena membayangkan sosok itu pasti datang ketika dia sedang meminjamkan mata.
Ini pasti nanti tidak akan berani tidur sendiri lagi karena rasa trauma yang muncul di dalam diri, takut bila mendadak saja nanti siluman itu akan datang untuk menggigit dia kembali dan bisa jadi luka yang dia timbulkan jauh lebih parah bila di banding dengan luka yang pertama ini.
Memang Arum belum tahu secara pasti siapa yang sudah menggigit pundak dia sehingga menimbulkan luka dalam seperti itu, namun dalam hati dia sudah begitu yakin bahwa itu bukan makhluk biasa alias minuman seperti yang dia pikirkan ketika akan berusaha mengungkap kasus kematian Bu Elma dan juga Bu Mayang nanti.
Jadi otak Arum sudah berkelana dan mengatakan bahwa ini semua bisa saja dianggap sebagai peringatan agar dia tidak terlalu larut kembali untuk mengungkap masalah itu, Arum tidak berani mengatakan kepada Dina karena jelas nanti akan muncul perdebatan yang begitu panjang Karena Dina masih tetap beranggapan bahwa ibu mereka meninggal karena penyakit jantung.
Padahal sudah sangat jelas saat kematian akan datang Bu Elma kejang tidak karuan dan Arum sendiri walau masih kecil sudah sangat yakin bahwa itu semua bukan hanya penyakit jantung biasa, terbukti ketika sudah meninggal dunia tubuh Bu Arum penuh dengan luka lebam seolah bekas gigitan yang cukup dalam.
"Hah apakah pelaku gigit itu juga sama seperti ini." Arum terkaget ketika dia menyadari sesuatu.
"Apa yang sedang kau bayangkan saat ini?" Dina bertanya pelan sambil mengobati pundak Arum.
"Ya Kakak bayangkan saja kenapa mendadak di dalam kamar itu ada orang lain dan bisa menggigit aku seperti ini." Arum berkata dengan penuh emosi.
"Apa kita perlu berbicara kepada Ayah?" tawar Dina karena dia juga tidak memahami.
"Tidak usah, aku tidak ingin berbicara kepada Ayah!" tolak Arum secara langsung.
"Kalau kita tidak berbicara kepada beliau maka kita tidak bisa mengetahui siapa pelaku yang menggigit pundak mu ini." jelas Dina lembut.
"Dia pasti tidak akan percaya dan malah menuduh nanti aku sengaja menyembunyikan seseorang di dalam kamar." Arum sudah bisa menebak itu semua.
Dina hanya bisa menarik nafas panjang ketika dia juga menyadari bahwa ucapan Arum ini benar, Darto begitu keras kepada mereka berdua dan selalu menekankan agar jangan bersikap seperti Vera yang keras kepala itu sehingga terkadang ada rasa kasihan juga bila Darto sudah membandingkan antara mereka dan juga Vera.
Di posisi Vera pasti sangat menyakitkan sekali karena dia sudah tidak memiliki tempat untuk bergantung dan yang dia punyai hanya Darto seorang, namun Darto sebagai seorang Ayah sama sekali tidak bisa melindungi sang anak sehingga anak pertama dia sudah mulai salah arah dan berkelana begitu jauh untuk menenangkan pikiran yang mulai runyam.
"Jadi kamu mau bagaimana karena kita tidak bisa berbicara kepada orang lain lagi selain Ayah." Dina juga bingung harus berbuat apa.
"Nanti aku akan berbicara kepada Kak Vera saja karena dia pasti mengetahui." putus Arum.
"Kak Vera memangnya dia tahu apa tentang gigitan ini?" Dina agak kaget karena Arum malah akan mengadu kepada Vera.
"Sudah lah, kalau aku jelaskan kepada kamu namun tetap saja tidak akan mengerti dan nanti justru akan membuat kita berdebat satu sama lain." Arum memang malas berdebat dengan Dina.
"Kan setidaknya harus beritahu aku juga apa yang sedang kalian rencanakan ini." Dina mulai merasa terkucil.
"Aku bukan keberatan untuk memberitahu kamu tentang rencana kami namun bila kami memberitahu maka kamu juga tidak akan pernah bisa menerima tentang hal itu." Arum menatap Dina yang tampak begitu penasaran.
Melihat Arum yang tetap saja keras kepala tidak ingin bercerita tentang apa yang telah terjadi maka Dina pun memutuskan untuk diam saja, nanti dia bisa bertanya kepada Vera dengan cara yang lebih lembut karena mereka kemarin juga sempat berdebat dan kemungkinan Vera merasa sedikit kesal kepada Dina saat ini.
...****************...
"Dia mengatakan bahwa ada aura jahat di sekitar aku saat ini." Vera membatin sambil di atas motor karena dia memang baru pulang dari desa pandan Arum.
"Hahh tanpa bercerita saja dia sudah mengetahui bahwa aku sedang berusaha untuk mencari tahu tentang kematian Ibu, tapi yang dia katakan tadi bukan hal yang bohong." Vera berusaha untuk meyakinkan diri bahwa Kiara memang tidak berdusta.
Sebab selama ini dia memang tidak percaya dengan hal seperti itu sehingga wajar saja kadang menurut Vera sangat tidak masuk akal, namun ketika Kiara menceritakan apa yang telah terjadi dan bagaimana keadaan yang ada di sekitar Vera maka gadis ini mulai menyadari bahwa itu semua memang nyata dan tidak ada kepalsuan.
Wuuusssh.
"Hah apa itu tadi?!" Vera tersentak kaget dan reflek menarik tali rem.
"Apa mata ku saja yang melihat tadi ada bayangan hitam melintas di kawasan ini?" gumam Vera sambil mengusap mata agar bisa melihat lebih jelas lagi.
Padahal barusan dia memang melihat bayangan hitam yang melintas di tengah jalan seolah sedang menghalangi perjalanan Vera, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap berpikir positif dan tidak berpikiran macam-macam agar bisa segera sampai rumah dan merencanakan bagaimana nanti dia mengungkap masalah yang ada di dalam rumah milik Darto ini.
Wuuussssh.
"Alamak seumur hidup baru ini aku merasa merinding loh!" kaget Vera ketika punggung terasa sangat dingin.
"Ah lebih baik aku segera pulang saja dari pada menuruti apa yang ada di perjalanan kali ini." jujur saja bahwa Vera sedang merasa takut.
Wuuussssh.
Wuusssshhh.
"Yah itu ada yang terbang, aku harus terlihat tenang dan tidak boleh merasa takut." batin Vera.
Walau sesungguhnya di dalam hati dia sedang merasakan takut yang begitu luar biasa karena Vera tanpa sengaja melihat sosok yang berbaju hitam tengah berdiri di atas pohon, dia berusaha untuk mengabaikan hal itu agar iblis itu tidak menyadari bahwa Vera sudah berhasil melihat wujud dia.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen kalian semua ya.
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍
mngkn Nana kucing yg nyamar jadi Siti palsu