𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23 - CERITA YANG MEMBEKAS
Malam turun perlahan di Avermont. Kabut yang sejak sore menggantung di antara pepohonan pinus kini menebal, menempel di jendela kamar hotel seperti embun putih yang bernapas. Lampu-lampu taman di bawah menyala temaram, memantulkan cahaya kuning lembut ke batang-batang pinus yang menjulang diam.
Di dalam kamar, suasana hangat. Perapian listrik menyala pelan, memancarkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar. Dua cangkir teh hangat terletak di atas meja kecil. Tirai jendela dibiarkan terbuka, seolah ingin membiarkan malam pegunungan ikut menemani.
Vhiena duduk di tepi tempat tidur, ponsel di tangannya. Rizuki berdiri di dekat jendela, menatap kabut yang bergerak perlahan.
“Dingin ya,” ucap Vhiena pelan.
“Di sini malam memang seperti itu,” jawab Rizuki tanpa menoleh. “Tenang.”
Vhiena tersenyum kecil. Ia membuka aplikasi pesan.
KABAR DARI JAUH
Ia mulai dari rumah.
Vhiena: “Ibu, Ayah, aku sudah sampai. Aman.” Beberapa detik kemudian, pesan masuk bertubi-tubi.
Ibu: “Itu di mana? 😳”
Ayah: “Itu hotel?”
Vhiena tertawa kecil. Ia mengirim swafoto—wajahnya saja, dengan latar jendela besar dan cahaya hangat kamar hotel. Tidak perlu menambahkan keterangan. Reaksi datang cepat.
Ibu: - “Astaga… itu mewah sekali.”
Ayah: - “Hati-hati, ya. Jaga diri.” Ayah vhiena selalu protektif terhadap vhiena.
Ibu:
“Jangan lupa kabari setiap hari.”
Vhiena mengetik cepat.
Vhiena:
“Iya. Aku baik-baik saja.”
Lalu ia beralih ke grup kecil berisi tiga nama: Vhiena, Ayu, Lala.
Tanpa banyak kata, ia mengirim swafoto yang sama.
Hanya beberapa detik hening.
Lalu—
Ayu:
“VHIENAAAAA 😱”
Lala:
“ITU HOTEL APA 😳😳😳”
Ayu:
“KAMU KE ISTANA?”
Vhiena menutup mulut menahan tawa.
Vhiena:
“Cuma hotel.”
Lala:
“CUMA HOTEL KATANYA.”
Ayu:
“ANAK ITU SIAPA SIH SEBENARNYA.”
Vhiena berhenti mengetik. Ia menatap layar sebentar… lalu mematikan ponsel. Bukan karena marah. Bukan karena ingin menyembunyikan. Ia hanya ingin malam ini utuh. Tanpa gangguan.
SUNYI YANG NYAMAN
Vhiena meletakkan ponsel di meja, lalu berdiri.
Rizuki menoleh. “Kamu tidak apa-apa?”
Vhiena mengangguk. “Aku hanya ingin… malam ini berjalan dengan pelan.”
Rizuki mengerti. Ia duduk di kursi dekat meja, mengambil cangkir tehnya. “Tehnya sudah dingin sedikit,” katanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Vhiena sambil duduk di sofa. “Hangatnya masih terasa.”
Mereka terdiam sejenak. Tidak canggung. Tidak dipaksakan. Hanya dua orang yang membiarkan malam mengalir.
“Avermont…” ucap Vhiena pelan. “Tempat ini seperti berhenti.”
Rizuki mengangguk. “Itu juga yang aku rasakan pertama kali ke sini.”
Vhiena menoleh. “Kamu pernah ke sini sebelumnya?”
“Pernah.” jawab rizuki yang beranjak berdiri
“Sendirian?” lanjut tanya vhiena.
“Iya.” rizuki mengangguk kecil dan memandang ke arah vhiena.
Vhiena tersenyum tipis. “Sekarang tidak.”
Rizuki menatap cangkirnya, lalu mengangguk pelan.
CERITA MASA KECIL
" Ki.... " Beberapa menit berlalu sebelum Vhiena bicara lagi. “Aku belum pernah cerita banyak tentang aku, ya?”
Rizuki menoleh. “Kamu tidak harus.”
“Aku mau.” Vhiena menarik napas. “Aku tumbuh di rumah yang sama sejak kecil,” katanya pelan. “Tidak besar, tapi hangat.” Ia tersenyum kecil saat mengingatnya.
“Ayahku sering pulang malam. Ibu selalu menunggu. Kadang aku tertidur di sofa, nunggu Ayah.”
Rizuki mendengarkan. Tidak menyela.
“Waktu aku kelas empat SD,” lanjut Vhiena, “aku ketemu Ayu dan Lala.”
Ia tertawa kecil. “Mereka berisik dari hari pertama.”
Rizuki membayangkan—dan entah kenapa, ia bisa melihatnya jelas.
“Ayu dan Lala bukan berasal dari kota ini,” kata Vhiena. “Mereka dari kota kecil bernama Ravelin.”
Vhiena berhenti sejenak. “Ravelin itu kota di pinggiran distrik utara. Tidak banyak pabrik. Tidak banyak sekolah bagus.”
Rizuki menatapnya lebih serius.
“Ayahku berasal dari sana,” lanjut Vhiena.b“Dia tahu rasanya hidup di tempat yang serba terbatas.” Vhiena memeluk bantal kecil di sofa.
“Orang tua Ayu dan Lala… tidak mampu membiayai sekolah mereka di kota ini. Jadi Ayahku bilang—mereka boleh tinggal di rumah kami.”
Rizuki terdiam.
“Bukan sebagai pembantu,” tegas Vhiena. “Tapi sebagai keluarga.”
Ia menoleh pada Rizuki, matanya jujur. “Ayah yang membiayai sekolah mereka berdua. Dari SMP sampai sekarang.”
Rizuki menghela napas pelan.
“Dan Ayah tidak pernah merasa itu beban,” lanjut Vhiena. “Katanya… ilmu itu harus sampai ke siapa pun.”
POIN YANG TERTANGKAP.
Rizuki tidak langsung menjawab. Pikirannya bergerak cepat— bukan pada perasaan, tapi pada pola. Pinggiran distrik. Kota kecil. Akses pendidikan terbatas. Orang tua yang tidak mampu.
Ia mengangkat wajahnya. “Masih banyak tempat seperti Ravelin,” katanya pelan.
Vhiena mengangguk. “Aku tahu.”
Rizuki menatap jendela, kabut yang bergerak seperti tirai putih. “Di negeri ini,” lanjutnya, “kemajuan sering berhenti di pusat kota.”
Vhiena terkejut mendengar nada itu. “Kamu sering memikirkan hal seperti itu?” tanyanya.
Rizuki tersenyum kecil. “Mungkin lebih sering dari yang terlihat.”
Vhiena menoleh kembali padanya.
“Ayahmu orang baik.” kata rizuki yang menatap ke arah luar dengan pandangan tajam.
Vhiena tersenyum, matanya sedikit berkaca. “Aku tahu.”
MALAM SEMAKIN DALAM
Jam menunjukkan hampir tengah malam. Lampu kamar diredupkan. Mereka berdiri, bersiap tidur. Vhiena berhenti sejenak sebelum menuju tempat tidurnya. “Terima kasih,” kata vhiena pelan.
“Untuk apa?” tanya rizuki sedikit kaget.
“Untuk mendengarkan.” ucap vhiena yang mulai merebahkan diri dan mengenakan selimut tebal.
Rizuki mengangguk. “Terima kasih juga… sudah bercerita.”
Mereka berbaring di tempat tidur masing-masing. Lampu dimatikan sepenuhnya. Hanya cahaya bulan yang menyelinap lewat tirai tipis.
“Ki,” suara Vhiena terdengar pelan di gelap. “Kamu belum cerita tentang dirimu.”
Rizuki menatap langit-langit. “Suatu hari,” katanya.
Vhiena tersenyum dalam gelap. “Aku tunggu.”
Kabut Avermont menebal di luar. Di dalam kamar, dua pikiran berjalan ke arah yang sama— tentang masa depan, tentang jarak, tentang tanggung jawab yang belum terucap. Dan di benak Rizuki, satu hal tertanam kuat:
Masih ada negeri yang harus dijangkau.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/