Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Sore harinya setalah selasai makan sore menjelang malam Abah duduk santai di kursi, menatap Nadira dengan tatapan yang sulit ditebak.
Nadira menyipitkan mata.
“Bah… jangan lihat Nadira begitu”
“Begitu bagaimana?” Abah pura-pura tidak mengerti.
“Seperti ada rencana”
Abah terkekeh pelan.
“Kalau Abah mau kenalkan seseorang… bagaimana?”
Nadira langsung menegakkan badan
“Kenalkan siapa?”
Mama membuka mata sedikit, senyum tipis muncul lagi.
“Nah, akhirnya ditanya juga”
“Ma… jangan kompak gitu dong” keluh Nadira.
Abah melipat tangan di dada.
“Di kampung ini, ada anak teman lama Abah”
Nadira langsung memotong,
“Bah, jangan bilang anak konglomerat”
Abah tertawa.
“Bukan ini bukan soal harta”
“Terus soal apa?”
“Soal akhlak”
Mama mengangguk pelan.
“Dia sering bantu Abah anaknya juga sopan nggak banyak bicara. Kerjanya juga jelas”
Nadira menghela napas panjang.
“Kenapa setiap orang tua selalu punya kandidat rahasia?”
Abah tersenyum.
“Karena orang tua selalu memikirkan masa depan anaknya”
Nadira menyilangkan tangan.
“Dira baru sampai tadi pagi. Baru nangis. Baru resign. Sekarang sudah masuk sesi perjodohan?”
Mama tertawa kecil sampai batuk ringan.
“Nggak langsung dinikahkan, Dira. Kenalan dulu saja”
“Kenalan itu awal dari dijebak” gumam Nadira.
Abah pura-pura tersinggung.
“Abah ini mau menjebak anak sendiri?”
“Sedikit” jawab Nadira spontan.
Mama menatap Nadira lembut.
“Kamu takut kenal orang baru?”
Nadira terdiam.
Bukan takut kenal orang baru.
Tapi ia takut hatinya belum siap berbagi ruang.
“Dira cuma belum kepikiran, Ma”
Abah bersandar santai
“Namanya juga kenalan bukan akad langsung”
Nadira memandang Abah dengan wajah setengah pasrah.
“Namanya siapa?”
Mama dan Abah saling pandang.
Abah menjawab pelan
“Raka”
Nama itu terdengar asing tapi hangat
“Umurnya?” tanya Nadira cepat
“Dua puluh sembilan,” jawab Abah
“Kerja?”
“Arsitek. Sekarang pegang proyek pembangunan sekolah di kota sini”
Nadira mencoba tetap tenang
“Dia tahu tentang… Dira?”
Mama tersenyum penuh arti
“Tahu sedikit. Tentang kamu kerja di Jakarta, mandiri, anak satu-satunya”
“Dan dia tetap mau dikenalkan?” Nadira mengerutkan dahi
Abah tertawa kecil.m
“Justru katanya dia ingin kenal perempuan yang punya prinsip”
Hati Nadira sedikit terusik
“Kalau Dira nolak?”
Mama menjawab pelan
“Mama tidak akan marah”
Abah mengangguk.
“Tapi setidaknya beri kesempatan”
Ruangan kembali hening beberapa detik
Nadira menatap Mama yang masih terbaring dengan infus.
Menatap Abah yang kini terlihat berharap tapi tidak memaksa.
Ia menarik napas panjang.
“Kenalan saja” ucapnya akhirnya.
Mama langsung tersenyum lebar
“Serius?”
“Kenalan saja Tidak lebih”
Abah berdiri pelan, wajahnya sulit menyembunyikan rasa puas.
“Baiklah. Nanti kalau Mama sudah lebih sehat, kita atur waktu”
Nadira cepat-cepat menambahkan,
“Tapi jangan dadakan”
Mama terkekeh pelan
“Anak Mama ini tetap keras kepala”
Nadira tersenyum tipis
Malam turun perlahan di kota kecil itu. Lampu-lampu lorong rumah sakit mulai diredupkan. Suara langkah perawat terdengar sesekali, selebihnya hanya bunyi mesin infus dan detak monitor yang stabil
Di dalam ruang perawatan, Mama Ayu sudah tertidur lebih nyenyak setelah minum obat
Nadira berdiri memandangi Mama beberapa saat, lalu menoleh pada Abah Adi
“Bah… Nadira nggak pulang ke rumah malam ini”
Abah mengangkat wajahnya
“Kenapa? Rumah kosong kok. Aman”
Nadira menggeleng cepat
“Nggak mau. Takut”
Abah tersenyum samar
“Takut apa”
“Takut kepikiran macam-macam”
Abah menatap putrinya beberapa detik, lalu tertawa kecil
“Kamu itu tujuh tahun tinggal sendiri di Jakarta. Kos sendirian. Pulang malam sendirian. Sekarang takut rumah sendiri”
Nadira meringis
“Itu beda”
“Bedanya apa”
“Kalau di Jakarta… Nadira nggak mikirin Mama lagi sakit”
Abah terdiam sejenak. Wajahnya melembut
“Ya sudah. Kita temani Mama di sini”
Nadira langsung mengangguk lega
Di sudut ruangan ada sofa kecil untuk penunggu pasien. Tidak terlalu nyaman, tapi cukup untuk duduk dan merebahkan badan
Abah menggelar tikar tipis yang biasa ia bawa setiap menjaga Mama
Nadira langsung protes
“Bah, Abah tidur di sofa saja. Nadira di bawah”
Abah menggeleng tegas
“Tidak. Kamu capek dari perjalanan jauh”
“Nadira masih muda”
“Justru karena masih muda, jangan sok kuat” jawab Abah santai
Nadira mendesah pelan
“Bah…”
Abah menatapnya lembut
“Abah sudah biasa begini. Waktu kamu kecil dan demam semalaman, Abah juga tidur di lantai”
Kalimat itu membuat Nadira terdiam
Ia perlahan duduk di sofa
“Bah… maaf ya”
“Maaf apa lagi”
“Selama ini jarang pulang. Jarang tahu kondisi rumah”
Abah merapikan tikarnya
“Kamu tidak salah karena mengejar mimpi”
“Tapi Nadira seperti meninggalkan rumah”
Abah tersenyum tipis
“Rumah itu tidak ditinggalkan. Rumah itu dituju”
Nadira terdiam, mencerna kata-kata itu
Lampu kamar diredupkan. Hanya cahaya kecil dari lorong yang masuk melalui celah pintu
Beberapa menit hening
Lalu Nadira berbisik pelan
“Bah…”
“Iya”
“Abah capek”
Abah terkekeh
“Kalau dibilang tidak capek, bohong. Tapi melihat kamu di sini… capeknya berkurang”
Nadira tersenyum dalam gelap
“Bah… kalau nanti Mama sudah sembuh, Abah mau Dira kerja lagi nggak”
Abah tidak langsung menjawab
“Kamu mau kerja lagi”
“Aku… belum tahu”
Abah menghela napas pelan
“Abah tidak pernah melarang kamu kerja jauh. Abah hanya tidak mau kamu merasa sendirian”
“Tapi Nadira memang sendirian di sana”
“Badanmu mungkin sendirian” kata Abah lembut “Tapi doa kami selalu ikut”
Mata Nadira kembali terasa panas
Beberapa detik kemudian, ia berkata lagi
“Bah… soal Raka tadi…”
Abah tertawa pelan di bawah
“Belum juga ketemu sudah kepikiran”
“Bukan begitu”
“Lalu”
“Nadira cuma takut Mama berharap terlalu jauh”
Abah terdiam sebentar sebelum menjawab
“Mama berharap kamu bahagia. Itu saja”
“Kalau Nadira belum siap menikah”
“Tidak ada yang memaksa”
“Kalau Raka ternyata tidak cocok”
“Ya tidak dilanjutkan”
Jawaban Abah tenang, tidak dramatis
Nadira tersenyum tipis
“Kenapa Abah santai sekali”
Abah tertawa kecil
“Karena jodoh itu bukan proyek yang harus selesai bulan ini”
Nadira hampir tertawa keras tapi menahan diri karena takut membangunkan Mama
Beberapa menit berlalu dalam diam
Tiba-tiba Nadira berkata pelan
“Bah…”
“Iya, Dira”
“Terima kasih”
“Untuk apa”
“Untuk tidak pernah memaksa”
Abah menjawab lembut
“Orang tua tugasnya mengingatkan bukan mengendalikan”
Kata-kata itu menenangkan hati Nadira lebih dari apa pun
Ia merebahkan tubuh di sofa, menarik selimut tipis sampai dada
Dari tempatnya, ia bisa melihat Mama yang tertidur dan Abah yang berbaring di tikar
Rasanya aneh
Di Jakarta, ia selalu tidur sendiri tanpa masalah
Tak pernah takut
Tak pernah merasa sepi
Tapi malam ini, ia tidak ingin sendiri
Bukan karena takut gelap
Melainkan karena hatinya baru saja pulang
Beberapa saat kemudian, suara Abah terdengar pelan
“Dira”
“Iya, Bah”
“Besok pagi Raka mau menjenguk”
Nadira langsung membuka mata lebar-lebar dalam gelap
“Apa”
Abah tertawa kecil
“Katanya cuma ingin mendoakan Mama”
“Bah, ini namanya jebakan”
“Bukan jebakan. Kebetulan yang direncanakan” jawab Abah santai
Nadira mendesah panjang
“Ya Allah…”
Abah tersenyum dalam gelap
“Tidur saja. Besok kamu perlu tenaga. Bukan cuma untuk Mama”
Nadira memutar mata walau tak terlihat
Beberapa menit kemudian, ruangan benar-benar sunyi
Nadira menatap langit-langit
Hidupnya berubah dalam dua hari
Resign
Pulang
Mama sakit
Dan sekarang… ada seseorang bernama Raka yang akan muncul
Ia menutup mata perlahan
“Ya Allah… kalau memang ada jalan terbaik, tolong mudahkan” bisiknya pelan
Di lantai, Abah tersenyum kecil mendengar bisikan itu
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai ruang perawatan. Suara troli perawat dan langkah kaki di lorong membuat Nadira perlahan membuka mata
Beberapa detik ia lupa di mana berada
Lalu ia melihat Mama di ranjang
Melihat Abah masih duduk bersandar di dinding dengan tasbih di tangan
“Bah… Abah nggak tidur” tanya Nadira pelan sambil bangkit dari sofa
Abah tersenyum
“Tidur sebentar. Kamu”
“Lumayan”
Mama bergerak pelan dan membuka mata
“Dira…”
Nadira langsung mendekat
“Iya, Ma. Dira di sini”
Mama tersenyum lebih segar dari kemarin
“Kamu jangan kusut begitu. Rambutnya berantakan”
Nadira tertawa kecil
“Baru bangun, Ma”
Abah berdiri dan berkata santai
“Nanti ada tamu”
Nadira langsung berhenti tersenyum
“Bah…”
Mama ikut tersenyum penuh arti
“Jangan cemberut dulu. Dia cuma mau menjenguk”
“Kenapa harus hari ini” Nadira berbisik setengah protes
Abah menjawab ringan
“Karena kebetulan dia memang sering datang ke rumah sakit ini. Proyeknya dekat sini”
Belum sempat Nadira membalas, terdengar ketukan pelan di pintu
Tok tok
Jantung Nadira langsung berdetak lebih cepat
“Masuk” kata Abah