Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Titik Nol di Balik Kabut
Ketukan keras di pintu kayu jati itu terdengar sangat kuat dan membuat Adrian terkejut. Getarannya terasa sampai ke lantai dan ujung sepatunya yang masih kotor oleh lumpur. Di bawah cahaya lampu petromak yang bergoyang, bayangan Sekar terlihat memanjang di dinding. Ia tampak tenang tetapi tetap waspada. Ia tidak berteriak dan tidak panik. Justru, wanita itu segera mematikan lampu petromak dengan cepat, membuat ruangan langsung gelap gulita.
“Jangan berisik,” bisik Sekar. Suaranya terdengar sangat dekat di telinga Adrian. Adrian mencium aroma teh yang samar. Jantungnya berdetak sangat cepat, sesuatu yang jarang ia rasakan saat berada di ruang rapat di Jakarta, tempat semua risiko biasanya sudah diperhitungkan dengan jelas. Di sini, dalam suasana Malabar yang sunyi dan menegangkan, ia sadar bahwa dirinya bukan lagi orang yang menguasai keadaan. Ia hanya orang yang lemah dan mudah diserang, terjebak di rumah panggung yang rapuh.
"Buka pintunya, Tuan Muda! Kami tahu kau punya dokumen itu!" Teriak suara serak dari luar, diikuti oleh suara gesekan logam yang memilukan. Mereka mencoba merusak engsel pintu. "Siapa mereka?" bisik Adrian, suaranya bergetar meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tenang.
"Lintah darat yang jauh lebih berbahaya daripada kurator berjas tadi pagi," jawab Sekar lirih. Ia menarik lengan Adrian, memaksanya untuk menunduk dan berjalan pelan menuju bagian belakang rumah yang menuju ke arah dapur. "Mereka tidak peduli pada hukum penyitaan. Mereka hanya peduli pada apa yang terkubur di bawah tanah ini."
Adrian teringat catatan kecil di pojok dokumen ayahnya: Kuncinya ada di bawah pohon teh induk, di titik nol koordinat. "Sekar, di mana titik nol perkebunan ini?" tanya Adrian mendesak saat mereka merangkak di bawah bayang-bayang meja kayu besar. Sekar terhenti sejenak. Dalam kegelapan, Adrian bisa merasakan tatapan wanita itu menyelidikinya. "Kenapa kau bertanya tentang itu?"
“Ayahku meninggalkan sebuah pesan. Ini bukan cuma soal utang perusahaan. Kalau mereka sampai mencari dokumen ini, berarti mereka tahu apa yang tersembunyi di bawah sana.” Tiba-tiba, pintu depan didobrak hingga rusak, suaranya terdengar seperti ledakan kecil. Kayu pecah berantakan, dan langkah-langkah berat sepatu bot terdengar masuk ke ruang tamu yang tadi mereka tempati. Cahaya senter mulai bergerak menyusuri ruangan, menerangi kegelapan.
"Cepat, lewat sini!" Sekar membuka sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik lemari penyimpanan beras. Itu adalah tangga darurat menuju ke bagian bawah rumah panggung yang terbuka. Mereka turun dengan terburu-buru. Udara di bawah sana jauh lebih dingin dan lembap. Tanah merah yang basah segera mengotori jas Adrian yang sudah berantakan. Tanpa menunggu aba-aba, Sekar menarik Adrian masuk ke dalam barisan tanaman teh yang rimbun. Semak-semak teh yang setinggi pinggang itu menjadi benteng alami yang bisa melindungi mereka dari sorotan lampu senter yang kini mulai muncul dari arah beranda rumah.
Mereka berlari dalam diam, membelah kabut yang semakin tebal. Adrian merasa paru-parunya mulai terbakar karena udara tipis pegunungan. Berkali-kali ia tersandung akar pohon, namun Sekar selalu menariknya bangun. Wanita itu bergerak dengan kelincahan seorang penghuni hutan; ia tahu persis setiap lekuk tanah dan setiap dahan yang menjuntai.
Setelah hampir lima belas menit berlari mendaki, Sekar dan Adrian berhenti di depan sebuah pohon teh raksasa yang tampak berbeda dari yang lain. Batangnya tebal dan berlumut, dahannya melebar seperti payung tua yang melindungi area sekitarnya dari kabut. Inilah pohon teh induk, leluhur dari seluruh tanaman di perkebunan ini. "Ini titik nol," napas Sekar terengah-engah. "Pusat dari Malabar. Tempat di mana bibit teh pertama kali ditanam seratus tahun lalu."
Adrian segera berlutut di pangkal pohon tersebut. Dengan tangan kosong, ia mulai menggali tanah merah yang lunak. Ia tidak peduli lagi pada kuku-kukunya yang kotor atau luka kecil yang mulai perih di jemarinya. Di bawah lapisan tanah dan akar-akar halus, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Bukan batu, melainkan sebuah logam.
Ia menarik sebuah kotak besi kecil yang terkunci rapat. Di atas penutupnya, terdapat logo keluarga Dirgantara yang sudah berkarat. "Apa isinya?" Sekar mendekat, rasa penasaran kini mengalahkan kewaspadaannya. Adrian tidak sempat menjawab. Dari kejauhan, di bawah bukit, cahaya lampu senter terlihat bergerak menuju posisi mereka. Para pengejar itu tidak bodoh; mereka tahu ke mana arah pelarian yang logis di perkebunan ini.
"Kita harus pergi ke barak petani yang ada di lembah sebelah," ujar Sekar tegas. "Mereka tidak akan berani masuk ke sana jika para warga sudah bangun. Solidaritas petani di sini sangat kuat, mereka tidak akan membiarkan orang luar mengganggu wilayah mereka di malam hari."
Namun, saat mereka hendak beranjak, Adrian menyadari sesuatu yang aneh pada dokumen yang ia bawa. Di bawah cahaya rembulan yang sesekali menembus kabut, ia melihat bahwa tanda tangan ayahnya di dokumen audit tadi perlahan memudar, digantikan oleh barisan angka-angka koordinat baru yang hanya muncul saat terkena suhu dingin pegunungan.
"Ini tinta termal," gumam Adrian takjub. "Ayah tidak ingin siapa pun membaca koordinat aslinya kecuali jika mereka benar-benar berada di lokasi ini." Ia membandingkan angka di dokumen dengan angka yang terukir di sisi kotak besi yang baru saja ia temukan. Mereka cocok secara presisi. Namun, ada satu hal yang membuat bulu kuduknya berdiri. Koordinat terakhir di dokumen itu bukan menunjuk ke bawah tanah, melainkan menunjuk ke sebuah lokasi yang berjarak tiga kilometer ke arah puncak... ke sebuah bangunan yang tidak terdaftar di peta mana pun.
“Sekar, sebenarnya apa yang ada di atas sana? Di puncak bukit yang tertutup hutan itu?” tanya Adrian sambil menunjuk ke arah puncak Gunung Malabar yang terlihat gelap dan menyeramkan.
Wajah Sekar langsung berubah. Ia tampak benar-benar takut.
“Itu daerah yang dilarang dimasuki. Orang desa menyebutnya ‘Hutan Larangan’. Ayahmu pernah membangun laboratorium kecil di sana beberapa tahun lalu, tapi tempat itu ditutup rapat setelah terjadi kecelakaan yang menewaskan beberapa pekerja.” "Kecelakaan?" “Katanya sih ledakan gas, begitu menurut laporan resmi. Tapi warga percaya ada sesuatu yang keluar dari dalam tanah. Sesuatu yang membuat tanaman teh di daerah itu tumbuh sangat cepat, tapi rasanya jadi pahit sekali.”
Adrian teringat syarat wasiatnya: Hasilkan teh Grade A. Sekarang ia mengerti. Teh Grade A itu bukan soal teknik memetik atau pemupukan biasa. Ada sebuah rahasia ilmiah atau mungkin sesuatu yang lebih gelap yang sedang dikembangkan ayahnya di puncak gunung itu.
Tiba-tiba, suara retakan dahan terdengar sangat dekat di belakang mereka.
"Berikan kotaknya, Adrian!" Suara itu bukan lagi dari pemimpin pengejar tadi. Itu adalah suara yang sangat dikenal Adrian. Suara yang tenang, berwibawa, dan dingin.Adrian dan Sekar berbalik perlahan. Di hadapan mereka, berdiri sosok pria paruh baya dengan pakaian taktis yang rapi. Ia memegang sebuah senter besar yang cahayanya menyilaukan mata. Di sampingnya berdiri dua pria berbadan tegap yang memegang senjata api.
“Baskara?” Adrian terdiam. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bilang akan membantuku di Jakarta.” Pengacara tua itu tersenyum kecil, tapi senyumnya justru membuat Adrian merasa takut. “Aku memang membantumu, Adrian. Aku membantumu menemukan kotak itu. Ayahmu itu orangnya pelit dan egois. Dia menyimpan semua kunci kekayaan ini hanya untuk dirinya sendiri dan anak kesayangannya yang tidak tahu apa-apa. Selama tiga puluh tahun aku bekerja untuk dia, aku cuma dianggap seperti suruhan.”
“Jadi kamu yang membocorkan keadaan perusahaan ke kurator? Kamu yang menghancurkan ayahku?” suara Adrian bergetar karena marah.
“Aku cuma mempercepat sesuatu yang memang sudah pasti terjadi,” jawab Baskara dengan tenang. “Sekarang, serahkan kotak itu dan dokumen koordinatnya. Kalau kamu mau bekerja sama, mungkin aku akan membiarkan kamu dan gadis ahli tanaman ini tetap hidup dan tinggal sebagai petani kecil di desa. Itu pensiun yang cukup adil, kan?”
Sekar berdiri di depan Adrian, tangannya masih memegang pisau kecil yang ia ambil dari dapur. “Dia tidak akan memberikan apa pun padamu, pengkhianat,” katanya. Baskara tertawa pelan, suaranya terdengar jelas di antara pohon-pohon teh. “Berani juga kamu, gadis kecil. Tapi sayangnya, keberanian tidak bisa menghentikan peluru. Adrian, aku hitung sampai tiga. Serahkan kotaknya, atau aku akan mulai dengan menembak kaki asistenmu ini.”
"Satu..."
Adrian berpikir keras. Ia tidak punya senjata dan tidak ada cara untuk melindungi diri. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu. Mereka sedang berdiri tepat di atas tempat penting, yaitu bagian dari sistem irigasi otomatis lama yang ia lihat di gambar rancangan tadi sore. Ia ingat ada sebuah katup untuk melepaskan tekanan air yang sangat kuat, dan letaknya tepat di bawah akar pohon teh besar.
"Dua..."
Adrian tidak menatap Baskara. Ia menatap ke arah katup logam yang tersembunyi di balik tumpukan daun kering dekat kaki salah satu pengawal Baskara.
"Tiga!"
Saat pengawal itu hampir menembak, Adrian langsung menendang tuas katup itu sekuat mungkin. Tiba-tiba, uap panas dan air bertekanan tinggi menyembur keluar dari dalam tanah dengan suara keras. Kabut putih yang panas langsung memenuhi area itu dan membuat semua orang tidak bisa melihat dengan jelas.
"Lari!" Teriak Adrian.
Adrian langsung menarik tangan Sekar dan mereka berlari lalu melompat ke arah lereng yang curam. Mereka meluncur turun dalam gelap, sementara suara tembakan asal-asalan terdengar dari atas, menembus kabut uap. Mereka jatuh dan berguling di antara semak-semak teh, tidak peduli dengan rasa sakit atau luka akibat ranting. Sampai akhirnya mereka terperosok ke dalam parit irigasi yang airnya sangat dingin.
Mereka terengah-engah, basah kuyup, dan menggigil. Di tangan Adrian, kotak besi itu masih tergenggam erat. Namun, saat ia melihat ke arah kotak itu, ia menyadari penutupnya sedikit terbuka akibat benturan saat jatuh tadi.
Di dalam kotak itu bukan ada emas, berlian, atau surat-surat saham. Isi kotak itu adalah sebuah tabung kaca kecil berisi cairan berwarna perak mengkilap yang terlihat berkilauan terkena cahaya bulan, serta sebuah surat kecil yang ditulis tangan oleh ayahnya dengan tinta merah.
Adrian membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Adrian, kalau kamu membaca surat ini, berarti Baskara sudah menunjukkan sifat aslinya. Cairan di dalam tabung ini bukan cuma pupuk biasa. Ini adalah sisa dari Proyek Malabar tahun 1998. Kalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah, dunia tidak hanya akan menghadapi masalah teh, tapi juga masalah besar bagi manusia. Hancurkan tabung ini di Puncak Malabar, atau gunakan untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur. Adrian menatap tabung itu dengan takut. Dari kejauhan, ia mendengar suara anjing pelacak mulai menggonggong. Baskara pasti tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan cairan perak itu.
"Apa itu, Adrian?" tanya Sekar, suaranya parau karena kedinginan.
Adrian menatap Sekar, mencoba memastikan apakah ia masih bisa mempercayai wanita itu. “Ini bisa jadi akhir dari semuanya, atau justru awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.” Tiba-tiba, dari arah puncak gunung yang dilarang, muncul cahaya biru terang yang memancar ke langit dan menerangi awan gelap. Pada saat yang sama, tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar seperti gempa kecil.
Sesuatu di laboratorium tua itu baru saja menyala kembali dan itu bukan karena mereka. Siapakah yang mengaktifkan laboratorium di puncak gunung, dan rahasia mengerikan apa yang sebenarnya disimpan ayah Adrian di balik kedok perkebunan teh yang damai ini?
Cahaya biru dari puncak gunung makin terang, seolah memberi tanda bahwa Adrian tidak punya banyak waktu lagi. Baskara masih mengejarnya dari belakang, dan cairan perak misterius itu ada di tangannya.
Adrian harus memilih: apakah ia akan kabur untuk menyelamatkan diri, atau justru naik ke puncak gunung dan menghadapi bahaya untuk menyelesaikan sesuatu yang dulu dimulai ayahnya?
semangat update terus tor..