NovelToon NovelToon
Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Obsesi Gala Pada Gadis Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.

Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.

Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?

#areakhususdewasa ⚠️



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Sisa-Sisa Rahasia di Locker Tua

Malam semakin larut ketika Kella akhirnya sampai di depan pintu kontrakannya. Tumitnya sudah berdarah, lecet karena sepatu pinjaman yang terlalu keras untuk dipakai berjalan sejauh itu. Namun, rasa perih di kakinya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Informasi yang saling bertabrakan antara apa yang ia tahu dan apa yang Gala percayai menciptakan lubang besar di pikirannya.

Kecelakaan mobil? Pulang sekolah? Kella mengingat kembali hari itu, tiga tahun yang lalu. Ia ingat duduk di bangku kayu rumah sakit yang dingin, menunggu dokter keluar untuk memberitahunya bahwa jantung Gabriel telah berhenti berdetak karena komplikasi paru-paru yang parah akibat kekurangan gizi dan kelelahan. Tidak ada supir pribadi, tidak ada mobil mewah. Hanya ada mayat seorang remaja laki-laki di atas brankar berkarat.

Ia masuk ke kamar, melepaskan gaun biru itu dengan sangat hati-hati, lalu menggantungnya. Ia kembali menjadi Kella yang lama—Kella dengan kaos oblong pudar dan celana kain yang tipis. Ia merebahkan tubuhnya, namun matanya menatap langit-langit kamar yang berjamur.

"Siapa sebenarnya kamu, Biel?" bisiknya pada kegelapan.

Keesokan harinya, Pukul 07.00 WIB.

Kella berdiri di gerbang sekolah. Sesuai perkiraannya, mobil Audi Gala tidak muncul menjemputnya di halte pagi ini. Setelah kejadian semalam, Kella tahu Gala butuh waktu untuk mencerna segalanya. Namun, ketidakhadiran Gala justru menjadi lampu hijau bagi para perundung lainnya.

"Loh, mana pangeranmu?"

Suara melengking Sarah menyambut Kella saat ia baru saja melewati gerbang. Di belakang Sarah, ada Reno dan tiga siswa lainnya yang sedang tertawa sambil merokok sembunyi-sembunyi di balik pos satpam.

"Denger-denger semalam lo diturunin di pinggir jalan raya ya?" Reno melangkah maju, menghalangi jalan Kella. "Gala udah bosen sama lo? Ternyata cuma semalam doang tahannya?"

Kella mencoba mengabaikan mereka, namun Reno menarik tas ranselnya dengan kasar hingga Kella terhuyung ke belakang.

"Jangan lewat dulu. Kita belum dapet setoran asisten," ujar Reno. Ia mengambil botol minuman kaleng yang baru setengah diminum, lalu dengan sengaja menjatuhkannya tepat di atas sepatu Kella. Cairan lengket itu membasahi kain sepatunya.

Kella menatap sepatunya yang basah, lalu menatap Reno dengan pandangan datar yang kosong.

"Sudah?"

"Wah, nantang nih anak!" Reno hendak mengangkat tangannya, namun sebuah klakson motor yang nyaring memecah suasana.

Gala sampai dengan motor sportnya. Namun, kali ini ia tidak membuka kaca helm. Ia langsung memarkirkan motor dan berjalan melewati kerumunan itu tanpa melihat ke arah Kella maupun Reno. Aura yang dipancarkannya begitu gelap dan dingin, bahkan Reno yang biasanya paling berani pun memilih untuk mundur satu langkah.

"Gala! Lo nggak mau urusin asisten lo ini?" teriak Reno.

Gala berhenti sejenak, namun ia tetap tidak menoleh. "Lakuin apa aja yang kalian mau. Gue lagi nggak minat main."

Dunia Kella seolah runtuh. Perlindungan yang kemarin sempat ia rasakan—meski dalam bentuk paksaan—kini ditarik kembali. Gala benar-benar meninggalkannya di tengah serigala.

Sepanjang jam pelajaran, suasana di kelas terasa sangat tegang. Gala duduk di baris paling depan, tapi dia tidak menyuruh Kella melakukan apa-apa. Dia tidak meminta catatan, tidak menyuruh membeli makanan, bahkan tidak menoleh ke belakang sama sekali. Kella merasa seperti bayangan yang benar-benar tidak terlihat.

Namun, saat istirahat tiba, saat semua orang keluar kelas, Kella melihat Gala mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya. Ia melihat Gala berjalan menuju deretan locker tua di belakang kelas yang sudah jarang dipakai—locker yang seharusnya milik siswa-siswa tahun sebelumnya yang belum sempat dikosongkan.

Gala berhenti di depan sebuah locker dengan nomor 07. Nomor yang sama dengan meja di kafe maid.

Dengan tangan yang tampak sedikit gemetar, Gala mencoba memasukkan kunci itu. Kella memperhatikan dari tempat duduknya, berpura-pura menulis. Ia melihat Gala membuka pintu besi itu yang berderit nyaring.

Gala terdiam cukup lama di depan locker itu. Dari tempat duduknya, Kella bisa melihat bahu pria itu menegang. Gala mengambil sebuah benda dari dalam sana—sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah usang.

Tiba-tiba, Gala menoleh dan menangkap basah Kella yang sedang memperhatikannya. Matanya memancarkan kemarahan yang bercampur dengan kebingungan. Ia membanting pintu locker itu dan berjalan cepat menuju Kella.

"Ikut gue," desis Gala.

Mereka berakhir di gudang olahraga yang sepi di belakang gedung sekolah. Gala mengunci pintu dari dalam, lalu melempar buku catatan kecil itu ke dada Kella.

"Buka halaman terakhir," perintah Gala.

Kella membuka buku itu dengan tangan gemetar. Itu adalah buku harian. Di halaman terakhir, terdapat tulisan tangan yang sangat rapi. Tulisan tangan yang Kella kenal dengan sangat baik.

15 Agustus 2022. Aku harus pergi. Ayah sudah tahu kalau aku sering menyelinap ke panti asuhan. Dia bilang aku memalukan nama Alangkara karena berteman dengan orang-orang kumuh. Dia mengancam akan menutup panti itu jika aku tidak setuju untuk dikirim ke luar negeri. Tapi aku tidak akan ke luar negeri. Aku akan lari. Biar mereka pikir aku sudah mati dalam kecelakaan yang mereka atur sendiri untuk menutupi aib keluarga. Gala, maafkan Kakak. Kamu harus kuat sendirian di sana.

Kella menutup mulutnya. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung.

"Ayahmu..." suara Kella tercekat. "Ayahmu memalsukan kematiannya?"

Gala bersandar di tumpukan matras, wajahnya tertutup bayangan. "Bukan cuma memalsukan kematiannya. Dia menghapus keberadaan kakak gue seolah-olah dia nggak pernah ada kecuali sebagai sosok pahlawan yang sempurna di mata publik. Dia nyuruh supir itu buat nabrakin mobil kosong ke jurang, lalu ngasih identitas baru buat kakak gue sebagai anak yatim piatu biar dia nggak bisa balik lagi ke keluarga ini."

Gala tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyakitkan. "Jadi selama ini, kakak gue beneran ada di panti asuhan itu. Dia beneran hidup menderita sementara gue di sini hidup dalam kemewahan yang palsu. Dan lo... lo adalah satu-satunya orang yang tahu kebenarannya selama ini."

Gala berdiri dan mendekat ke arah Kella. Ia menarik kerah baju Kella, tapi kali ini tidak ada kekerasan dalam sentuhannya. Hanya ada kerapuhan yang luar biasa.

"Kenapa lo nggak bilang dari awal? Kenapa lo biarin gue benci nama dia?!"

"Aku tidak tahu kalau dia kakakmu, Gala! Dia tidak pernah bilang kalau dia seorang Alangkara! Dia cuma bilang namanya Gabriel, anak yang dibuang oleh orang tuanya!" teriak Kella dalam tangisnya.

Gala melepaskan Kella, lalu ia jatuh terduduk di lantai gudang yang berdebu. Pria yang selama ini terlihat begitu berkuasa, kini terlihat begitu kecil.

"Dia meninggal karena aku, Gala," bisik Kella sambil ikut berlutut di samping Gala. "Dia bekerja terlalu keras di kafe, di pasar, di mana saja untuk membiayai sekolahku juga. Dia sakit paru-paru karena sering kehujanan saat mengantarku pulang. Kalau saja aku tahu dia punya keluarga kaya, aku pasti sudah memaksanya pulang..."

Gala menoleh, menatap Kella. Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di mata itu. Hanya ada kesedihan yang sama. Dua orang yang mencintai orang yang sama, kini dipersatukan oleh sebuah rahasia yang mengerikan.

"Bokap gue... dia harus bayar semua ini," ucap Gala dengan nada yang sangat rendah namun penuh dengan janji pembalasan.

Gala menatap Kella lagi. "Rahasia maid lo... gue nggak peduli lagi soal itu. Tapi lo harus bantu gue. Kita harus cari tahu di mana dia dimakamkan. Gue mau liat dia sekali lagi, walaupun cuma gundukan tanah."

Kella mengangguk pelan. "Aku akan mengantarmu."

Namun, percakapan mereka terhenti ketika pintu gudang digedor dari luar dengan keras.

"Gala? Lo di dalam? Gue denger suara lo!" suara Reno terdengar dari luar. "Woy, jangan asik sendirian dong sama asisten lo!"

Gala berdiri, menghapus air matanya dengan kasar, dan kembali memasang wajah iblisnya. Ia menatap Kella, memberikan isyarat untuk merapikan diri.

"Permainan belum berakhir, Kella. Di depan mereka, kita masih tetap sama. Lo asisten gue, dan gue majikan lo. Jangan sampai mereka curiga kita lagi ngerencanain sesuatu," bisik Gala sebelum membuka pintu.

Saat pintu terbuka, Gala keluar dengan senyum miringnya yang khas. "Kenapa, Ren? Ganggu aja lo."

"Ciee, lama amat di dalem. Ngapain aja?" goda Reno sambil melirik Kella yang keluar dengan mata sembab.

"Biasa, ngajarin dia cara melayani yang bener," jawab Gala santai sambil merangkul bahu Reno,

meninggalkan Kella yang berdiri terpaku.

Kella menyadari bahwa mulai saat ini, ia bukan lagi sekadar asisten yang dirundung. Ia adalah sekutu rahasia sang penguasa sekolah. Dan bersama-sama, mereka akan membongkar kegelapan yang disembunyikan di balik nama besar keluarga Alangkara, hari demi hari, sampai tidak ada lagi kebohongan yang tersisa.

....

1
𝐈𝐬𝐭𝐲
menarik...
𝐈𝐬𝐭𝐲
hadir thor semoga ceritanya gak putus di tengah jalan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!