NovelToon NovelToon
Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Janda / Selingkuh
Popularitas:97.3k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.

Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.

Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.

Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32

Sore itu langit menggantung kelabu ketika Drake berdiri di depan gedung kantor catatan sipil. Bangunan itu tampak biasa saja, namun bagi Drake, langkah menuju pintunya terasa lebih berat dari biasanya.

Ia sudah mengajukan perceraian secara daring. Semua formulir telah diisi, alasan telah dituliskan dengan kalimat yang dingin dan formal—seolah perpisahan bisa diringkas menjadi beberapa paragraf resmi.

Namun kenyataan tak semudah itu.

Setelah duduk berhadapan dengan petugas, Drake baru mengetahui bahwa pengajuan tersebut harus dilengkapi dengan dokumen fisik: salinan akta nikah, kartu keluarga, serta beberapa berkas pendukung lain. Dan semua dokumen itu… berada di rumahnya.

Rumah yang masih ia tempati bersama Zayna.

Drake keluar dari gedung dengan rahang mengeras. Angin sore menyentuh wajahnya, tapi tak mampu meredakan kegelisahan yang bergolak di dalam dada. Ia sudah sampai sejauh ini. Mundur bukan pilihan.

Namun pulang berarti kemungkinan bertemu Zayna.

Dan ia belum siap untuk itu.

Drake menyandarkan tubuhnya pada mobil, menatap kosong ke arah jalan raya. Dalam pikirannya hanya ada satu keputusan: ia harus mengambil berkas itu tanpa bertemu Zayna. Tanpa percakapan. Tanpa pertengkaran. Tanpa tatapan mata yang bisa menggoyahkan tekadnya.

Drake masuk ke dalam mobil. Mesin menyala. Dan dengan satu keputusan dingin, ia mengarahkan kemudi menuju rumah yang sebentar lagi mungkin tak lagi bisa ia sebut sebagai miliknya.

“Selesaikan hari ini,” gumamnya pada diri sendiri.

Karena jika ia menunda lebih lama, ia takut bukan hanya dokumen yang akan ia ambil—melainkan semua pencapaiannya akan sia-sia.

Drake memegang stir kemudinya erat-erat memandangi mobil baru ya yang ia dapat dari Ezme.

“Ya. Ini pilihan yang tepat. Bersama Ezme aku bisa sampai sejauh ini. Bersama Ezme keberuntunganku berubah menjadi lebih baik.”

“Jika aku tetap bertahan dengan Zayna. Aku akan mati miskin au akan mati di tangan para rentenir.”

Drake menekan pedal gas mobil barunya—hadiah dari Ezme atas jabatannya sebagai manajer. Mesin meraung halus, berbeda jauh dari suara kendaraan tuanya dulu. Mobil ini wangi, bersih, dan terasa seperti simbol kehidupan baru.

Kehidupan tanpa Zayna.

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa perceraian ini adalah bentuk balas budi pada Ezme. Kepercayaan sudah diberikan. Dukungan sudah dicurahkan. Dan Drake harus membuktikan bahwa ia serius—bukan pria yang masih terikat masa lalu.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah kecil yang dulu ia banggakan.

Kini, rumah itu tampak kumuh di matanya.

Cat tembok mengelupas. Pagar besi sedikit berkarat. Halaman sempit dipenuhi pot-pot tanaman yang tak lagi terurus. Drake menatapnya lama dari balik kaca mobil. Rahangnya mengeras.

Setelah pertengkaran hebat terakhir—ketika Zayna memergokinya bersama Ezme di jalan— kembali ke rumah terasa seperti medan perang yang belum sepenuhnya reda. Drake masih ingat tatapan Zayna malam itu. Bukan hanya marah. Ada sesuatu yang lebih dalam.

Dan ia tidak ingin menghadapinya lagi.

Bukan karena malu semua itu karena Drake merasa muak.

Muak melihat Zayna yang kini selalu pulang dengan pakaian lusuh, rambut berantakan, wajah lelah karena bekerja dari pagi hingga hampir tengah malam. Baginya, Zayna tak lagi seperti wanita yang dulu ia nikahi.

Atau mungkin… Drake yang telah berubah.

Ia membuka pintu mobil dan melangkah turun. Sepatu mahalnya menapak di gang sempit yang mulai ditumbuhi rumput liar di sela-sela semen retak. Langkahnya panjang, tegas—seolah ia tak ingin memberi kesempatan pada kenangan untuk mengejarnya.

Pin rumah masih sama.

Tentu saja. Zayna bukan tipe orang yang mengganti hal-hal kecil seperti itu.

Jemarinya sempat berhenti di atas keypad. Ada jeda sepersekian detik—antara ragu dan tekad. Lalu ia menekan kombinasi angka yang sudah melekat dalam ingatan.

Klik.

Pintu terbuka.

Drake masuk perlahan, menutup pintu tanpa suara. Rumah itu sunyi. Aroma masakan sisa pagi masih samar tercium. Tas kerja Zayna tak terlihat di sofa. Lampu dapur mati. Kamar kosong.

Ia mengembuskan napas pelan.

Bagus. Zayna tidak ada.

Ia yakin wanita itu sedang bekerja seperti biasa—seperti orang yang tak mengenal lelah, seolah hidupnya hanya untuk bertahan dan membuktikan sesuatu.

Drake berjalan menuju kamar. Lemari kayu tua masih berdiri di sudut ruangan. Di sanalah map biru berisi dokumen penting disimpan.

Tangannya terulur.

Namun sebelum membukanya, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada bingkai foto di atas tumpukan map dan bekas seolah memang sengaja di simpan di sana. Drake yakin Zayna lah yang melakukannya.

Foto pernikahan mereka.

Drake dan Zayna tersenyum di sana—tanpa beban, tanpa kemewahan, tanpa ambisi yang melampaui kemampuan.

Ia menatapnya beberapa detik terlalu lama.

Lalu dengan wajah mengeras, Drake memalingkan pandangan.

Dokumen itu jauh lebih penting daripada kenangan.

Suara pintu depan terbuka membuat Drake menegang.

Langkah kaki terdengar pelan, lalu berhenti.

“Drake?”

Suara itu tiba-tiba terdengar. Suara khas yang tak mungkin Drake lupakan. Pria itu tidak kendengar suara langkah kaki atau pun pin di tekan. Mungkin karena alam bawah sadarnya terlalu fokus pada foto pernikahan mereka.

Drake membeku.

Drake yang sedang berdiri di depan lemari, map biru sudah di tangannya, perlahan menoleh ke arah pintu kamar.

Dan di sanalah Zayna berdiri.

Namun… bukan Zayna yang ia kenal beberapa beberapa hari terakhir.

Rambutnya tergerai rapi, berkilau lembut seolah baru saja ditata profesional. Wajahnya segar dengan riasan tipis yang menonjolkan garis matanya. Bibirnya berwarna lembut, bukan pucat seperti biasanya. Gaun sederhana namun elegan membungkus tubuhnya, pas dan anggun.

Tak ada pakaian lusuh.

Tak ada rambut berantakan.

Tak ada wajah letih.

Drake terdiam terlalu lama.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia melihat istrinya seperti dulu—bahkan mungkin lebih indah.

Zayna pun terkejut melihatnya di kamar.

“Untuk apa kau… pulang?” tanyanya pelan, tatapannya jatuh pada map biru di tangan Drake. Emosinya jauh lebih reda. Zayna memang tahu Drake pasti akan pulang.

Drake mencoba mengeraskan wajahnya kembali. Ia tak boleh goyah.

“Aku hanya mengambil sesuatu.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Zayna melangkah masuk beberapa langkah. Aroma parfum baru menguar lembut, berbeda dari bau lelah dan asap jalanan yang biasa menempel di tubuhnya.

“Ada apa dan untuk apa?” Suaranya tak lagi bergetar seperti saat pertengkaran terakhir. Kali ini… tenang. Terlalu tenang.

Drake menelannya. “Kau biasanya tidak ada di rumah jam segini.”

Ada jeda singkat.

Zayna tersenyum tipis. Bukan senyum rapuh. Bukan senyum memohon.

“Aku tidak bekerja hari ini.”

Drake mengernyit. “Lalu dari mana?”

Zayna menatapnya lurus. Untuk pertama kalinya, tatapan itu tak dipenuhi lelah.

“Aku ke salon. Membeli beberapa baju.”

Drake seperti ditampar kenyataan.

Selama ini ia berpikir Zayna terlalu sibuk bekerja, terlalu tidak peduli pada penampilannya. Ia menyalahkannya. Menganggapnya tak lagi menarik.

Namun mungkin… Zayna hanya terlalu sibuk bertahan. Bertahan dengan semua hutang yang menumpuk.

Dan sekarang, di hadapannya, berdiri seorang wanita yang tampak memilih dirinya sendiri.

Tatapan Drake turun tanpa sadar—gaun baru itu, sepatu yang masih bersih, tas kecil yang tampak mahal meski sederhana.

“Kenapa?” tanya Drake tanpa sadar.

Zayna mengerutkan kening. “Kenapa apa?”

“Kenapa tiba-tiba berubah?”

Zayna terdiam beberapa detik. Lalu ia melirik map biru di tangan Drake lagi.

“Apa karena Ezme? Kenapa kau jadi lebih cantik dari Ezme?!”

Kalimat itu lembut. Tapi menghantam keras.

Drake merasa ada sesuatu yang tak nyaman menjalar di dadanya.

Ia datang dengan keyakinan penuh untuk mengambil dokumen perceraian. Untuk menutup bab ini. Untuk membuktikan keseriusannya pada Ezme.

Namun kini, berdiri di hadapan Zayna yang berbeda—yang anggun, yang tenang, yang tak lagi memohon—

Untuk pertama kalinya. Drake merasakan sesuatu yang tak ia duga. Bukan muak. Melainkan kehilangan. Rasa rindu. Dan rasa yang akrab namun asing.

Bersambung

1
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
licik nya tu licik banget si mas max ini.
Tapi salut sama Darwin. Dia berani dan lantang. gak kek bapaknya, yang gampang takut 🫣
Natsa
halah dasar tukang bucin 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
graver el mubarak
next
graver el mubarak
up
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
manis²nya dulu sebelum badai menerjang, Awas aja max kena jebakan nevari. dia ke rs dan drake masuk ke mansionnya max🤦‍♀️
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
sekalian dipasang pelacak.
eva nindia
nah sering² kya gini max biar zayna mkin nempel 🤭
tuan nelson hrs pnjng umur dlu biar dia bsa jelsin ke max yg sbnar.a
Maulidina
drake kan masa lalu zayna max.. kau lah masa depannya 😄
Hanima
ahhh sweet cekallli 😍🤭
Mita Paramita
lanjut yang banyak Thor 🔥🔥🔥
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
coba max bilang gini dulu.
aku mencintaimu zayna, mari kita mulai semua dari awal. lupakan masalalu dan sambutlah masa depan denganku. gimana tanggapan Zayna nanti🤣
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
sampai sini, masih ku telaah dan ku baca berulang. jadi ..... para penghianat Nelson bersekutu dengan Nevari yang notabene adalah musuh Nelson. Dan.... Nelson menikahi Nevari, sebagai alasan karna tau Nevari pasti akan balas dendam dgn mengincar max. ada rahasia antara nelson dan Nevari. hemmmmm rumit ya.......
wiliss
kepotong thorr mau tau di balik uap itu knp ahahah
eva nindia
Namun dibalik uap apa thor ?
astaga zayna 🤐
diboongin lgii perihal hp 🙊 moga kdpan.a pasangan ni bsa sling jjur dlm kmunikasi 😁
Hanima
Lanjut Thorrrr
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
pen ku getok palanya Drake pakek linggis. bisa ya....bilang kek gitu. biniknya kek gitu juga kena dia. otaknya geser kek nya ni lakik
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Jika ada penghargaan 🏆 citra, maka max, masuk salah satu kategori Pendukung pria terbaik 😂✋
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
pinter juga ya dia😂. mencari kelemahan zayna untuk ke untngan yang lebih gede. patut di contoh bang ✋
Dari awal baca, bletz itu ku pikir perempuan 😂. ternyata lelaki. karna tmnku juga namanya bleitz tapi cewek✋
graver el mubarak
🔥
graver el mubarak
gacor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!