Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Kecil
Tiga bulan telah berlalu sejak badai hukum yang hampir menghancurkan mereka mereda. Kehidupan di rumah besar Adiwangsa kini terasa jauh lebih hangat. Katya telah berhasil mengubah dekorasi rumah itu menjadi lebih cerah, menghilangkan kesan kaku yang dulu menyelimutinya. Namun, di balik kedamaian yang mereka bangun, sebuah pemikiran mulai tumbuh subur di benak Katya—sebuah keinginan yang muncul setiap kali ia melihat teman-temannya di kampus mengunggah foto keponakan baru atau saat ia melihat Resti, ibunya, menatap bayi-bayi di supermarket dengan pandangan rindu yang tak tersembunyi.
Sore itu, hujan rintik membungkus Jakarta. Donny baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju ruang keluarga. Ia menemukan Katya sedang melamun di dekat jendela besar, memandangi rintik air yang jatuh di daun-daun taman.
"Melamunkan apa, Sayang?" Donny melingkarkan lengannya di pinggang Katya, mencium bahunya lembut.
Katya tersenyum, menyandarkan kepalanya pada dada tegap suaminya. "Mas, tadi siang aku mampir ke rumah Ayah. Ibu sedang menjahit baju bayi buat anak tetangga. Ibu kelihatan bahagia sekali waktu memegang kain-kain lembut itu."
Donny terdiam sesaat. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini. Ia mempererat pelukannya, namun ada sedikit ketegangan yang tertangkap oleh insting Katya.
"Ibu memang suka anak kecil," jawab Donny pendek, mencoba bersikap netral.
Katya berbalik, menatap mata Donny yang dalam. "Mas, apa Mas pernah terpikir... kalau di rumah ini ada suara kecil lagi? Bukan cuma suara kita berdua atau suara televisi. Tapi suara bayi?"
Donny menarik napas panjang. Ia melepaskan pelukannya perlahan dan mengajak Katya duduk di sofa. Wajahnya yang biasanya percaya diri kini tampak diselimuti keraguan yang nyata.
"Katya, kita baru saja melewati banyak hal. Saya ingin kamu menikmati masa mudamu dulu. Kamu baru saja lulus, kamu punya karier yang mulai menanjak di perusahaan. Apa kamu yakin ingin terikat dengan tanggung jawab sebesar itu sekarang?"
"Ini bukan soal karier, Mas," sergah Katya lembut. "Ini soal kita. Soal keluarga yang ingin kita bangun."
Donny menunduk, menatap jemarinya yang mulai menunjukkan gari-garis halus usia. "Masalahnya bukan padamu, Katya. Masalahnya ada pada saya. Umur saya sudah lewat empat puluh. Saat anak itu lulus kuliah nanti, saya sudah menjadi pria tua yang mungkin kesulitan untuk sekadar menemaninya berolahraga. Saya takut... saya takut tidak punya cukup waktu untuk melihatnya tumbuh dewasa."
Katya merasakan sesak di dadanya. Ia meraih tangan Donny, menggenggamnya erat. "Mas, umur itu rahasia Tuhan. Ayah juga sering bilang begitu. Yang penting adalah apa yang kita berikan saat kita ada. Mas pria yang luar biasa, Mas sudah menjagaku sejak bayi dengan penuh cinta. Aku ingin anak kita nanti merasakan cinta yang sama dari ayahnya."
Donny menatap istrinya dengan haru. "Tapi Katya, apa kamu siap? Mengurus bayi itu melelahkan. Saya tidak mau kamu kehilangan masa-masamu bersenang-senang hanya karena harus mengganti popok di tengah malam."
Katya terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Mas lupa ya? Aku ini anak kontrakan. Dulu waktu kecil aku sering bantu Ibu jaga anak tetangga supaya Ibu bisa masak. Aku nggak selemah yang Mas kira. Lagipula, Mas kan sudah bilang, aku ini 'Marsha', perempuan yang kuat."
Donny tersenyum tipis, namun bayang-bayang kegagalan masa lalunya kembali membayangi. Ia teringat Marina. Dulu, mereka sempat merencanakan kehamilan, namun depresi Marina membuat rencana itu terkubur selamanya. Donny takut jika kehadiran anak justru akan memberikan beban psikologis baru yang tidak bisa ia tanggung.
"Beri saya waktu untuk berpikir, ya?" bisik Donny akhirnya.
---
Hari-hari berikutnya terasa sedikit berbeda. Ada kecanggungan halus yang menggantung di antara mereka. Katya mencoba tidak mendesak, sementara Donny tampak lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya, menatap dokumen-dokumen asuransi dan perencanaan keuangan masa depan.
Suatu malam, Donny melihat Katya tertidur di sofa sambil memeluk sebuah boneka kecil pemberian Arman saat ia masih kecil. Wajah Katya yang damai saat tidur membuat hati Donny luluh. Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa egois. Ketakutannya akan usia tidak boleh menjadi penghalang bagi kebahagiaan Katya untuk menjadi seorang ibu.
Keesokan harinya, Donny mengajak Katya pergi ke sebuah panti asuhan yang selama ini ia santuni. Mereka menghabiskan waktu seharian bermain dengan anak-anak di sana. Donny melihat bagaimana Katya begitu luwes menggendong seorang bayi berusia enam bulan, menyuapinya dengan sabar, dan tertawa saat bayi itu menarik-narik rambutnya.
Saat perjalanan pulang, Donny menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
"Katya," panggil Donny.
"Ya, Mas?"
"Tadi di panti... saya melihat sesuatu yang membuat saya sadar. Kamu sudah sangat siap. Dan saya... saya mungkin hanya terlalu takut menghadapi fakta bahwa saya sangat menginginkannya juga."
Mata Katya berbinar. "Maksud Mas?"
Donny mengecup tangan Katya. "Mari kita coba. Kita bangun keluarga ini selengkap mungkin. Soal waktu dan usia, biarkan itu menjadi urusan Tuhan. Tugas saya adalah tetap sehat dan panjang umur agar bisa menjagamu dan calon anak kita nanti."
Katya menghambur ke pelukan Donny, menangis bahagia. "Terima kasih, Mas. Terima kasih."
---
Beberapa minggu berlalu, suasana di rumah Adiwangsa dipenuhi dengan harapan baru. Namun, tantangan baru muncul dari sisi kesehatan. Mengingat usia Donny, mereka memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
Di ruang tunggu dokter, mereka sempat bertemu dengan Bagas, teman kuliah Katya yang dulu pernah memberinya mawar saat wisuda. Bagas tampak menggendong seorang balita bersama istrinya yang juga masih sangat muda.
"Eh, Katya! Pak Donny!" sapa Bagas ramah. "Wah, mau program juga ya?"
"Iya, Gas. Doakan ya," jawab Katya sopan.
Donny bersikap formal seperti biasa, namun di dalam hati, ia merasakan sengatan kecil saat melihat betapa lincahnya Bagas menggendong anaknya. Kontras antara dirinya dan Bagas kembali mengingatkannya pada jarak usia yang ada. Namun, saat Katya menggenggam tangannya di bawah kursi tunggu, Donny merasa keberaniannya kembali.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter memberikan kabar baik bahwa keduanya dalam kondisi sehat. "Hanya saja, Pak Donny perlu menjaga pola makan dan sedikit mengurangi stres di kantor. Untuk Nyonya Katya, pastikan asupan vitaminnya tercukupi."
Keluar dari klinik, Katya tampak sangat bersemangat. Ia mulai membicarakan tentang renovasi salah satu kamar kosong untuk menjadi kamar bayi.
"Mas, aku mau warnanya netral saja, hijau pastel atau krem. Supaya tenang," ujar Katya riang.
Donny mengangguk setuju. "Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia, Sayang."
Malam itu, mereka berkunjung ke rumah Arman untuk memberikan kabar ini. Arman dan Resti sangat bahagia hingga menangis haru.
"Don," bisik Arman saat mereka sedang di teras. "Aku senang kamu akhirnya membuka hati untuk ini. Anak adalah pengikat yang paling kuat. Dia akan membuatmu merasa muda selamanya."
Donny tersenyum, menatap Katya yang sedang asyik berbincang dengan ibunya di dalam. "Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya, Yah. Katya sudah memberikan terlalu banyak pengorbanan untuk pria setua aku."
"Jangan bicara begitu. Dia mencintaimu bukan karena umurmu, tapi karena jiwamu. Dan jiwa itu tidak pernah tua."