Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Setelah menyantap daging serigala panggang dan memastikan tubuhnya dalam kondisi baik, Xue Xiao langsung mencari tempat yang tenang untuk mencoba berkultivasi. Dia memilih lereng kecil yang sedikit tinggi, jauh dari jalur binatang buas dengan pemandangan yang terbuka ke arah hutan. Dia duduk dalam posisi bersila yang sudah dia kuasai selama ratusan tahun di dunia asalnya, telapak tangan menghadap ke atas dengan jari-jari saling menyilang di bawah pusar – posisi yang biasa digunakan untuk menarik dan menyimpan energi spiritual.
Matanya tertutup rapat, dia fokus mengarahkan pikiran ke setiap sudut sekitarnya, mencari getaran energi yang biasa dia rasakan dengan mudah di alam abadi. Detik demi detik berlalu, jam demi jam lewat tanpa hasil. Dia bisa merasakan adanya energi spiritual di udara yang sangat tipis, seperti percikan nyala kecil di tengah kegelapan, tapi setiap kali dia mencoba mengumpulkannya ke dalam dantian nya, energi itu hanya menghilang seperti uap air yang terpangkas angin. Setelah lebih dari lima kali mencoba dengan penuh tekad, akhirnya dia terpaksa berhenti dengan hembusan napas yang penuh kecewa, dengan kesal ia menepuk tanah di bawahnya hingga muncul lubang sedalam beberapa sentimeter.
"Energi spiritual di dunia ini sungguh sangat sedikit. Bahkan jika aku terus berusaha setiap hari, mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk mengumpulkan sedikit energi yang bisa aku gunakan untuk kultivasi dasar," gumamnya dalam hati sambil membuka mata dan melihat sekeliling hutan berkabut yang luas, kabut putih menyelimuti pepohonan tinggi seperti tirai tipis. "Tidak masalah. Tubuhku sudah sangat kuat – bahkan bisa menghancurkan batu dengan mudah dan tahan terhadap serangan binatang buas. Aku tidak perlu bergantung pada kultivasi semata. Aku harus membuat rencana yang jelas untuk bertahan hidup di dunia ini. Pertama, membangun tempat tinggal yang aman dan nyaman. Kedua, mencari sumber makanan yang stabil. Dan ketiga, memanfaatkan apa yang ada di dunia ini untuk memanfaatkan kemampuan alkemis ku. Meskipun tidak bisa membuat pil yang meningkatkan energi spiritual, setidaknya aku bisa membuat ramuan yang membantu tubuhku tetap dalam kondisi prima."
Dia berdiri dengan lincah dan mulai menjelajah lebih jauh ke dalam hutan, mencari lokasi yang cocok untuk membangun tempat tinggalnya. Setelah berjalan sekitar satu jam melalui semak-semak yang lebat, tapi sangat mudah dia tempuh berkat kekuatan tubuhnya, dia menemukan sebuah danau kecil yang airnya jernih seperti kristal di tengah hutan. Permukaan danau tenang tanpa riak, mencerminkan bentuk pepohonan besar yang tumbuh di sekelilingnya. Di sisi kanan danau, terdapat kumpulan bambu yang lebat dengan batang yang kokoh dan tinggi. Ini adalah pilihan lokasi tempat tinggal yang sempurna, terutama karena dekat dengan sumber air bersih dan memiliki bahan bangunan yang melimpah.
Tanpa menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, Xue Xiao langsung bekerja. Dengan kekuatan tubuhnya yang luar biasa, dia mematahkan batang bambu seukuran lengan hanya dengan satu hentakan, tidak perlu menggunakan alat apapun. Dia memilih batang bambu yang paling lurus dan kuat untuk menjadi rangka utama gubuk, membengkokkan bagian ujung bambu menjadi penjepit yang erat dengan cara mencubitnya perlahan-lahan. Dia menyusun batang bambu satu per satu dengan presisi yang tinggi, membentuk struktur rangka yang kokoh dan stabil. Kemudian dia mengambil lembaran bambu yang lebih tipis, menekannya rata dengan tangan hingga menjadi seperti papan, lalu memasangnya sebagai dinding dan atap gubuk. Dalam waktu kurang dari tiga jam, sebuah gubuk bambu yang rapi dan kokoh berdiri kokoh di tepi danau, dengan pintu yang bisa ditutup rapat dan celah kecil di sisi dinding untuk sirkulasi udara.
Saat matahari mulai miring ke arah barat dan memberikan warna jingga pada permukaan danau, Xue Xiao duduk di depan gubuknya sambil menyaksikan matahari terbenam. "Sekarang tempat tinggal sudah ada. Selanjutnya aku perlu fokus pada alkemis. Di dunia asalku, aku biasa menggunakan bahan-bahan langka seperti akar ginseng ratusan tahun dan jamur ganoderma dari puncak gunung untuk membuat pil spiritual. Di sini mungkin aku bisa mengembangkan versi yang disesuaikan dengan tumbuhan liar lokal, ramuan yang bisa membantu tubuh manusia fana seperti yang aku miliki sekarang untuk tetap kuat dan sehat," pikirnya dengan mata yang mulai bersinar kembali, melihat ke arah hutan yang masih tersembunyi di balik kabut.
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik pepohonan, Xue Xiao sudah siap untuk menjelajah hutan mencari tumbuhan obat. Dia membawa tali yang dibuat dari akar pohon merambat yang cukup kuat dan wadah kecil dari kulit kayu yang dia bentuk sendiri. Dia berjalan dengan hati-hati melalui hutan, mengamati setiap tumbuhan yang dia temui dengan mata yang terlatih mengenali khasiat setiap tanaman.
Dia mulai dengan mengamati bentuk daun, warna batang, dan bau setiap tanaman yang dia temui. Di bawah dedaunan lebat pohon ek besar, dia menemukan dua jenis tanaman dengan akar yang mirip. Satu dengan daun berwarna hijau muda dan urat daun yang jelas, yang lain dengan daun berwarna hijau tua dengan bintik hitam kecil. Dengan hati-hati, Xue Xiao memetik sehelai daun dari tanaman pertama, mengunyahnya perlahan dan merasakan rasanya yang sedikit pahit tapi tidak menyakitkan. Dia menunggu beberapa menit, mengamati reaksi tubuhnya. Setelah beberapa saat, ia tidak merasakan rasa tidak nyaman apapun, malahan merasa sedikit segar. Setelah memastikan tumbuhan itu aman, dia menggali tanah dengan hati-hati menggunakan tongkat bambu kecil agar tidak merusak akarnya. Beberapa saat kemudian, ia menemukan akar yang berukuran kecil tapi sudah menunjukkan ciri khas bentuk manusia. Tumbuhan itu adalah ginseng muda. Setelah membersihkan sisa-sisa kotoran, ia lalu menyimpannya dengan hati-hati ke dalam wadahnya.
Untuk tanaman kedua dengan bintik hitam pada daunnya, dia hanya memetik sedikit bagian ujung daun dan mengoleskannya ke bagian lengan yang tidak terlindungi. Dalam beberapa menit, kulitnya menjadi merah dan terasa sedikit gatal, jelas tumbuhan yang kedua ini beracun. Dia segera mencuci bagian lengan tersebut dengan air dari sungai kecil yang ada di dekatnya, lalu mencatat ciri khas tanaman tersebut agar tidak salah mengambilnya di kemudian hari.
Tidak jauh dari situ, di dekat tepi sungai yang alirannya tenang, dia menemukan tanaman dengan daun berbentuk bulan sabit dan batang berwarna merah muda. Dia mengendus daunnya dan merasakan aroma yang khas – angelica. Dia memetik sehelai daun dan mengunyahnya, rasanya pahit tapi dengan sedikit rasa manis di akhir. Setelah memastikan aman, dia menggali akarnya dengan hati-hati, menemukan akar yang tebal dan berwarna kuning muda. Dia memotong sebagian akarnya untuk digunakan, sementara yang lain dia biarkan tumbuh kembali di tanah.