NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: JEJAK KAKI DI ATAS LUMPUR

Enam bulan telah berlalu sejak badai di landasan pacu Halim Perdanakusuma menghancurkan pilar-pilar emas keluarga Wijaya. Jakarta masih tetap sama—panas, bising, dan penuh kepulan asap knalpot—tapi bagi Juliet, kota ini kini terasa sangat luas sekaligus sangat sempit.

Juliet berdiri di depan sebuah gerbang rumah tua di kawasan Tebet. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kecil yang ujungnya sudah sedikit melekuk dan sebuah meteran kain. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra. Pagi ini, ia memakai kemeja flanel kebesaran milik Gaara yang lengannya digulung hingga siku, celana jeans belel, dan sepatu boots karet yang bagian bawahnya belepotan lumpur.

"Nona Juliet? Sudah selesai mengukur area kolamnya?" suara berat itu menyadarkannya.

Juliet menoleh dan tersenyum. Gaara berdiri di sana, mengelap keringat di lehernya dengan handuk kecil. Kulit pria itu tampak lebih gelap karena terus-menerus terpapar matahari, tapi binar matanya jauh lebih hidup daripada saat ia masih menjadi tukang kebun "tahanan" di rumah Juliet dulu.

"Sudah, Kapten. Area kolam ini cocok untuk ditanami teratai dan sedikit aksen batu kali. Klien kita ingin nuansa pedesaan, kan?" jawab Juliet sambil menunjukkan sketsa kasarnya.

Gaara melangkah mendekat, mengintip catatan Juliet. "Bagus. Kau punya mata yang tajam untuk urusan estetika. Tapi ingat, drainasenya harus kuat. Kita tidak ingin rumah ini banjir saat hujan pertama datang."

Inilah hidup mereka sekarang. Gaara Landscape & Soul. Sebuah usaha kecil yang bermodal kejujuran dan sisa-sisa tabungan Gaara yang selama ini ia kumpulkan dari upah buruh kasarnya. Mereka tidak lagi melayani konglomerat sombong. Klien mereka adalah pemilik rumah menengah yang ingin mengubah halaman belakang mereka yang gersang menjadi sudut yang menenangkan.

Siang itu, mereka duduk di emperan toko bangunan, menunggu kiriman bibit tanaman datang. Mereka berbagi sebungkus nasi rames dan satu botol air mineral. Tidak ada sendok perak, tidak ada pelayan yang menuangkan wine.

"Kau lelah?" tanya Gaara, matanya menatap jemari Juliet yang kini tidak lagi mulus. Ada bekas luka kecil akibat duri dan kapalan tipis di telapak tangannya.

Juliet menggeleng, menyuap sesendok nasi dengan tangan kosong—sesuatu yang dulu akan membuatnya pingsan karena jijik. "Lelah secara fisik, iya. Tapi kepalaku tidak lagi berisik, Gaara. Aku tidak perlu takut pada Ayah, atau takut Adam akan marah jika aku salah bicara."

Gaara terdiam sejenak. Ia meraih tangan Juliet, mengusap ibu jarinya di atas kapalan itu. "Maafkan aku. Seharusnya kau tidak perlu hidup seperti ini."

"Jangan mulai lagi," potong Juliet cepat. "Aku yang memilih ini. Dan jujur saja, tempe goreng buatan ibumu jauh lebih enak daripada steak di hotel bintang lima."

Gaara terkekeh. Namun, tawa itu tidak bertahan lama saat sebuah sedan hitam mewah—jenis yang sangat Juliet kenali—berhenti tepat di depan mereka.

Seorang pria dengan setelan safari turun dari mobil. Ia membawa sebuah amplop besar berwarna emas. "Nona Juliet Wijaya?"

Juliet berdiri, insting defensifnya langsung aktif. Gaara ikut berdiri, menggeser posisinya sedikit ke depan untuk melindungi Juliet.

"Siapa kau?" tanya Gaara dingin.

"Saya asisten hukum Tuan Wijaya. Tuan Wijaya ingin Nona membaca ini. Ini mengenai sisa aset yang tidak disita negara, sebuah rumah kecil di Puncak. Beliau ingin menyerahkannya atas nama Nona."

Juliet menatap amplop itu seolah-olah itu adalah ular berbisa. "Katakan pada Ayah, aku tidak butuh apa-apa lagi darinya. Biarkan aset itu dilelang untuk membayar ganti rugi pada korban-korban bisnisnya."

"Tapi Nona, Tuan sedang sakit keras di rutan. Beliau hanya ingin memastikan Anda punya tempat bernaung yang layak."

"Aku sudah punya tempat bernaung," Juliet menatap rumah petak mereka yang terlihat dari kejauhan di ujung gang. "Tempat yang tidak dibangun di atas air mata orang lain."

Utusan itu tampak serba salah, lalu ia mengeluarkan sebuah ponsel dan memutar sebuah video. Suara napas berat dan tersengal-sengal terdengar. Itu suara Pak Wijaya.

"Juliet... maafkan Ayah... Ayah tidak butuh pengampunanmu, tapi tolong... jangan biarkan mawar ibumu hilang... Rumah di Puncak itu adalah tempat pertama kita menanam mawar bersama..."

Juliet mematung. Dinding pertahanan yang ia bangun selama enam bulan ini retak sedikit. Kenangan masa kecilnya—saat ia masih berusia lima tahun dan ayahnya tertawa sambil mengangkatnya tinggi-tinggi di kebun mawar Puncak—tiba-tiba menyerbu pikirannya.

Setelah utusan itu pergi, suasana di antara Juliet dan Gaara menjadi canggung. Mereka kembali ke rumah dalam diam. Bu Ratna yang melihat wajah muram Juliet segera membuatkan teh melati hangat.

"Ada apa, Nak?" tanya Bu Ratna lembut.

Juliet menceritakan tentang rumah di Puncak itu. "Aku benci dia, Bu. Aku benci apa yang dia lakukan pada Ayah Gaara. Tapi... mendengar suaranya yang begitu rapuh..."

Gaara, yang sedari tadi sibuk mengasah gunting tanaman di pojok ruangan, akhirnya bicara. "Pergilah menemui dia, Juliet."

Juliet menoleh kaget. "Apa? Kau tidak marah?"

Gaara meletakkan guntingnya, menatap Juliet dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dendam itu seperti duri yang tertancap di daging, Juliet. Jika tidak dicabut, dia akan bernanah selamanya. Aku sudah mencabut duriku saat aku menyerahkan bukti ke polisi. Sekarang giliranku membantumu mencabut durimu."

Gaara mendekat, menggenggam bahu Juliet. "Aku membenci perbuatannya, tapi aku tahu kau mencintai memori tentang 'Ayah' yang dulu kau punya. Pergilah ke penjara besok. Selesaikan apa yang harus diselesaikan."

Keesokan harinya, dengan jantung yang berdegup kencang, Juliet duduk di ruang kunjungan Rutan Salemba. Di balik kaca tebal, seorang pria tua dengan kursi roda didorong masuk.

Juliet nyaris tidak mengenali ayahnya. Rambutnya sudah memutih total. Pipinya kempot, dan sorot matanya yang dulu setajam pedang kini hanya menyisakan keraguan yang dalam.

"Juliet..." suara itu parau, hampir hilang ditelan bisingnya ruangan.

"Ayah," sapa Juliet dingin, meski air mata sudah menggenang di sudut matanya.

Pak Wijaya menempelkan tangannya di kaca. "Kau memakai baju... orang biasa."

"Aku hidup sebagai orang biasa sekarang, Yah. Dan aku bahagia."

Pak Wijaya tersenyum pahit. "Ibumu dulu selalu bilang, kau terlalu cantik untuk dunia bisnis yang kotor. Dia benar. Ayah yang salah."

Mereka terdiam lama. Pak Wijaya kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Juliet terpaku.

"Adam... dia tidak akan tinggal diam di Australia, Juliet. Hati-hati. Dia mengirim orang untuk mengawasi kalian. Dia merasa kau adalah kegagalan terbesarnya, dan pria seperti Adam tidak pernah membiarkan kegagalan berkeliaran dengan bebas."

"Aku tidak takut padanya, Yah."

"Kau harus takut. Dia punya sisi gelap yang bahkan Ayah tidak tahu sampai semuanya terlambat. Berjanjilah padaku satu hal, Juliet... jangan pernah tinggalkan pria tukang kebun itu. Dia... dia satu-satunya yang punya akar cukup kuat untuk menahanmu saat badai Adam datang."

Juliet terisak. Untuk pertama kalinya, ayahnya mengakui Gaara. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai pelindung.

Saat kunjungan berakhir, Juliet berdiri. "Aku akan mengambil rumah di Puncak itu, Yah. Bukan untukku, tapi untuk membangun pusat pembibitan mawar. Aku akan menamainya dengan nama Ibu."

Pak Wijaya mengangguk lemah, air mata jatuh di pipinya yang keriput. Saat Juliet berjalan keluar, ia merasa bebannya sedikit terangkat. Namun, peringatan ayahnya tentang Adam membekas di kepalanya.

Malam itu, saat Juliet berjalan pulang dari pangkalan ojek menuju gang rumah Gaara, ia merasakan sebuah mobil mengikuti di belakangnya dengan lampu dimatikan.

Langkah Juliet semakin cepat. Jantungnya berpacu. Ia teringat kata-kata ayahnya. Ia segera berlari menuju pintu rumah Gaara.

"Gaara! Gaara!"

Pintu terbuka sebelum Juliet sempat mengetuk. Gaara sudah berdiri di sana, memegang sebuah balok kayu. Matanya menatap tajam ke arah sedan hitam yang tiba-tiba melesat pergi saat melihat Gaara muncul.

"Kau melihatnya?" tanya Juliet terengah-engah.

Gaara menarik Juliet masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. "Sudah tiga hari mobil itu berputar-putar di sini. Aku tidak mau menakutimu, tapi sepertinya Adam mulai mengirim 'hadiah' dari jauh."

Gaara memeluk Juliet erat. Di luar, suara guntur kembali terdengar, menandakan hujan besar akan segera turun. Mawar di pot teras bergoyang hebat ditiup angin kencang.

"Kita akan hadapi ini bersama, Juliet," bisik Gaara. "Kali ini, bukan hanya mawar yang harus kita lindungi. Tapi nyawa kita."

Di saku jaketnya, Juliet menemukan sebuah kiriman surat yang terselip di bawah pintu tadi sore. Sebuah foto rumah mereka di gang sempit itu, diambil dari jarak jauh, dengan tanda silang merah di atas wajah Gaara.

Duri-duri lama telah dicabut, tapi semak belukar yang lebih beracun baru saja mulai merambat menuju mereka.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!