NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Langkah Mandiri dan Tatapan Dingin

Heras perlahan membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur, namun ia bisa melihat tubuhnya yang penuh debu dan kotoran hasil dari pertarungan sengit tadi. Rasa sakit di punggungnya masih terasa menggigit, seolah masih ada sisa panas dari tembakan energi yang menghantamnya.

"Luminar... kenapa aku masih merasakan sakit ini?" tanya Heras pelan, suaranya terdengar serak dan lemah.

[ Itu adalah rasa sakit yang ditransfer kepadamu sebagai Penyatu. Tubuhmu merasakan apa yang aku rasakan, ] jawab Luminar. [ Namun, ada kelebihannya. Sebagai gantinya, kamu sebagai Penyatu memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyembuhkan semua luka yang diterima oleh Luminar maupun oleh dirimu sendiri. Luka itu akan memudar seiring berjalannya waktu. ]

Heras menghela napas panjang dan berat. Ia merasakan ada sesuatu yang ganjal dan berbeda di dalam tubuhnya, seolah ada aliran energi baru yang belum sepenuhnya ia pahami. Tiba-tiba, sebuah layar transparan muncul di hadapannya—panel status yang familiar. Matanya menyapu tampilan itu.

[Jendela Status Luminar- Level 2]

Penyatu: Heras

Exp: 5/40

Energi: 396/1003

Daya Hidup: 1248/2003

Kekuatan Fisik: 13 + 5

Kecepatan: 13 + 15

Mental: - + 20

Pertahanan: 13 + 3

Kemampuan:

-Transformasi Ukuran: Penyatu sampai 20 meter (Aktif)

-Meta Field: Radius 1 km (Aktif)

Heras mengerutkan kening, memperhatikan detail di panel itu. "Luminar, aku lihat ada kemampuan 'Pembesaran' di sini. Apa itu? Apakah kemampuannya akan meningkat setelah digunakan? Dan kenapa kita tidak memakainya tadi saat melawan induk kepiting?" tanyanya bertubi-tubi.

[ Kemampuan Pembesaran itu hanyalah kemampuan untuk membesarkan wujud tubuh, biasanya digunakan untuk melawan musuh yang berukuran sangat besar, sebesar gedung bertingkat, ] jelas Luminar. [ Kemampuan itu sangat menguras energi Luminar dalam jumlah besar. Selain itu, wujud besar itu hanya dapat dipertahankan selama 1 menit sejak digunakan. Menggunakannya pada musuh seukuran induk kepiting tadi akan membuang-buang energi yang berharga. ]

Heras mengangguk pelan, merasa lega karena kini ia mengerti hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui tentang Luminar. Ia sedikit bersyukur di dalam hati, merasa beruntung memiliki pemandu yang ada di dalam dirinya, yang selalu menjelaskan segala hal dengan jelas.

Namun, seakan bisa membaca isi hatinya, suara Luminar terdengar lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih tenang dan tegas.

[ Heras, aku tahu kamu bersyukur. Tapi mulai saat ini, kamu harus berjalan mandiri. Aku akan membantumu sebisaku, kau tetap akan bisa menggunakan kekuatan ini. Tapi, aku tidak bisa lagi menjawab pertanyaan-pertanyaanmu seperti sebelumnya, apalagi ikut campur dalam tekadmu. Kau harus menentukan jalanmu sendiri. ]

Heras terkejut. Matanya membelalak, tidak menyangka akan mendengar hal itu. "Luminar? Apa maksudmu? Luminar!" teriaknya. Namun, tidak ada jawaban lagi. Hening.

"Luminar! Jawab aku!" Heras mencobanya berkali-kali, memanggil nama itu hingga suaranya menjadi serak dan sakit di tenggorokan, namun tetap tidak ada respon. Kesedihan yang mendadak menyergap dadanya. Ia menangis lagi setelah sekian lama. Ia kehilangan seorang teman yang begitu baik hati dan selalu membantunya.

Meski ia mengerti maksud Luminar—bahwa ia harus berkembang menjadi jauh lebih kuat tanpa selalu bergantung pada arahan—kenangan singkat yang telah terpatri di dadanya membuatnya merasa sangat terharu dan kehilangan. Perlahan, Heras terlelap di tengah tangisnya.

Beberapa saat kemudian, Heras terbangun. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak keluar dari tumpukan puing-puing itu. Niatnya hanya satu: mencari kursi rodanya kembali. Namun, hari sudah berganti menjadi malam yang gelap gulita. Pandangannya terbatas, ia tidak bisa melihat dengan jelas. Kondisi tempat yang hancur berantakan itu semakin mempersulit pergerakannya, apalagi tubuhnya masih terasa sakit luar biasa. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang berjalan kaki, sebuah perjalanan yang memakan waktu cukup lama dan melelahkan baginya.

Akhirnya, ia sampai di depan rumahnya yang minimalis, dengan gerbang kecil di depannya. Heras menekan bel berkali-kali, menunggu lama di bawah langit malam hingga akhirnya cahaya dari dalam rumah menyala dan menusuk matanya.

Namun, yang menyambutnya bukanlah respon hangat atau kekhawatiran. Yang ia temukan hanyalah tatapan dingin dan cibiran pedas dari ibunya yang kemudian bergegas berbalik dan kembali ke kamarnya tanpa menunggu ia masuk. Hati Heras terasa tersayat melihat reaksi itu, namun ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Setelah membersihkan tubuhnya dari debu dan kotoran serta mengganti pakaiannya dengan yang bersih, Heras bergegas menuju kamarnya. Ia hendak tidur, namun matanya tidak bisa terpejam. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya segar—terlalu banyak tidur dari siang membuatnya tidak mengantuk sama sekali.

Dalam keheningan kamar, Heras mengetuk pelan dadanya, tempat di mana Luminar bersemayam. Seketika, panel status terbuka lagi di hadapannya, memunculkan barisan informasi statusnya. Ia berpikir keras, mencoba memutar otaknya. Bagaimana caranya ia bisa meningkatkan level itu lagi? Ia mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelumnya sehingga ia mendapatkan Exp untuk naik level. Apakah karena bergabung dengan Luminar? Karena menghancurkan monster? Atau karena menyelamatkan orang-orang? Yang mana yang sebenarnya menjadi penyebabnya? Kebingungan itu menghantuinya, namun perlahan rasa lelah kembali mengambil alih. Saat ia akhirnya terlelap di tengah pikirannya itu, pagi hari pun tiba. Cahaya matahari pagi dengan mudah memasuki ruangan itu melalui jendela kamarnya yang tidak ia tutup dari semalam.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!