Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJADAH BERDEBU
Ia membaringkan tubuhnya di atas karpet, menatap langit-langit masjid yang tinggi dengan dekorasi kaligrafi yang indah.
"Terima kasih, Pak... Saya benar-benar nggak tahu harus ke mana lagi," ucap Hafiz, suaranya parau dan nyaris hilang.
"Sudah, jangan banyak bicara. Kamu istirahat di sini" jawab Pak Tua sambil menunjuk ke pojok belakang dekat tumpukan mukena.
Hafiz melangkah menuju pojok yang ditunjuk, kakinya yang terbiasa menginjak lantai marmer kini merasakan kasar dan debu dari karpet tua.
Ia duduk di sana, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian.
Matanya menatap sekeliling ruangan; masjid ini kecil, pengap, dan beraroma kayu lapuk bercampur parfum murah.
"Gila... Gue benar-benar tidur di tempat kayak gini?" bisik Hafiz pada dirinya sendiri, rasa terhina mulai merayap di dadanya.
Hafiz mencoba memejamkan mata, namun bayangan kasur king size seharga ratusan juta di apartemennya terus menghantuinya.
Biasanya, jam segini ia sedang memegang gelas kristal atau memeluk Cindy di bawah selimut sutra yang lembut.
Sekarang? Ia hanya punya selembar sajadah tipis yang ia jadikan alas kepala, baunya apek dan membuat hidungnya gatal.
"Sial, ini benar-benar penghinaan! Gue ini Hafiz! CEO PT Duta Properti!" batinnya berteriak, egonya masih mencoba meronta dari kehancuran.
Tapi, perutnya yang mulai melilit kembali mengingatkannya pada kenyataan bahwa ia belum minum sejak tadi sore.
Ia bangkit berdiri dengan gontai, mencari keran air di tempat wudhu yang terletak di samping bangunan masjid.
Suara gemericik air terdengar nyaring di tengah malam yang sunyi, airnya dingin luar biasa saat menyentuh kulitnya yang demam.
Hafiz menangkupkan air itu ke mulutnya, meminumnya rakus tanpa peduli apakah air itu bersih atau tidak.
"Huek!" Hafiz terbatuk, rasa kaporit yang kuat menusuk tenggorokannya, membuatnya ingin muntah.
Ia menyeka mulutnya dengan lengan baju yang kotor, menatap pantulan dirinya di cermin retak tempat wudhu.
Wajah tampan yang biasanya dipuja-puja itu kini kusam, penuh lumpur kering, dan matanya terlihat sangat cekung.
"Lihat lo sekarang, Fiz. Lo bahkan nggak lebih baik dari pengemis lampu merah," ejeknya pada bayangan di cermin.
Ia kembali masuk ke dalam masjid, merebahkan tubuhnya di atas karpet yang terasa menusuk-nusuk kulit lengannya yang tidak tertutup jas.
Setiap kali ia bergerak, debu dari karpet itu terbang, membuat paru-parunya sesak dan batuknya tak kunjung berhenti.
Rasa gatal mulai menjalar di punggung dan kakinya, mungkin karena tungau yang bersarang di kain tua itu.
"Tuhan... kenapa lo tega banget sama gue?" keluh Hafiz, menatap langit-langit masjid yang gelap.
Ia merasa terhina harus berbagi ruang dengan tumpukan sajadah berdebu, namun rasa takut pada dua pria tadi jauh lebih besar.
Malam itu terasa sangat panjang, setiap detik seperti dentuman jam yang menghitung mundur sisa-sisa kewarasannya.
Sesekali ia terbangun karena suara nyamuk yang berdenging di telinganya atau suara kucing liar yang bertengkar di atap seng.
Hafiz tidak bisa tidur nyenyak, ia selalu terjaga setiap kali mendengar suara langkah kaki di luar gang.
Ia merasa seperti buronan paling hina di dunia, padahal dulu ia merasa seperti raja yang tak tersentuh hukum.
Fajar mulai menyingsing, cahaya kebiruan mulai masuk melalui ventilasi kecil di bagian atas dinding masjid.
Suara alarm dari jam dinding tua yang berkarat membangunkan Pak Tua marbot yang ternyata tidur di ruang kecil dekat mimbar.
Pak Tua itu keluar dengan sarung yang sudah rapi, menatap Hafiz yang masih meringkuk seperti janin di pojokan.
"Bangun, Nak. Sudah subuh. Nggak enak kalau jamaah lihat ada orang tiduran di pojokan begini," ucap Pak Tua sambil menepuk kaki Hafiz.
Hafiz mengerang, seluruh badannya terasa kaku dan pegal seolah-olah ia baru saja dipukuli habis-habisan.
"Jam berapa ini?" tanya Hafiz malas, ia masih ingin memejamkan mata meskipun karpet itu menyiksanya.
"Jam lima. Cepat wudhu sana. Kalau mau tetap di sini, minimal kamu ikut sholat," jawab Pak Tua tegas.
Hafiz ingin membantah, ia ingin bilang bahwa ia tidak pernah sholat selama sepuluh tahun terakhir, tapi ia tertahan.
Ia tidak punya pilihan lain jika tidak mau ditendang keluar ke jalanan yang dingin dan penuh bahaya.
Hafiz berjalan menuju tempat wudhu dengan langkah terseret, mengikuti gerakan orang-orang tua yang mulai berdatangan.
Ia merasa kikuk saat mencoba mengingat gerakan wudhu yang diajarkan ibunya dulu di kampung halaman.
"Kiri dulu atau kanan dulu ya?" gumamnya bingung, tangannya mematung di depan keran air yang mengalir.
Seorang bapak tua di sampingnya menoleh, menatap kemeja mewah Hafiz yang kini sudah robek di bagian bahunya.
"Kanan dulu, Nak. Tiga kali," bisik bapak itu pelan sambil tersenyum tulus, tanpa menghakimi penampilannya yang kacau.
Hafiz mengangguk kaku, mengikuti instruksi itu dengan perasaan campur aduk antara malu dan terharu.
Saat masuk ke dalam barisan sholat, Hafiz merasa semua mata tertuju padanya, mencium bau keringat dan kehancuran dari tubuhnya.
Ia berdiri di barisan paling belakang, mencoba mengikuti setiap gerakan imam meskipun pikirannya terbang ke mana-mana.
Setiap kali dahinya menyentuh sajadah yang berdebu itu, ada rasa aneh yang menggetarkan dadanya.
Bukan rasa damai, melainkan rasa sesak yang luar biasa, seolah-olah bumi sedang menolak kehadirannya.
Selesai sholat, Hafiz segera bangkit, tidak mau berlama-lama terjebak dalam suasana spiritual yang membuatnya gerah.
Ia menunggu di teras masjid, menatap jalanan gang yang mulai ramai oleh pedagang sayur dan anak-anak sekolah.
Pak Tua marbot menghampirinya, membawa segelas teh hangat dan sepotong singkong rebus yang masih mengepul.
"Makan ini" ucap Pak Tua.
Hafiz menerima teh itu, tangannya yang kedinginan merasa sedikit lega saat memegang gelas plastik itu.
"Saya harus ke mana, Pak? Saya nggak punya uang, nggak punya teman, nggak punya apa-apa," tanya Hafiz, matanya menatap kosong ke jalanan becek.
Pak Tua itu menatapnya tajam, "Kamu punya tangan dan kaki. Jangan cuma mengeluh di rumah Allah. Cari kerja, apa saja."
Hafiz mendengus sinis, "Kerja apa? Jadi kuli? Saya ini lulusan luar negeri, Pak! Saya punya pengalaman pimpin ribuan orang!"
"Gelar kamu nggak bisa dimakan, Nak. Di jalanan ini, yang laku cuma tenaga dan kemauan buat rendah hati," sahut Pak Tua telak.
Hafiz terdiam, egonya kembali terluka parah mendengar ucapan sederhana dari seorang marbot masjid.
Ia menghabiskan teh dan singkong itu dengan cepat, merasa sedikit tenaga kembali mengalir ke otot-ototnya yang lemah.
Hafiz merapikan kemejanya yang kusam, mencoba agar tidak terlihat terlalu berantakan.
Ia melangkah keluar dari gerbang masjid dengan kepala yang masih mencoba tegak, meski hatinya sudah hancur berkeping-keping.
"Gue bakal buktiin kalau gue bisa bangkit lagi tanpa bantuan siapa pun!" gumamnya penuh ambisi yang salah.
Ia berjalan menyusuri jalan raya, mencoba mencari papan pengumuman lowongan kerja di depan toko-toko kelontong.
Langkah kaki Hafiz terhenti di depan sebuah ruko distributor sembako yang sedang sibuk membongkar muatan dari truk besar.
Seorang pria tambun dengan kaos singlet dan handuk kecil di lehernya tampak sedang berteriak-teriak mengatur kuli angkut.
"Ayo cepat! Truk satu lagi mau datang! Jangan lelet!" teriak pria yang tampaknya adalah pemilik ruko itu.
Hafiz menarik napas panjang, ia mendekati pria itu dengan gaya jalan yang masih dipaksakan terlihat seperti bos besar.
"Permisi, Anda butuh orang tambahan untuk membantu di sini?" tanya Hafiz dengan nada bicara yang masih terdengar memerintah.
Pria tambun itu menoleh, memandang Hafiz dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik dan sedikit jijik.
"Mau cari kerja?