NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANGAN YANG TAK TERLIHAT

Enam bulan setelah Garuda Trading berdiri...

Wei Chen duduk di kios kecilnya di pasar Rembang, menghitung pendapatan hari itu.

Angkanya lumayan. Lima belas koin perak — lebih dari cukup untuk biaya sewa dan stok. Tapi belum cukup. Jauh dari cukup.

Di sampingnya, Mei Ling sibuk melayani pembeli — seorang ibu yang membeli beras dan gula. Gerakannya lincah, senyumnya ramah. Dia sudah jauh berbeda dari setahun lalu.

"Ayo, Bu. Ini yang terbaik." Suaranya ceria. "Kalau beli banyak, saya kasih harga khusus."

Ibu itu tersenyum. Membeli lebih banyak dari rencana.

Setelah pembeli pergi, Wei Chen berkata, "Kau jadi pedagang handal."

Mei Ling tertawa. "Kau guru yang baik."

"Muridnya yang pintar."

Mereka tersenyum. Enam bulan kerja keras, akhirnya mulai membuahkan hasil.

Tapi Wei Chen tahu ini baru awal. Untuk mencapai tujuannya — mengumpulkan cukup uang dan sumber daya untuk menyembuhkan Mei Ling — dia butuh lebih banyak. Jauh lebih banyak.

 

Sore harinya, saat pasar mulai sepi, seseorang datang.

Pria paruh baya dengan jubah hitam. Wajahnya keras, matanya tajam. Di pinggangnya, tergantung pedang pendek — tanda bahwa dia bukan orang biasa.

"Mana pemiliknya?" tanyanya.

Wei Chen berdiri. "Saya."

Pria itu mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu tersenyum tipis.

"Kau yang jual alat-alat aneh itu? Lampu tanpa api? Tungku tanpa asap?"

Wei Chen mengangguk. "Benar."

Pria itu mengeluarkan kantong uang. "Aku mau beli. Semua yang kau punya."

Wei Chen mengerutkan kening. "Semua?"

"Semua." Pria itu meletakkan kantong di meja. "Ini uangnya. Lima ratus koin perak."

Mei Ling terkesiap. Itu jumlah yang sangat besar — hampir dua tahun pendapatan mereka.

Wei Chen diam. Matanya menyipit.

"Maaf, Tuan. Boleh tahu untuk apa?"

"Bukan urusanmu."

Wei Chen menggeleng. "Kalau begitu, maaf, tidak bisa."

Pria itu terkejut. "Kau tolak uang sebanyak ini?"

"Saya tolak." Wei Chen tenang. "Alat-alat itu bukan barang biasa. Saya harus tahu ke mana perginya."

Pria itu diam. Lalu tersenyum — senyum yang berbeda.

"Kau benar-benar menarik, anak muda." Dia duduk di bangku depan kios. "Baik. Aku kasih tahu. Aku utusan Klan Naga Hitam."

Wei Chen dan Mei Ling saling pandang.

"Klan butuh alat-alat seperti itu untuk tambang di utara," lanjut pria itu. "Tambang kami dalam, gelap, dan dingin. Lampu tanpa api bisa terangi tanpa risiko kebakaran. Tungku tanpa asap bisa panaskan pekerja tanpa cemari udara."

Wei Chen diam. Mencerna informasi.

"Kau kerja untuk klan?" tanyanya.

"Bisa dibilang begitu."

"Kalau aku jual alat-alat itu, apa klan akan jadi pelanggan tetap?"

Pria itu mengangkat alis. "Kau mau jual rutin?"

"Mungkin."

Pria itu berpikir. Lalu mengangguk. "Bisa. Kalau kualitasnya bagus, klan butuh banyak."

Wei Chen mengangguk. "Kalau begitu, saya jual setengahnya dulu. Untuk sampel. Kalau klan puas, kita bicara lanjutan."

Pria itu tertawa. "Kau pintar. Baik, setuju."

Mereka bernegosiasi. Akhirnya, 100 koin perak untuk 10 lampu dan 5 tungku. Pria itu pergi dengan janji akan kembali.

Setelah dia pergi, Mei Ling menghela napas lega.

"Aku kira dia akan marah."

"Dia profesional." Wei Chen menghitung uang. "Orang seperti itu lebih suka lawan yang cerdas, bukan penjilat."

"Kau tahu banyak tentang orang."

"Aku belajar."

Mei Ling menatapnya. "Kadang aku lupa kau masih muda. Bicaramu seperti orang tua."

Wei Chen tersenyum tipis. Tidak menjawab.

 

Malam harinya, mereka kembali ke desa dengan gerobak penuh belanjaan.

Setelah makan malam, Wei Chen duduk di beranda, memandangi bintang.

Mei Ling duduk di sampingnya. Diam. Menikmati malam.

"Chen..."

"Hm."

"Aku bangga padamu."

Wei Chen menoleh. "Bangga?"

"Kau berhasil. Dari nol, sekarang punya toko, punya pelanggan, bahkan klan besar mulai tertarik." Matanya lembut. "Aku tidak pernah berpikir akan lihat hari ini."

Wei Chen diam. Lalu, "Ini baru awal."

"Aku tahu. Tapi tetap..." Dia meraih tangannya. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk tidak menyerah." Suaranya bergetar. "Untuk tetap di sini. Untuk... semuanya."

Wei Chen membalas genggamannya.

"Aku tidak ke mana-mana."

Mei Ling tersenyum. Di bawah cahaya bintang, dia terlihat cantik. Sangat cantik.

Dan untuk pertama kalinya, Wei Chen sadar — dia tidak hanya peduli pada Mei Ling sebagai teman. Lebih dari itu.

Tapi dia belum tahu harus bilang apa.

 

Esok harinya, Wei Chen pergi ke rumah Kakek Tio.

Pria tua itu sedang duduk di beranda, mengunyah sirih seperti biasa.

"Nak Wei." Dia tersenyum. "Sudah lama tidak ke sini."

"Sibuk, Kek."

"Bisnis?" Kakek Tio tertawa. "Aku dengar kau mulai sukses. Bagus."

Wei Chen duduk di sampingnya.

"Kek, aku mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Tentang kutukan Mei Ling."

Kakek Tio berhenti mengunyah. Matanya serius.

"Lanjutkan."

"Di buku-buku Kakek, ada yang bilang kutukan bisa disembuhkan dengan energi murni kultivator level tinggi. Atau dengan pil pemurni dari bahan langka."

Kakek Tio mengangguk.

"Itu benar. Tapi level tinggi — level 7 ke atas — mana ada yang mau bantu gadis desa biasa? Dan pil pemurni... bahannya langka, mahal, dan pembuatnya hanya sedikit."

Wei Chen diam.

"Kau mau coba?" tanya Kakek Tio.

"Mau."

Kakek Tio menatapnya lama. Lalu tersenyum.

"Kau benar-benar aneh, Nak. Tapi aneh yang baik." Dia berdiri, masuk ke rumah. Beberapa menit kemudian keluar dengan sebuah buku kecil.

"Ini." Dia menyerahkan buku itu. "Catatan tentang pil pemurni. Resep, bahan, cara buat. Aku dapat dari pengembara dulu."

Wei Chen menerima buku itu dengan hati-hati.

"Terima kasih, Kek."

"Jangan dulu berterima kasih." Kakek Tio duduk kembali. "Bahan-bahannya susah dicari. Ada yang hanya tumbuh di gunung tinggi. Ada yang hanya ada di dasar laut. Ada yang dijual di pasar gelap dengan harga selangit."

Wei Chen membuka buku itu. Membaca cepat.

Akar Seribu Tahun. Embun Giok. Darah Naga. Kristal Jiwa.

Nama-nama asing. Tapi dia akan pelajari.

"Berapa kira-kira biaya untuk semua bahan?" tanyanya.

Kakek Tio berpikir. "Mungkin... sepuluh ribu koin emas."

Wei Chen membeku.

Sepuluh ribu koin emas. Pendapatan tokonya setahun mungkin 500 koin perak — 50 koin emas. Berarti butuh 200 tahun.

Tapi dia tidak menyerah.

"Ada cara lain?" tanyanya.

Kakek Tio menggeleng. "Hanya itu."

Wei Chen diam. Otaknya bekerja.

Di bumi, dia menghadapi tantangan mustahil berkali-kali. Dan selalu ada jalan.

Aku akan cari jalan.

 

Seminggu kemudian, utusan Klan Naga Hitam kembali.

Pria yang sama — ternyata namanya Tua Li — datang dengan senyum puas.

"Alat-alatmu bagus," katanya. "Klan puas. Kami mau pesan lagi. Banyak."

Wei Chen tidak terkejut. Dia sudah memperkirakan.

"Berapa banyak?"

"Seratus lampu. Lima puluh tungku." Tua Li meletakkan kantong uang di meja. "Dua ribu koin perak uang muka. Sisanya setelah barang jadi."

Mei Ling, yang ada di samping, hampir pingsan.

Wei Chen tetap tenang. "Waktu pengiriman?"

"Tiga bulan."

Wei Chen berpikir. Produksi sebanyak itu butuh bahan baku banyak, butuh tenaga kerja tambahan. Tapi...

"Bisa." Dia mengangguk. "Tiga bulan."

Tua Li tersenyum. "Bagus. Kau anak muda yang bisa diandalkan." Dia berdiri. "Oh ya, atasanmu — Toke Wijaya — dia tahu kau dapat kontrak sebesar ini?"

"Belum."

"Hati-hati." Tua Li menatapnya tajam. "Orang iri itu berbahaya."

Dia pergi. Meninggalkan Wei Chen dan Mei Ling dengan kantong uang besar.

 

Malam harinya, Wei Chen menghitung ulang.

Dua ribu koin perak — 200 koin emas. Setelah dipotong biaya produksi, mungkin untung 100 koin emas.

Masih jauh dari 10.000. Tapi lumayan. Ini baru satu kontrak.

Mei Ling duduk di sampingnya. Masih tidak percaya.

"Chen... kita kaya?"

"Belum." Wei Chen tersenyum tipis. "Tapi mulai."

Mei Ling tertawa. Lalu tiba-tiba memeluknya.

"Kau hebat."

Wei Chen diam. Pelukan itu hangat.

"Mei Ling..."

"Hm?"

"Aku akan kumpulkan uang. Cari semua bahan. Pelajari cara buat pil." Suaranya pelan. "Aku akan sembuhkan kau."

Mei Ling melepas pelukan. Menatap matanya.

"Kenapa?" bisiknya.

"Karena..."

Wei Chen berhenti. Kata-kata di ujung lidah. Tapi tidak keluar.

Karena aku tidak bisa hidup tanpamu.

Tapi dia tidak bilang itu.

"Aku tidak mau kau pergi," katanya akhirnya. Sama seperti dulu.

Mei Ling tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca.

"Aku juga tidak mau pergi."

Mereka berpelukan lagi. Malam itu, di bawah bintang-bintang, dua insan yang terluka saling menguatkan.

Tapi di kejauhan, di kota Rembang, seseorang mengamati mereka dari bayangan.

Lim Xiu.

Dia tersenyum tipis. Lalu pergi.

 

Chapter 8 END.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!