Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Raksasa Tumbang di Bawah Gerhana
Keheningan di alun-alun Puncak Teratai Luar akhirnya pecah oleh batuk canggung Diaken Kuang. Tetua Utama menatapnya dengan pandangan sedingin pisau, menyadari ada manipulasi di balik rusaknya formasi. Namun, demi menjaga wibawa sekte di depan ribuan murid, Tetua Utama memilih menunda investigasi.
"Ronde Pertama selesai! Mereka yang lolos, bersiaplah untuk Ronde Kedua: Pertarungan Arena!" suara Tetua Utama kembali menggelegar, menembus awan tipis di atas gunung.
Dari ratusan murid luar, hanya sekitar enam puluh orang yang berhasil melewati Lorong Seribu Gunung. Arena pertarungan berupa platform batu giok putih raksasa perlahan naik dari tengah alun-alun, dikelilingi oleh pilar-pilar pelindung transparan.
Sistem pengundian berjalan cepat. Tidak mengejutkan bagi Li Jian ketika namanya dipanggil untuk naik ke arena pada giliran kelima. Dan seperti yang sudah diatur oleh tangan-tangan tak kasat mata di belakang layar, lawannya adalah Sun Lie.
Pria raksasa itu melompat ke atas arena, pendaratannya membuat lantai giok putih bergetar hebat. Sun Lie memutar lehernya hingga berbunyi krak, memamerkan senyum buas. Di tangannya, ia menggenggam sepasang gada baja berduri yang masing-masing seberat ratusan kati. Aura Kondensasi Qi Tingkat Empat miliknya meledak, menciptakan pusaran angin kasar di sekelilingnya.
Dari sudut berlawanan, Li Jian menaiki tangga arena perlahan, langkahnya hening nyaris tanpa suara. Jubah abu-abunya berkibar pelan. Benda panjang berbalut kain hitam masih terikat aman di punggungnya.
"Aku akui, kau punya sedikit ketahanan fisik untuk bisa berjalan melewati lorong yang rusak itu," geram Sun Lie, mengangkat salah satu gadanya dan menunjuk lurus ke arah wajah Li Jian. "Tapi di atas arena ini, tidak ada formasi yang bisa menyelamatkanmu. Aku akan menghancurkan setiap tulang di tubuhmu, perlahan-lahan, sebagai hadiah untuk Kakak Zhao!"
Di bangku penonton elit, Zhao Tian tersenyum tipis. Adik laki-lakinya, Zhao Feng, menatap ke arah arena dengan napas memburu dan mata merah penuh dendam.
"Hancurkan dia, Sun Lie! Cincang dia!" teriak Zhao Feng dari kejauhan.
Di atas arena, Li Jian tidak membalas provokasi itu. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, meraih ke balik punggung, dan menarik ikatan kain hitam tersebut.
Kain itu terurai, memperlihatkan sebatang besi hitam legam, kasar, tebal, dan sama sekali tidak memiliki sisi tajam. Gerhana.
Melihat "senjata" yang ditarik Li Jian, tawa meremehkan meledak dari tribun penonton, dipelopori oleh para pengikut Zhao Tian.
"Apa itu? Tongkat kayu bakar yang dilumuri arang?"
"Dia menantang Gada Berduri Sun Lie dengan balok besi tumpul? Si 'Akar Terkutuk' ini pasti sudah gila karena ketakutan!"
Di dalam lautan kesadaran Li Jian, Yueyin mendengus dingin. "Orang-orang udik yang menyedihkan. Mereka mengira ketajaman sebuah senjata terletak pada mata pisaunya. Tunjukkan pada mereka, bocah. Ajari mereka apa arti beban yang sesungguhnya."
Wasit di pinggir arena mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pertarungan... Mulai!"
BOOM!
Sun Lie menerjang maju seperti banteng gila. Sepasang gadanya diayunkan dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan, bertujuan menjepit dan meremukkan kepala Li Jian. Teknik Gada Penakluk Harimau, sebuah jurus tingkat menengah yang mengandalkan murni kekuatan brutal dan Qi elemen tanah yang kental.
Angin yang dihasilkan dari ayunan gada itu begitu kuat hingga menggores lantai arena.
Li Jian berdiri diam. Matanya yang sehitam malam mengunci pergerakan Sun Lie. Di detik terakhir, ketika duri-duri gada itu hanya berjarak satu jengkal dari pelipisnya, energi perak meledak dari dalam Dantian-nya.
Bukan Qi Tingkat Satu, bukan pula Tingkat Tiga. Li Jian melepaskan sedikit batasannya, membiarkan aura murni dari Seni Bintang Pemakan Langit membanjiri meridiannya. Suhu di seluruh arena langsung anjlok hingga ke titik beku.
Li Jian tidak mundur. Ia mencengkeram gagang Gerhana dengan dua tangan, memutar pinggulnya, dan mengayunkan pedang tumpul yang luar biasa berat itu dari bawah ke atas dalam satu lintasan lengkung yang brutal.
"Seni Pedang Awan Mengalir: Tebasan Pembelah Langit!" Meski menggunakan nama jurus sekte, kekuatan di baliknya adalah murni kebrutalan fisik dan elemen Yin yang absolut.
CRAAAANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga menggema ke seluruh penjuru Puncak Teratai Luar. Gelombang kejut meledak dari titik benturan, memaksa murid-murid di barisan terdepan penonton menutup mata dan mundur beberapa langkah.
Ketika debu dan serpihan es mereda, pemandangan di atas arena membuat napas semua orang tercekat.
Li Jian masih berdiri di posisi yang sama, jubahnya bahkan tidak tergores sedikit pun. Gerhana tertahan dengan kokoh di udara.
Di hadapannya, Sun Lie mematung. Sepasang gada baja kebanggaannya... telah hancur berkeping-keping. Bukan sekadar patah, melainkan hancur menjadi serpihan es logam berukuran kerikil yang berjatuhan ke lantai.
Namun kengerian yang sebenarnya bukan pada senjata itu.
Hawa dingin ekstrem telah merambat melalui sisa gagang gada langsung ke kedua lengan raksasa Sun Lie. Dari telapak tangan hingga ke bahu, kedua lengan pria raksasa itu membeku sepenuhnya, ditutupi lapisan es biru pekat yang terus mengeluarkan kabut putih.
"T... Tanganku..." suara Sun Lie bergetar hebat. Wajah buasnya kini digantikan oleh topeng keputusasaan dan rasa sakit yang tak terlukiskan. Meridian di kedua lengannya telah hancur total karena dibekukan secara paksa. Ia bahkan tidak bisa merasakan ujung jarinya.
Li Jian menarik Gerhana, memutarnya dengan santai di pergelangan tangannya seolah pedang yang sangat berat itu seringan bulu, lalu menempelkan ujung tumpulnya yang sedingin gletser tepat di leher Sun Lie.
"Kau bilang ingin menghancurkan tulangku?" bisik Li Jian, suaranya tenang namun mengiris langsung ke dalam jiwa sang lawan.
Kaki Sun Lie kehilangan kekuatannya. Raksasa setinggi dua meter itu jatuh berlutut di hadapan pemuda berjubah abu-abu tersebut, gemetar hebat menahan dingin dan teror.
"A-Aku menyerah! Ampun! Aku menyerah!" jerit Sun Lie histeris, melupakan semua harga diri dan perintah Zhao Tian.
Wasit, yang tadinya tertegun melihat pembalikan keadaan yang tidak masuk akal ini, buru-buru tersadar. "Pemenang, Li Jian!"
Sorak-sorai tidak terjadi. Ribuan murid terdiam dalam keterkejutan total. Seorang Kultivator Tingkat Empat dikalahkan hanya dengan satu ayunan pedang tumpul oleh pemuda yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai sampah sekte.
Li Jian menurunkan pedangnya. Ia melirik tajam ke arah bangku penonton elit. Matanya langsung bertemu dengan mata Zhao Tian.
Senyum arogan Zhao Tian telah sirna tanpa sisa, digantikan oleh wajah pucat dan rahang yang mengeras karena amarah yang memuncak. Adik di sebelahnya, Zhao Feng, nyaris pingsan melihat algojo terkuat mereka berlutut memohon ampun.
Li Jian perlahan mengangkat jari telunjuk tangan kirinya, menunjuk lurus ke arah Zhao Tian, lalu menyapukan jari itu ke lehernya sendiri dalam gestur ancaman yang sangat jelas. Kau berikutnya.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏