"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TANAH YANG MULAI DIREBUT
Pagi itu belum sempat menjadi terang ketika suara sepatu menghantam tanah kebun pala.
Bukan suara panen.
Bukan suara cangkul.
Melainkan suara perintah.
"Tandai di sini! Jangan pedulikan teriakan mereka!"
Warga terdiam sejenak—bukan karena takut, tapi karena tidak percaya.
Tanah yang mereka rawat puluhan tahun, pagi itu disebut milik orang lain.
Pukul setengah enam pagi. Kabut masih tebal menyelimuti kebun pala di pinggir kampung. Embun menggantung di ujung daun, berkilau seperti air mata sebelum jatuh.
Pak Kadir sudah berada di kebun sejak subuh. Usianya enam puluh tiga tahun, punggungnya mulai membungkuk, tapi tangannya masih cekatan memetik buah pala. Ia meletakkan buah itu satu per satu ke dalam keranjang anyaman bambu—keranjang yang sama yang ia gunakan sejak masih muda.
Di sampingnya, istrinya, Mak Minah, ikut memungut buah yang jatuh. Ia sudah tujuh tahun tidak bisa bekerja berat karena sakit pinggang, tapi hari ini ia ikut. Karena panen harus cepat. Karena hasil hari ini akan dijual untuk membeli beras minggu depan.
"Pak, sudah cukup," kata Mak Minah. "Istirahat dulu."
Pak Kadir menggeleng. "Nanti dulu, Mak. Ini masih banyak."
Di kejauhan, anak mereka, Sarif (19 tahun), sedang memanjat pohon pala. Ia turun dengan keranjang penuh, tersenyum lebar.
"Pak, lihat! Ini yang paling besar musim ini!"
Pak Kadir tersenyum. Senyum lelaki tua yang bangga pada anaknya. Ia menerima buah itu, mencium aromanya. Wangi pala segar—wangi yang sama yang ia kenal sejak kecil, sejak ayahnya mengajaknya ke kebun ini pertama kali.
"Ini nanti kita jual," katanya. "Uangnya buat beli baju baru buat kamu."
Sarif tersenyum malu. "Buat Mak aja, Pak."
Mereka tertawa kecil. Pagi itu indah. Seperti pagi-pagi biasanya.
Tiba-tiba, suara sepatu menghentak dari arah jalan setapak.
Bukan satu atau dua. Tapi banyak. Berat. Teratur. Suara itu menghantam tanah basah, meninggalkan jejak dalam yang dalam.
Pak Kadir menoleh. Wajahnya berubah.
Sepuluh lelaki masuk ke kebun. Mereka bukan petani. Bukan juga pedagang. Mereka adalah centeng-centeng Datuk Sulaiman—wajah-wajah yang dikenalnya sejak insiden penyiksaan beberapa bulan lalu. Yang paling depan, Samsul, dengan cambuk melingkar di pinggang. Wajahnya dingin seperti batu nisan.
Di tangan mereka, papan-papan kayu dan gulungan tali.
Mak Minah meraih lengan suaminya. "Pak... itu..."
"Kau diam di sini," bisik Pak Kadir. Ia melangkah maju.
"Berhenti!" teriaknya. "Kalian mau apa?"
Samsul tidak menjawab. Ia memberi isyarat pada anak buahnya. Dua centeng mulai menancapkan papan di batas kebun. Di papan itu, tulisan besar tercetak dengan cat merah—merah seperti darah.
MILIK VEREENIGDE OOSTINDISCHE COMPAGNIE
DILARANG MASUK
PELANGGARAN AKAN DITINDAK TEGAS
Darah Pak Kadir mendidih. Tangannya gemetar.
"KALAU KALIAN GILA?!" Ia berlari mendekat, diikuti beberapa petani lain. "Ini tanah kami! Kami yang menggarap empat puluh tahun! Ayah saya, kakek saya, semua di sini!"
Samsul menoleh. Wajahnya dingin.
"Pak Kadir, ini perintah dari atas. Tanah ini sudah tercatat sebagai wilayah VOC."
"Catatan siapa?!" bentak Pak Kadir. "Kami punya surat tanah dari kepala kampung! Dari kakek moyang kami! Ini tanah warisan!"
Samsul tertawa. Tawanya pendek, getir, seperti mengejek orang bodoh.
"Surat kalian? Kertas itu tidak laku di Batavia. Yang laku adalah ini." Ia menunjuk papan bertuliskan VOC. "Kalian harus ngerti. Ini bukan main-main."
Para petani mulai berkumpul. Satu per satu mereka datang dari berbagai sudut kebun. Laki-laki, perempuan, anak-anak kecil yang ikut membantu orang tua. Mereka datang dengan cangkul, dengan parang, dengan tangan kosong—tapi dengan mata yang menyala.
"KELUAR DARI KEBUN KAMI!" teriak Sarif, anak Pak Kadir.
Samsul tidak bergeming. "Kami tidak akan pergi sebelum semua papan terpasang."
Mak Minah berlari mendekat. Ia hampir jatuh tersungkur, tapi Sarif menangkapnya. Wajahnya pucat, matanya basah.
"Pak Samsul," suaranya bergetar, memohon. "Kami tidak punya apa-apa lagi selain tanah ini. Rumah kami hanya gubuk reyot. Sawah kami tidak punya. Hanya ini, kebun ini, yang kami miliki. Kalau kalian ambil... kami mati. Benar-benar mati."
Samsul memandangnya sekilas. Lalu mengalihkan pandangan.
"Itu bukan urusan saya. Saya hanya menjalankan perintah."
Mak Minah jatuh berlutut. Tangan meremat tanah.
"Pak Samsul, saya mohon... saya sudah tua. Suami saya sudah tua. Anak saya baru sembilan belas tahun. Ini satu-satunya warisan yang bisa kami berikan padanya. Kalau tanah ini diambil... apa yang bisa kami wariskan?"
Samsul diam. Tapi wajahnya tidak berubah.
Seorang centeng mulai mengikat tali di pohon pala tertua di kebun itu. Pohon yang ditanam ayah Pak Kadir lima puluh tahun lalu. Pohon yang setiap tahun berbuah lebat. Pohon tempat Pak Kadir pertama kali belajar memanjat.
Pak Kadir melihat itu. Dunia seolah berhenti.
"JANGAN!" Ia berlari. Ia mencabut tali itu, melemparkannya ke tanah. "Ini pohon ayah saya! Jangan sentuh!"
Samsul melangkah maju. Kini ia berhadapan langsung dengan Pak Kadir. Jarak hanya satu langkah. Napas mereka bertabrakan di udara dingin pagi.
"Pak Kadir, saya ingatkan. Jangan buat masalah."
"Masalah?" Pak Kadir tertawa getir. Suaranya pecah. "Kalian yang datang, kalian yang ancam, kalian yang bilang jangan buat masalah?!" Suaranya naik, pecah di tenggorokan. "Kami ini apa? Hewan? Kalian renggut tanah kami, kalian renggut hidup kami, lalu kami yang salah?!"
Petani lain mulai mendekat. Mereka membentuk lingkaran di sekitar Samsul dan centeng-centengnya. Cangkul dan parang mulai terangkat. Bukan untuk menyerang, tapi untuk menunjukkan: mereka siap mati.
"KELUAR!" teriak mereka serempak. Suara mereka menggema di kebun, mengejutkan burung-burung yang bertengger.
Samsul mundur selangkah. Tapi wajahnya tidak takut. Hanya kesal. Kesal karena harus menghadapi kerumunan bodoh ini.
"Kalian pikir dengan berteriak kalian bisa menang?" Suaranya dingin seperti malam kutub. "Ini VOC, bodoh! Bukan mainan! Kalian tahu apa itu VOC? Mereka punya kapal perang. Mereka punya senjata api. Mereka bisa membakar kampung kalian dalam semalam."
Mak Minah menjerit. Jeritan panjang, menyayat hati.
"SUDAH PERNAH! KAMI SUDAH PERNAH LIHAT RUMAH TETANGGA KAMI DIBakar! Pak Karim! Rumahnya habis! Suaminya hilang sampai sekarang! Istri nya mati hidup-hidup, matanya kosong, jualan gula aren sambil menangis!"
Jeritan itu menusuk. Beberapa petani menunduk. Mereka ingat Pak Karim. Mereka ingat api itu.
Samsul diam. Tapi dua centeng di belakangnya mulai gelisah.
"Bang," bisik salah satu, "ini bisa ramai. Mungkin kita—"
"DIAM!" bentak Samsul. "Kita teruskan!"
Dua centeng lain mulai menancapkan papan lagi. Kali ini di dekat keranjang-keranjang pala yang sudah dipanen. Keranjang itu penuh—hasil kerja sejak subuh. Keringat, harapan, masa depan—semua ada di dalamnya.
Sarif tidak tahan. Ia melihat ibunya masih berlutut di tanah. Ia melihat ayahnya gemetar menahan marah. Ia melihat papan-papan itu, tali-tali itu, senyum-senyum centeng itu.
"JANGAN SENTUH!"
Ia berlari. Mendorong salah satu centeng.
Centeng itu tersungkur. Bangkit dengan mata merah.
"KAU DORONG AKU?!"
Ia menendang keranjang. Buah pala berhamburan ke tanah. Berguling. Berceceran. Beberapa pecah, hancur diinjak sepatu boot.
Dunia seolah berhenti.
Para petani menatap buah-buah itu. Buah yang mereka petik satu per satu sejak subuh. Buah yang mereka pilih dengan hati-hati. Buah yang akan mereka jual untuk makan hari ini, untuk susu anak, untuk obat ibu, untuk baju baru.
Pak Kadir berjongkok. Ia memungut satu buah yang pecah. Getahnya meleleh di tangannya. Wanginya masih segar. Tapi buah itu sudah hancur.
Tangannya gemetar.
"Ini... ini..."
Ia tidak bisa melanjutkan. Mulutnya bergerak, tapi suara tidak keluar. Hanya air mata yang jatuh.
Mak Minah merangkak mendekat. Ia memunguti buah-buah itu satu per satu, seperti memunguti mayat-mayat kecil. Tangannya berlumuran getah, tapi ia tidak peduli.
"Buah kita... buah kita..."
Anak kecil—cucu Pak Kadir, baru lima tahun—berlari mendekat. Ia memungut satu buah yang masih utuh.
"Nek, ini masih bagus?"
Mak Minah menatap cucunya. Tidak bisa menjawab. Hanya menangis.
Anak itu bingung. "Nek nangis kenapa? Nanti kita petik lagi, ya? Besok-besok."
Pak Kadir mendengar itu. Dadanya hancur.
"Tidak, Nak," bisiknya serak. "Tidak ada lagi. Tidak akan ada lagi."
"KALIAN KURANG AJAR!" teriak seorang petani.
Dorongan terjadi. Saling dorong. Teriak. Umpat. Seorang centeng dipukul cangkul—tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya berdarah.
Samsul mengeluarkan cambuk. Mengayunkannya ke udara. SUARA CAMBUK MELE TUS UDARA—tidak mengenai siapa pun, tapi cukup untuk membuat semua orang mundur sejenak.
"DIAM!" bentaknya. "SEMUA DIAM!"
Hening. Hanya suara napas memburu dan isak tangis Mak Minah yang masih memunguti buah-buah itu.
Samsul menatap mereka satu per satu. Wajah-wajah tua, muda, anak-anak. Wajah-wajah yang hancur.
"Dengar baik-baik." Suaranya pelan, tapi jelas. "Ini perintah VOC. Kalian bisa protes, bisa teriak, bisa nangis. Tapi besok atau lusa, tanah ini tetap jadi milik VOC. Mereka punya surat. Mereka punya hukum. Kalian? Kalian hanya punya tanah yang sekarang bukan milik kalian lagi."
Pak Kadir menatapnya. Matanya merah, tapi tidak menangis lagi. Yang tersisa hanya amarah. Amarah yang membara, yang siap meledak kapan saja.
"Kami tidak akan pernah terima," katanya lirih. Suaranya aneh—bukan suara orang tua, tapi suara orang yang sudah melewati batas. "Tanah ini harga diri kami. Ini kuburan ayah saya. Ini tempat lahir anak saya. Ini satu-satunya yang kami punya. Lebih baik mati daripada lepas tanah."
Samsul tersenyum. Senyum yang dingin, tanpa hati.
"Matilah."
Kata itu jatuh seperti batu besar ke sumur dalam.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara.
Samsul memberi isyarat pada anak buahnya. "Pasang semua papan. Hari ini juga. Sampai selesai."
Centeng-centeng itu mulai bekerja. Memaku. Mengikat. Menancapkan tanda kematian.
Para petani hanya bisa menonton. Menonton tanah mereka direbut. Menonton pohon-pohon mereka ditandai. Menonton masa depan mereka lenyap.
Seorang perempuan muda—istri Sarif, baru menikah tiga bulan—memegang perutnya. Ia hamil muda. Ia berbisik pada janinnya: "Maafkan kami, Nak. Kamu lahir tanpa warisan."
Sarif mendengar itu. Ia mengepalkan tangan. Kukunya menembus telapak. Darah mengalir.
Sebelum pergi, Samsul berhenti. Ia memandang Pak Kadir sekali lagi.
"Satu pesan." Suaranya pelan, tapi jelas. "Katakan pada semua orang: ini baru awal. Besok, lusa, bulan depan... akan lebih banyak tanah yang kami tandai. Jadi bersiap-siap."
Ia meludah ke tanah. Tepat di depan Pak Kadir.
Lalu pergi. Meninggalkan kebun yang sunyi, para petani yang membeku, buah pala yang berserakan, dan tangis yang tertahan.
Pak Kadir masih berjongkok. Ia memunguti buah-buah itu satu per satu. Memasukkannya kembali ke keranjang yang rusak. Buah yang hancur ia pisahkan. Buah yang masih utuh ia letakkan hati-hati.
Mak Minah duduk di tanah, memeluk cucunya. Anak itu bertanya lagi, "Nek, besok kita main di sini lagi?"
Mak Minah menangis.
Sarif berdiri mematung. Darah masih mengalir dari tangannya. Ia tidak merasakan sakit.
"Pak," bisiknya. "Kita lawan?"
Pak Kadir tidak menjawab. Ia hanya terus memunguti buah-buah itu.
"Ini belum selesai," bisiknya akhirnya. Suaranya serak, pecah. "Ini belum selesai."
Tapi di dalam hatinya, ia tidak tahu bagaimana caranya melawan. Mereka hanya petani. Mereka tidak punya senjata. Mereka tidak punya hukum.
Mereka hanya punya tanah ini.
Dan tanah ini sekarang milik orang lain.
[Bersambung...]