Terlahir kembali di Benua Douluo sebagai Dai Raven, Pangeran Keempat dari Kekaisaran Bintang Luo, bukanlah sebuah keberuntungan. Di dunia di mana saudara kandung harus saling membunuh demi tahta, Raven tahu bahwa menjadi "lemah" berarti kematian.
Tanpa bakat luar biasa di awal dan tanpa perlindungan, Raven hanya memiliki analisis dingin dan kenangan dari kehidupan sebelumnya. Namun, segalanya berubah saat ia membangkitkan sebuah kekuatan yang belum pernah terlihat di sejarah keluarga Dai: Kunci Energi Alien Harimau Putih.
Bersama dengan Sistem Buku Harian yang misterius, Raven mulai menulis ulang takdirnya sendiri.
"Jika hukum Bintang Luo menuntut pertumpahan darah antar saudara, maka aku akan menjadi orang yang menghancurkan hukum itu. Jika Dai Mubai melarikan diri, maka akulah yang akan berdiri di depan Zhu Zhuqing."
Seorang pangeran yang tenang, analitis, dan tak kenal ampun kepada musuh, namun sangat protektif (bucin) kepada gadis yang ia cintai. Raven tidak ingin menjadi dewa,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Tidak Ingin Zhu Zhuqing Mati atau Bersedih, Bukan
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti istana megah Kekaisaran Bintang Luo. Dai Raven baru saja menyelesaikan sesi meditasi pertamanya menggunakan metode energi alien yang baru ia dapatkan. Meskipun tubuhnya terasa lelah karena proses pemurnian energi yang intens, matanya tetap memancarkan ketenangan analitis yang tajam.
Begitu ia melangkah masuk ke Ruang Belajar Kekaisaran, aroma kayu cendana dan wibawa yang menekan menyambutnya. Di sana telah berdiri dua pria paling berkuasa di kekaisaran: ayahnya, Kaisar Dai Yutian, dan Duke Zhu Ming.
Tanpa basa-basi, Raven memberikan hormat formal namun efisien. "Ayah Kaisar, Paman Zhu. Mengapa memanggilku sepagi ini?"
Kaisar Dai Yutian menatap putra keempatnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Selain membahas persiapanmu masuk ke Akademi Kerajaan Bintang Luo dalam dua minggu, ada hal lain yang lebih mendasar."
Zhu Ming, kepala keluarga Zhu, melangkah maju. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Raven, menunjukkan gestur keakraban yang langka. "Raven, izinkan Paman bertanya secara pribadi... bagaimana pendapatmu tentang Zhuqing?"
Raven menyipitkan matanya sedikit. Otak analitisnya segera bekerja memproses variabel di balik pertanyaan ini. Pertanyaan jebakan? Atau diplomasi keluarga?
"Zhuqing sangat baik," jawab Raven dengan nada jujur namun terkontrol. "Dia rajin, imut, dan kami memiliki kecocokan yang baik. Aku menghargai keberadaannya di sisiku."
Zhu Ming mengangguk, namun raut wajahnya berubah serius. "Tapi kau harus tahu aturan mainnya. Secara tradisional, Zhuqing seharusnya dijodohkan dengan Pangeran Ketiga, Mubai, setelah rohnya bangkit nanti. Awalnya, Yang Mulia Kaisar berniat meninjau kembali keputusan itu jika kau memiliki bakat yang lebih baik, tapi..."
Raven mendengus pelan dalam hati. Ck, teknik manipulasi klasik. Mencoba membuatku merasa berutang budi atau terdesak? Raven sudah melewati masa-masa politik kantor di kehidupan sebelumnya; drama kerajaan seperti ini terasa seperti makanan sehari-hari baginya.
"Paman Zhu, Ayah Kaisar," Raven memotong dengan nada dingin namun sopan. "Mari kita bicara langsung pada intinya. Saya lebih suka fakta daripada retorika. Ayah Kaisar sudah menyatakan kemarin bahwa Zhuqing tidak akan diberikan kepada Kakak Ketiga. Kata-kata seorang Kaisar adalah mutlak, bukan?"
Zhu Ming tertegun. Anak ini... dia tidak bermain sesuai naskah. Biasanya, seorang bocah enam tahun akan bertanya dengan gugup tentang nasib teman mainnya. Tapi Raven? Dia justru mengunci pernyataan Kaisar sebagai jaminan hukum.
Kaisar Yutian memberikan kode pada Zhu Ming untuk mundur, lalu ia menatap Raven dengan tajam. "Baiklah, mari bicara fakta. Raven, bagaimana pendapatmu tentang hukum suksesi keluarga Dai yang telah diwariskan turun-temurun?"
Suasana di ruangan itu seketika menjadi berat. Zhu Ming menahan napas. Ia sangat berharap Raven bisa menjadi kunci untuk mengubah tradisi berdarah yang menuntut kematian putri-putrinya yang gagal dalam kompetisi.
Raven terdiam sejenak. Ia tahu ini adalah ujian ideologi.
"Secara strategis," Raven memulai, suaranya bergema di ruangan luas itu, "aturan ini adalah alasan mengapa Bintang Luo tetap kuat dan militeristik. Ini memastikan bahwa hanya yang terkuat yang memimpin. Namun, secara efisiensi sumber daya, ini adalah pemborosan besar."
"Pemborosan?" tanya Kaisar, alisnya terangkat.
"Benar. Kakak Sulung mulai berkultivasi bertahun-tahun sebelum kami. Kakak Kedua dan Ketiga tertinggal jauh. Memaksa mereka bertarung sampai mati bukan lagi seleksi alam, tapi pembantaian berencana. Jika setiap pangeran yang kalah harus tewas atau cacat, kita kehilangan jenderal-jenderal potensial dan Master Roh tingkat tinggi yang seharusnya bisa memperkuat fondasi negara. Ini tidak manusiawi, dan lebih buruk lagi, ini tidak logis."
Kaisar Yutian menyipitkan mata, nadanya mendingin. "Kehidupan memang tidak adil, Raven. Apalagi di keluarga kekaisaran. Pemenang berhak atas segalanya, yang kalah harus tersingkir agar tidak ada duri dalam daging bagi sang raja baru."
Raven tidak mundur selangkah pun. "Keadilan bisa diciptakan melalui kebijakan, Ayah. Memberi tekanan itu perlu, tapi tekanan tanpa harapan hanya akan menghasilkan pemberontakan atau keputusasaan. Lihat Kakak Kedua, sekeras apa pun dia berlatih, bisakah dia melampaui Kakak Sulung dalam waktu singkat? Jelas tidak, kecuali Kakak Sulung berhenti berlatih."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi sistem muncul di sudut mata Raven.
[ Ding! Misi Tersembunyi Terpicu: Debat Takdir. ]
[ Tujuan: Berikan argumen yang mengguncang keyakinan Kaisar. ]
[ Hadiah: Peningkatan Poin Kontribusi Sistem dan 5% Pemurnian Energi Alien. ]
Melihat itu, Raven memperkuat argumennya. "Ayah, Anda ingin aku mengubah keadaan karena Anda melihat potensiku, bukan?"
Kaisar Yutian menggeleng perlahan, sebuah senyum tipis yang penuh teka-teki muncul di wajahnya yang keras. "Bukan aku yang ingin kau mengubahnya, Raven. Tapi kau sendiri yang akan memohon untuk mengubahnya."
"Maksud Ayah?"
"Kau jenius, Raven. Tapi jenius pun punya kelemahan: perasaan. Kau tidak ingin melihat Zhu Zhuqing tewas di tangan kakaknya sendiri dalam kompetisi nanti, bukan? Kau juga tidak ingin melihatnya menangis saat keluarganya hancur. Jika kau ingin melindunginya, kau tidak bisa hanya menjadi kuat. Kau harus menjadi orang yang menulis ulang hukum kekaisaran ini."
Raven terdiam. Analisis ayahnya tepat sasaran. Ia memang berniat melindungi Zhuqing, dan sistem baru saja memberinya insentif tambahan.
[ Ding! Misi Berhasil. Menghitung Hadiah... ]
[ Selamat, Tuan Rumah mendapatkan 500 Poin Sistem. ]
"Aku mengerti," Raven menjawab dengan nada yang jauh lebih tenang dan dewasa. "Jika itu yang Ayah inginkan, maka aku akan menjadi orang yang memegang pena untuk menulis ulang sejarah Bintang Luo."
Zhu Ming dan Kaisar saling melirik. Mereka baru saja menyadari bahwa mereka tidak sedang berbicara dengan seorang anak kecil, melainkan dengan seorang predator masa depan yang baru saja menemukan mangsa terbesarnya: Tradisi.