Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Langit di Atas Langit
Angin laut bertiup kencang menampar wajah, membawa perpaduan aroma garam dan anyir darah di Pelabuhan Emerald. Di depan Gudang Nomor 4 yang luas, pemandangan tampak seperti medan perang yang baru saja disapu badai.
Ratusan penjaga elit Emerald Group, pria-pria berbadan tegap yang dilatih militer, kini tergeletak mengerang di atas lantai beton yang retak-retak. Senjata api mereka bengkok atau terbelah menjadi dua, tak berguna.
Di tengah lautan manusia yang tumbang itu, tiga pria berdiri dengan angkuh. Mereka mengenakan pakaian bela diri tradisional berwarna abu-abu gelap dengan lambang harimau putih bersulam perak di dada kiri. Mereka adalah Tiga Serigala dari Keluarga Li Utara.
Li Kuang, sang pemimpin yang memiliki bekas luka sayatan melintang di wajahnya, menginjak dada salah satu komandan keamanan Emerald.
"Hanya kumpulan sampah," ludah Li Kuang meremehkan. "Kalian bahkan tidak bisa membuatku memanaskan otot. Mana pemuda sombong itu? Matahari sudah mulai condong ke barat!"
Dua rekannya tertawa sinis. Di mata praktisi bela diri yang telah memadatkan energi internal (Qi) seperti mereka, senjata api dan jumlah manusia biasa hanyalah pajangan.
Tiba-tiba, deru mesin mobil yang halus memecah kesunyian yang mencekam. Sebuah Rolls-Royce Phantom hitam meluncur pelan dan berhenti tepat di batas medan pertarungan.
Pintu terbuka. Han Shixiong melangkah keluar dengan wajah tegang, segera membukakan pintu belakang. Dari sana, turunlah seorang pemuda berpakaian kasual—kaos putih polos, jaket katun, dan celana jeans. Pemuda itu berjalan dengan kedua tangan di dalam saku, langkahnya begitu santai seolah ia sedang berjalan-jalan di taman bunga, bukan di ladang pembantaian.
Mata Li Kuang menyipit menatap Arya. Ia mencoba merasakan fluktuasi Qi dari tubuh pemuda itu, namun nihil. Pemuda ini tampak seperti manusia biasa tanpa tenaga dalam sama sekali.
"Jadi, kau bocah yang membantai Gagak Hitam?" Li Kuang mendengus kasar. "Kupikir kau adalah seorang Grandmaster bela diri yang menyembunyikan identitas. Ternyata hanya anak bawang yang kebetulan beruntung. Han Shixiong, apa kau sudah pikun hingga berlindung di balik punggung bocah ini?"
Han Shixiong tidak menjawab. Ia menunduk hormat kepada Arya dan melangkah mundur, membiarkan sang Guru Besar mengambil panggung.
Arya menghentikan langkahnya sekitar sepuluh meter dari Tiga Serigala. Matanya yang gelap dan setenang jurang maut menyapu ratusan penjaga Han yang terluka, lalu kembali menatap Li Kuang.
"Tiga orang," ucap Arya, suaranya pelan namun anehnya terdengar jelas di telinga setiap orang di sana, mengalahkan suara deburan ombak. "Kalian mematahkan tulang anak buah Han, mengotori pelabuhan istriku, dan membuang waktuku yang berharga. Kalian punya waktu sepuluh detik untuk bunuh diri. Itu akan jauh lebih tidak menyakitkan."
Hening sejenak. Lalu, Tiga Serigala meledak dalam tawa yang menggelegar.
"Sombong sekali! Biar aku yang merobek mulut sampah ini, Kakak Kuang!"
Serigala Ketiga, pria bertubuh paling besar dengan otot menyembul, melesat maju. Tanah beton di bawah kakinya retak saat ia memberikan tolakan. Kecepatannya jauh melampaui batas manusia biasa. Tinjunya yang diselimuti lapisan Qi berwarna putih susu meluncur lurus ke arah kepala Arya, membawa kekuatan yang cukup untuk menghancurkan brankas baja.
"Mati kau!" raungnya.
Tinju itu hanya berjarak satu inci dari pelipis Arya. Han Shixiong menahan napas.
Namun, Arya bahkan tidak mengeluarkan tangannya dari saku jaketnya. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengangkat kaki kanannya dengan gerakan yang terlihat sangat lambat, namun secara mustahil tiba mendahului tinju lawannya.
Brak!
Suara ledakan tumpul bergema. Bukan tinju Serigala Ketiga yang mengenai Arya, melainkan telapak sepatu Arya yang mendarat telak di wajah pria raksasa itu.
Gaya tumbukannya begitu brutal hingga tubuh Serigala Ketiga terhempas ke bawah dengan kecepatan peluru. Kepalanya menghantam beton pelabuhan, menciptakan kawah kecil sedalam setengah meter. Pria raksasa itu langsung kehilangan kesadaran dengan tengkorak retak berantakan. Tidak ada rintihan, hanya darah yang mulai menggenang.
Satu serangan. Tanpa menggunakan tangan.
Tawa Li Kuang dan Serigala Kedua berhenti seketika, seolah ada yang mencekik leher mereka. Mata mereka membelalak, ngeri.
"K-kau... apa yang kau lakukan?!" Serigala Kedua berteriak panik. Ia segera menarik sepasang belati dari balik bajunya, mengalirkan Qi secara maksimal hingga belati itu berdengung, dan menerjang Arya dengan jurus mematikan.
Kali ini, Arya mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Ia merentangkan dua jari—telunjuk dan jari tengah—menyambut tebasan belati mematikan itu.
Tang!
Suara nyaring logam beradu terdengar. Serigala Kedua terkesiap. Belatinya yang dialiri Qi, yang diklaim mampu memotong besi tebal, ditahan hanya dengan jepitan dua jari Arya yang tanpa sarung tangan. Kulit Arya tidak tergores sedikit pun!
"Hanya Qi kotor duniawi," bisik Arya dingin. "Bahkan tidak layak mengotori jariku."
Arya memutar pergelangannya dengan ringan.
Krak! Belati baja berkualitas tinggi itu patah menjadi dua bagian seperti ranting kering. Sebelum Serigala Kedua bisa bereaksi, Arya menjentikkan patahan bilah belati itu dengan jari tengahnya.
Bilah logam itu melesat lebih cepat dari senapan runduk, menembus bahu kanan Serigala Kedua dan memaku tubuhnya ke tumpukan kontainer baja di belakangnya. Pria itu menjerit histeris, bahunya hancur total, memutus seluruh urat nadi bela dirinya.
Dua dari Tiga Serigala elit tumbang dalam kurun waktu kurang dari lima belas detik.
Li Kuang, sang pemimpin, kini gemetar hebat. Kesombongannya menguap tak bersisa. Keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat pasi. Ia akhirnya sadar. Pemuda di depannya ini tidak memancarkan Qi bukan karena dia lemah, melainkan karena energinya berada di dimensi yang sama sekali berbeda! Ini adalah jurang antara manusia dan dewa.
"K-kau bukan Grandmaster..." Li Kuang mundur selangkah demi selangkah, kakinya terasa seperti jeli. "K-kekuatan fisik seperti ini... kau... monster apa kau sebenarnya?!"
Arya melangkah maju pelan, setiap langkahnya melepaskan tekanan spiritual dari Tingkat Kelima Pembangunan Fondasi yang baru saja ia capai. Udara di sekeliling Li Kuang mendadak terasa seberat gunung besi. Tulang-tulang kaki Li Kuang berderak, tak mampu menahan tekanan tak kasat mata itu, hingga akhirnya ia jatuh berlutut dengan keras ke lantai beton.
Arya berhenti tepat di depan Li Kuang, menunduk menatap sang ahli bela diri layaknya menatap semut.
"Aku membiarkanmu bernapas lima detik lebih lama untuk sebuah alasan," ucap Arya dengan nada datar. Tangan kanannya terulur dan menepuk ringan puncak kepala Li Kuang.
Bagi orang awam, itu tampak seperti tepukan ringan. Namun bagi Li Kuang, energi panas yang menghancurkan menyusup ke dalam tubuhnya, langsung menuju ke titik Dantian di perut bagian bawahnya.
Puff!
Suara letupan teredam terdengar dari dalam tubuh Li Kuang. Ia memuntahkan darah hitam pekat. Dantian-nya, pusat energinya yang telah ia latih selama empat puluh tahun, hancur lebur tanpa sisa. Ia kini resmi menjadi manusia cacat.
"Bawa dua anjingmu ini dan merangkaklah kembali ke Utara," perintah Arya, mencabut tekanan spiritualnya. "Sampaikan pesanku pada Tuan Besar Li. Jika ada satu ekor lalat lagi dari Keluarga Li yang berani melintasi perbatasan Kota Emerald..."
Mata Arya memancarkan kilatan emas yang membutakan sesaat.
"...Aku akan datang sendiri, dan menghapus nama Keluarga Li dari sejarah negara ini. Paham?"
Li Kuang, menahan rasa sakit yang luar biasa dari kehancuran basis kultivasinya, hanya bisa mengangguk putus asa sambil menangis ketakutan.
Hari itu, legenda Tiga Serigala Utara berakhir memalukan, dan sebuah peringatan berdarah dari Selatan resmi dikumandangkan.